
Batari Mahadewi mengikuti dewa perang ke tempat latihan. Keduanya terbang melintasi dunia dewa yang serba indah itu, lalu sampailah di sebuah bangunan besar yang menjadi tempat tinggal sang dewa perang. Ia tinggal bersama dewa penempa senjata. Di bangunan itu, terdapat banyak senjata yang bentuknya aneh-aneh. Dari segi mutu, Batari Mahadewi boleh membanggakan diri. Buatannya jauh lebih mantap, hanya kalah di bahannya saja.
“Di sinilah tempatku dan tempat dewa penempa senjata. Lihat itu, karyanya menghiasi seluruh dinding di ruangan ini. Sebelum ia menyumbankan kekuatannya untukmu, senjata buatannya luar biasa. Aku tahu, di dunia sana kau juga membuat senjata kan?”
“Benar, dewa. Jika aku memiliki bahan yang bagus, aku bisa membuat senjata yang lebih baik dari ini.”
“Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu.” Dewa perang mengeluarkan sebuah tombak dengan ujung sebilah pedang. Tombak itu beratnya setara dengan selusin gajah. Sang dewa perang menyerahkan senjata itu kepada Batari Mahadewi. “Ini adalah senjata buatannya sebelum kami menciptakanmu.”
Batari Mahadewi memegang senjata milik dewa perang itu. Senjata itu memang berkualitas bagus. Tanpa dialiri kekuatan pun senjata itu bisa menembus tubuh iblis hanya dengan dilempar biasa saja. Asalkan kuat melemparkannya dan tepat sasaran.
“Ya, ini senjata bagus. Tetapi senjata yang menusuk pinggangku itu jauh lebih bagus.” Dari segi kekuatan, pusaka sakti yang menembus tubuhnya memang jauh lebih besar dari senjata pusaka milik dewa perang.
“Buatan kekasihmu itu kan?” ujar dewa perang.
“Bagaimana caranya kalian tahu apa yang kami lakukan?” tanya Batari Mahadewi
“Jika kami tak tahu, maka kami bukan dewa! Kami memiliki bola kristal dewa yang bisa kami gunakan untuk melihat apapun yang kami mau. Jika tadi kau masuk ke ruang dalam altar samudra, kau pasti menemukannya,” ujar dewa perang.
“Sudah kuduga. Aku sudah melewatkannya. Kalau begitu, nanti aku coba lihat jika aku kembali ke sana.”
“Ya, tapi kau akan tinggal di sini sementara waktu,” kata dewa perang
“Kita berdua akan berlatih, kan?” tanya Batari Mahadewi.
“Tidak, hanya kau dan tiruan dari dirimu,” jawab dewa perang.
“Tiruan dariku?” Batari Mahadewi mengernyitkan dahinya, tanda bahwa ia belum mengerti.
“Ayo kita masuk ke ruang latihan, aku akan menjelaskanmu di sana.” Dewa perang mengajak Batari Mahadewi memasuki sebuah ruang di balik pintu berwarna emas. Begitu pintu itu dibuka, cahaya putih menyilaukan langsung menyeruak. Sesaat Batari Mahadewi harus beradaptasi dengan cahaya itu.
Ruangan itu hanyalah ruangan kosong yang luasnya tak terhingga. Sama seperti ruang meditasi di altar suci kota Dhyana. Di sana terdapat sebuah cermin besar. Cermin dewa namanya. Cermin itu biasanya digunakan para dewa untuk latihan tertutup dengan dipandu oleh dewa perang.
“Berdirilah di depan cermin itu,” perintah dewa perang. Batari Mahadewi melangkah mendekati cermin itu dan berdiri di depannya. Ia bisa melihat gambaran dirinya tampak jelas di sana. Bayangan itu tiba-tiba bergerak dan keluar dari cermin. Batari Mahadewi terperangah.
__ADS_1
“Bayanganmu ini memiliki kemampuan setara denganmu. Ini hanya bayanganmu, tak punya perasaan dan pikiran. Tugasmu hanya melenyapkannya saja. Bayangan ini baru bisa bertarung setelah aku membaca mantra. Pergilah ke tempat yang agak jauh dari pintu ini. Aku akan menunggu di sini.”
Batari Mahadewi terbang menjauh dari pintu itu. Bayangannya mengikutinya. Setelah itu, dewa perang merapalkan mantra.
Bayangan Batari Mahadewi langsung menyerang. Keduanya bertempur dengan cara yang sama, dengan jurus yang sama persis sehingga mereka terus menerus bertarung seimbang dalam waktu yang cukup lama.
