Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 52 Pertarungan Pedang Suci


__ADS_3

Jalu dan Batari Mahadewi melesat menuju ke arah peguruan pedang suci. Pertarungan baru saja dimulai. Harimau Hitam dan Golok neraka mengeroyok pendekar Pedang Suci, sementara pendekar Clurit Kembar dan seluruh komplotan aliran hitam itu menghajar anggota Perguruan Pedang Suci.


Jurus-jurus pendekar pedang suci bagaikan tarian pedang yang dengan lincah dan luwes menangkis tiap serangan Harimau Hitam dan Golok Neraka, lalu kemudian dengan cepat memberikan serangan balik yang membuat dua pendekar aliran hitam itu kesulitan.


Jika saja mereka bertanding satu lawan satu, barangkali kemenangan sudah bisa dipastikan akan berada di tangan pendekar Pedang Suci. Hanya saja, dua kombinasi serangan jurus cakar harimau dan sapuan golok neraka yang mengandung racun itu membuat energi pendekar Pedang Suci lebih cepat habis.


Sementara, beberapa anggota Perguruan Pedang Suci telah tewas terbantai jurus clurit pencabut nyawa. Semangat pertempuran dari anggota Perguruan Pedang Suci menurun drastis.


Batari Mahadewi dan Jalu melenting melompati tembok perguruan itu, lalu menyaksikan sejenak pembantaian yang sedang berlangsung. Tanpa berfikir panjang, keduanya memancarkan aliran energi yang sangat besar dan membuat semua pendekar yang sedang bertarung itu sejenak menghentikan pertarungan, dan mencari sumber dari energi itu.


Kedua telapak tangan Jalu telah memancarkan lidah api yang menjulur-julur siap mencari korban. Hawa panas bersuhu tinggi yang ia pancarkan tak hanya membuat lawannya terheran-heran, tapi sekaligus juga membuat Batari Mahadewi sedikit kaget. ‘Tak biasanya kak Jalu seperti ini.’ Batin Batari Mahadewi.


“Siapa kau, lancang sekali mencampuri urusan kami.” Bentak Harimau Hitam.


“Sejak dulu aliran hitam memang pengecut. Kalian berdua, silahkan menyerangku bersamaan.” Jalu menantang Harimau Hitam dan Golok Neraka. Tentu saja keduanya sangat tersinggung dan langsung menyerang Jalu.


Batari mahadewi tak mau diam terlalu lama dan menyia-nyiakan perhatian yang pecah karena kehadiran mereka itu. Dengan cepat ia berusaha melumpuhkan sebanyak mungkin pendekar golongan hitam yang baginya semudah menepuk nyamuk. Pendekar Pedang Suci tak mau ketinggalan, ia dengan segera menyerang pendekar Clurit Kembar.


Dalam waktu singkat, Batari Mahadewi telah melumpuhkan separo dari komplotan aliran hitam yang menyerang Perguruan Pedang Suci. Kecepatan dan kekuatannya membuat semua lawan-lawannya hanya bisa diam, kaku, dan tak sempat melihat secara jelas serangan mengejutkan yang dilontarkan oleh Batari Mahadewi.

__ADS_1


Secara singkat, pertarungan itu telah direbut oleh Batari Mahadewi. Anggota aliran hitam yang masih tersisa beralih menyerang Batari Mahadewi bersama-sama dengan berbagai jurus dan senjata beracun.


Para anggota Perguruan Pedang Suci kini hanya bisa menonton sambil berdecak tak percaya melihat kemampuan gadis kecil yang berkelebat cepat menangkis dan mengembalikan semua serangan yang terarah padanya. Terlebih, setelah mereka tahu bahwa racun-racun yang digunakan untuk menyerng Batari Mahadewi sama sekali tak mempan.


Jalu tak menciptakan pedang api, melainkan cambuk api di tangan kanan dan kirinya. Ia mengayunkan cambuk apinya secara membabi-buta dan membuat pendekar Harimau Hitam dan Golok neraka hanya bisa bertahan dan menghindar.


Pendekar Harimau Hitam dan Golok Neraka menciptakan perisai tenaga dalam sebagai satu-satunya cara untuk melindungi tubuh mereka dari jilatan api yang menyambar ketika Jalu mengayunkan cambuknya.


