
Batari Mahadewi dan Nala telah menghabiskan tiga hari tiga malam untuk menjelajahi berbagai tempat dan bertemu dengan para pendekar besar di wilayah kerajaan Swargaloka dan Madyabhumi. Kini keduanya telah sampai di perbatasan menuju ke wilayah Mahatmabhumi, sebuah wilayah yang belum pernah disinggahi oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Nala sudah pernah sampai di wilayah itu ketika ia sedang dalam perjalanan mencari kakaknya. Hanya saja, ia melewati jalur berbeda ketika harus mencari beberapa perguruan beladiri dan menemukan nama-nama pendekar besar yang masuk dalam daftar yang dituliskan oleh Ki Gading Putih.
Tinggal tiga senjata dan baju pusaka saja untuk tiga pendekar besar yang ada di sana. Sementara, mereka berdua benar-benar kehabisan senjata untuk diberikan kepada para pendekar sakti yang kemampuannya dibawah pendekar besar.
“Di wilayah ini, kita harus bertemu dengan Nyi Lohita, sang pendekar dari perguruan Selendang Merah, Ki Raga Bumi dari perguruan Pedang Dewa, dan satu lagi adalah Ki Rangga Suluk, pemilik perguruan Seruling Emas,” kata Nala.
“Kita hanya mempunyai golok dan pedang. Apakah menurutmu senjata ini tepat untuk Nyi Lohita yang selalu menggunakan selendang saktinya sebagai senjata? Dan juga Ki Rangga Suluk sang pendekar Seruling Emas? Ini agak sulit, Nala. Aku bahkan tak memahami cara kerja pusaka seruling meski pernah mendengar ceritanya,” kata Batari Mahadewi.
“Ada dua jenis pusaka seruling. Sebenarnya sama saja cara kerjanya. Seruling hitam dan putih. Di pulau Neraka, ada seorang pendekar seruling yang sangat terkenal, dia adalah pendekar Seruling Iblis. sementara di sini ada pendekar Seruling Emas. Hanya beda jenis kekuatannya saja menurutku,” kata Nala.
“Jika nanti Nyi Lohita dan Ki Rangga Suluk memang tidak bisa menggunakan pedang dan golok, ada baiknya kita buatkan saja senjata yang tepat untuk mereka. Namun kita mau tak mau harus mempelajari dahulu cara kerja dari masing-masing senjata pusaka itu,” kata Batari Mahadewi.
“Apa boleh buat, meski merepotkan, tetapi kita tak punya pilihan lain. Senjata pusaka ini akan berbahaya jika tak digunakan oleh pendekar yang ahli pedang. Jadi, ada baiknya sekarang kita cari saja perguruan Pedang Dewa terlebih dahulu dan memberikan satu bilah pedang dan baju pusaka untuk Ki Raga Bumi. Setelah itu barulah kita mencari Nyi Lohita dan Ki Rangga Suluk,” Nala memberi usul.
“Aku setuju. Baiklah, kita cari perguruan Pedang Dewa,” kata Batari Mahadewi.
Kedua pendekar itu berlari dengan kecepatan tinggi tanpa menyentuh tanah. Sesekali mereka berdua melenting di pepohonan hingga sampailah mereka di sebuah desa kecil. Dari sanalah keduanya akan bertanya kepada siapapun yang mereka temui untuk mencari tahu letak kota Seroja, tempat berdirinya perguruan Pedang Dewa yang sangat terkenal di Mahatmabhumi.
__ADS_1
Beruntunglah Nala dan Batari Mahadewi bertemu dengan seseorang yang tahu jalan menuju kota Seroja. Ternyata kota itu sudah dekat, tinggal melewati jalan lurus ke arah timur. Setelah melewati beberapa desa lagi, kota pertama yang mereka temui adalah kota Seroja.
Kota itu ternyata tak terlalu ramai. Mungkin karena letaknya sangat jauh dari kota kerajaan Mahatmabhumi yang terletak di wilayah paling timur, dekat dengan pelabuhan utama yang menjadi jalur utama menuju ke pulau Abyudaya dan pulau Ibha, dua buah pulau yang letaknya berdekatan dan hanya Terpisah oleh selat kecil.
Dengan demikian, sebenarnya Mahatmabhumi lebih sering berhubungan dan bekerjasama dalam banyak hal dengan pulau Abyudta dan Ibha daripada dengan kerajaan lain di wilayah Mahabhumi. Oleh karena itulah, kerajaan Mahatmabhumi cenderung sulit untuk dimintai bantuan ketika kerajaan-kerajaan aliansinya di sebelah barat sedang dalam situasi darurat perang.
Namun kedatangan pasukan Tirayamani pada akhirnya bisa membuat wilayah ini merasa terancam dan mau dengan suka rela untuk bekerja sama.