Batari Mahadewi bisa berlatih dengan tenang. Sebesar apapun kekuatan yang dikerahkan, ia tak akan merusak apapun di luar ruangan itu. Tujuan latihan itu hanya satu saja, yakni menguras seluruh kekuatannya hingga ia benar-benar tak bisa lagi menganggat satu jari tangannya.
****
Sementara itu, di dunia tengah, pangeran kegelapan membawa ratu ogha menuju ke tempat lain yang sangat jauh. Sang ratu kelelahan, ia mengajak sang pangeran untuk beristirahat sekenak di sebuah pulau kecil. Sedari tadi, semenjak berangkat dari kawah ujung dunia, sang ratu belum mengatakan sepatah katapun.
“Kenapa dari tadi kau cemberut?” tanya pangeran Andhakara.
“Aku baru ingat, ternyata naga iblis itu dulu kekasihmu kan?” balas sang ratu.
“Hahaha, jangan khawatir, aku telah memilihmu. Aku tahu kau akan marah, tetapi kita tak punya pilihan lain. Daripada kita menghabiskan waktu untuk iblis-iblis lemah, dia jauh lebih bisa diandalkan,” kata Andhakara.
“Kenapa ia hanya mengikuti kita di belakang?” tanya ratu Ogha.
“Lalu kenapa dia mau ikut kalau memang cemburu?” tanya ratu Ogha.
“Karena…”
“Dia masih mencintaimu, pangeranku. Kau pasti menjanjikan sesuatu padanya kan?” sang ratu kembali bersungut-sungut.
“Kita bahas hal ini lain waktu. Yang pasti, aku akan mengajakmu mencari iblis-iblis yang telah lama menghilang. Nanti kau akan tahu.”
“Baiklah…”
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Dua hari kemudian, mereka sampai di sebuah tempat yang bernama pulau Kelelawar. Tempat itu sangat terpencil, tanpa manusia. Di sana hanya ada hamparan hutan, beberapa goa, dan jutaan kelelawar.
“Kita sudah sampai, ratuku. Kau tunggulah di sini. Aku akan masuk ke dalam goa besar itu.”
__ADS_1
“Aku ikut ke dalam!”
“Jangan. Berbahaya! Tunggu saja di sini!” Andhakara segera melesat menuju ke dalam goa gelap itu. Ia terus melaju menyusuri goa yang semakin lama semakin dalam dan sempit. Namun pada akhirnya, Andhakara sampai juga di sebuah perut goa yang luas dengan cahaya cukup terang yang berasal dari sebuah tungku api pada altar di satu sudut ruangan itu.
Pada altar itu terdapat peti mati, tempat bersemayamnya sang Kelelawar Iblis.
Di luar goa, Rodra sang naga iblis tak bisa menahan diri untuk tak mendekat ke pulau itu. Ia tak bermaksud membunuh Ogha sebab ada satu hal lain yang membuatnya lebih kesal lagi.
Ratu Ogha menunjukkan sikap tak senang ketika Rodra datang mendekatinya.
“Mau apa kau mendekatiku!”
“Aku hanya ingin tahu apakah kau akan lebih marah lagi ketika tahu siapa yang akan ditemui Andhakara di sini!”
“Memangnya siapa?”
“Kelelawar iblis!”
“Siapa dia?”
“Kau benar-benar ratu yang lugu! Tidakkah kau tahu, Andhakara memiliki banyak simpanan!”
Ratu Ogha benar-benar marah. Tetapi ia tak bisa apa-apa selain menyimpan kedongkolan dalam hatinya. Ia terlalu mencintai Andhakara dan tak mau berpisah dengannya, sekalipun pangeran kegelapan itu punya seribu simpanan.
“Tapi kurasa kau juga sedang kesal, bukan?!” balas ratu Ogha.
“Apa boleh buat! Aku tak bisa melupakan tubuh jantannya yang memelukku erat ketika ia meluapkan kenikmatan yang aku berikan. Aku tak tahu apakah ia juga berbuat itu padamu!” Rodra sengaja membuat ratu Ogha tersulut emosi.
“Kau! Kau Keterlaluan!!” pekik ratu Ogha.
“Kau beruntung. Aku tak berniat membunuhmu sekalipun mudah bagiku untuk melakukannya. Jaga sikapmu!”
Ratu Ogha benar-benar kesal. Tetapi memang benar, ia tak akan sanggup bertahan meski sebentar saja jika ia bertarung dengan sang naga iblis.
__ADS_1
Di dalam goa itu, pangeran Andhakara berjalan mendekati peti mati tempat bersemayamnya sang kelelawar iblis. Setelah jaraknya tinggal sepuluh langkah lagi, penutup peti mati itu terbuka perlahan. Cahaya biru menyeruak dari dalamnya. Keluarlah sosok perempuan pucat nan cantik dengan wajah bengis yang menatap Andhakara dengan tatapan tajam.