Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 69 Pertemuan


__ADS_3

Niken dan Pradipa melangkah menuju perkampungan sunyi di desa Temaram Senja. Hari masih terik dan hanya tampak sedikit sekali warga desa yang terlihat beraktivitas. Sesekali mereka menyunggingkan senyum sapa ketika Niken dan Pradipa lewat. Hal yang membuat desa itu terkesan sepi adalah jarak antar satu rumah dengan lainnya berjauhan, terpisah oleh pepohonan dan kebun.


“Benarkah di sini tak ada satupun penginapan?!” Kata Pradipa.


“Entahlah. Semoga saja ada. Tapi jikalau ada, aku yakin penginapan itu sudah penuh apabila hari ini para pendekar aliran putih sudah banyak yang datang.” Kata Niken.


“Tak masalah jika kita tak menemukan penginapan atau kedai makan. Kita bisa langsung saja menuju danau Rembulan Merah.” Kata Pradipa.


“Ya, kakak, ketika kita tadi masih di puncak gunung, danau itu terlihat berada di tengah desa. Tidak tepat demikian karena hampir tidak ada rumah di sekitar danau kecil itu.” Kata Niken.


“Sejak kita memasuki desa ini, tak satupun pancaran energi pendekar yang aku tangkap. Menurutmu, apakah hari ini, apakah nanti malam benar malam bulan purnama? Seharusnya hari ini sudah banyak pendekar aliran putih yang berdatangan.” Kata Pradipa.


“Mungkin para pendekar itu beberapa sudah tiba di sini. Mungkin mereka menyebar ke hutan. Jika tak ada pertarungan, maka akan sulit mengetahui kedatangan para pendekar itu. Jika adik seperguruanku ada di sini, dia pasti tahu siapa saja pendekar yang datang dan dimana mereka berada saat ini.” Kata Niken.


“Adik seperguruanmu? Dia memiliki kemampuan itu?” tanya Pradipa.


“Lebih dari itu. Kau akan kaget kalau melihatnya.” Kata Niken.


“Menarik. Aku jadi penasaran.” Kata Pradipa.


Niken dan Pradipa sengaja berjalan kaki biasa untuk mencapai danau. Dengan begitu, perjalanan itu memakan waktu yang lama. Mereka tak ingin mengundang perhatian dengan menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mencapai danau Rembulan Merah.


Ketika Niken dan Pradipa hampir sampai di danau Rembulan Merah, barulah mereka melihat beberapa pendekar aliran putih yang duduk-duduk di sekitar hutan yang mengelilingi danau itu. Beberapa menyendiri, dan beberapa lainnya saling bertukar sapa dan bertukar cerita.


“Ternyata sudah banyak yang datang dan menunggu di sekitar sini.” Kata Niken.

__ADS_1


“Mungkin karena di perkampungan tak ada kedai makan ataupun penginapan. Jadi mereka memilih untuk langsung ke sini, seperti yang kita lakukan.” Kata Pradipa.


“Sepertinya, kebanyakan yang datang ke sini adalah pendekar muda aliran putih. Dari tadi tak satupun aku melihat para sesepuh. Semua tampak muda dan merupakan pendekar kelana seperti kita.” Kata Niken.


“Kau benar. Ini juga satu keanehan bagiku. Kita bertahan di sini saja dulu. Tapi sebaiknya kita tetap waspada.” Kata Pradipa.


Menjelang sore hari, jumlah pendekar yang datang di sekitar danau sudah semakin bertambah. Kurang lebih ada sekitar dua ratusan pendekar muda dari aliran putih yang telah sampai. Beberapa kali Niken dan Pradipa bertegur sapa dengan pendekar lain yang mereka jumpai. Hanya saja, yang membuat Niken tidak nyaman, banyak pendekar perepuan muda yang tiba-tiba datang. Tujuannya hanya satu, yakni berkenalan dengan Pradipa.


Tak masalah sebenarnya bagi Niken, namun setiap pendekar perempuan itu datang, secara tak langsung mereka mengisyaratkan permusuhan dan persaingan terhadap Niken. Niken tak peduli. Sungguh tak peduli jikalau Pradipa saat itu juga pergi bersama para gadis pendekar yang tiba-tiba terlihat manja itu. Lain halnya ketika dulu di kota Kaki Langit, Niken benar-benar sangat cemburu ketika Galuh mendekati Jalu.


Malam mulai merambat pelan menyelimuti danau Rembulan Merah dan hutan di sekitarnya dengan kegelapan. Bulan purnama belum muncul. Beberapa pendekar di sana menyalakan api kecil sekedar untuk penerangan, membakar ikan yang mereka dapatkan di danau dan menghangatkan suasana karena udara di sekitar danau sangat dingin.


Semua orang di sana tak tahu apa yang akan terjadi. Tentu mereka juga tak tahu siapa yang telah mengundang mereka, dan siapa pula yang akan memimpin dalam pertemuan malam itu. Semua gelisah dengan pikiran masing-masing.


Bulan purnama mulai muncul dan perlahan naik. Cahayanya yang jatuh ke permukaan danau membuat air danau itu tampak berwarna merah. Tak sepenuhnya merah, namun cenderung memberi kesan warna merah. Dan karena itulah, danau itu diberi nama danau Rembulan Merah.


