Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 184 Sandiwara Pradipa


__ADS_3

Dalam kepungan itu, Jalu dan Niken mencoba untuk memetakan segala hal yang ada disekitarnya, terutama jumlah kekuatan yang ada di Mutiara Biru saat itu. Girimaya menghadapi pilihan yang sulit. Di satu sisi, ia tahu anak buahnya ingin bertarung melawan Jalu dan Niken. Namun di sisi lain, ia harus menimbang mana yang paling merugikan dari beberapa pilihan itu.


“Apakah aku terlihat akan pergi setelah kalian memberikan apa yang aku minta?” Jalu membalas pertanyaan Girimaya.


“Kurasa memang tidak. Kurasa kalian memang tak menginginkan apa-apa kecuali pertarungan, atau kekacauan di sini, seperti yang kalian lakukan sebelum hari ini.” Kata Girimaya. Ia teringat peristiwa waktu itu, Jalu hanya membuat kekacauan dan pergi begitu saja. tiba-tiba ia tersadar bahwa kemungkinan besar kedua pendekar misterius di hadapannya itu adalah orang penting dari Swargadwipa.


“Yang ingin bertarung melawan kami, silahkan maju. Silahkan pilih siapa yang ingin kalian lawan jika kalian menginginkan pertarungan satu lawan satu. Namun jika tidak, kalian boleh menyerang kami bersama-sama.” Tantang Jalu.


Para pendekar Swargabhumi itu saling berpandangan satu sama lain. Yang pasti mereka sangat kesal dengan sikap Jalu, namun mereka tak berani jika harus melawan kedua pendekar itu satu lawan satu. Masing-masing dari kumpulan pendekar itu saling menunggu. Sementara, para prajurit hanya berada di barisan paling belakang, juga menunggu perintah dari para atasan mereka.


Belum ada tanda-tanda para pendekar Swargabhumi itu mau menyerang. Jalu dan Niken semakin menekan mental mereka dengan cara memancarkan energi yang sangat kuat hingga tercipta hawa panas dari tubuh Jalu dan hawa dingin dari tubuh Niken. Tubuh Jalu yang sepenuhnya adalah kobaran api jelas membuat nyali lawan-lawannya ciut meski mereka berjumlah banyak. Tetapi memang begitulah kenyataannya, jumlah banyak cenderung saling menunggu karena masing-masing merasa enggan dan malu jika kalah.


Jalu dan Niken tahu, jika mereka berdua tak memulai duluan, maka tak akan ada orang-orang Swargabhumi yang bergerak. Maka, Jalu menghempaskan pukulan api dengan kecepatan tinggi sehingga membuat orang-orang di sekelilingnya bubar dan mengambil jarak serta mencari peluang untuk menyerang Jalu. Sementara Niken telah memakan beberapa korban dengan serangan es yang ia lontarkan. Serangan Niken yang berbahaya itu kurang disadari oleh lawan-lawannya karena semua perhatian seolah-olah terarah kepada Jalu. Sementara Niken hanya dianggap sebagai perempuan, meski pada kenyataannya, ia bisa saja membunuh lima puluh pendekar dalam sekali serangan.


Jalu melesat dengan cepat ke arah Girimaya dan melontarkan sebuah pukulan api yang berbahaya. Sadar bahwa dirinya menjadi incaran, Girimaya yang tak sempat mengelak itu melindungi tubuhnya dengan perisai energi. Senopati itu tidak terbakar, namun ia terpental jauh.


Beberapa pendekar Swargabhumi tak membiarkan Jalu menyerang Girimaya, maka mereka menciptakan formasi yang membentengi pemimpin mereka yang sedang susah payah untuk bangun. Pada akhirnya, jumlah musuh yang terlampau banyak itu tetap tidak bisa menyerang Jalu dan Niken secara bersamaan, melainkan bergantian dan mencari celah yang paling tepat untuk menyerang.

__ADS_1


Niken yang telah melindungi tubuhnya dengan selubung es kemudian menyerang para musuhnya dengan jurusnya yang sangat berbahaya, yakni Nyanyian Pengantar Mimpi. Dengan tenaga yang ia miliki, ia bisa menumbangkan tiga puluh pendekar tanpa harus kehabisan seluruh tenaganya. Serangan yang dilakukan Niken itu tentu saja membuat calon korban lainnya pucat pasi ketika melihat ketiga puluh rekan mereka mati dengan cara yang aneh.


Jalu masih mempermainkan lawan-lawannya yang mengeroyok dirinya dengan cambuk api yang ia ciptakan. Cambuk itu bergerak cepat dan membakar apapun yang dilewatinya. Puluhan pendekar dari pihak Swargabhumi telah tumbang oleh serangan Niken dan Jalu.


Pradipa dan kedua rekannya telah memasuki Kota Mutiara Biru dengan mulus. Semua perhatian para prajurit dan pendekar Swargabhumi telah tertuju kepada Jalu dan Niken yang sedang membuat kekacauan di dekat balai kota. Pradipa yang tergolong cerdas dan cekatan dalam megambil setiap peluang tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


Pradipa mengeluarkan pusaka Bintang Timur, lalu ia melompat tinggi lalu menghujamkan senjatanya ke bumi di sekitar pertarungan Jalu dan Niken. Pradipa sengaja melakukan hal itu dengan kekuatan penuh sehingga ledakan yang ditimbulkan cukup untuk membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Dua rekannya mengikuti jejaknya.


