Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 240 Rombongan Pasukan Siwandaraka


__ADS_3

Kedatangan pendekar hitam bertubuh besar itu adalah kesempatan bagi Batari Mahadewi untuk melarikan diri. Awalnya demikian, namun kenyataannya lain. Gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa menakar dengan mudah seberapa besar kekuatan dua orang yang ada dihadapannya itu.


Jika ia pergi, maka pendekar perempuan bertubuh pucat itu akan dalam masalah besar. Pendekar lelaki itu jauh lebih unggul dalam banyak hal. Setidaknya, pendekar lelaki bertubuh besar itu adalah pendekar hitam dengan kekuatan setengah siluman, sementara pendekar perempuan berwajah pucat itu tak mengandalkan kekuatan siluman untuk meningkatkan kesaktiannya.


“Siapa yang mau melawanku duluan? Atau kalian berdua mau maju bersama? Boleh. Setelah itu, aku akan memboyong tubuh kalian ke tempat tinggalku, hahahaha!” oceh pendekar lelaki itu dengan sombongnya.


Pendekar perempuan berwajah pucat itu jelas sudah menunjukkan sikap kesal dan tidak suka dengan pendekar lelaki yang baru saja datang itu. Terlebih, ia paling benci mendengar kata-kata bernada melecehkan.


Sementara itu, Batari mahadewi lebih memilih untuk pasif. Ia bisa dengan mudah pergi meninggalkan dua pendekar itu bertarung. Namun ada perasaan kasihan kepada pendekar perempuan yang semula menantangnya bertarung. ‘Tak ada salahnya memberikan pelajaran kepada pendekar lelaki itu. Tapi biarkan mereka bertarung dulu,’ batin Batari Mahadewi.


Pendekar lelaki dan pendekar perempuan berwajah pucat itu telah bertukar puluhan jurus. Pendekar perempun itu lebih mengandalkan jurus-jurus racun yang dilontarkan melalui jarum-jarum kecil untuk menghadapi lawannya. Hanya saja, pendekar lelaki itu masih tetap bisa melayangkan pukulan-pukulannya meski beberapa tubuhnya telah terkena jarum beracun.


“Hahaha, sepertinya jarum beracun milikmu ini hanya berguna untuk membunuh tikus sawah. Menyerahlah sebelum aku merusak tubuh indahmu itu!” hardik pendekar lelaki itu.


“Itu hanya pemanasan, *****, rasakan ini!” pendekar perempuan itu sekali lagi melontarkan puluhan jarum beracun dan setelahnya ia langsung melesat cepat ke arah pendekar lelaki itu sembari mengayunkan pukulan tenaga dalam yang mengandung racun.


Selagi lelaki itu sibuk mengibas jarum-jarum yang mengarah kepadanya, pukulan racun pendekar perempuan itu berhasil mendarat tepat di dada lawannya. Lelaki bertubuh besar itu terpental dan batuk darah. Namun ia malah tampak senang setelah mendapatkan pukulan itu.


“Ya…ya…ya…inilah yang kuharapkan dari sebuah pertarungan. Sayang sekali, sudah kukatakan kepadamu, jurus racunmu tak mempan di tubuhku. Sekarang lihat baik-baik ini!” pendekar lelaki itu merubah wujudnya menjadi manusia setengah siluman. Entah siluman apa, yang pasti tubuh lelaki itu menjadi hitam legam dengan duri-duri panjang di beberapa bagian tubuhnya, matanya menyorotkan cahaya merah, dan ia memancarkan hawa kematian yang pekat.

__ADS_1


Pendekar perempuan itu menjadi lebih waspada. Ia sudah memperkirakan bahwa lawannya akan sekuat itu. Tapi ia tak mau terhina. Meski harus mati, ia rela melawan pendekar lelaki mesum itu.


Pendekar perempuan itu melesat dan memberikan berbagai pukulan bertenaga dalam ke arah pendekar lelaki itu. Sayangnya, kulit hitam legamnya itu bagaikan perisai besi yang sanggup menahan pukulan-pukulan lawannya.


Pendekar perempuan itu mulai khawatir. Tak satupun dari pukulannya berhasil melukai lawannya meski pendekar lelaki itu sama sekali tak menghindar dan bahkan membiarkan tubuhnya diserang habis-habisan.


“Hahaha, bagaimana? Kau sudah tak punya jurus lagi untuk merobohkanku?” lelaki itu melesat dan melayangkan satu pukulan tepat di perut pendekar perempuan itu. Satu pukulan itu sudah cukup untuk membuat pendekar perempuan itu meringkuk kesakitan.


“Nah, satu sudah roboh dengan mudah. Sekarang giliranmu, nona manis. Ayo tunjukkan pesonamu!” kata pendekar lelaki itu.


