
Jalu dan Niken telah selesai dalam latihannya di ruang tanpa waktu altar suci dalam meditasi yang mereka lakukan. Seperti yang dikatakan Agrapana, energi keduanya meningkat pesat, lima kali lebih kuat dari sebelumnya. Keduanya mengakhiri meditasi yang mereka lakukan, lalu keluar dari altar suci. Kakek Agrapana tak ada di sana, sementara di halaman altar, ratusan pertapa yang entah telah berapa puluh tahun berada di sana terlihat seperti patung batu yang berwarna abu-abu berjejer rapi dan hening dalam meditasi yang mereka lakukan.
Niken dan Jalu berjalan menuju balai kota. Benar seperti yang dikatakan Agrapana, mereka kembali pada hari yang sama ketika mereka memulai meditasi. Para prajurit masih melakukan aktivitas harian mereka dengan dipimpin oleh para senopati di setiap kompi. Sebagian sedang berlatih kanuragan, sebagian masih bekerja membuat tambahan senjata baru, sebagian sedang bermeditasi, sebagian lainnya memasak dan istirahat.
Hal yang paling rentan dialami oleh para prajurit dalam penantian menuju perang adalah soal kesehatan. Oleh karena itulah, Jalu dan Niken sebagai pemimpin tertinggi dalam rombongan prajurit itu menegaskan bahwa kebersihan adalah hal yang paling utama.
Untungnya dalam kelompok pasukan itu, para pertapa banyak membantu para prajurit untuk belajar meditasi dan hal itu sangat banyak membantu untuk menjaga kesehatan jiwa para prajurit yang bagaimanapun juga tetap memiliki rasa cemas dan takut.
Dua utusan Mahapatih Siung Macan Kumbang telah sampai di balai kota Dhyana. Keduanya bertemu dengan Jalu, Niken dan Adipati Arcabumi untuk menyampaikan dua pesan penting. Pesan pertama adalah kabar bahwa pasukan Swargabhumi telah tiba dan sebentar lagi akan menyerang kota Mutiara Biru. Pesan kedua adalah pesan pribadi sang patih yang mengatakan bahwa jika para prajurit yang ada di Mutiara Biru telah kalah dan terdesak, maka semua prajurit akan dipindahkan di kota Dhyana.
“Jadi nanti ketika pasukan Swargabhumi telah menguasai Mutiara Biru, maka sisa prajurit akan bergabung di sini dan dipimpin langsung oleh paman patih?” tanya Jalu kepada kedua utusan itu.
“Benar raden, namun Mahapatih berpesan, apabila ia gugur, maka semua perintah akan dilimpahkan sepenuhnya kepada raden Jalu.” Kata utusan itu.
__ADS_1
“Jangan sampai paman gugur. Semoga beliau tidak berkeras hati untuk mengorbankan nyawanya di kota itu. Sudah pasti kota itu akan jatuh, dan seperti yang direncanakan, tugas paman patih hanyalah mengurangi jumlah prajurit musuh sebanyak-banyaknya, dengan segala cara.” Kata Jalu.
####
Sementara itu, dari hutan kecil tempat Mahapatih Siung Macan Kumbang bersembunyi, iring-iringan prajurit Swargabhumi telah terlihat. Jumlah mereka semua membuat bulu kuduk sang patih berdiri. Tepat seperti yang ia duga, para prajurit berhenti di padang rumput luas yang terbentang setelah hutan kecil itu untuk mendirikan tenda dan mengatur semua persiapan perang.
Tentunya, semua prajurit itu tak akan menyerang bersamaan. Patih Swargabhumi akan tetap berada di perkemahan itu untuk memberikan perintah kepada para senopatinya.
Mahapatih Siung Macan Kumbang masih menunggu waktu yang tepat untuk menciptakan kekacauan dalam barisan itu dan memancing sebanyak mungkin prajurit untuk mengejarnya. Tenda pertama yang dibangun tentu saja adalah tenda sang patih Hamapadayana yang terlihat paling besar diantara tenda lain yang sedang didirikan.
Ada satu hal lagi yang dinantikan Mahapatih Siung Macan Kumbang sebelum ia melakukan niatnya, yakni ia sedang menunggu para prajurit pengintai dari Swargabhumi yang sudah pasti akan melewati hutan kecil tempatnya bersembunyi untuk mengintai kondisi medan perang di sekitar benteng kota Mutiara Biru.
