
Hampir satu tahun berlalu di dunia tiga rembulan sejak Batari Mahadewi dan Nala menelusuri goa di bawah kuil Api Suci dan menemukan sumber energi utama di sana. Kedua pendekar dunia satu rembulan itu telah menyelesaikan semua tahap untuk menyerap energi dari kristal Api yang berukuran sangat besar itu.
Sementara itu, di luar kuil suci, pusat kota Api telah diserang oleh ribuan manusia perak. Kekuatan Makhluk pencipta manusia perak itu telah bertambah dengan cara menyerap kristal-kristal energi dari berbagai tempat yang ia temui.
Makhluk itu yakin, dengan kekuatan yang ia miliki, ia bisa berhasil melumpuhkan pusat kota pulau Api, lalu mengambil kristal sumber energi utama yang terdapat di kuil Api Suci. Sayang sekali, ia tak tahu bahwa Batari Mahadewi dan Nala masih ada di kota itu.
Selama kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu berada di bawah bumi, makhluk pencipta manusia perak itu tak bisa merasakan keberadaan keduanya. Hal itu tak menjadi soal, sebab tujuan utama dari makhluk itu adalah menguasai sumber energi utama dari pulau itu. Ia tak hanya akan menyerap sebagian energi dari kristal utama itu, melainkan ingin menguasai semuanya. Jika hal itu terjadi, maka dunia tiga rembulan akan kehilangan keseimbangan. Sementara, jika makhluk itu berhasil mengambil semua energi utama dari dunia tiga rembulan, tentu saja dunia itu tak akan lagi memiliki energi.
Ribuan manusia perak yang menyerang pusat kota itu membuat semua orang yang ada di sana kerepotan. Betapa tidak, setiap kali manusia perak itu hancur, maka kepingannya akan kembali seperti semula atau bergabung dengan manusia perak yang lain.
Semua prajurit kerajaan pulau api dikerahkan. Pertempuran berlangsung sengit. Pijaran api ada di mana-mana dan asap hitam tampak mengepul, mewarnai langit di atas pusat kota pulau Api. Kuil Api Suci juga menjadi incaran serangan para manusia perak, namun delapan penjaga kuil itu yang dipimpin oleh Zotha tak membiarkan makhluk-makhluk itu menerobos masuk ke kuil suci.
Ketika seratus pasukan khusus pengawal raja telah dikerahkan, yang masing-masing dari mereka memiliki kekuatan sedikit di bawah delapan penjaga kuil Api Suci, barulah para manusia perak itu mulai terdesak. Namun hal itu tak berlangsung lama.
Zotha merasakan ada sebuah energi yang sangat besar datang mendekat. Zotha tahu makhluk itu tak berbentuk apa-apa. Penjaga utama kuil suci itu tak tahu, jika makhluk itu hadir tanpa wujud, apakah makhluk itu bisa menyerang atau tidak.
“Semua bersiap. Hari ini mungkin kita tidak akan selamat. Namun jangan pernah menyerah. Kita usahakan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan pulau ini.” Kata Zotha.
__ADS_1
Beberapa bulan sebelumnya, Zotha telah menghubungi para guru besar di pulau lainnya, yakni pulau Es, Pulau Halilintar, dan pulau Emas. Zotha mengatakan jika pulau Api runtuh, maka pulau lainnya akan menyusul. Tentu saja Zotha mengharapkan bantuan, namun hingga hari penyerangan itu, bantuan juga belum tiba. Zotha sangat kecewa, namun kakek tua itu tak tahu dan tak mendapatkan kabar bahwa pulau-pulau lainnya juga sedang mengalami masalah.
Ketika energi besar itu sudah semakin mendekat, seluruh manusia perak tiba-tiba mundur dari pertempuran, ribuan manusia perak itu berkumpul menjadi satu, lalu melebur menjadi satu. Para pasukan kerajaan dan petarung lainnya di pusat kota pulau Api itu terlalu heran sehingga mereka hanya membiarkan hal itu terjadi.
Ketika ribuan manusia perak itu telah bergabung menjadi satu, tiba-tiba kepulan asap berwarna perak yang datang dari segala penjuru juga ikut masuk ke dalam tubuh manusia perak yang ukurannya telah menjadi tiga kali lipat itu.
Tak hanya itu, bentuk manusia perak itu juga berubah, sepasang sayap berwarna perak juga tumbuh di punggungnya, dan bentuk wajahnya merupakan wajah asli dari pemilik kekuatan besar itu; wajah menyeramkan yang tak pernak dilupakan oleh siapapun yang pernah melihatnya, termasuk Zotha, salah satu yang terlibat ketika makhluk itu dipenjarakan dalam sebuah buku dongeng.
