Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 110 Mereka Menyerang! #7


__ADS_3

Kekuatan Nala bertambah ketika tubuhnya menerima pukulan hebat dari gorila raksasa yang membuatnya terpental jauh hingga ke wilayah gerbang kota ke empat. Beberapa mustika yang tertanam dalam tubuhnya tanpa sengaja diaktifkan, bersamaan dengan rasa sakit dan kaget yang dialami oleh Nala. Alam bawah sadarnya bereaksi ketika tubuhnya mengalami suatu peristiwa berat dan dengan seketika juga mengaktifkan sumber-sumber kekuatan yang tertanam dalam tubuh Nala.


Kini Nala berbeda dengan sebelumnya. Vidyana telah menampakkan dirinya, memandangi pancaran energi berbeda yang berwarna merah terang di tubuh adiknya itu. Ia puas, sebab usahanya selama ini setidaknya membuahkan sedikit hasil. Vidyana tahu, kekuatan adiknya belum sepenuhnya muncul. Namun di saat yang sama, Vidyana cemas jika adiknya menantang gadis sakti itu bertarung.


Batari Masih tetap menjaga pancaran energinya menyala, begitu pula dengan Nala. Keduanya diam, saling menakar kekuatan, saling menebak, saling menatap mata tanpa berkedip.


“Kenapa harus bertarung?” tanya Batari Mahadewi.


“Pendekar lahir untuk bertarung.” Jawab Nala.


“Kenapa aku harus bertarung denganmu?” tanya Batari Mahadewi.


“Karena aku memaksamu.” Jawab Nala.


Batari Mahadewi dan Nala masih dalam posisi diam. Para pendekar yang ada di sekitar kedua pendekar cilik itu juga tak berbuat sesuatu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Baiklah. Bersiaplah.” Kata Batari Mahadewi.


Gadis kecil itu melesat ke udara, jauh tinggi, hingga tubuhnya tak terlihat lagi kecuali seberkas cahaya kecil berwarna keemasan. Nala menyusulnya. Keduanya bertemu di angkasa.


“Kita akan bertarung di sini. Tanpa harus melibatkan orang lain. Aku tak mau ada korban lagi.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Terserah. Ayo maju!” kata Nala. Ia sangat bersemangat, namun ia tak tahu alasannya. Inilah pertama kalinya ia sangat ingin bertarung setelah sebelum-sebelumnya, selalu kakaknya yang memulai pertarungan, dan ia hanya akan turun tangan ketika kakaknya berada dalam kesulitan.


Nala adalah lelaki kecil yang istimewa. Kelahirannya membawa kematian bagi ibunya dan setelahnya, Vidyana membesarkannya. Nala tak pernah minum susu sebagaimana bayi-bayi lainnya. Vidyana membesarkannya dengan mustika alam yang waktu itu masih bisa didapatkan dengan mudah di dalam hutan tempat ia bersembunyi. Mula-mula, Vidyana memberikan batu itu sebagai mainan agar Nala yang masih bayi itu berhenti menangis. Anehnya, bayi itu menyerap mustika alam dengan mudahnya.


Setelah Nala tumbuh besar, ia memiliki kesaktian yang langka. Hanya beberapa pendekar tua di pulau neraka yang tahu bahwa lelaki kecil itu adalah titisan Pangeran Kegelapan karena ada tanda kecil di pelipis kanannya.


Ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum Kalapati lahir, Pangeran Kegelapan adalah pengacau dunia. Para dewa mengeroyoknya dan menyegelnya dalam sebuah batu kecil sebab raja dari segala raja siluman itu tak bisa dibunuh. Raja Dewa menyimpan batu kecil berwana hitam itu dalam ruang pusaka khayangan. Sayangnya, batu itu tiba-tiba menghilang.


Lima puluh tahun sebelum Nala dilahirkan, ibunya menemukan sebuah batu hitam di kerak bumi ketika ia sedang bertapa. Batu itu ia tanamkan dalam tubuhnya. Batu itu kemudian hidup kembali menjadi sosok bayi dalam rahimnya, yang menyerap semua energinya hingga akhirnya sang ibu itu meninggal dunia sehari setelah Nala lahir.


Kini Nala dan Batari Mahadewi bertemu. Keduanya bertukar puluhan jurus di angkasa. Langit gelap itu sesekali memancarkan cahaya menyilaukan, pijaran api, sambaran kilat, dan ledakan. Dari bawah, keduanya tampak seperti dua berkas cahaya yang saling berbenturan, saling menjauh, berkejaran, dan beradu lagi. Lalu keduanya sama-sama tak bergerak.


“Demikian dirimu.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau bersembunyi dalam tubuh gadis itu? siapa kamu?” tanya Nala.


“Aku sama tak tahunya seperti kamu.” Jawab Batari Mahadewi. “Kau yakin masih berminat melanjutkan pertarungan ini?”


“Ya, tentu saja. Mari kita lanjutkan!” Nala melesat melontarkan pukulan energinya. Telapak tangan kanannya menghujam ke arah Batari Mahadewi. Gadis kecil itu menyambut pukulannya. Kedua telapak tangan itu beradu. Cahaya merah dan emas melebur menjadi satu di angkasa. Berpendar-pendar.


Kedua telapak tangan itu menempel dan tak mau lepas, saling menyerap energi masing-masing. Energi yang tersegel dalam kedua tubuh itu seakan-akan menyeruak ingin melepaskan diri. Pendaran-pendaran energi dari kedua pendekar cilik itu mewarnai langit malam, seperti aurora.

__ADS_1


Perlahan, sebuah lubang di angkasa mulai terbuka. Mula-mula adalah lubang yang kecil, namun perlahan membesar, menghisap seluruh pendaran cahaya dari energi Batari Mahadewi dan Nala. Tak lama kemudian, taka da lagi cahaya di angkasa. Bersamaan dengan menutupnya lubang besar yang menelan cahaya-cahaya itu. Pancaran energi Batari Mahadewi dan Nala menghilang dari peredaran.


Vidyana berteriak histeris, demikian pula dengan Jalu dan Niken.


 


 


 


 


Maaf teman-teman, aku memotong cerita sampe segitu. Stuck. drpd ga ngirim apa-apa buat teman-teman, ya udah tak kirim segitu aja ya. besok tak lanjutin lagi. Makasih teman-teman. GBU


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2