
Hujan telah reda dan menyisakan sedikit gerimis. Di langit, awan sedikit tersibak dan menyisakan celah untuk matahari sore menciptakan warna senja di antara awan-awan kelabu. Dari sisi timur, gumpalan awan hitam perlahan bergerak ke arah barat. Barangkali hujan tak akan benar-benar berhenti, dan hanya beristirahat sebentar sebelum mengguyur bumi dengan deras.
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken memutuskan berangkat saat itu juga, berkeliling desa terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka akan menuju ke kuburan, mencari tempat persembunyian yang paling baik untuk mengintai pencuri mayat.
“Bagaimana kalau nanti malam pencuri itu tidak datang?” tanya Niken
“Berarti kita bertiga akan bermalam di kuburan. Apabila beruntung, kita tak akan melihat hantu dan roh-roh penunggu kuburan. Tak terlalu buruk bukan, setidaknya bukan kita bertiga saja yang akan ada di kuburan. “ Jalu sengaja mengatakan gambaran yang kurang menyenangkan soal kuburan.
“Ku pikir itu sangat buruk. Aku lebih memilih berkelahi mengahadapi siluman daripada melihat hantu-hantu dengan wajah hancur. “Kata Niken sebal dengan ucapan Jalu.
“Hahaha, meskipun kau pendekar yang ditakuti siluman, rupanya kau takut juga dengan hantu ya?” Kata Jalu meledek Niken.
“Diam kau. Aku hanya tak suka kalau mereka mengikutiku, lalu duduk atau malah tidur di sebelahku.” Kata Niken sedikit marah.
“Iya…iya…maafkan aku nona manis. Nanti aku akan belikan manisan buatmu.” Kata Jalu masih menggoda Niken.
“Aku mau sepuluh buah.” Kata Niken
“Apakah kak Jalu juga akan memberiku manisan?” tambah Batari Mahadewi.
“Tenang adik, kakak akan memborong manisan kalau kita nanti bertemu penjualnya.” Kata Jalu.
“Oh iya, bolehkan jika nanti kita melewati bangunan tingkat di dekat sungai sana?” Kata Batari Mahadewi.
“Tidak masalah. “ Kata Jalu. “Eh, bukankah bangunan yang kau maksud itu adalah toko dan pabrik senjata dan perlengkapan pendekar?” tanya Jalu.
“Aku lupa soal itu. Nanti kita akan tahu.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Sesampainya di dekat bangunan yang dimaksudkan oleh Batari Mahadewi, bangunan itu ternyata memang benar toko dan pabrik senjata untuk para pendekar. Toko itu tak hanya menyediakan senjata untuk desa Air Kehidupan, namun juga memasok barang produksi mereka ke desa-desa lain, dan bahkan hingga ke kota lainnya.
“Toko ini tampaknya menarik, sejak tadi pagi sebenarnya aku ingin mampir melihat-lihat.” Kata Niken.
“Kalau begitu mari kita masuk dan melihat-lihat.” Kata Jalu.
“Ide bagus. Itu yang kuharapkan.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiganya lalu memasuki toko itu yang kebetulan belum tutup meski hari sudah hampir gelap dan gerimis.
“Silahkan tuan dan nona-nona pendekar. Ada yang bisa kami bantu?” kata pelayan toko itu menyambut ramah. Toko itu merupakan milik pendatang berkulit putih, bahkan pelayan dan semua pekerja di pabrik itu berasal dari bangsa yang sama.
“Bolehkah kami melihat-lihat koleksi di toko ini?” Tanya Jalu.
“Silahkan, saya siap membantu tuan dan nona-nona sekalian. Di ruang ini hanya ada senjata biasa. Apaila tuan dan nona sekalian menghendaki senjata yang lebih baik kualitasnya, silahkan masuk ke ruang dalam. Kami punya beberapa koleksi pusaka langka.” Pelayan toko itu mencoba menawarkan dagangannya.
“Apakah semua senjata yang di jual di toko ini dibuat di sini?” Tanya Niken.
Di dalam toko itu, Batari Mahadewi merasakan energi yang tak asing baginya. Namun ia lupa dimana ia berjumpa dengan energi itu.
Di dalam ruangan itu, ada dua pusaka sakti yang menarik perhatian Batari Mahadewi. Yang pertama adalah keris dengan ukuran yang besar, setara dengan sebuah golok besar. Dan yang kedua adalah pedang dengan ukiran dan hiasan yang sangat cantik.
Kedua senjata itu mengeluarkan energi kematian yang cukup pekat. Hanya saja energi itu berbeda. Keris besar itu memancarkan energi yang berasal dari ratusan nyawa yang pernah melayang oleh senjata tersebut.
Sementara energi yang keluar dari pedang itu adalah energi dari kematian yang ditempa ketika pedang itu dibuat. Pedang ini belum pernah dipakai membunuh, kenapa energi kematiannya bisa sekuat ini? Batin Batari Mahadewi.
“Nona memiliki selera bagus.” Kata pelayan toko itu, “Kedua senjata ini adalah koleksi terbaik kami. Keduanya berasal dari masa lalu dan pernah digunakan oleh pendekar-pendekar sakti.” Pelayan toko itu menjelaskan.
