Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 17 Rahasia Membuat Pedang Sakti


__ADS_3

Niken, Jalu dan Batari Mahadewi memilih untuk membuntuti lelaki yang membawa bingkisan tulang itu. Lelaki itu berjalan terburu-buru menuju toko senjata yang sore tadi dikunjungi Batari Mahadewi dan kedua saudara seperguruannya.


“Sudah jelas sekarang motif dibalik pencurian ini.” Kata Jalu.


“Ya, mereka membutuhkan tulang belulang mayat untuk membuat senjata agar senjata itu memiliki energi kematian yang seolah-olah berasal dari masa lalu.” Kata Batari Mahadewi.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Mudah saja untuk menemukan kedua pencuri tulang itu.” Kata Niken.


“Sebetulnya, ini bukan urusan kita. Tapi aku punya firasat kalau hal ini terus terjadi, maka sesuatu yang buruk akan tejadi.” Kata Jalu.


“Benar sekali. Apalagi kalau mereka berhasil menemukan kuburan pendekar-pendekar sakti. Tentu senjata yang mereka hasilkan akan memiliki tuah yang bebahaya juga. Apakah menurut kakak, tujuan mereka hanya semata-mata untuk bisnis saja?” kata Batari Mahadewi.


“Kita jangan teburu-buru bertindak. Ada baiknya kita selidiki dulu. Mungkin beberapa hari kedepan, kita awasi saja aktivitas dari toko itu. Kita cari tahu kemana mereka akan menjual senjata-senjata itu.” Kata Jalu.


“Ide yang bagus.” Kata Niken.


“Bagaimana kalau kita menyusup ke dalam toko itu saat ini juga. Seharusnya mereka akan tetap bekerja pada malam hari.” Kata Batari Mahadewi.


“Ayo kita lakukan. Mungkin kita harus mengintai dari atap bangunan itu.” Jalu memberi usul.


Ketiganya kemudian melompat ke atap bangunan itu tanpa menimbulkan suara sama sekali, lalu mengintip apa saja yang dilakukan orang-orang di dalam bangunan.


Di dalam ruangan lantai atas itu, beberapa orang masih bekerja. Dugaan Batari Mahadewi benar, orang-orang itu sedang menempa tulang untuk dijadikan senjata. Mula-mula yang mereka lakukan adalah memindahkan energi kematian dari tulang ke logam senjata, lalu kemudian menghancurkan tulang itu menjadi tepung, dan menaburkannya ke logam senjata yang baru saja mereka bakar di tungku.

__ADS_1


Ada tiga pekerja yang saat itu sedang mengerjakan satu senjata pedang yang besar dan panjang. Ketiganya merupakan orang yang sangat ahli di bidang itu. Setidaknya mereka adalah pendekar dengan kesaktian yang tak bisa diremehkan, karena selain bisa memindahkan energi, mereka juga punya keahlian untuk menciptakan ukiran yang indah di pedang itu.


Ketiga pembuat senjata itu tak menyadari kalau Batari Mahadewi, Niken dan Jalu berada di atas atap sedang mengintai mereka. Tentu saja, mereka terlalu fokus untuk membuat senjata dan pada saat yang sama, Niken, Jalu, dan Batari Mahadewi mengaburkan energi pada tubuh mereka sehingga tak bisa dirasakan oleh ketiga pembuat pedang itu.


Untuk membuat sebilah pedang pusaka, para pembuat pedang itu membutuhkan tulang lebih dari satu mayat pendekar. Meski ketiga pembuat senjata itu adalah pendekar sakti, namun mereka tak bisa menangkap kehadiran aksara dari tulang yang terbang menguap bersamaan dengan dihancurkannya tulang-tulang itu.


Batari Mahadewi mendapatkan kesempatan untuk membaca sebanyak-banyaknya informasi dari aksara yang mampu ia lihat itu. Dari sanalah, Batari Mahadewi berhasil mengenali tulang pendekar siapa saja yang sedang dibuat sebagai senjata, serta keahlian dari pendekar-pendekar itu di masa lalu.


Batari Mahadewi kemudian menjadi tahu kenapa di desa itu banyak kuburan pendekar sebab di masa lalu, ada banyak sekali pendekar yang terbunuh ketika menghadai serangan siluman laba-laba yang berada di lembah kematian.


Mula-mula laba-laba itu menyerang manusia dari satu desa ke desa lain. Hal itu tentu mengakibatkan kekacauan. Para pendekar gabugan golongan putih dari berbagai wilayah dimintai bantuan untuk mengatasi masalah tersebut. Setidaknya ada lebih dari 300 pendekar yang datang untuk memberikan bantuan.


Di Desa Air Kehidupan itu pertarungan antara 300 pendekar dan puluhan siluman laba-laba berlangsung seru. Selama warga telah mengungsi sejak laba-laba itu mulai mendekati desa mereka sehingga pada waktu itu, Desa Air Kehidupan menjadi medan perang antara siluman laba-laba dan para pendekar sakti.