Cambuk api itu seolah-olah bisa mengikuti gerakan Harimau Hitam dan Golok Neraka. Setiap kali mereka hendak menyerang, seketika juga cambuk api itu menghalangi dan mengancam layaknya ular yang siap mematuk mangsanya.


Pendekar Clurit Kembar sangat kebingungan dengan perubahan situasi yang sangat mendadak itu. ia kehilangan konsentrasinya. Akibatnya, pendekar Pedang Suci bisa dengan mudah menghunuskan pedang ke jantungnya. Petualangan pendekar Clurit Kembar berakhir pada hari itu juga.


Gugurnya salah satu pemimpin aliran hitam itu membuat beberapa anggotanya berniat untuk melarikan diri. Namun Batari Mahadewi tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Membiarkan mereka lari sama halnya dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk membantai perguruan aliran putih di tempat lain.


Semua sisa komplotan aliran hitam telah lumpuh dalam posisi berdiri. Mereka tak bisa bernafas dan tulang belulang mereka remuk. Begitu Batari Mahadewi menghentikan serangannya, maka semua lawan-lawannya ambruk di tanah.


Pendekar Pedang Suci yang menyaksikan kejadian itu tak bisa menahan rasa kagetnya. ‘Gadis kecil itu…bagaimana mungkin bisa memiliki kekuatan setara dengan pendekar berkekuatan dewa.’ Batin pendekar Pedang Suci. Setelah itu, semua mata beralih untuk melihat pertarungan Jalu melawan Harimau Hitam dan Golok Neraka.


Jalu telah melilit tubuh kedua lawannya yang terbalut perisai tenaga dalam. Ia menambahkan energinya untuk menciptakan api yang berwarna biru. Hal itu sama saja dengan adu tenaga dalam, siapa yang bisa bertahan maka ia menang.

__ADS_1


Bukan berarti tenaga dalam Harimau Hitam dan Golok Neraka lemah. Hanya saja, ketika cambuk api Jalu melilit perisai tenaga dalam yang melindungi tubuh mereka, maka tercipta kepulan asap yang sangat banyak. Dalam posisi itu, Harimau Hitam dan Golok neraka tak bisa bernafas. Dengan sendirinya energi mereka melemah. Perisai energi yang melindungi tubuh mereka pecah. Selebihnya, tubuh Harimau Hitam dan Golok Neraka hangus dilahap api. Mereka berdua melolong dan bergerak tak tentu arah dalam keadaan terbakar hidup-hidup. Bau daging panggang menyeruak. Asap hitam mengepul dari tubuh mereka yang telah berwarna hitam arang.


Jalu memandangi kedua mayat itu. Hatinya terasa kosong. Ketika Niken tak ada di sampingnya, ia bahkan bisa lebih kejam dari pendekar aliran hitam. Baru kali itu ia bertarung dengan cara yang bengis.


Batari Mahadewi tertegun melihat perubahan sikap kakak seperguruannya itu. Suara pendekar Pedang Suci memecah suasana yang masih tegang itu.


“Terimakasih banyak tuan dan nona pendekar, tanpa bantuan kalian barangkali kami akan berakhir hari ini.” Kata pendekar Pedang Suci.


“Sudah kewajiban kami untuk turut membantu. Sungguh kebetulan juga, kami sedang melewati kota ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Kalau boleh tahu, siapakah nama tuan dan nona pendekar?” tanya pendekar Pedang Suci.


“Saya Batari Mahadewi.”


“Saya Jalu. Kami dari Padepokan Cemara Seribu, murid dari Ki Gading Putih.” Jawab Jalu. Suasana hatinya telah sedikit membaik ketika berbicara dengan pendekar Pedang Suci.


“Wah, pantas saja. Kehebatan kalian mengingatkan aku pada kehebatan guru kalian. Jika tidak keberatan, maukan nak Jalu dan nak Batari menginap di sini barang beberapa hari?” kata Pendekar Pedang Suci.


“Baik paman, kami akan menginap beberapa hari di sini, sambil membantu apa saja yang bisa kami bantu.” Jawab Jalu. Ia dan Batari Mahadewi memang berniat untuk memperlambat perjalanan mereka sambil menunggu hal baik yang barangkali akan mengantarkan Niken pada mereka berdua.

__ADS_1


 


 


__ADS_2