Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 299 Belajar Meniup Seruling


__ADS_3

Matahari terasa terlalu cepat datang setelah pertarungan semalam. Sejak subuh, sanggar itu sudah mulai hidup. Beberapa murid telah datang latihan di pagi-pagi buta untuk melatih tubuh mereka. Meski penari, namun latihan tubuh yang mereka jalani bisa dibilang setara dengan pesilat.


Tubuh penari tak hanya luwes dan lentur, namun juga kuat, kokoh, dan gesit. Agar tubuh terlihat menarik di panggung, maka perlu latihan tarik-menarik. Maksudnya, seorang penari akan berusaha keras menarik bagian-bagian tubuhnya, terutama pada bagian persendian, hingga pada batas-batas yang seolah tak mungkin dicapai.


Batari Mahadewi dan Nala keluar dari kamar tamu masing-masing. Mereka pergi menuju ke halaman depan, menyaksikan para murid penari itu sedang latihan dengan semangat. Untuk pemanasannya saja, mereka harus berlari menempuh jarak yang cukup jauh. Setelah itu barulah mereka latihan pelenturan, keseimbangan, kekuatan, nafas, lalu ketrampilan gerak yang tak hanya melibatkan anggota tubuh saja, melainkan pikiran, perasaan, dan imajinasi.


“Aku baru tahu bahwa seorang penari harus berlatih sedemikian keras layaknya seorang pendekar,” kata Nala.


“Aku juga baru kali ini menyaksikannya langsung. Tetapi mungkin beda perguruan beda juga cara latihannya. Hmm, Nala, hari ini aku akan membuat seruling pusaka. Selain emas dan perak, aku butuh banyak mustika dan bebatuan alam yang memiliki kekuatan bagus,” kata Batari Mahadewi.


“Apakah kita tidak bisa menggunakan bahan-bahan pemberian siluman naga laut?” tanya Nala.


“Jika bahan-bahan itu tak berasal dari kekuatan hitam, mungkin masih bisa dimanfaatkan. Soal emas dan perak, mau tak mau kita harus mencarinya di perut bumi. Kita tak mungkin menggunakan emas ciptaanmu,” kata Batari Mahadewi.


“Apakah harus menggunakan emas?” tanya Nala.


“Tidak juga, hanya saja aku ingin serulingnya adalah seruling emas, sesuai dengan nama pendekar yang menggunakannya. Tetapi mungkin yang akan aku buat tak sepenuhnya emas. Aku akan mencampurkan berbagai jenis logam sehingga seruling itu memiliki lebih banyak jenis kekuatan di dalamnya,” kata Batari Mahadewi.


“Aku bisa mencarikannya saat ini juga, kau tunggu saja di sini,” kata Nala.


“Hahaha, kau paham sekali apa yang kupikirkan. Baiklah, aku akan menunggumu. Ingat, cari di tempat yang jauh. Jangan terlalu menarik perhatian,” pesan Batari Mahadewi.


“Tentu. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Nala melangkah meninggalkan Batari Mahadewi. Setelah keluar sanggar dan ketika tak ada siapapun di sana, lelaki gagah itu melesat dengan kecepatan yang tak terlihat mata orang-orang biasa.

__ADS_1


Sementara itu, Batari Mahadewi kembali menyaksikan para penari yang sedang latihan. Tak lama kemudian murid-murid lain yang belajar musik mulai berdatangan. Mereka mengeluarkan berbagai alat musik dan membawanya ke pendopo. Berbagai jenis alat musik itu mereka tata sedemikian rupa.


Batari Mahadewi mendekati seorang perempuan paruh baya yang sedang memainkan seruling bambu. Perempuan itu tersenyum, lalu melanjutkan lagi permainannya. Sebuah lantunan nada-nada yang indah dan menyentuh perasaan.


“Apakah bibi pemain seruling?” tanya Batari Mahadewi.


“Kami wajib mempelajari semua alat musik yang ada di sini. Dalam pementasan, kadang saya memainkan seruling, kadang memainkan alat yang lain,” jawab perempuan itu dengan ramah. “Apakah nona juga sedang belajar di sini?” perempuan itu balas bertanya.


“Sebenarnya tidak. Tetapi melihat bibi bermain seruling bambu itu, saya jadi ingin belajar,” jawab Batari Mahadewi.


“Sebentar, aku ambilkan satu seruling lagi.” Perempuan itu melangkah menuju ke sebuah kotak yang berisi beberapa alat musik berukuran kecil, lalu ia mengambil sebuah seruling bambu dan menyerahkannya kepada Batari Mahadewi. “Begini cara meniupnya nona, perhatian jari-jari tangan yang menutup lubang-lubang ini.” Lalu perempuan itu memperagakan latihan dasar meniup seruling.


Batari Mahadewi menirukannya. Perempuan itu tertegun memandang jemari Batari Mahadewi yang terlihat unik. Namun ia enggan bertanya, kenapa jemari gadis serupa bidadari itu berbeda dengan umumnya.


Batari Mahadewi mencoba lagi, memainkan jemarinya untuk mengganti nada-nada yang dihasilkan oleh seruling bambu itu. Perempuan itu juga terus memberikan arahan tertentu, sehingga gadis yang membuat Nala tergila-gila itu bisa memahami cara bermain seruling dengan lebih baik daripada harus belajar sendiri.