“Melawanmu sungguh membuat harga diriku jatuh. Tapi membiarkanmu sama artinya dengan mencelakakan banyak orang. Baiklah, tak usah lama-lama!” Batari Mahadewi berjalan dengan santainya ke arah lelaki itu. Tak ada tanda-tanda gadis jelmaan pusaka dewa itu ingin menyerang.


Batari Mahadewi meninggalkan dua pendekar hitam yang sama-sama terkapar di hutan itu.


Pendekar perempuan itu merasa bersyukur ia tak jadi bertarung dengan Batari mahadewi. Ia sempat melihat gadis itu melumpuhkan lawannya hanya dengan menyentuh pundaknya saja. Setelah pendekar perempuan itu reda dari sakit akibat pukulan lawannya, ia berdiri dan mengakhiri nyawa pendekar lelaki yang terbaring tak jauh darinya itu.


Batari Mahadewi memilih jalur hutan atau jalur tanpa pemukiman untuk sampai di kota kerajaan Siwandaraka. Dengan begitu, ia bisa melesat dengan kecepatan kilat di jalur darat. Ia sengaja tak ingin sampai lebih cepat dengan cara terbang. Setelah sehari semalam terus bergerak dengan kecepatan tinggi, akhirnya Batari Mahadewi sampai juga di luar benteng kota kerajaan Siwandaraka.


Kota kerajaan itu sama megahnya dengan Swargadwipa. Beberapa lapis benteng di sana dibuat tinggi dan tebal. Bahkan pintu gerbang benteng itu terbuat dari logam, sehingga kota kerajaan itu akan sulit sekali ditembus oleh pasukan musuh yang datang menyerang.

__ADS_1


Batari Mahadewi melangkahkan kakinya mengikuti beberapa pedagang yang sedang menuju ke dalam kota kerajaan itu. Para penjaga gerbang memeriksa setiap orang dan setiap barang yang mereka bawa.


“Nona bukan orang sini? Apa tujuan nona datang kemari?” tanya penjaga gerbang itu memberikan pertanyaan biasa sesuai tugasnya.


“Aku hanya pengembara yang ingin melihat-lihat kemegahan kota ini. Mungkin aku akan berada di sini untuk beberapa hari kedepan. Apakah tuan penjaga tahu penginapan yang bagus di sini?” tanya Batari Mahadewi. Ia sengaja memilih kata-kata itu. Tinggal beberapa hari, penginapan, adalah kata kunci yang tepat. Dengan begitu, roda ekonomi rakyat Siwandaraka akan terus berputar.


Lagipula, Batari Mahadewi adalah perempuan muda dengan paras yang kelewat cantik. Tak ada alasan bagi penjaga pintu gerbang itu untuk mencurigainya sebagai pembawa biang keonaran di dalam kota kerajaan itu.


“Silahkan masuk nona, semoga nona menikmati perjalanan di kota kami,” balas penjaga gerbang itu dengan ramah.


Kota kerajaan Siwandaraka sangat ramai. Kota itu memang menjadi pusat bisnis dari seluruh wilayah Siwandaraka. Sepanjang jalan, Batari Mahadewi banyak menjumpai pertokoan, kedai makanan, dan penginapan. Tempat pertama yang ingin dikunjungi oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu tentu saja adalah perpustakaan. Pengetahuan baru adalah satu-satunya hal yang membuat gadis itu sejenak melupakan makanan.


Seharian penuh gadis cantik itu berada dalam perpustakaan. Ia membaca naskah-naskah sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Siwarkatantra. Dengan bekal pengetahuan itu, ia tak perlu repot-repot banyak bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya di jalan.


Hari telah petang ketika Batari Mahadewi keluar dari gedung perpustakaan. Jalanan kota itu menjadi tampak berbeda. Setiap titik terdapat lampu minyak dengan bentuk yang unik. Bahkan semua bangunan yang berjajar rapi itu masing-masing memiliki hiasan lamunya tersendiri, sehingga malam di kota itu memiliki nuansa romantis.


Ketika Batari Mahadewi hendak mencari kedai, ia menangkap suara derap kuda yang melaju pelan. Bukan hanya satu atau dua kuda saja, melainkan puluhan ribu kuda. Gadis jelmaan pusaka dewa itu heran, semestinya kuda sebanyak itu hanya milik pasukan kerajaan. Jika ada pergerakan, tentu ada sesuatu yang sedang terjadi.


Tak lama kemudian, barisan dua ratus ribu prajurit melewati jalan itu untuk menuju gerbang kota, lalu meninggalkan kota itu dan menuju ke suatu tempat. ‘Ada apa ini? Negri yang sedamai ini, apakah terlibat perang juga? Dengan daerah mana?’ batin gadis jelmaan pusaka dewa itu.

__ADS_1


__ADS_2