Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 179 Pusaka Suci Pulau Halilintar


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala sampai dengan susah payah di dunia atas pulau Halilintar gara-gara membawa sebuah tongkat yang berat. Keduanya bergegas menemui tetua Samman yang sedang berkumpul dengan beberapa orang di sekitar pilar penyangga kuil suci. Tetua Samman dan orang-orang disekitarnya tak bisa menyembunyikan rasa senang ketika Batari Mahadewi dan Nala datang ke sana, terlebih dengan membawa pusaka sakti yang sebelumnya dikuasai oleh ratu Halilintar.


“Sudah kuduga kalian akan berhasil melakukannya. Aku juga tak menyangka kalian bisa menyelamatkan pusaka suci kami dalam kondisi utuh.” Sambut tetua Samman. Tetua Hannam juga terlihat di sana, menunjukkan ekspresi wajah yang senang dan bangga kepada dua pendekar muda yang telah membunuh ratu Halilintar itu.


“Jadi pusaka ini adalah pusaka suci pulau Halilintar?” tanya Nala.


“Benar sekali. Ini merupakan salah satu bagian dari sumber energi utama. Hanya jika keduanya dipersatukan, maka sumber energi itu bisa diambil serap dalam jumlah yang besar. Kami semua sepakat untuk memberikan kalian berdua penghormatan sebagai pahlawan kami sekaligus merupakan ungkapan terimakasih kami. Maka kalian berdua akan menjadi yang pertama setelah beberapa generasi ini yang akan menyerap energi halilintar di kuil suci.” Kata tetua Samman. Tetua Hannam dan beberapa orang yang ada di sana mengangguk sepakat.


“Terimakasih banyak. Sungguh suatu kehormatan bagi kami. Kami sangat senang jika apa yang kami lakukan bisa menjadi hal berarti bagi warga pulau Halilintar. Jika kami diizinkan, maka kami hendak ke kuil suci secepatnya, tetua.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, tentu saja kalian diizinkan. Bawalah serta tongkat ini untuk kalian letakkan di altar kuil.” Kata tetua Samman. Tentu saja membawa tongkat itu menuju ke kuil suci bukanlah hal mudah. Setidaknya butuh sepuluh orang manusia pulau halilintar untuk membawanya naik ke atas. Sehingga sekali lagi penduduk pulau Halilintar sangat diuntungkan dengan kehadiran Batari Mahadewi dan Nala.


“Baiklah tetua, kami akan berangkat ke atas sekarang. Terimakasih banyak kami sudah diizinkan.” Kata Nala. Kedua pahlawan baru pulau Halilitar itu kemudian meluncur ke atas sembari membawa tongkat suci yang mereka jinjing berdua. Sesampainya di atas, Batari Mahadewi dan Nala mencari-cari tempat untuk meletakan pusaka itu.

__ADS_1


“Benda ini harus diletakkan di mana, Tari?” tanya Nala.


“Aku juga tak tahu. Tetua Samman dan Hannam kurasa juga tak tahu. Semua warga pulau halilintar tak ada yang pernah menginjakkan kaki di kuil suci sejak mereka lahir. Tentu karena keberadaan ratu Halilintar yang menjaga kuil ini.” Kata Batari Mahadewi.


Ketika Batari Mahadewi dan Nala menginjakkan kaki mereka di altar kuil suci sambil membawa tongkat itu, tiba-tiba pusaka suci itu bergerak sendiri, lalu berputar-putar terbang ke atas sumber energi utama dan dalam posisi tegak, pusaka itu menancap masuk diujung atas kristal energi utama pulau Halilintar.


Seketika kristal itu berubah warna; jika semula hanya memancarkan cahaya biru, kini menjadi berwarna-warni. Pancaran energi halilintar yang dihasilkan juga semakin kuat terasa. Tubuh Batari Mahadewi dan Nala yang sebelumnya telah terisi energi dari pulau Api dan pulau Es tiba-tiba tersedot masuk ke dalam kristal raksasa yang melayang diantara empat pilar altar kuil itu.


Berbeda dengan yang mereka alami ketika berada di pulau api, Batari Mahadewi dan Nala menyerap energi dari kristal api secara aktif. Namun di pulau es dan pulau Halilintar, keduanya hanya bisa menerima energi itu secara pasif. Artinya, keduanya bahkan tak bisa mengendalikan secara sadar berapa banyak energi yang mereka butuhkan. Tubuh kedua pendekar itu bereaksi dengan kristal halilintar.


