Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 44 Akhir Dari Pertandingan Persahabatan


__ADS_3

Batari Mahadewi ingin menguji sejauh mana kekuatannya bisa digunakan untuk menahan serangan Ki Elang Langit. Ia tak beranjak, namun hanya menciptakan bola udara berselubung cahaya emas dan pijaran listrik untuk menahan cakar elang Ki Elang Langit yang menyerangnya dari empat penjuru.


Keduanya membutuhkan ketahanan dan kapasitas energi yang memadai untuk tetap bisa mempertahankan serangan atau bertahan dari serangan. Cakar elang Ki Elang langit telah menghimpit bola cahaya yang menyelubungi tubuh Batari Mahadewi. Kedua energi itu bersitegang dalam waktu yang cukup lama. Dorongan energi dari kedua jurus itu menciptakan pusaran angin yang besar, menyapu seluruh awan di langit. Kedua pendekar itu mengerahkan seluruh energinya hingga habis untuk saling menekan.


Sedar tadi penonton tak berkedip untuk melihat apa yang terjadi di atas. Kedua cahaya perak dan emas itu perlahan memudar, lalu sirna. Pertarungan telah berakhir. Ki Elang Langit dan Batari Mahadewi turun ke arena perlahan.


“Kau pendekar yang luar biasa, nak Batari.” Kata Ki Elang Langit


“Paman terlalu memuji saya. Saya masih kurang pengalaman, paman, meski mungkin energi yang saya miliki cukup besar.” Kata Batari Mahadewi.


“Pengalaman akan datang sendiri seiring perjalananmu menempuh jalan pendekar. Kini kamu adalah seorang pendekar legendaris muda. Namamu akan cepat tersebar di dunia persilatan, terlebih setelah pertarungan kita tadi. Itu artinya kamu harus selalu siap menghadapi tantangan dari pendekar-pendekar lainnya.” Kata Ki Elang Langit memberikan wejangan singkat.


Dengan berakhirnya pertandingan itu, maka berakhir pula seluruh rangkaian acara turnamen uji kanuragan tahunan yang di selenggarakan di desa Atas Awan. pancala lahir sebagai jawara, pendekar muda bergelar baru di desa Atas Awan. sementara Batari Mahadewi, secara otomatis, mendapatkan pengakuan sebagai pendekar legendaris oleh semua orang yang menyaksikan pertarungannya dengan Ki Elang langit.


Masih banyak yang tak percaya atas kemampuan Batari Mahadewi, terlebih setelah mereka mengetahui usia gadis kecil itu yang sebenarnya. Setelahnya, mereka hanya bisa kagum dan hormat kepada gadis kecil yang tak terlihat seperti pendekar sakti itu.


Seusai acara itu, semua warga bergotong royong untuk berbenah dan memperbaiki semua kerusakan akibat pertarungan Ki Elang Langit dan Batari Mahadewi. Sore harinya, semua warga di kediaman Ki Elang Langit mengadakan perayaan kecil sebagai bentuk syukur dan kebersamaan, sekaligus untuk menjaga agar tak ada konflik dari ke empat perguruan yang ada di desa Atas Awan.


Malam itu, Ki Elang Langit berbicara empat mata dengan Batari Mahadewi sebelum ia dan kedua kakak seperguruannya melanjutkan perjalanan esok hari.


“Nak Batari, saat ini keadaan tak setenang yang tampak. Di seluruh kerajaan Swargadwipa, pendekar golongan hitam dari berbagai wilayah, bahkan dari kerajaan lain, mulai berdatangan. Ini bukan hal baik. Nyi Bestari menyampaikan kabar ini sewaktu ia pulang kemarin.” Kata Ki Elang Langit.


“Mungkin nak Batari terlalu muda untuk urusan seperti ini, tapi kemampuanmu akan sangat berperan penting apabila nantinya, para pendekar golongan hitam akan menyerang pendekar golongan putih, atau mereka mungkin akan menyerang kerajaan dan mengambil alih kekuasaan.” Ki Elang Langit melanjutkan.

__ADS_1


“Sayang sekali gurumu telah pamit dari dunia persilatan. Namun aku yakin beliau tak akan menyuruh muridnya untuk diam apabila serangan balasan dari golongan hitam telah terjadi kelak. Dulu kami berhasil membasmi golongan hitam hingga jumlah mereka kurang dari setengah. Namun mereka cepat berkembang dan memiliki jaringan yang baik dengan pendekar hitam dari wilayah lain.”


“Berbeda dengan golongan putih yang lebih suka menyepi dan jauh dari keramaian, pendekar golongan hitam berperilaku sebaliknya. Ini merupakan kelemahan dari pendekar golongan putih. Terlalu naïf dan percaya diri. Padahal, aku tak yakin jika pendekar golongan putih lebih gampang diajak kerjasama. Sebaliknya, golongan hitam lebih pandai mengorganisir kekutan besar.” Kata Ki Elang Langit.


