Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 131 Pertarungan Di Hutan #2


__ADS_3

Pradipa membantu Anjani bertarung melawan pendekar Racun Surga dan Racun Neraka. Keempat pendekar Lentera Langit melesat cepat untuk menghentikan serangan pendekar Benang Kematian. namun kedatangan pendekar Wajah Setan yang tiba-tiba itu pada akhirnya membuat emat pendekar Lentera Langit harus berpencar dan membagi tugas.


Ki Wiraguna dan satu rekannya bersiap melawan pendekar Wajah Setan yang sebenarnya adalah pendekar Harimau Merah, sementara dua rekan lainnya langsung melesat ke arah pendekar Benang Kematian.


Pertarungan berlangsung sengit. Pangeran keenam merasa sangat cemas dengan serangan itu. Ia tahu bahwa ialah yang menjadi incaran. Namun ia masih bisa sedikit tenang karena setidaknya empat pengawal pribadinya merupakan para pendekar sakti kerajaan yang tak akan meninggalkannya. Ke empat pengawal itu tak ikut membantu melawan para tamu yang tak diundang itu. Mereka bersiaga di sebelah pangeran ke enam.


Sejauh ini, Anjani selalu berhasil menghalau racun-racun berbahaya dari pendekar Racun Surga dan Racun Neraka. Ia menciptakan benteng air yang tak tertembus oleh serangan racun yang mengarah padanya dan Pradipa. Sesekali, Anjani menciptakan serangan balasan. Ia menciptakan naga-naga air yang menyerang kedua pendekar racun itu dengan kekuatan tinggi.


Ketika kedua pendekar racun itu sibuk dengan naga-naga air ciptaan Anjani, dengan cepat Pradipa mengayunkan pedang saktinya menebas tubuh pendekar Racun Neraka yang tak siap dengan kedatangan pendekar Bintang Timur itu. Tubuh pendekar Racun Neraka seketika terbelah menjadi dua. Kakaknya, pendekar Racun Surga sangat murka melihat adiknya mati mengenaskan.


Ia meraung dan mengamuk. Membalas kematian adiknya dengan serangan-serangan yang lebih berbahaya lagi yang cukup membuat Anjani dan Pradipa kerepotan.


Sementara itu, pendekar Laba-Laba masih meladeni serangan-serangan senopati Welang dengan santainya. Ia tahu, kekuatan senopati itu masih jauh di bawahnya. Ia sengaja mempermainkan senopati Welang dengan serangan-serangannya dengan menghujamkan benang-benang laba-laba berwarna hitam yang lengket dan mengandung racun.


Beberapa kali Senopati Welang terkena serangan itu. Namun, ia masih bisa bertahan dari racun-racun itu dengan mengandalkan tenaga dalamnya. Ki Wiraguna yang mengetahui keadaan senopati itu segera tanggap. Ia memasrahkan pendekar Wajah Setan kepada rekan seperguruannya, lalu ia melesat untuk membantu senopati Welang.


Sejauh itu, pendekar Wajah Setan belum menampakkan kekuatannya yang sesungguhnya. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, lalu dengan cepat ia mengerahkan seluruh pancaran energinya dan mengubah bentuknya menjadi manusia setengah harimau yang berbulu merah. Dengan mudah pendekar setengah harimau itu menghajar rekan ki Wiraguna.

__ADS_1


Anjani dan Pradipa yang menyadari situasi gawat itu tak mau berlama-lama bertarung dengan pendekar racun Surga. Anjani mengerahkan lebih banyak serangan naga air sehingga ia bisa mengurung pendekar beracun itu dalam bola air yang menekan tubuh pendekar aliran hitam itu dengan tekanan yang menyakitkan. Selagi pendekar racun itu mengerahkan energinya untuk melepaskan diri dari jeratan Anjani, Pradipa dengan cepat mengayunkan pedangnya, membelah bola air itu beserta isinya. Pendekar Racun Surga telah tumbang.


Pendekar Wajah Setan yang telah menampakkan dirinya sebagai pendekar Harimau Merah itu tak menyadari kedatangan Pradipa dan Anjani. Hampir saja ia berhasil membunuh salah satu pendekar dari Lentera Langit, namun ia harus segera menghindari ayunan pedang Bintang Langit yang mengarah ke lehernya.


“Rupanya kau lagi, Harimau Merah. Kupikir kau tak akan berani menampakkan diri lagi!” Kata Pradipa yang mengenali pendekar Harimau Merah dari perubahan bentuk tubuhnya itu. Harimau Merah sedikit kaget dan ia tahu kedua lawan di hadapannya itu adalah masalah besar baginya.