__ADS_1
Batari Mahadewi tahu pelayan toko itu berbohong soal pedang yang cantik itu. “Oh, saya kira pedang ini pusaka baru.” Kata Batari Mahadewi pura-pura tidak mengerti. “Pedang ini seperti hiasan karena bentuknya yang cantik. Gagang dan ukirannya terbuat dari emas bukan?” tanya Batari Mahadewi.
Ada perubahan raut wajah dari pelayan toko itu ketika Batari Mahadewi menyebutkan bahwa pedang itu adalah pusaka baru. Namun ia buru-buru menutupi rasa kagetnya. “Gagang pedang dan hiasan ukiran ini memang terbuat dari emas, nona. Sementra bahan utama untuk membuat pedang ini adalah batu meteor, perak, baja, serta batu tuah. Nona bisa memegangnya kalau mau.”
“Tidak usah paman. Saya tidak terbiasa memegang pedang.” Kata Batari Mahadewi.
“Oh, kukira nona adalah pendekar pedang. Maafkan saya, saya tidak ahli dalam menebak seseorang, hahaha.” Kata pelayan itu berusaha mencairkan suasana.
“Semua pusaka di toko ini sungguh mengesankan, bapak. Sayang sekali kami bertiga adalah pendekar yang tak terlatih untuk menggunakan senjata. Jadi mohon maaf, kami hanya bisa menikmati dan mengagumi keindahan pusaka-pusaka di sini.” Kata Jalu. “Kami sangat berterimakasih karena telah diizinkan untuk mampir dan melihat pusaka-pusaka di sini. Namun sayang sekali kami tak bisa berlama-lama. Kami harus mengunjungi teman kami.”
“Oh, tidak apa-apa, tuan. Kami sangat senang karena tuan dan nona sekalian berkenan mampir di sini. Bila ada waktu, silahkan mampir. Siapa tahu tuan dan nona sekalian ingin memberikan hadiah pusaka untuk teman atau saudara tuan dan nona sekalian.” Kata pelayan toko itu gigih dan ulet untuk mengambil hati tamu-tamu toko.
Ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju ke kuburan. Hari sudah petang. Hujan turun lagi. Semua rumah sudah menutup pintu. Batari Mahadewi, Niken dan Jalu menggunakan tenaga dalamnya untuk mempercepat perjalanan menuju kuburan. Mereka bertiga melompat dari atap ke atap, pohon ke pohon, tanpa suara.
Sesampainya di kuburan, mereka bertiga memilih untuk bersembunyi di atas pohon paling besar dan tinggi di kuburan itu. Hujan kurang menguntungkan dalam pengintaian di kuburan yang gelap itu, namun juga karena hujan itulah keberadaan mereka bertiga tak diketahui oleh siapapun.
Waktu berlalu dan hampir tengah malam. Tak ada tanda-tanda mencurigakan di kuburan. Pencuri belum datang dan beraksi. Hujan sudah reda sejak satu jam yang lalu. Sedari tadi mereka bertiga hanya diam dan menunggu.
Batari Mahadewi telah menangkap energi yang sama dengan pedang cantik di toko senjata itu sejak ia sampai di kuburan itu, dan ia akhirnya bisa mengingat bahwa energi pedang itu sama dengan energi yang pernah ia rasakan di kuburan sejak pertama kali ia datang ke situ.
Ada yang salah dengan toko itu! Tapi apa? Mungkinkah hantu-hantu kuburan ini yang ada di pedang itu? Batin Batari Mahadewi. Kemudian ia baru saja mengerti dan menyadari motif dari pencurian tulang belulang di kuburan itu.
Ya, aku tahu sekarang. Tulang belulang ini dilebur untuk dijadikan senjata agar senjata itu memiliki aura kematian yang kuat dan seolah-olah berasa dari masa lalu! Batin Batari Mahadewi. Ia tak mengatakan pada saudara seperguruannya karena semua harus diam di sana.
Selang beberapa saat, terlintas sosok bayangan berkelebat. Batari Mahadewi langsung bisa mengenali pancaran energi dari sosok tersebut, yaitu lelaki yang ia lihat di kedai makan.
Lelaki itu berdiam diri sejenak, memastikan sekali lagi bahwa tidak ada seorangpun di sana kecuali dirinya. Setelah itu, ia menggali salah satu kuburan di sebelahnya dengan kedua tangannya yang cepat seolah kedua tangannya itu terbuat dari besi yang mampu mencongkel tanah dengan sangat mudah. Hanya perlu waktu sebentar bagi lelaki itu untuk menemukan tulang belulang di dalam kuburan yang ia gali.
__ADS_1
Ia memunguti tulang belulang itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam kantong, lalu membawanya pergi.
Batari Mahadewi, Niken, dan Jalu tak berniat langsung menangkap orang itu, melainkan membuntutinya. Tak jauh dari kuburan itu, ternyata seorang lelaki lain menunggunya. Lelaki yang membawa bungkusan tulang belulang itu menyerahkannya kepada lelaki yang menunggunya. Setelah itu keduanya berpisah.