Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 23 Pertemuan Kedua


__ADS_3

Keributan di luar itu adalah pengejaran yang dilakukan dua prajurit kota kepada seseorang dengan baju serba hitam. Di dekat penginapan, orang berpakaian hitam itu akhirnya menghentikan larinya dan mendadak menyerang prajurit yang sedang mengejarnya.


Serangan yang tiba-tiba itu tidak siap diterima oleh prajurit kota sehingga keduanya mengalami luka yang cukup serius. Setelah itu, sosok yang dikejar tadi menghilang.


Tinggalah kerumunan orang yang melihat kedua prajurit terbaring dengan luka yang serius meski mereka tak mati. Batari Mahadewi memutuskan untuk keluar sebentar dan memberikan pertolongan seperlunya.


Dengan terbukanya segel ke tiga, kemampuan Batari Mahadewi dalam memulihkan orang terluka semakin baik. Segera saja ia mengalirkan energinya, memulihkan kondisi kedua prajurit itu sehingga mereka tak lagi dalam kondisi kritis.


“Tolong bawa prajurit ini ke klinik untuk pengobatan lanjutan.” Kata Batari Mahadewi. Lalu ia masuk ke dalam penginapan, di susul oleh Niken dan Jalu yang tak berkomentar melihat aksi adiknya itu.


“Apakah kakak mengenali sosok yang menyerang prajurit tadi?” Tanya Batari Mahadewi.


“Tidak.” Kata Jalu. Niken pun juga mengatakan tidak.


“Orang itu adalah salah satu anggota Kelelawar Hitam. Tak ku sangka kita akan bertemu dengan kelompok itu lagi aku yakin kedatangan mereka di sini karena suatu maksud yang tidak baik.” Kata Batari Mahadewi.


“Baguslah kalau mereka ke sini lagi. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Ketua Kelelawar Hitam pengecut itu.” Kata Niken tak bisa melupakan serangan licik yang dilakukan oleh Ketua Kelelawar Hitam meski sebetulnya sah-sah saja bagi siapapun untuk menyerang dengan berbagai cara demi melumpuhkan musuhnya.


“Jadi kita akan bertahan dulu di kota ini?” tanya Jalu.


“Menurutmu?” Tanya Niken


“Tidak masalah jika kita ingin mencari tahu dahulu maksud kedatangan mereka di sini. Artinya kita akan tinggal lebih lama lagi. Mungkin kita perlu juga melakukan sesuatu yang menghasilkan uang, mengingat perbekalan yang diberikan oleh guru sudah semakin menipis.” Kata Jalu.


“Apa yang bisa kita lakukan untuk mencari uang?” tanya Niken.


“Aku tahu, tapi ini akan terdengar konyol buat kalian. Tadi sewaktu aku jalan-jalan, aku menemukan adanya arena pertarungan. Tiap pendekar yang bersedia bertarung dan ditonton banyak orang akan mendapatkan bayaran dari pengelola arena itu.


Aku bisa mencobanya, dan menyamarkan wajahku dengan topeng, serta bertarung dengan cara biasa saja agar tak menimbulkan kecurigaan.” Kata Jalu memberikan ide.


“Menarik. Kau tak keberatan melakukannya?” tanya Niken.


“Tentu saja tidak apa-apa. Sekalian sebagai hiburan. Barangkali berkelahi tanpa menggunakan tenaga dalam itu sulit juga.” Kata Jalu. “Baiklah, kita lanjutkan saja rencana ini besok. Sekarang kita beristirahat dulu.” Jalu memasuki kamarnya, begitu juga dengan Niken dan Batari Mahadewi.


Keesokan harinya, ketika mereka hendak keluar dari penginapan untuk berjalan-jalan dan mencari makanan, dua orang prajurit kota mendatangi penginapan. Menanyakan sesuatu kepada pemilik penginapan.


“Maaf tuan, apakah nona muda yang kemarin menolong rekan kami masih menginap di sini?”


“Ya tuan, itu mereka sedang berjalan di sana.”


Kedua prajurit itu langsung begegas ke arah Batari Mahadewi.


“Nona…tunggu nona…” Panggil prajurit itu.

__ADS_1


“Paman prajurit memanggil saya?” Kata Batari Mahadewi pura-pura tak tahu. Ia telah mencuri dengar yang ditanyakan prajurit itu kepada pemilik penginapan.


“Nona..maaf mengganggu. Apakah betul nona yang kemarin menolong rekan kami?” tanya salah satu prajurit itu.


“Iya paman, mohon maaf apabila saya melakukan kesalahan. Niat saya hanya menolongnya, tak lebih.” Kata Batari


Mahadewi.


“E…sebetulnya yang nona tolong kemarin adalah keponakan Adipati. Beliau mengundang nona untuk datang ke Balai Kota kediaman Adipai Jalak Kuning.” Kata prajurit itu menyampaikan undangan junjungannya.


“Kapan saya harus ke sana?” pagi ini nona.


“Apakah saya boleh mengajak serta kakak-kakak saya ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Saya tidak berani meng-iya-kan nona. Undangan ini hanya ditujukan untuk nona.” Kata prajurit itu.


