
“Mohon maaf tetua atas kelancangan kami datang ke sini. Kami bukan berasal dari dunia ini. Percaya atau tidak, kami terlempar dari dunia asal kami hingga ke dunia sini. Sebelumnya kami telah menjelajahi pulau besar yang tak dihuni satu manusiapun. Semua penghuninya adalah monster. Tapi di sana kami bertemu dengan seorang kakek tua. Mirip kami, namun ukuran tubuhnya sangat kecil.” Kata Batari Mahadewi menjelaskan sejujurnya.
“Dari dunia lain? Tapi orang-orang seperti kalian ini ada di negri Jingga yang berada di pulau lain. Kami harus selalu waspada dengan kedatangan bangsa lain di pulau ini. Saat ini adalah saat-saat genting, karena kabarnya, orang-orang dari negri jingga sudah mulai menyerang ke wilayah lain untuk menguasai wilayah itu. Apakah kalian bisa membuktikan bahwa kalian memang benar berasal dari dunia lain?” tanya tetua desa itu.
“Lihatlah pakaian kami yang sudah compang-camping ini, tetua. Sejak terlempar ke sini, kami belum menemukan satu manusiapun, dan hanya bertarung melawan para makhluk aneh di sepanjang perjalanan kami.” Kata Nala.
“Benar tetua, kami tak memiliki tujuan tertentu, kami hanya berharap suatu saat kami bisa kembali ke dunia kami.” Batari Mahadewi menambahkan.
“Jika kalian bisa lolos dari pulau iblis, maka kemampuan kalian tentunya cukup tinggi. Tak banyak dari kami yang berani pergi ke sana.” Kata tetua itu. tak lama kemudian, sosok lain masuk, membawakan suguhan berupa buah-buahan dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, salah satunya adalah buah yang memancarkan cahaya kemerahan seperti yang mereka lihat di ladang sebelumnya.
“Makanlah suguhan sederhana dari kami ini. Jangan sungkan-sungkan.” Kata istri tetua itu dengan ramah. Dalam hati, Batari mahadewi cukup heran, bagaimana mereka bisa membedakan satu dengan lainnya sementara wajah mereka mirip-mirip semua?!
“Terimakasih banyak atas suguhannya, bibi.” Kata Batari Mahadewi.
“Jika kalian berasal dari dunia lain, dan sedang mencari cara agar bisa kembali, kami tak bisa banyak membantu. Tapi jika kalian pergi ke kota, kalian bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki banyak wawasan dan ilmu tinggi. Mungkin mereka bisa membantu. Tapi, mungkin kalian juga akan dicurigai seperti kedatangan kalian di sini.” Kata tetua desa itu.
“Kalian bisa mengganti pakaian sebelum melanjutkan perjalanan. Kami punya beberapa pakaian yang mungkin masih pas dengan tubuh kalian. Pakaian yang seperti kami kenakan. Dengan begitu, kedatangan kalian ke kota mungkin tidak akan terlalu banyak dicurigai. Tapi kami tak bisa menjaminnya.” Kata istri tetua desa itu.
“Terimakasih, bibi, tentu bantuan paman dan bibi sangat berarti bagi kami.” Kata Batari Mahadewi.
Pakaian yang dikenakan oleh warga di pulau itu mirip-mirip. Sebuah jubah berwarna putih dengan lengan panjang dan penutup kepala. Dengan memakai jubah itu sepenuhnya, yang terlihat adalah bagian wajah dan telapak tangan saja. Namun orang-orang yang sedang melakukan kerja berat akan membuka penutup kepala mereka sehingga bentuk kepala mereka yang mirip buah alpukat itu bisa jelas terlihat.
__ADS_1
“Kalian boleh menginap di sini selama yang kalian mau. Kalian juga bisa mempelajari budaya kami selama tinggal di sini.” Kata tetua desa itu memberikan izin.
“Sekali lagi, terimakasih banyak, tetua.” Kata Batari Mahadewi.
Nala dan Batari Mahadewi memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di desa itu. Pada hari kedua, salah seorang warga desa sedang diangkut dengan tandu menuju ke rumah tetua desa. Orang-orang yang mengangkat tandu itu terlihat panik.
“Tetua…tetua…tolong saudara kita ini tetua. Ia kena racun binatang laut ketika tadi sedang mencari ikan.” Kata salah satu dari orang-orang desa itu.