Seharusnya, ketika bulan sudah tepat berada di atas danau, maka pertemuan itu mulai dibuka. Namun tak ada tanda-tanda. Semua menunggu dan semua belum menyadari bahwa ratusan pendekar aliran hitam telah menunggu aba-aba untuk menyerang para pendekar aliran putih di sekitar danau. Para pendekar aliran hitam itu telah menunggu di puncak keempat gunung yang mengelilingi desa Temaram Senja. Mereka akan menyerang para pendekar aliran putih dari empat penjuru mata angin.


Pendekar Harimau Merah telah mengatur siasat licik itu. Setelah beberapa kali memporak-porandakan perguruan aliran putih, berita itu telah menyebar luas. Hal itu membuat para pendekar aliran putih saling menunggu; kapan pertemuan pendekar aliran putih akan digelar?! Harimau Merah tak mau menyianyiakan kesempatan itu, ia kemudian menyebar undangan palsu dan mengincar para pendekar muda yang sedang berkelana. Mereka adalah mangsa yang empuk untuk dibantai.


####


Jalu dan Batari Mahadewi hampir sampai di desa Temaram Senja ketika lewat tengah malam. Bulan tak lagi tepat berada di atas kepala. Cahaya bulan purnama yang cukup untuk menerangi kegelapan malam di hutan membuat perjalanan mereka berdua lebih mudah dilakukan. Setelah mendaki gunung di depan mereka, barulah mereka akan sampai di desa Temaram Senja.


Batari Mahadewi menangkap pancaran energi ratusan pendekar yang sedang bertarung di balik gunung di depan mereka itu.

__ADS_1


“Kak Jalu, kita sedikit terlambat. Benar dugaan kita, undangan itu memang tidak beres. Sekarang para pendekar aliran hitam sedang membantai pendekar aliran putih yang sedang berkumpul di danau Rembulan Merah.” Kata Batari Mahadewi.


“Kalau begitu kita harus segera sampai di sana!” kata Jalu.


“Kak Jalu, terlalu lambat jika kita menuju ke sana dengan cara biasanya.” Kata Batari Mahadewi.


“Lalu bagaimana?” tanya Jalu.


“Kita akan terbang. Bersiaplah kak Jalu.” Dengan sigap Batari Mahadewi menarik tubuh Jalu dan membawanya melesat ke angkasa. Jalu sangat kaget, namun ia tak bisa apa-apa selain pasrah. Ia mengakui, untuk terbang tinggi dengan kecepatan seperti yang dilakukan Batari Mahadewi, ia belum sanggup melakukannya. Kalaupun ia bisa, maka energinya akan habis sebelum ia sampai di danau Rembulan Merah.


####


Sementara itu, di danau Rembulan Merah, para pendekar aliran hitam telah melakukan serangan mendadak yang membuat para pendekar aliran putih kalang kabut. Mula-mula mereka menyebarkan racun di udara, lalu mulai menghabisi para pendekar aliran putih yang tak siap dengan kedatangan mereka. Dalam waktu singkat, separuh dari para pendekar aliran putih telah terbantai.


Jumlah yang tak seimbang itu sungguh tidak menguntungkan pendekar aliran putih. Setidaknya, satu pendekar aliran putih harus melawan tiga hingga lima pendekar aliran hitam. Dengan demikian, para pendekar aliran hitam tak banyak menemukan kesulitan, terlebih beberapa pemimpin mereka, para pendekar aliran hitam yang telah memiliki nama seperti pendekar Mawar Hitam, pendekar Raja Sihir, pendekar Tengkorak, pendekar Wajah Hantu, dan pendekar Harimau Merah.


Andaikan ke lima tokoh pendekar hitam itu menyerang tanpa pasukan, belum tentu ratusan pendekar muda aliran putih di danau Rembulan Merah itu sanggup menandinginya. Di saat yang genting itu, Niken dan Pradipa yang sejak awal telah curiga, telah siap dengan serangan itu.


Keduanya bergerak cepat untuk menghabisi sebanyak mungkin pendekar aliran hitam agar korban di pihak aliran putih tak terlalu banyak. Namun usaha mereka tak sepenuhnya berhasil. Melihat keduanya memiliki kemampuan menonjol, maka pendekar Wajah Hantu dan pendekar Tengkorak terpancing untuk mendatangi Niken dan Pradipa.


####


Batari Mahadewi dan Jalu telah sampai di puncak gunung. Dari atas sana, keduanya melihat api besar yang melahap hutan. Pancaran energi dari pertarungan di bawah sana itu terasa begitu kuat. Batari mahadewi menangkap pancaran energi yang dilepaskan oleh Niken.


“Kita beruntung kak Jalu, kak Niken ada di tengah pertarungan itu.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ayo adik, kita segera ke sana. Aku tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.” Tanpa aba-aba, Jalu melesat dengan kecepatan kilat menuruni gunung agar segera sampai di danau Rembulan Merah. “Bertahanlah Niken, aku datang.” Ucap Jalu lirih.


__ADS_2