“Bagaimana menurut kakak?” tanya Batari Mahadewi kepada Jalu.


“Pergilah adik. Tak baik menolak undangan Adipati. Kami bisa menunggu adik sambil jalan-jalan keliling kota.” Kata jalu.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menuju Balai Kota. Nanti jika kita tidak bertemu, kakak bisa menemukanku di perpustakaan kota.” Kata Batari Mahadewi.


“Kami akan menjamin keslamatan adik tuan moda dan nona muda dan melindunginya denga nyawa kami“ Kata Prajurit itu kepada Jalu dan Niken.


Tentu saja prajurit itu mengira bahwa Batari Mahadewi adalah gadis kecil yang memiliki kemampuan penyembuh. Jalu dan Niken hampir saja tersedak ludah mereka ketika mendengar ucapan prajurit yang polos itu, namun tetap berusaha sekuat mungkin menahan tawa.


Mari nona, ikuti kami.” Kata prajurit itu dengan sopan. Dua prajurit itu dan Batari Mahadewi berangkat menuju balai kota.


“Prajurit itu tak tahu kalau mereka sedang membawa monster kecil.” Kata Jalu


“Ya, kurasa kota ini memiliki puluhan prajurit semacam itu. Sudah tentu mereka tak bisa menghadapi komplotan Kelelawar Hitam.” Kata Niken.


“Yang aku tahu, pemerintah memang tetap membutuhkan prajurit dengan kemampuan biasa saja untuk menjalankan tugas-tugas semacam ini. Sementara ada prajurit lain yang ditugaskan sebagai mata-mata. Mereka ini berilmu tinggi dan menyamar sebagai rakyat biasa, pedagang, gelandangan, untuk menangkap gerak-gerik pengacau kota. Ada juga prajurit khusus yang dibagi-bagi lagi sesuai tugasnya, yakni prajurit perang dan prajurit pengawal raja.” Kata Jalu menjelaskan.


“Apakah kakak tidak rindu rumah?” Tanya Niken.


“Ya, kadang-kadang. Tetapi mungkin tidak juga. Di istana aku juga sangat jarang bertemu ayah dan ibuku. Lebih sering kuhabiskan waktu bersama para prajurit yang sedang latihan. Jadi, bersama guru dan saudara seperguruan, aku merasa menemukan keluarga.” Kata Jalu.


“Tapi bagaimanapun juga, pasti kakak akan kembali ke istana bukan?” Tanya Niken.


“Apa boleh buat. Pamanku seorang Mahapatih Swargadwipa. Beliau tak memiliki keturunan lelaki. Aku yang kelak diharapkan mampu menggantikan beliau. Oleh karena itulah orang tuaku mengirimku ke Padepokan Cemara Seribu. Aku senang sekaligus sedih sebetulnya. Aku sedih dikirim untuk belajar kepada guru karena dimaksudkan akan menjadi mahapatih, bukan karena mereka menginginkanku menjadi seseorang yang kuat…ah…bagaimana mengatakannya…kau mengerti maksudku?” Kata Jalu.


“Ya…sepertinya aku paham…mungkin tidak terlalu paham…ee…?” jawab Niken sambil kebingungan menangkap maksud Jalu karena menurutnya, Jalu adalah orang yang beruntung dan orang tuanya mengusahakan yang terbaik untuknya, pendidikan dan kekuasaan.

__ADS_1


“Dengan kata lain, aku dijadikan alat politik untuk menjaga kebangsawanan keluarga kami. Aku tahu, kesempatan yang kuperoleh ini tentu merupakan impian banyak laki-laki. Tapi aku merasa tidak seperti anak…melainkan alat untuk kekuasaan…alat untuk menjaga nama baik keluarga.” Kata Jalu.


“Kakak tetap beruntung. Aku telah kehilangan orang tuaku. Guru bagiku saat ini adalah satu-satunya orang tuaku. Aku tak memiliki keluarga yang lain.” Kata Niken menyembunyikan kesedihannya, memandang jauh ke cakrawala.


Melihat kesedihan di mata Niken, Jalu diam-diam menyesal telah menceritakan padanya tentang keluarganya. “Aku akan selalu menjagamu Niken, aku bersumpah, aku akan menjagamu dengan nyawaku. Jangan samakan kata-kataku dengan kata-kata prajurit yang mengawal adik kita tadi.” Kata Jalu bersungguh-sungguh, namun terdengar lucu di akhir kata-katanya.


Niken tertawa sambil meneteskan air mata. Itu adalah kata-kata yang paling ia tunggu dari Jalu, kakak seperguruannya. Namun ia tak berani berharap lebih. Mendapatkan perhatian dan bisa bersama dengan Jalu setiap hari sudah merupakan hal yang indah baginya.


Jalupun demikian. Ia memandang Niken sebagai perempuan yang istimawa dan diam-diam Niken telah menempati


ruang kosong dalam hatinya. Barangkali hanya Nikenlah satu-satunya alasan baginya untuk membuang segala rasa rindu akan kesenangan hidup di kerajaan dan memilih jalan yang sulit dilalui seperti saat ini.