“Letakkan di situ, aku akan mengambilkan obat.” Kata tetua desa. Nala dan Batari Mahadewi yang sedang berjalan-jalan tak jauh dari rumah tetua akhirnya penasaran dan datang mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu bisa dengan mudah mengetahui kalau orang yang sedang merintih kesakitan itu baru saja terkena racun. Tubuhnya telah berwarna biru sebagian, dan wajahnya pucat. Mirip penampakan hantu di dunia satu rembulan.
“Bolehkah saya menolong?” Tanya Batari Mahadewi meminta izin. Tak ada jawaban, tapi wajah orang-orang itu mempersilahkan batari Mahadewi. Dengan cepat, Batari Mahadewi menyerap racun yang menyerang tubuh orang itu dengan tangan kanannya. Hanya perlu waktu sejenak, racun dalam tubuh orang itu telah sepenuhnya hilang. Kemudian, Batari Mahadewi mengalirkan energinya untuk memulihkan orang itu.
“Terimakasih banyak nona, kurasa aku sudah tak merasakan sakit lagi.” Kata orang itu.
Kejadian itu membuat warga yang semula masih merasa curiga, akhirnya mulai bisa menerima kehadiran Nala dan Batari Mahadewi. Tetua desa juga akhirnya bisa sepenuhnya mempercayai cerita Batari Mahadewi dan Nala bahwa mereka telah menjelajahi pulau Iblis dengan melihat kemampuan Batari Mhadewi yang bisa menyembuhkan salah satu warganya yang terkena racun. Tetua desa itu sendiripun belum yakin kalau obatnya bisa menolong warganya itu.
“Kalian memiliki kemampuan yang luar biasa. Kejadian seperti ini sangat sulit kami tangani. Untuk mencari bantuan ke kota pun akan membutuhkan waktu lama. Karena di kotalah, orang-orang dengan kemampuan seperti kalian tinggal di sana. Jadi, seperti yang kemarin aku katakan, mungkin kalian akan mendapatkan banyak petunjuk setelah kalian tiba di kota.” Kata tetua desa.
“Ya, paman, kami memang berencana akan pergi ke kota besok pagi.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Batari Mahadewi dan Nala berpamitan untuk pergi ke kota.
“Terimakasih banyak, paman dan bibi telah memberikan banyak hal kepada kami selama dua hari ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Sama-sama. Kami juga sangat berterimakasih atas bantuannya menyembuhkan anggota warga desa kami.” Kata tetua desa.
Nala dan Batari Mahadewi melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka tak mau merasa tegang sperti perjalanan sebelumnya yang penuh dengan bahaya. Keduanya serasa menemukan kehidupan lain yang menyenangkan.
“Ah, terasa lama sekali aku tak menikmati perjalanan seperti ini.” Kata Nala.
“Dan makan makanan enak. Aku paling suka makan buah para yang memancarkan cahaya merah itu.” kata Batari Mahadewi.
“Kau benar, tetua mengatakan kalau buah itu hanya tumbuh di desa mereka. Harganya cukup mahal. Mereka akan menjualnya ke kota saat panen besar tiba.” Kata Nala.
“Buah itu berkhasiat memulihkan tenaga. Cukup makan satu buah saja kita sudah kenyang seharian.” Kata batari Mahadewi. Keduanya sampai di desa selanjutnya. Namun mereka tak berniat untuk mampir. Hanya berjalan melewatinya. Seperti sebelumnya,tiap orang menatap keduanya dengan tatapan mata yang aneh. Jika mereka berdua tak mengenakan pakaian yang sama, tentu keduanya akan di tangkap.
“Apakah di wilayah sini, kehidupan berjalan damai seperti yang sedang kita lihat saat ini?” kata Batari Mahadewi.
“Aku tak yakin. Selalu ada kejahatan di sebelah kebaikan…” Kata Nala.
Belum selesai Nala berbicara, serombongan orang menaiki binatang bertubuh kuda dan berkepala singa tiba-tiba melewati jalan desa sambil melempar bola-bola api ke beberapa rumah. Bola-bola api itu seketika meledak menjadi kobaran api besar ketika telah mendarat di atap rumah. Warga desa menjadi panik dan berlarian.
__ADS_1