“Sebelum kami bertiga sampai di sini, kami berurusan dengan kelompok Kelelawar Hitam, Kelabang Iblis, dan Bayangan Siluman. Mereka bertiga berusaha menguasai kota Kaki Langit, namun usaha mereka berhasil kami gagalkan. Bayangan Siluman dan Kelelawar Hitam telah mati. Sementara Kelabang Iblis telah kehilangan satu lengannya. Mungkin kelompok-kelompok itu tak akan berhenti sampai di sana.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, berita itu juga ku dengar dari Nyi Bestari. Sudah pasti mereka akan menuntut balas, dan besar kemungkinan mereka akan mencari kalian bertiga.” Kata Ki Elang Langit.


“Paman benar, dan kami juga telah mempersiapkan diri untuk hal itu. Namun kami memang tak mengetahui sejauh mana kekuatan kelompok golongan hitam. Apabila hanya satu atau dua kelompok menyerang kami bertiga, mungkin kami masih bisa mengendalikan situasi, namun jika mereka datang dalam jumlah besar, kami belum punya rencana apapun.” Kata Batari Mahadewi.


“Menurut paman, mereka tak akan menyerang dalam jumlah besar. mungkin hanya ada satu atau dua pendekar yang silih berganti berdatangan menantang kalian. Yang paman khawatirkan justru kekuatan besar itu memiliki rencana yang lebih jauh, yakni menguasai kerajaan Swargadwipa.” Kata Ki Elang Langit.


“Untuk itu, berhati-hatilah. Mungkin ada beberapa pendekar hitam yang ilmunya di atasku, dan beberapa lainnya yang datang dari kerajaan lain, misalnya kerajaan Swargaloka, mereka dikenal sebagai petarung-petarung dengan ilmu siluman tingkat tinggi, yang setara dengan pendekar tingkat dewa.” Kata Ki Elang Langit.


“Baik paman, kami pasti selalu berhati-hati.” Kata Batari Mahadewi.


“Silahkan paman.” Jawab Batari Mahadewi.


“Apakah nak Batari tadi sudah mengerahkan seluruh kemampuan sewaktu bertanding denganku?” Tanya Ki Elang Langit.


“Belum paman. Ilmu Tapak Petir terlalu buruk akibatnya. Tapi dasar-dasar dari ilmu itu sudah paman saksikan, jika dilakukan dengan energi tinggi, akan menghasilkan pijaran listrik. Besar dan dampaknya tergantung dari seberapa banyak energi yang dikerahkan untuk itu.” Jawab Batari Mahadewi.


“Hmm…benar dugaanku. Ilmu itu memang sangat berbahaya. Mungkin itu sebabnya, aksara rahasia menuju jurus itu sangat sulit dibaca.” Kata Ki Elang Langit. “aku tak habis pikir, bagaimana nak Batari bisa membaca aksara itu?”

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu, paman, tapi kemampuan ini sudah ada sejak usiaku 2 tahun. Semakin bertambah usiaku, semakin banyak yang bisa kubaca.” Jawab Batari Mahadewi.


“Hmm…mungkin karena itu juga kamu bisa berbicara seperti orang dewasa. Tak hanya kemampuan fisikmu yang luar biasa, tapi juga kemampuanmu berbahasa. Konon, kemampuan bahasa ini berpengaruh penting pada kemampuan beladiri.” Kata Ki Elang Langit. “Baiklah nak Batari, mungkin kamu harus istirahat cepat mala mini, perjalanan panjang masih menantimu esok hari.”


“Baik paman, terimakasih banyak atas semua petunjuknya.” Jawab Batari Mahadewi. Ia pamit undur diri, menemui kedua kakak seperguruannya yang sedang duduk berdua di beranda.


“Apakah aku mengganggu kalian berdua?” Kata Batari Mahadewi sengaja mengagetkan mereka.


“E…tidak…kami menunggu adik.” Jawab Jalu.


“Ada berita apa dari paman Elang?” Tanya Niken.


“Tidak ada. Hanya beliau mengingatkan agar kita berhati-hati. Nyi Bestari menangkap kehadiran banyak pendekar hitam dari berbagai wilayah lain datang ke wilayah kerajaan Swargadwipa. Mungkin akan ada hal buruk terjadi.” Jawab Batari Mahadewi.


“Ada baiknya setelah kita selesai dengan tugas ini, kak Jalu berkunjung ke istana. Siapa tahu kakak akan dibutuhkan di sana.” Kata Niken.


“Ya, hanya jika kalian berdua mau ikut ke sana, aku akan menengok ayah dan ibuku.” Kata Jalu. “Mungkin ada baiknya besok pagi kita segera berangkat. Kita tak bisa menunda terlalu lama perjalanan ini.” Lanjutnya.


“Kakak benar. Aku punya firasat yang kurang baik atas kedatangan para pendekar golongan hitam itu.” Kata Batari Mahadewi.


Semakin malam, desa itu semakin sunyi. Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken masuk ke kamar mereka masing-masing.


Batari mahadewi merasa lega, pertandingan dengan Ki Elang Langit tak menimbulkan hal yang tak diharapkan. Ia bisa tidur nyenyak malam itu. Pikirnnya jauh lebih lelah dari tubuhnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2