Apabila harus memilih, ia akan pilih menjadi pengelana dan hidup berdua dengan Niken sebagai pasangan pendekar daripada harus pulang ke rumah dan menghormati segala macam aturan kerajaan.


Ingin sekali Jalu mengungkapkan perasaannya. Namun ia khawatir Niken akan menolaknya dan hanya menganggapnya sebagai kakak seperguruan. Maka ia memilih untuk menyimpan saja perasaannya dalam hati dan belum tahu kapan waktu yang tepat untuk menyatakannya.


Sementara itu, Batari Mahadewi telah sampai di balai kota. Prajurit itu mempersilahkan Batari Mahadewi untuk menunggu di pendopo besar, sementara mereka melapor ke atasannya.


Tak lama kemudian, Adipati Jalak Kuning keluar dari kediamannya dan menyambut Batari Mahadewi dengan ramah.


“Selamat datang di sini, nona muda. Maaf telah membuat nona menunggu. Saya tak mengira nona masih semuda ini.” Kata Adipati. Dengan sekali lihat, ia tahu bahwa Batari Mahadewi adalah seorang pendekar. Hanya saja ia tak tahu sejauh mana kemampuan beladiri Batari Mahadewi.


“Secara pribadi, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih. Tanpa bantuan nona mungkin keponakan saya tidak akan selamat dalam penyerangan kemarin petang.” Kata Adipati.


“Saya sungguh merasa terhormat atas undangan dan bisa bertemu langsung dengan Sinuhun Adipati Jalak Kuning. Nama saya Batari Mahadewi, murid Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu.” Kata Batari Mahadewi memperkenalkan diri.


“Tak kusangka saya akan bertemu dengan murid Ki Gading Putih di kesempatan ini. Kakek saya dulu sempat berguru kepada Ki Gading Putih. Dan kalau tidak salah, saat ini ada kerabat kerajaan yang berguru di sana. Raden Jalu keponakan Mahapatih Siung Macan Kumbang.” Kata Adipati.


“Betul Sinuhun, saya bersama dua kakak seperguruan saya mengemban tugas dari guru. Saat ini kakak Jalu dan kakak Niken sedang jalan-jalan di kota.” Kata Batari Mahadewi.


“Lho kenapa kok tadi Raden Jalu dan nona Niken tidak diajak sekalian ke sini?” Tanya Adipati. “Aku akan menyuruh pengawal menjemput Raden dan nona Niken. Seharusnya, Nona Batari Mahadewi, raden Jalu, dan nona Niken menginap di sini selama berada di kota ini. Sudah kewajiban saya untuk menjamu murid Ki Gading Putih dan keponakan Mahapatih.” Kata Adipati tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya karena tau Jalu sedang ada di kota ini. Bagaimanapun juga Adipati Jalak Kuning sangat menghormati keluarga besar Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Lima prajurit pengawal pribadi Adipati diperintahkan untuk mencari dan menjemput Jalu dan Niken. Sementara Batari Mahadewi dan Adipati melanjutkan percakapan.


“Sinuhun, apabila diperkenankan, saya hendak menyampaikan sesuatu terkait dengan penyerangan keponakan Sinuhun semalam.” Kata Batari Mahadewi.


“Apa yang nona Batari Mahadewi ketahui tentang penyerangan semalam?” Tanya Adipati


“Sebelum kami sampai di kota ini, kami sempat singgah beberapa hari di desa Air Kehidupan. Di sana kami sempat bentrok dengan kelompok Kelelawar Hitam. Kami dibantu oleh pendeta Liong, pemimpin Kuil Matahari. Kelompok Kelelawar Hitam akhirnya melarikan diri. Seseorang yang menyerang keponakan Sinuhun adalah salah satu anggota komplotan Kelelawar Hitam.” Batari Mahadewi bercerita.


“Lagi-lagi kelompok itu. Sebelum aku menjabat sebagai Adipati di sini, aku pernah menyerang kelompok itu. Mereka berhasil melarikan diri. Menurut nona, kira-kira apa yang mereka rencanakan?” Kata Adipati.


Kalau soal itu, saya belum tahu Sinuhun. Bisa saja mereka hanya lewat. Tapi tidak mungkin demikian sebab keponakan Sinuhun sempat mengejar mereka sebelum perkelahian.“ Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Sayang sekali keponakanku dan rekannya belum benar-benar pulih sehingga aku belum bisa menanyainya.” Kata Adipati. “Tapi untung sekali nona menolong tepat waktu, jika tidak sudah bisa dipastikan dia tidak akan selamat. Baiklah nona, selagi menunggu Raden Jalu dan nona Niken, nona Batari Mahadewi silahkan menikmati hidangan kami. Saya akan ke ruang dalam dulu.” Kata Adipati.


“Terimakasih banyak Sinuhun. Saya bisa menunggu di sini sambil menikmati suguhan ini.” Kata Batari Mahadewi.


__ADS_2