Batari Mahadewi dan Nala akhirnya sampai juga di depan gerbang perguruan Pedang Dewa. Seperti biasa, kehadiran Nala mengundang kecurigaan para pendekar yang bertugas menjaga gerbang masuk sehingga untuk menemui para pendekar besar itu merupakan hal yang tidak selalu mudah, meski sebenarnya mereka berdua bisa saja langsung sampai di kediaman sang pendekar besar. Hanya demi etika karena mereka akan bertemu dengan pendekar yang tak mereka kenal, akhirnya Batari Mahaewi tetap memilih jalur ‘mengetuk pintu’.
“Ada keperluan apa tuan dan nona pendekar datang kemari?” sambut penjaga gerbang dengan nada yang tidak terlalu ramah. Mereka tidak hanya menaruh curiga, namun juga memasang kewaspadaan tinggi.
“Saya belum pernah mendengar nama perguruan itu. Tetapi ada perlu apa dengan guru kami?”
Nala benar-benar kesal mendengar kata-kata itu. Di wilayah barat, meski kehadirannya tetap dicurigai, tetapi ia tak pernah mendengarkan kata-kata semacam itu. Mungkin karena nama Batari Mahadewi menjadi nama yang tak akan dilupakan oleh wilayah barat pada waktu itu, sehingga katika gadis itu memperkenalkan diri, segalanya berjalan lancar.
Sebaliknya, banyak pendekar Mahatmabhumi yang tak tahu nama seseorang yang telah menjadi penyelamat Mahabhumi pada waktu itu. Termasuk si pendekar penjaga gerbang perguruan Pedang Dewa itu. Ia hanyalah pendekar pemula yang malas belajar dan cukup puas untuk sering ditugaskan menjaga gerbang.
Nala yang kesal itu langsung menimpali, namun masih dalam suasana yang cukup sopan. “Kami datang dengan maksud baik, tuan pendekar. Jadi mohon kerjasamanya.”
__ADS_1
“Tidak mungkin seorang pendekar hitam datang dengan maksud baik,” jawab pendekar penjaga gerbang itu. Ia hanya ditemani oleh dua orang rekannya yang sama-sama angkuh dan *****.
“Oh, begitukah? Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menolong rombongan pendekar yang mengenakan seragam seperti yang anda kenakan saat ini. Tetapi tuan pendekar mungkin tak tahu menahu jika sehari-hari hanya menjaga gerbang saja,” Nala cukup tersulut. Batari Mahadewi segera mengingatkannya tanpa kata-kata, lalu mengambil alih percakapan.
“Kami ingin menyerahkan dua buah pusaka untuk guru Raga Bumi. Mohon tuan pendekar berkenan menyampaikan dan kami tak akan masuk ke dalam perguruan. Kami akan menunggu di sini,” kata Batari Mahadewi.
“Kalau begitu, serahkan pusaka itu. Biar saya sendiri yang mengantarkannya,” kata pendekar itu masih tak rela jika dua tamunya itu berhasil menemui sang guru besar.
“Anda yakin? Jika begitu tak masalah,” kata Batari Mahadewi. Dengan santainya gadis jelmaan pusaka dewa itu mengambil sebilah pedang dan sebuah baju pusaka dari punggung Nala. lalu menyerahkannya begitu saja kepada pendekar itu.
Sudah pasti pendekar itu mengira bahwa pedang yang akan diberikan oleh Batari Mahadewi adalah pedang-pedang seperti pada umumnya. Dengan sangat ceroboh, ia mengulurkan tangan untuk menerima pedang pusaka yang masih tersimpan dalam buntalan kain itu. Begitu Batari Mahadewi melepaskan pegangannya dan menyerahkan pedang itu sepenuhnya, pedang itu langsung jatuh ke tanah.
Pendekar penjaga itu sangat kaget dan tak menyangka bahwa pedang yang ia terima itu begitu berat. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengangkat pedang itu agar tak kehilangan muka. Jangankan berhasil dengan baik, begitu ia mengangkat pedang pusaka itu, tenaganya mendadak terserap habis dan pedang itu jatuh kembali, nyaris mengenai kakinya.
“Maaf, tuan pendekar. Bukan bermaksud meremehkan, tetapi pedang itu hanya bisa diangkat atau dipegang oleh para pendekar sekelas guru Raga Bumi,” kata Batari Mahadewi sambil menghujamkan senyum cantiknya.
Pendekar penjaga itu sangat malu dan ia baru menyadari sekaligus mengira bahwa Batari Mahadewi adalah sejenis pendekar sekelas gurunya, karena nona cantik itu terlihat bisa dengan mudah mengangkat dan membawa senjata pusaka yang super berat. Hari itu adalah hari terburuk yang pernah ia alami dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebagai penjaga gerbang!
Maaf teman-teman, hanya sanggup nulis 4 chapter buat kalian. Semoga bisa terhibur. Sampai jumpa besok lagi. Terimakasih banyak.
__ADS_1