Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 337 Akhir Dari Perang Di Siwarkatantra


__ADS_3

Pangeran Andhakara menghujani perut raja Kalahitam dengan rentetan tinju yang dilakukan dengan kecepatan tinggi hingga tubuh raksasa itu terus terangkat, terdorong ke atas, seolah pangeran kegelapan itu memang sedang mendorongnya ke angkasa. Sang pangeran kegelapan itu masih terus mengerahkan tinjunya di satu titik perut Kalahitam ketika keduanya meluncur ke langit.


Kalahitam tak berdaya dengan rentetan serangan itu. Ia hanya bisa pasrah menahan sakit ketika perutnya dijadikan bulan-bulanan. Begitu keduanya ada di angkasa, Andhakara meraih jari telunjuk Kalahitam sebagai pegangan, lalu memutarkan tubuh itu berkali-kali dan melemparkannya begitu saja.


Tubuh raja raksasa itu melesat jatuh dan menghantam bumi dengan ledakan yang menggelegar. Puas sekali perasaan hati Andhakara sebab ia bisa menghajar raksasa itu dengan mudah. Hanya saja, raksasa itu sulit mati. Ia sudah bertarung lama dengan Andhakara, dan selalu mendapatkan pukulan bertubi-tubi, namun ia selalu bisa bangkit lagi.


Kinipun, setelah jatuh dengan sangat keras, Kalahitam masih bisa bangkit berdiri. Wajahnya sangat geram karena bukan hanya selalu mendapatkan pukulan, tetapi ia juga melihat kenyataan bahwa pasukannya telah habis terbakar oleh amukan Rodya dan serangan ganas dari para manusia iblis.


Rencananya untuk melarikan diri bisa dibilang gagal total saat pasukannya telah gugur. Betapa tidak, ia terlalu lamban jika dibandingkan dengan kecepatan kilat Andhakara.


“Kau lihat, aku telah kalah. Sekarang apa yang kau inginkan? Jika kau ingin membunuhku, maka cepat bunuh aku!” teriak raksasa itu putus asa. Namun ia masih menyisakan satu muslihat licik.


Andhakara mendekat ke arah Kalahitam yang sedang berdiri dengan nafas terputus-putus. Tubuhnya penuh luka.


“Jika kau bersujud padaku dan memohon ampunan, maka aku akan mengampunimu. Tetapi kau akan menjadi bawahanku dan bersedia menukar jiwamu dengan jiwa iblis!” kata Andhakara.


Jika hal itu terjadi, maka Andhakara akan sangat diuntungkan. Kalahitam merupakan raksasa yang paling kuat di Siwarkatantra. Tanpa jiwa iblispun, Kalahitam jauh lebih kuat dari Bail.


Kalahitam pura-pura berpikir. Namun sebenarnya, ia sedang menyiapkan jurus terakhirnya. Saat Andhakara menunggu, tiba-tiba ia membuka mulutnya lebar-lebar, menghirup kuat-kuat udara di sekelilingnya sampai Andhakara yang tampak kecil itu tersedot masuk ke dalam mulut besar itu.


Rencananya, Kalahitam ingin mengunyah tubuh Andhakara hingga hancur. Tetapi raksasa itu tak menyangka, ketika Andhakara masuk ke dalam mulut raksasa buas itu, seketika ia menjelma menjadi pijaran lahar panas yang membakar mulut itu.


Kalahitam mengerang kesakitan dan bermaksud mengeluarkan benda panas itu dari mulutnya, namun sayangnya, Andhakara dalam wujud lahar panas itu malah masuk melewati tenggorokan, dan melesat ke dalam perut, lalu meledakkan tubuh raksasa itu dari dalam.

__ADS_1


Sungguh kematian yang tak menyenangkan. Andhakara menyesalkan hal itu, sebab ia kehilangan bahan yang tangguh untuk dijadikan makhluk iblis. Tapi penguasa iblis itu sudah terlanjur marah sebab Kalahitam hendak mengunyahnya. Tak ada pilihan lain selain membakar mulut sialan itu.


“Kita telah menyelesaikan ini semua dengan cepat, Andhakara!” kata Rodya. Ia tak pernah menyebut pangeran kegelapan itu dengan sebutan pangeran kecuali jika ia bersama dengan yang lain. Sang pangeran tak pernah mempermasalahkan hal itu, sebab memang demikianlah hubungannya dengan sang naga iblis itu.


“Kau yang terlalu bersemangat. Kau lebih dahulu menyelesaikan bagianmu, bukan?! Sayang sekali, kita kehilangan raksasa-raksasa kuat untuk dijadikan iblis. Yang tersisa hanyalah raksasa biasa di wilayah tengah. Seharusnya, sebagian besar dari mereka saat ini telah menjadi iblis,” kata Andhakara.


“Kurasa tak masalah. Selama kita bisa mengubah semua manusia menjadi iblis, maka kekuatan kita lebih dari cukup untuk membuka pintu dunia bawah,” kata Rodya.