“Tidak sulit, kan? Bagus tidaknya permainan nona tergantung dari ketekunan nona untuk terus menerus belajar memainkan alat ini. Nona bisa mengandalkan ingatan nona tentang bunyi-bunyian yang pernah nona dengar. Bermain seruling sama halnya bernyanyi, hanya saja dalam bermain seruling, jemari dan nafas kitalah yang menghasilkan bunyi-bunyian itu. Selebihnya, nona tinggal mengunakan perasaan nona untuk menentukan keras lembutnya, panjang pendeknya suatu bunyi yang nona mainkan,” kata perempuan itu.


“Saya mengerti bibi, terimakasih banyak atas petunjuknya. Bolehkah saya meminjam seruling ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tentu saja nona, seruling itu untuk nona saja. Suami saya bisa membuatnya lagi nanti,” jawab perempuan itu.


“Oh, benarkah? Terimakasih banyak, bibi. Saya akan berlatih di tempat lain agar tak mengganggu bibi berlatih di sini bersama yang lain,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Sama-sama nona. Kemarilah lagi nanti kalau ingin menanyakan sesuatu padaku. Setiap hari aku ada di sini dari pagi hingga sore,” kata perempuan itu.


“Baik bibi, saya akan datang lagi nanti jika ingin bertanya. Saya akan ada di sini selama beberapa hari kedepan,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu kemudian pergi mencari tempat yang sepi. Setiap orang yang ada di sana selalu memandangnya dengan takjub, seolah melihat bidadari yang sebenarnya, yang telah turun dari istana dewa.


Di salah satu pelataran yang sepi, di bawah pohon beringin yang rindang, Batari Mahadewi kembali berlatih seruling. Ia ingin benar-benar memahami alat itu. Sesuai dengan petunjuk dan nasehat yang diberikan oleh perempuan yang tadi ia temui, ia memainkan nada-nada entahlah, namun enak untuk didengar. Setidaknya, para murid, terutama murid laki-laki yang sedang latihan jadi sedikit kehilangan konsentrasi memandang bidadari cantik itu bermain seruling di bawah pohon. Namun tak satupun yang berani mendekat, lantaran beberapa orang sudah tahu, bahwa gadis itu adalah tamu sang guru besar.


Tak lama kemudian, Ki Rangga Suluk datang mencarinya setelah sedari tadi ia mencari-cari kedua tamunya yang sudah tak berada di wisma tamu miliknya.


“Nona di sini rupanya. Di manakah Nala?” tanya Ki Rangga Suluk.


“Nala sedang mencari bahan untuk membuat seruling pusaka, paman. Sebelum membuatnya, saya ingin mempelajari tentang seruling. Beruntung tadi ada bibi baik hati yang memberikan saya seruling bambu ini,” jawab Batari Mahadewi.


“Nona Tari sungguh cepat belajar ternyata. Lagu yang nona mainkan sudah enak didengar. Mungkin nona perlu juga mempelajari seruling pusaka ini. Bawalah dahulu, saya akan mengawasi murid-murid yang sedang latihan. Oh iya, kami sudah menyiapkan makanan di wisma. Jangan lupa makan,” kata Ki rangga Suluk. Ia kemudian pergi meninggalkan Batari Mahadewi.


Seruling emas Ki Rangga Suluk berukuran kecil. Hanya satu jengkal saja panjangnya, dengan sembilan lubang angin. Seruling itu terbuat dari emas yang didalamnya telah ditanamkan beberapa mustika alam saja.


Yang menarik dan membuat benda itu menjadi seruling pusaka, sang empu pembuatnya menyisipkan aksara rahasia yang berisi jurus-jurus untuk meniup seruling itu sebagai senjata pusaka. Jika ditiup dengan cara biasa, seruling itu hanyalah seruling biasa, yang mengeluarkan suara lebih merdu dari seruling bambu. Namun jika cara meniupnya sesuai dengan jurus-jurus yang tertulis dalam aksara rahasia pada seruling itu, maka bunyi yang dihasilkan akan terdengar sangat menyakitkan bagi pendekar aliran hitam.


Sehingga, cara meniup seruling itu sebagai senjata, tidak semata-mata hanya menggunakan udara, namun juga kekuatan yang dialirkan melalui seruling itu. Semakin tinggi kekuatan yang mengalir, maka semakin mengerikan hasilnya. Namun, jika terlalu tinggi kekuatan yang dialirkan, maka seruling itu akan hancur karena tak sanggup menahan kekuatan yang memainkannya. Sama halnya dengan pedang pusaka. Semakin bagus dan tinggi kekuatan pedang pusaka, maka pedang itu semakin kuat untuk menerima aliran tenaga dari yang menggunakannya.


Menjelang siang, Nala belum juga datang. Batari Mahadewi mencari Ki rangga Suluk untuk mengembalikan seruling pusaka itu. Ia telah mempelajari semua jurus rahasia untuk memainkan seruling itu dan juga mempelajari semua bagian dari seruling itu dan ia mempunyai bayangan bagaimana membuat seruling pusaka yang lebih baik lagi.


“Apakah kau sudah cukup mempelajari seruling ini?” tanya Ki Rangga Suluk

__ADS_1


“Sudah paman. Tinggal menunggu Nala datang, lalu aku akan membuatnya,” kata Batari Mahadewi dengan nada yang sangat meyakinkan.


__ADS_2