“Hahaha, kita bertemu lagi meski kita tak pernah sempat bertarung, anak muda. Kali ini kita lihat, siapa yang akan mati di antara kita.” Kata Harimau Merah.


“Asalkan kau tak melarikan diri lagi, aku tahu kau akan mati hari ini.” Kata Pradipa memancing kemarahan pendekar Harimau Merah.


“Kurang ajar! Terima ini!” Pendekr Harimau Merah mengayunkan cakar besarnya ke arah Anjani dan Pradipa. Ayunan cakar itu hanya mengenai bebatuan dan seketika bebatuan itu hancur berantakan.


Pendekar Harimau Merah melompat jauh, lalu ia melesat dan melarikan diri.


“Jangan biarkan dia lolos. Kalau bisa tangkap ia hidup-hidup agar kita tahu apa yan sedang ia rencanakan.” Kata Pradipa. Anjani dan Pradipa melesat kencang mengejar Harimau Merah yang melarikan diri itu.


Wiraguna dan senopati Welang juga mengalami situasi yang tak terlalu menguntungkan. Pendekar Laba-Laba itu memiliki kemampuan yang diluar dugaan mereka berdua. Pendekar itu bisa bertarung sambil mengendalikan ratusan laba-laba beracun dalam waktu bersamaan. Ratusan laba-laba itu sulit terlihat dalam kegelapan malam dan cukup merepotkan senopati Welang, ki Wiraguna, serta para prajurit yang berada di sekitar tenda pangeran Swargabhumi.

__ADS_1


Sementara itu, dua pendekar Lentera Langit yang berhadapan dengan pendekar benang Kematian telah mendapatkan banyak luka di sekujur tubuh mereka. Serangan pendekar Benang Kematian sungguh tak terlihat. Pendekar itu hanya tampak menggerak-gerakkan jemarinya atau sesekali mengayunkan tangannya layaknya orang yang menari. Namun pendekar itu mengerahkan ratusan helai benang tak kasat mata yang yang menyerang kedua lawannya itu.


“Tidakkan paman mau membantu mereka?” tanya pangeran ke enam kepada para pengawal pribadinya.


“Tapi kami ditugaskan untuk selalu berada di dekat pangeran.” Kata salah satu pengawal tertua di antara mereka.


“Paman bisa berbagi tugas. Sebagian bersamaku di sini, dan sebagian membantu mereka.” Kata Pangeran ke enam.


“Pengawal tertua itu memang melihat situasi yang berbahaya. Jika para pendekar hitam itu berhasil menang, maka ia dan tiga rekannya pun mungkin tak bisa mengalahkan para pendekar aliran hitam itu.


“Baiklah kalau begitu, hamba sendiri yang akan membantu, sementara yang lain akan tetap di sini menjaga pangeran.” Pengawal tertua itu keluar dari tenda dan melesat cepat untuk membantu dua pendekar lentera langit melawan pendekar Benang Kematian.


Pengawal pangeran itu melontarkan puluhan belati yang teraliri tenaga dalam yang mengarah ke tubuh pendekar Benang kematian yang masih sibuk menggerakkan benang-benangnya untuk menyerang kedua pendekar dari perguruan Lentera Langit. Ia tak menyadari ada serangan mendadak dari belakangnya dan ketika ia menyadarinya, ia sudah terlambat. Puluhan belati itu sudah terlalu dekat untuk dihindari. Belati-belati pencabut nyawa itu menembus tubuh pendekar Benang Kematian dan seketika pendekar aliran hitam itu ambruk ke tanah.


“Terimakasih bantuannya, ki sanak.” Kata salah satu pendekar Lentera Langit.


“Sama-sama, ayo kita hadapi satu pendekar lagi yang sedang bertarung dengan senopati Welang dan ki Wiraguna.” Kata pengawal itu. ketiganya langsung melesat dan bergabung dengan senopati Welang untuk segera mengakhiri nasib pendekar Laba-Laba.

__ADS_1


“Hahahaha, baguslah. Ayo serang aku bersama-sama.” Ucap pendekar laba-laba dengan congkaknya. Ia merubah dirinya menjadi seekor laba-laba raksasa sebesar gajah. Pendekar itu merupakan salah satu pendekar yang berhasil selamat setelah membunuh sekian siluman laba-laba di hutan kematian dan menggunakan mustika-mustika siluman yang ia kumpulkan untuk menambah kesaktiannya.


Dengan tubuh siluman laba-laba yang ia miliki itu, ia tak akan mempan dengan pukulan-pukulan yang tak terlalu kuat. Dari dalam mulutnya, ia memuntahkan ratusan laba-laba beracun yang bergerak cepat menyerang beberapa pendekar yang mengepungnya itu.


__ADS_2