Elemen-elemen yang terdapat dalam kristal halilintar itu masuk mengisi setiap sel tubuh Batari Mahadewi dan Nala layaknya nutrisi yang turut membentuk tubuh mereka berdua. Sehingga, keduanya tak bisa menentukan kapan proses itu akan berakhir. Mereka berdua telah kehilangan kesadaran begitu tubuh mereka terseret masuk ke dalam kristal halilintar.


####

__ADS_1


Sementara itu, di dunia satu rembulan, situasi di Swargadwipa menjadi semakin sibuk. Para penduduk kota kerajaan diungsikan lebih awal secara bertahap agar proses tersebut berjalan lancar, dan para pengungsi juga bisa berbenah serta menjalankan roda ekonomi di pengungsian. Kecuali bangunan, tentu saja para penduduk kota itu membawa serta semua aset yang mereka miliki. Sehingga, proses pemindahan penduduk itu bisa dibilang tak akan terlalu berdampak buruk pada perekonomian.


Dengan kata lain, proses pemindahan itu bisa dianggap sebagai pindah tempat saja. Meski semua warga mendapatkan tempat tinggal yang sama bentuk dan ukurannya, namun mereka semua dengan penuh semangat membangun kembali apa yang mereka butuhkan untuk menjalankan bisnis mereka. Dalam waktu singkat, tempat pengungsian itu mendadak menjadi sebuah kota baru. Untungnya, lokasi pengungsian itu cukup jauh dari kota kerajaan sehingga bisa dipastikan pengungsian itu tak akan terkena dampak serangan dari perang yang akan meletus. Kecuali jika Swargadwipa kalah.


Setelah proses evakuasi yang membutuhkan waktu beberapa hari itu telah tuntas, Mahapatih Siung Macan Kumbang menjalankan rencana selanjutnya. Ia memerintahkan untuk menutup semua jalur keluar dan masuk ke dalam benteng kota kerajaan. Sang Patih menempatkan orang-orang pilihannya untuk menjaga setiap benteng dan memastikan bahwa tak akan ada prajurit Swargadwipa yang bisa keluar. Tembok benteng itu sangat tinggi, sehingga hanya para pendekar berilmu sakti saja yang bisa terbang dan melompatinya.


Semua itu dilakukan agar rencana sang patih tak bocor ke pihak lawan. Meski kemungkinan mata-mata musuh yang menyusup dalam tubuh Swargadwipa itu ada, dan mungkin beberapa diantaranya adalah orang sakti, namun patih Swargadwipa itu telah membuat berbagai macam cara agar rencananya itu tak mudah dipahami. Ia hanya menyuruh anak buahnya untuk melakukan berbagai macam hal tanpa memberikan penjelasan. Tentu hal itu membuat bingung semua orang dan tetap saja; tak ada seorangpun yang berani membantah perintah sang mahapatih.


Untungnya Swargadwipa mendapat dukungan penuh dari berbagai perguruan aliran putih yang ada di sana. Setidaknya para pendekar muda seantero Swargadwipa dengan senang hati untuk menjalankan kewajiban bela negara. Mereka mendapatkan berbagai tugas penting, terutama dalam hal melakukan penjagaan di sekeliling benteng untuk memastikan bahwa tak akan ada mata-mata musuh yang bisa keluar masuk kota kerajaan Swargadwipa yang kini hanya dihuni oleh kalangan militer saja.


Selama proses persiapan untuk menata ulang kota dan memodifikasi berbagai bangunan strategis untuk pertahanan sekaligus senjata yang akan memporak-porandakan barisan musuh, Mahapatih Siung Macan Kumbang juga telah menyiapkan sepuluh ribu pasukan khusus yang akan ditugaskan untuk memancing pasukan lawan. Selain itu, sang patih juga membentuk sekelompok pasukan khusus yang berisi para pendekar sakti untuk membuat kerusuhan dalam rombongan prajurit musuh yang sedang dalam perjalanan menuju Swargadwipa.


Dalam waktu dekat, pasukan khusus yang terdiri dari para pendekar berkemampuan tinggi yang akan dipimpin oleh Pradipa itu akan segera diberangkatkan. Sekelompok pendekar yang hanya berjumlah seratus orang itu siap untuk membunuh sebanyak mungkin pasukan musuh yang sedang dalam perjalanan, serta membuat perjalanan rombongan pasukan Swargabhumi itu akan jauh lebih lambat dari yang diperkirakan.

__ADS_1


__ADS_2