Raja siluman laba-laba tak bisa terbunuh dan satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan menyegel di dalam hutan. Seluruh tepi hutan telah di pasang pagar mantra sehingga siluman laba-laba itu tak akan pernah bisa keluar dari hutan itu selamanya. Para pendekar yang terbunuh dikuburkan dengan hormat di desa itu.


Warga yang telah mengungsi tak mau lagi kembali hidup di desanya. Desa Air Kehidupan menjadi desa mati untuk puluhan tahun. Akhirnya banyak orang yang melupakan kejadian itu dan cerita pertarungan antara 300 pendekar dengan siluman laba-laba terasa seperti dongeng.


Desa itu kembali hidup ketika mula-mula ada seseorang yang menemukan tambang emas. Akhirnya banyak pendatang yang berduyun-duyun mengais rejeki di wilayah itu. Hanya sedikit saja warga asli desa Air Kehidupan yang mau kembali ke tanah kelahirannya. Sisanya tak mau lagi mendekat karena mereka tahu siluman laba-laba itu tidak mati. Melainkan tinggal di lembah dekat desa mereka.


Dengan demikian, tak banyak warga desa Air Kehidupan yang tahu dengan sebenar-benarnya tentang keberadaan siluman laba-laba itu. Korban-korban selanjutnya dari siluman laba-laba itu hanyalah orang-orang desa yang tak tahu bahwa siluman laba-laba itu telah tersegel di hutan lembah. Siapapun yang masuk ke hutan itu tak akan pernah terlihat lagi dan sejak saat itulah lembah tersebut dinamai dengan nama lembah kematian.


Kini pun, tak ada yang tahu juga bahwa Batari Mahadewi, Niken dan Jalu telah membunuh raja siluman laba-laba. Yang tersisa hanyalah siluman laba-laba yang lebih kecil dan tak terlalu berbahaya, setidaknya untuk para pendekar yang kesaktiannya telah mumpuni.

__ADS_1


Saat Batari Mahadewi, Jalu dan Niken hendak meninggalkan atap tersebut, tiba-tiba ada dua orang lain yang masuk ke dalam bengkel senjata di lantai tiga bagungan itu.


“Apakah masih lama untuk menyelesaikan senjata itu?” tanya salah satu orang yang masuk itu. Tubuhnya gendut dan pakaiannya terlihat berbeda dari yang lain. Tentu ia adalah pemilik usaha tersebut karena orang-orang yang lain di sana sangat menaruh hormat padanya.


“Ya, senjata ini tak bisa lekas selesai tuan. Kita masih membutuhkan setidaknya 10 tengkorak lagi untuk menyempurnakan kekuatan senjata ini. Semakin tengkorak yang kita dapatkan, hasilnya semakin baik.” Kata salah satu pembuat senjata.


“Kenapa banyak sekali?” Pemilik toko itu menggerutu.


“Kalau senjata untuk pendekar biasa, 2 atau 3 tengkorak saja sudah cukup tuan. Tapi kalau ketua kelompok Kelelawar Hitam yang akan menggunakannya, tentu butuh senjata yang sangat baik untuk mengimbangi kekuatannya.” Kata pembuat senajata itu.


“Wah, bisa rugi aku. Belum tentu bandit itu akan membayar mahal untuk pedang ini. Tak bisakah kau menyelesaikannya sekarang saja?” kata pemilik toko.


“Bisa saja tuan. Tapi saya yakin ketua Kelelawar Hitam akan tahu bahwa kualitas pedang ini kurang bagus seperti yang ia minta. Akibatnya bisa berbahaya bagi kita semua tuan.” Kata pembuat senjata itu mengingatkan ancaman yang ada di depan mata mereka.


“Sial. Sungguh sial. Kedatangan orang itu sungguh membawa banyak kerugian. Kau tahu harga tengkorak satu pendekar itu lebih dari 100 keping emas. Kita sudah menghabiskan 6 tengkorak dan benda ini belum selesai!” pemilik toko itu marah. Lalu ia mengambil senjata yang belum selesai itu dan mengayun-ayunkannya sembarangan.


Akibatnya, senjata itu bergetar hebat, seolah memiliki nyawa dan seolah tersinggung, pedang itu mengeluarkan cahaya kemerahan, lalu berputar-putar menyerang dan menghancurkan beberapa benda di ruangan tersebut sebelum salah satu pembuat senjata itu menangkapnya dan menenangkannya.


“Sebaiknya tuan berhati-hati dengan pedang ini. Seperti yang saya bilang, pedang ini tak hanya berisi roh pendekar, namun juga kekuatannya sehingga pedang ini bisa dikatakan bernyawa.” Pembuat senjata itu menjelaskan.


Lalu pemilik toko itu meninggalkan ruangan tersebut. Wajahnya masih pucat karena ketakutan, namun ia tak bisa


menyembunyikan kemarahannya karena harus akan membayar mahal untuk membeli bahan yang dibutuhkan sampai senjata itu selesai.

__ADS_1


Batari Mahadewi, Jalu dan Niken akhirnya mendapatkan informasi yang penting dari pengintaian itu. Masalahnya, mereka tak tahu siapa ketua Kelelawar Hitam itu dan apa pengaruhnya dalam dunia persilatan.


__ADS_2