Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 208 Bertemu Kakak Seperguruan


__ADS_3

Para pendekar sesepuh yang sedang berkumpul di kediaman Ki Cakra Jagad itu sudah tentu tahu maksud kedatangan Ki Prapanca. Namun untuk membantu wilayah barat bukanlah hal yang bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan. Para pendekar wilayah timur terikat bakti untuk kerajaan-kerajaan timur dan atas perintah dari kerajaanlah mereka berkumpul di sana.


“Dirimu pasti tahu bahwa kami tak bisa melakukannya. Kami semua berada di sini atas permintaan para junjungan kami. Bagaimanapun juga, kami tak bisa melakukan tindakan sebebas-bebasnya meskipun jika kami semua berangkat ke barat dan menggabungkan kekuatan di sana, maka para prajurit kerajaan hitam akan lebih mudah ditangani.” Kata Ki Elang Langit.


“Ya, aku sudah tahu jawaban ini bahkan sebelum aku memutuskan untuk berangkat ke sini. Permintaan keduaku, bisakah kalian menerima kedatangan kami jika kelak kami harus mundur?” tanya Ki Prapanca.


“Kami hanya bisa menerima kedatangan para pendekar, bukan keluarga, pembesar, ataupun prajurit kerajaan. Bagaimanapun juga, semua perguruan aliran putih di Mahabhumi, atau di belahan dunia lainnya, adalah saudara. Jika kelak para pendekar dari barat datang kemari, maka aku sendiri yang akan menjadi yang pertama kali menyambut kedatangan kalian semua di padepokanku ini.” Kata Ki Cakra Jagad. Semua tetua pendekar dalam ruangan itu mengangguk setuju.


“Baiklah kalau begitu. Lega rasanya mendengar dukungan dari kalian semua.” Kata Ki Prapanca.


“Jangan sungkan, saudaraku. Bawalah semua pendekar yang tersisa kemari jika kalian gagal menghentikan pergerakan pasukan hitam di wilayah barat.” Kata Ki Gading Putih.


“Terimakasih banyak. Kalau begitu, aku akan kembali. Aku tak bisa berlama-lama meninggalkan rekan-rekanku di sana.” Kata Ki Prapanca. Pendekar tua itu lantas berpamitan dan melesat ke angkasa, terbang ke barat dengan kecepatan kilat.


 


 


Sementara itu, Batari Mahadewi dan Nala akhirnya sampai juga di pesisir selatan wilayah Swargadwipa. Keduanya turun sejenak untuk menapakkan kaki di hamparan pasir putih pantai yang sepi.


“Kita telah sampai, Tari. Mungkin setelah ini kita akan berpisah sejenak. Aku harus menemukan kakakku. Semoga saja ia masih di wilayah ini.” Kata Nala.


“Semoga kau lekas menemukan kakakmu, Nala. Jika kau belum berhasil, kau bisa menemuiku, aku akan membantumu mencari kakakmu. Aku juga akan mencari saudara-saudaraku untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Jika kau merindukanku, kau bisa menemuiku kapan saja. Kau bisa dengan mudah menemukanku, bukan?!” kata Nala.


“Merindukanmu? Hahaha, ya mungkin, entahlah. Setelah ini, maka inilah pertama kalinya kita berpisah setelah sepuluh tahun selalu bersama. Tenang saja, aku hafal pancaran energimu. Dalam sekejab mata aku bisa datang menemuimu. Hanya jika benar ternyata kau bisa membuatku rindu padamu. Sayang sekali, aku tak hafal dengan kekuatan kakakmu, jadi untuk menemukannya mungkin akan sedikit sulit.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, tenang saja, mungkin aku bisa menemukannya dengan mudah. Aku kenal betul dengan kakakku.” Kata Nala, “Baiklah, Tari, kita berpisah di sini.” Kata Nala.


Pemudah gagah itu melesat pergi meninggalkan Batari Mahadewi. Ada perasaan yang aneh yang dialami oleh mereka berdua.


Tinggalah Batari Mahadewi sendiri di sana. Perempuan maha sakti itu membuka semua inderanya kembali dan mencoba untuk merasakan pancaran energi saudara-saudaranya, atau siapapun yang ia hafal dengan baik. Ia begitu kaget ketika mendapatkan begitu banyak pancaran energi di suatu titik di arah barat.


‘Kenapa banyak sekali pendekar yang berkumpul di titik itu? Sebentar…seharusnya di sana adalah…kota Mutiara Biru. Aku harus ke sana!’ batin Batari Mahadewi. Ia kemudian mencoba menggunakan kemampuan berpindah dalam satu kedipan mata pada jarak yang sangat jauh untuk pertama kalinya.