“Akulah yang akan menjadi lawanmu, pendekar Api dan Es. Seharusnya kalian malu bertarung dengan pendekar yang tidak sepadan dengan kalian.” Kata Pradipa kepada Jalu dan Niken.


Awalnya Jalu dan Niken terkejut dengan kedatangan Pradipa. Namun tatapan mata Pradipa dan sikapnya yang seolah tak kenal dengan Jalu dan Niken pada akhirnya membuat sepasang pendekar api dan es itu hampir saja tak bisa menahan tertawa.


“Maaf aku datang terlambat. Semoga belum terlalu terlambat. Aku baru saja menempuh perjalanan jauh dari Swargabhumi. Aku pendekar Pedang Naga. Dua rekanku ini adalah pendekar Cakar Naga dan pendekar Naga Angin Pencabut Nyawa. Kau pernah mendengar nama kami?” tanya Pradipa.


Tentu saja tak seorangpun pernah mendengar nama itu. Bahkan para pendekar Swargabhumi masih berfikir keras dan mencoba mengingat-ingat gelar asing dari ketiga pendekar yang baru saja datang dan menantang Jalu dan Niken itu.


“Ya, aku pernah mendengar namamu, namun baru kali ini aku bertemu denganmu. Semoga kemampuanmu sehebat apa yang diceritakan para pendekar besar di wilayah Mahabhumi.” Kata Jalu.

__ADS_1


“Hahaha, sudah lama kami tak menampakkan diri. Jika bukan karena sang Maharaja Segara Biru memintaku langsung, aku tak akan sudi datang ke sini.” Kata Pradipa.


“Kukira usiamu telah lebih dari seratus tahun. Berarti memang benar bahwa kemampuanmu membuatmu tetap terlihat muda.” Kata Jalu menambah-nambahkan bumbu agar kedatangan Pradipa sebagai penyelamat di Mutiara Biru semakin meyakinkan di mata para pendekar dan prajurit Swargabhumi.


“Baiklah, tak usah banyak bicara lagi. Kita di sini bukan untuk berbincang-bincang, bukan?! Kerahkan seluruh kemampuanmu, pendekar Api!” kata Pradipa. Ia memancarkan energinya semaksimal mungkin sehingga membuat orang-orang disekitarnya terdorong ke belakang. Pedangnya menyalakan pijaran gelombang energi bewarna biru yang menyala terang.


Jalu dan Niken melakukan hal yang sama. Keduanya memancarkan energi maksimal yang mereka miliki. Gelombang pancaran energi keduanya begitu kuat menyengat dan mengacaukan suhu udara hingga jarak yang cukup jauh. Beberapa orang yang ada di dekat Niken langsung menggigil kedinginan, begitu pula dengan orang-orang yang dekat dengan Jalu, mereka langsung menjauh karena takut terpanggang dengan hawa panas itu.


Jalu dan Niken menyerang Pradipa dan kedua rekannya itu secara bergantian. Serangan itu begitu kuat, namun Jalu dan Niken sengaja membuat serangan mereka bisa dihindari oleh Pradipa dan kedua rekannya dengan mudah sehingga serangan Jalu dan Niken malah sarah sasaran mengenai beberapa pendekar yang terlalu terpesona dengan pertarungan yang mereka saksikan sehingga mereka tidak siap dengan kedatangan serangan yang tiba-tiba itu.


Pradipa gantian membalas serangan itu. Dengan energi penuh ia ayunkan pedangnya dari jarak jauh. Gelombang energi yang terhempas dari pedangnya itu melesat cepat ke arah Jalu dan Niken, namun sepasang pendekar itu bisa dengan mudah menghindarinya. Gelombang energi dari pedang Bintang Timur membabat beberapa orang yang berada jauh di belakang Niken dan Jalu.


Pradipa melontarkan serangan lagi ditambah dengan pusaran udara yang diciptakan Anggidya serta jurus Cakar Besi pencabut nyawa milik Ranggaweksi. Kali ini Jalu dan Niken pura-pura terdesak dan tak sanggup menahan serangan Pradipa dan kedua rekannya itu.


Jalu dan Niken melesat ke udara. Sebelum keduanya melarikan diri, Niken menciptakan hujan es dari atas yang membuat semua orang yang ada di bawah segera menciptakan perisai energi untuk menahan jurus itu.


“Biar kami bertiga yang mengejar dua pendekar itu. Kalian tetap di sini untuk berjaga-jaga apabila ada serangan dari pendekar lain yang belum menampakkan diri. Kami akan kembali setelah selesai berurusan dengan dua pendekar itu.

__ADS_1


Pradipa, Anggidya, dan Ranggaweksi melesat dengan cepat mengejar Jalu dan Niken yang telah jauh. Orang-orang Swargabhumi masih terpana melihat peristiwa yang baru saja terjadi itu dan mereka menuruti begitu saja apa yang dikatakan oleh Pradipa.


__ADS_2