“Sebaiknya, kita kembali saja ke istana. Kita pikirkan kembali apa yang selanjutnya akan kita lakukan di sana bersama Ogha dan Bail,” kata Andhakara.


“Baik, ayo kita pergi. Tapi sebentar, bagaimana dengan para manusia iblis itu?” tanya Rodya.


“Aku akan menyuruh mereka bergerak ke timur,” jawab Andhakara.


****


Apa yang telah terjadi di Siwarkatantra tak luput dari perhatian Kalapati dan raja dewa yang sejak beberapa hari ini selalu asik dengan acara nonton bareng di khayangan.


Meski Kalapati mengizinkan raja dewa untuk bepergian, namun nyatanya ia masih ada di sana. Hanya saja, tanpa sepengetahuan Kalapati, separuh dari tubuhnya telah ada di altar Samudra, bersama dengan dewa-dewa lain yang sedang berjaga di sekeliling kristal emas.


Dengan kekuatannya yang telah kembali, raja dewa bisa membelah dirinya menjadi banyak jika ia mau, dan berada di mana saja. Namun untuk melakukan satu hal penting, ia harus kembali menjadi satu. Selama di khayangan dan tak ada agenda penting yang harus dilakukan. Raja dewa hanya butuh belahan dirinya saja yang ada di sana, menemani Kalapati sekaligus menjaga agar raksasa itu tak berpikir macam-macam tentang keberadaan semua dewa.


“Aku tak mengira kau diam saja ketika bangsamu dibantai iblis,” ucap raja dewa.

__ADS_1


“Seharusnya Kalahitam melaporkan hal ini padaku. Tetapi ia memilih mati. Kenapa menurutmu ini bisa terjadi?” tanya kalapati.


“Kau lebih menakutkan di mata mereka,” jawab raja dewa. “Meskipun kau bangsa raksasa, namun tetap saja kau dianggap berbeda. Kau memang dihormati, tetapi dalam hal ini jelas mereka merasa tak nyaman ketika berada di sebelahmu.”


“Jadi sia-sia saja aku memperjuangkan mereka?” tanya Kalapati.


“Tidak juga. Namun seringkali, apa yang menurut kita bagus, belum tentu sama dengan apa yang mereka rasakan. Lantas bagaimana menurutmu tentang keberadaan bangsa iblis? Jika kau diam saja dan tak melakukan sesuatu, maka mereka akan mengacaukan keseimbangan dunia. Tetapi kali ini, yang kau lakukan tentu bukan semata-mata untuk bangsamu saja, melainkan untuk semua makhluk. Jika kau siap dengan hal ini, kau bisa sepenuhnya menggantikanku,” kata raja dewa.


“Aku belum tahu, apa yang sebenarnya direncanakan oleh para iblis itu,” kata Kalapati.


“Mereka tak sepenuhnya tahu bahwa kau tak bisa dibunuh oleh mereka. Aku telah memenjarakan bangsa iblis lebih dari seribu tahun yang lalu, jauh sebelum kau memulai tapamu. Dan sebelum kau lahir, bangsa dewa dan bangsa iblis telah berperang dalam waktu yang sangat lama. Kami bangsa dewa telah mengorbankan banyak hal untuk menghancurkan dunia bawah dan menutup pintu menuju dunia bawah sehingga para iblis yang ada di dunia tengah terjebak dan tak bisa kembali lagi. Kurasa, tujuan mereka kali ini adalah mengumpulkan kekuatan untuk membuka pintu dunia bawah dan membangun lagi dunia yang ada di sana,” kata raja dewa.


“Jadi apa yang harus kulakukan jika aku harus turun tangan?” tanya Kalapati.


“Tunggu mereka mulai membuka pintu dunia bawah. Mereka semua akan berkumpul di satu tempat dan kau bisa dengan mudah melenyapkan mereka,” kata raja dewa.


“Kau bilang, kita tak boleh benar-benar menghabisi mereka, bukan?” tanya Kalapati.


“Di dunia bawah masih banyak bangsa iblis. Namun mereka lemah jika tak ada raja iblis dan kuil api abadi. Mereka juga tak mampu membuka pintu penghubung dunia tengah dan bawah. Jika pintu itu tak pernah terbuka, maka sekalipun kau menghabisi semua iblis di dunia tengah, semuanya akan baik-baik saja,” kata raja dewa.


“Aku mengerti, jadi kita tunggu saja?” tanya Kalapati.


“Nanti akan kuberitahu waktu yang tepat,” kata raja dewa. Tentu saja, waktu yang tepat itu adalah ketika Batari Mahadewi keluar dari kristal emas altar Samudra. Entah kapan itu. Selama ia ada si sana, tak ada hal yang bisa diceritakan selain para iblis yang mulai melebarkan sayap mereka, atau keadaan di Swargadwipa.

__ADS_1


__ADS_2