Batari Mahadewi berhasil sampai di luar benteng kota Mutiara Biru dalam satu kedipan mata. ‘Ini adalah kota Mutiara Biru. Tapi kenapa banyak hal yang berubah? Kenapa ada benteng setinggi ini yang di bangun mengelilingi kota?’ kata Batari Mahadewi dalam hati. Ia mencoba membuka inderanya kembali. Sorot matanya mampu melihat segala sesuatu di balik tembok benteng yang tebal itu dan ia melihat begitu banyak pendekar yang ada di sana.


Batari Mahadewi mencoba mencari pancaran energi yang ia kenal. Dalam waktu singkat, ia tahu bahwa Jalu dan Niken ada di dalam benteng. Ia juga merasakan pancaran energi dari para pendekar senior yang beberapa diantaranya ia kenal. ‘Kakak-kakakku ada di sini semua, dan juga guru. Ada apakah ini?’ Batari Mahadewi memutuskan untuk langsung menemui Jalu dan Niken. Setidaknya ia punya cara untuk membuat kedua kakaknya itu mengenalinya.


Dalam satu kedipan mata, Batari Mahadewi telah berada di belakang Jalu dan Niken yang sedang duduk berdua di tepi kolam kota Mutiara Biru, sebuah tempat ketika pertama kalinya Jalu mengatakan perasaannya kepada Niken. Sepasang pendekar Api dan Es itu tak menyadari kehadiran adik seperguruannya yang telah berada di belakang mereka.


“Permisi, maaf jika aku mengganggu.” Kata Batari Mahadewi sepelan mungkin agar tidak mengagetkan kedua kakaknya. Namun begitu Jalu dan Niken menoleh dan memandang ke arahnya, keduanya langsung memasang kewaspadaan tinggi. Jalu dan Niken mengira sosok cantik namun terlihat aneh itu adalah ratu Ogha karena hanya orang dengan kemampuan sangat tinggi saja yang bisa berada di sana tanpa sepengetahuan siapapun. Dan bahkan, Jalu dan Niken pun tak menyadari kehadiran sosok itu.


“Siapa kau?” kata Jalu tak bersahabat. Tak ada pendekar Swargadwipa yang memiliki penampilan seperti sosok itu.


“Aku tak bermaksud jahat, wahai kalian pendekar Api dan Es.” Batari Mahadewi kambuh lagi untuk menggoda kedua kakaknya yang sama sekali tak mengenalinya lagi.

__ADS_1


“Kau bisa mengenali kami?! Siapa kau?” tanya Jalu penasaran.


“Aku utusan dewa.” Kata Batari Mahadewi tak kuasa menahan tawa sekaligus bahagia ingin segera memeluk kedua kakaknya itu.


“Jangan main-main! Katakan apa maumu?” kata Jalu hampir tak sabar. Suasana mencekam di Mahabhumi membuat semua orang menjadi sangat sensitif.


“Aku mau kalian mengatakan sejujurnya, apakah menurut kalian aku ini cantik dengan penampilan seperti ini?” tanya Batari Mahadewi masih menguji kesabaran Jalu dan Niken.


Pasangan pendekar Api dan Es itu tidak menjawab. Mereka merasa kesal dengan pertanyaan itu. Keduanya masih menerka-nerka siapa sosok itu dan apa maunya.


“Sudah lama sekali kita tak bertemu, kak Jalu, kak Niken. Selama setahun ini aku telah sepuluh tahun berada di dunia lain. Aku tumbuh menjadi seperti ini. Tentu kalian tak akan mengenaliku lagi sebagai gadis kecil yang selalu membuat kalian heran. Maka kali ini aku yakin kalian akan lebih terkejut lagi dengan kedatanganku.” Kata Batari Mahadewi


Jalu dan Niken gemetar. Ia ingat dan merasa tak asing dengan kata-kata yang diucapkan oleh sosok itu. Meski masih tak percaya dan tak yakin, namun keduanya menduga bahwa sosok itu adalah adik seperguruan mereka.


“Adik? Kau kah itu?” tanya Jalu.


“Tempat ini sangat bersejarah bagi kak Jalu dan kak Niken. Waktu itu aku pura-pura beli makanan untuk meninggalkan kalian berdua. Lalu sesuatu yang membahagiakan terjadi. Apakah kakak ingat? Kata Batari Mahadewi. Tentu saja, Jalu dan Niken tak pernah melupakannya. Hanya Batari Mahadewi yang tahu soal itu. Maka Niken tanpa ragu datang dan memeluk tubuh Batari Mahadewi dengan erat. Keduanya meneteskan air mata bahagia. “Kami sangat merindukanmu, adik…”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2