Sekali lagi, tebakan Mahapatih Siung Macan Kumbang benar. Beberapa prajurit pengintai mulai bergerak memasuki hutan kecil itu. Sang patih menghitung jumlah mereka dengan seksama dan menandai arah mereka pergi.
__ADS_1
Tentu, para prajurit pengintai itu juga harus berhati-hati, sebab bukan tak mungkin pasukan pengintai Swargadwipa juga ada di sana. Namun, yang ada di sana bukanlah prajurit sembarangan, namun seorang patih yang ulet dan memiliki kesaktian tinggi.
Mahapatih Siung Macan Kumbang membunuh satu per satu para prajurit itu dengan menggunakan kerikil yang ia jentikkan tepat di jidat masing-masing pasukan pengintai itu sehingga kematian mereka tak menimbulkan suara dan tak menjadi perhatian prajurit lainnya yang sedang waspada bergerak.
Mahapatih Siung Macan Kumbang teringat masa mudanya. Ia sudah sangat sering melakukan hal yang sedang ia lakukan itu di masa lalu. Meski badannya tinggi dan besar, namun ia juga pernah menjadi prajurit penyusup yang lihat yang bahkan bisa menyusup ke dalam istana tanpa ketahuan. Berkat pengalamannya itulah, ia berhasil mencetak para pasukan rahasia di Swargadwipa yang memiliki kemampuan tinggi.
Tiga puluh pasukan pengintai Swargabhumi telah mati tanpa tanpa sempat bersuara. Pada waktu yang sama, puluhan ribu tenda telah berdiri. Tak butuh waktu yang lama bagi prajurit-prajurit perang semacam itu untuk mendirikan tenda hingga dapur umum. Yang lama adalah membuat sumur dan kamar mandi serta kamar kecil. Pastinya, tidak semua prajurit bisa menggunakan kamar mandi yang jumlahnya terbatas itu. Selama perang berlangsung, mereka bahkan tak kepikiran untuk mandi, dan memilih pergi ke semak-semak untuk buang air besar dari pada lama mengantri di kamar kecil darurat di area perkemahan itu.
Mahapatih Siung Macan Kumbang yang tak telah melepaskan pakaian perangnya itu melesat cepat ke arah perkemahan itu, lalu berlari kencang menuju ke tengah-tengah perkemahan. Tak ada yang curiga sedikitpun sebab dalam suasana yang riuh dan melelahkan itu, para prajurit hanya menunggu makan untuk memulihakan rasa lelah perjalanan mereka.
Sesampainya di sana, ia melompat ke angkasa sembari melemparkan bola-bola beracun ke segala penjuru arah. Bola-bola itu meledak dan menghamburkan asap hitam. Semua prajurit sangat kaget dengan kejadian itu, beberapa prajurit yang ada dalam jangkauan asap beracun itu langsung ambruk dengan mulut berbusa. Mahapatih Siung Macan Kumbang yang masih melayang di udara mengatakan sesuatu dengan suara keras yang ia aliri dengan tenaga dalam sehingga semua orang yang ada di sana bisa dengan jelas mendengar suaranya.
“Aku Siung Macan Kumbang, Mahapatih Swargadwipa. Aku ucapkan selamat datang di Swargadwipa.” Suara sang patih menggelegar ke segala penjuru, membuat semua orang dalam lautan prajurit itu bergidik karena keberanian sang patih Swargadwipa yang hanya seorang diri berada di antara lima ratus ribu prajurit.
__ADS_1
Setelah mengatakan ucapan itu, Mahapatih Siung Macan Kumbang menghujamkan tenaga dalamnya ke arah tenda Mahapatih Hamapadayana dan membuat tenda besar dan megah itu hancur berantakan. Patih Hamapadayana beserta pengawal pribadinya berlindung dengan perisai energi sembari mendongak ke atas dan geram dengan ulah Mahapatih Siung Macan Kumbang. Setelah serangan singkat itu, Mahapatih Swargadwipa meluncur ke arah kota Mutiara Biru dengan kecepatan sedang, berharap ia akan dikejar.
Usahanya berhasil, patih Hamapadayana yang sangat marah itu menyuruh beberapa senopatinya beserta puluhan ribu prajuritnya untuk mengejar Mahapatih Siung Macan Kumbang.