“Itulah wujud asli dari Varak, makhluk pengacau dunia kita ribuan tahun yang lalu.” Kata Zotha kepada ketujuh penjaga kuil Api Suci yang sedang bersamanya saat itu. “Tak banyak yang bisa kita lakukan. Mari kita berusaha sebaik mungkin. Semoga ada keajaiban.”
#####
Sepasang telinga Nala dan batari Mahadewi menjadi sedikit runcing, sama persis dengan telinga para manusia pulau api setelah keduanya berhasil menyerap energi dan menyempurnakan kekuatan api pada tubuh mereka. Sehingga, sekilas kedua pendekar itu tampak sama dengan manusia di pulau api.
Setelah Batari Mahadewi dan Nala selesai, mereka mampu bertahan di atas kawah api tanpa harus menciptakan bola energi untuk melindungi tubuh mereka. Lalu keduanya mencoba kekuatan baru yang mereka miliki. Gadis jelamaan pusaka dewa dan lelaki titisan pangeran kegelapan itu merubah tubuh mereka menjadi manusia api. Keduanya memancarkan cahaya api hitam kebiru-biruan dengan semburat api berwarna jingga kekuningan yang banyak terdapat di bagian wajah dan rambut.
“Nala, apakah kau bisa mengendalikan api dalam kawah ini?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Akan aku coba.” Kata Nala. Ia menarik material mendidih dalam kawah itu semudah ia mengendalikan pasir dan tanah. Nala menciptakan seekor naga api dari material kawah itu, lalu Nala juga mengubah wujudnya menjadi naga api yang berwarna hitam kebiruan dan kemudian ia menyatu dengan naga material kawah yang ia ciptakan. Dalam wujudnya itu, Nala terbang mengitari dinding-dinding goa di kawah itu, lalu beberapa kali ia berenang di dalam kawah.
Pemandangan menakjubkan itu membuat Batari Mahadewi sangat terpukau. Batari Mahadewi tak bisa berubah menjadi naga api sebagaimana Nala, namun gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa menggerakkan material kawah api itu dan membuat berbagai bentuk yang ia suka.
Tiba-tiba, goa itu berguncang sedikit keras. Nala dan Batari Mahadewi menghentikan permainan mereka.
“Sepertinya kita tak boleh berlebihan memancarkan energi kita di ruang ini. Kekuatan kita bisa meruntuhkan goa ini.” Kata Nala.
“Kau benar, Nala. Saatnya kita kembali.” Kata Batari Mahadewi. Kedua pendekar itu tak tahu, bahwa goncangan yang menggetarkan dinding-dinding goa itu tak berasal dari mereka berdua, namun lontaran energi Varak yang menghujam dunia di atas goa itu.
“Sebentar, Tari. Apakah kau tahu bagaimana membuka pintu goa untuk menuju ke kuil? Bukankah kakek Zotha menguncinya dengan mantra energi?” tanya Nala.
“Kau benar Nala. lalu bagaimana kita keluar dari tempat ini? Kita bisa saja menembus dinding goa dengan kekuatan yang kita miliki, tapi jika kita melakukannya, sama halnya kita merusak tempat suci yang dijaga oleh manusia pulau Api selama ribuan tahun ini.” Kata Batari Mahadewi.
Keduanya terdiam. Tiba-tiba mereka berdua merasakan goncangan lagi. Material kawah yang berada di bawah mereka tiba-tiba tertarik ke bawah dan kawah itu dalam sekejab menjadi sebuah sumur yang dalam.
“Tari, bukankah kawah semacam ini berhubungan dengan gunung api? Bisa jadi sebentar lagi akan ada gunung meletus, dan letusan gunung mungkin saja membuat isi kawah ini tersedot keluar. Jika kita ikuti jalur kawah ini, mungkin kita bisa keluar melalui jalur api di bawah gunung. Dengan kemampuan baru yang kita miliki, kita bisa melakukannya.” Kata Nala.
__ADS_1
“Aku juga berfikir sama denganmu, Nala. Ayo kita lakukan!” kata Batari Mahadewi bersemangat. Ia sangat rindu ingin menghirup udara segar dan melihat pepohonan di permukaan tanah.
Kedua pendekar dunia satu rembulan itu menelusuri jalur baru yang tadinya terisi material kawah itu. Keduanya tak tahu akan sampai di mana. Namun keduanya hanya berpatokan untuk mengikuti bekas material kawah yang mendidih itu dan yakin bahwa mereka akan keluar melalui puncak gunung api.