
Pada hari berikutnya, Nala memenuhi apa yang telah ia katakan kepada gadisnya itu.
“Kau akan mencari bahan-bahan ini sendirian saja di dalam perut bumi?” tanya Batari Mahadewi.
“Serahkan padaku. Aku sudah mengetahui mana saja yang bisa dijadikan bahan terbaik. Jika aku pergi sendiri, akan jauh lebih cepat!” kata Nala.
“Sombong sekali! Sana buktikan kata-katamu!” balas Batari Mahadewi.
“Dengan senang hati. Tunggu sebentar!” Tubuh Nala lenyap menjadi partikel energi dan ia melesat cepat melewati celah-celah kecil dalam goa itu, menuju ke tempat yang lebih dalam lagi dari sebelumnya, hingga ia sampai di sungai api. Di sana ia memilih berbagai bahan yang ia butuhkan, menyatukan dengan tubuhnya, lalu dengan cara yang sama ia kembali ke atas dengan membawa berbagai bahan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
“Apakah ini cukup!” kata Nala dengan nada pamer.
“Astaga! Hahaha, baiklah, kali ini aku menyerah!” kata Batari Mahadewi.
“Aku sudah membuktikannya. Sekarang minta imbalannya!” kata Nala dengan senyum licik yang dibuat-buat.
“Imbalan?” tanya Batari Mahadewi curiga.
Nala berjalan mendekat. Ia mencium bibir gadisnya itu dan sekali lagi ia berhasil membuat jantung Batari Mahadewi berdegub kencang.
“Kau mengacaukan pikiranku!” Wajah Batari Mahadewi merah merona setelah Nala melepaskan ciuman dan pelukannya.
“Dan kau beberapa hari ini membuatku gila,” balas Nala.
“Kita harus menahan diri, Nala. Tak boleh lebih jauh dari ini,” kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku tahu. Aku tak mau kau bertarung melawan para iblis dan raksasa dengan perut buncit, gadisku. Jadi ayo aku tunjukkan caraku membuat senjata. Semalaman aku sudah memikirkan cara tercepat untuk membuat senjata,” kata Nala. Lelaki itu benar-benar telah membuat Batari Mahadewi salah tingkah.
“Hu’um. Tunjukkan caranya, aku penasaran!” kata Batari Mahadewi.
Nala dengan mudah membuat berbagai bahan logam itu berubah bentuknya, bahkan tanpa menggunakan kekuatan api. Setelahnya, ia menyatukan berbagai logam yang berbeda-beda itu menjadi berlapis-lapis tanpa menyentuhnya, seolah logam-logam itu hidup dan bernyawa, bergerak sendiri dan terbentuklah sebuah golok pusaka dengan bentuk aneh tetapi cantik dengan hiasan yang rumit mulai dari ujung gagang hingga ujung golok.
“Selesai, gadisku! Apakah ini cukup cantik?” kata Nala dengan nada sombong yang mengesalkan.
“Baiklah. Kau menang dalam hal ini. Jadi, untuk pembuatan senjata, semuanya kuserahkan padamu. Aku akan mencari mustika siluman sebagai bahan pembentukan jiwa dari senjata-senjata itu,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Kau tak mengajakku?” tanya Nala.
“Hmm…Kalau kau ikut mencari mustika, lalu mengerjakan semua senjata ini, lalu apa andilku untuk semua ini?” sergah Batari Mahadewi.
“Kau cukup menjadi tukang perintah saja dan aku akan mengerjakannya. Lagipula, bagi manusia biasa, tugas semacam ini biasanya adalah tugas lelaki. Harga diriku terluka jika kau mengerjakan semua hal ini!” kata Nala.
“Hahaha, ucapanmu membuatku terharu. Tetapi ini tidak ada hubungannya dengan lelaki atau perempuan. Semua sama, yang membedakan hanya kemampuannya. Kamu lebih ahli dalam membuat senjata pusaka ini!” Kata batari Mahadewi.
“Sudahlah, kapan kita bergerak mencari mustika siluman?” tanya Nala.
“Aku hanya mau mencari siluman kuat berumur lebih dari seribu tahun seperti siluman naga api, siluman naga danau, siluman naga laut, siluman apapun yang terlihat kuat!” kata Batari Mahadewi.
Nala tiba-tiba teringat pertemuan terakhirnya dengan dua siluman yang mengenali dirinya. Itu sungguh tak membuatnya nyaman. Nala juga berfikir, jika ia ikut, maka ia harus segera menumpas siluman itu sebelum mereka sempat berkata-kata dan mengungkit-ungkit masa lalu Nala.
“Baiklah, tak terlalu sulit menemukan siluman semacam itu!” kata Nala.
“Memangnya kau tahu tempatnya?” tanya Batari Mahadewi.
“Tentu kau yang tahu tempatnya. Aku tinggal membantumu saja!” jawab Nala.
“Ayo!”
****
Setelah berpamitan, Batari Mahadewi dan Nala melesat ke tempat-tempat yang biasanya menjadi persemayaman siluman berusia ribuan tahun. Tak semua tempat yang mereka kunjungi terdapat siluman yang mereka harapkan. Sehingga, mereka berdua lebih banyak berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya, satu danau ke danau lainnya, dan sebagainya.
“Lihat gunung api itu, Nala. Aku bisa melihat, di sana ada siluman naga api yang berumur lebih dari lima ribu tahun. Siluman itu tak pernah menyerang manusia sebenarnya. Tapi tak apa, jiwanya tak akan mati dalam senjata pusaka yang kita buat,” kata Batari Mahadewi.
“Baguslah kalau begitu tunggu apa lagi! Ayo kita pancing siluman itu keluar!” kata Nala.
Nala sengaja mengarahkan pancaran energinya ke gunung api itu. Sang siluman naga api sudah pasti akan terusik, lalu akan marah dan mencari sosok yang berani menantangnya itu. Dan benar, tak lama kemudian, seekor naga api keluar dari kawah gunung api dalam keadaan marah.
“Kau berhasil membuatnya marah, Nala!” kata Batari Mahadewi.
“Semakin marah semakin baik. Kita tak akan tega jika siluman itu berwujud naga yang lucu!” kata Nala.
__ADS_1
“Ayo langsung saja. Jika kau bisa membuat siluman naga itu tidak bergerak, aku bisa dengan mudah mengambil mustikanya!” kata Batari Mahadewi. Dengan mata saktinya itu, Batari Mahadewi bisa melihat letak mustika siluman yang bersarang di antara tanduk naga berwarna jingga yang tubuhnya memancarkan api berkobar-kobar itu.
Nala melesat sembari mengubah wujudnya menjadi naga api yang berukuran tak kalah besar dengan siluman naga itu. Dua ekor naga saling melilit. Ketika Nala berhasil membatasi gerakan siluman itu, Batari Mahadewi dengan cepat melesat dan menghunuskan kuku tajamnya ke kepala sang siluman naga api, lalu gadis jelmaan pusaka dewa itu segera mengambil mustikanya yang berwarna merah api.
Begitu mustika itu terpisah dari tubuh sang siluman naga, seketika tubuh siluman itu kehilangan seluruh kekuatannya, mengecil dan jatuh ke bumi.
Ketika siluman naga api terkuat di gunung itu tumbang dengan mudah, maka siluman kecil lainnya yang ada di wilayah itu tak berani menampakkan diri. Batari Mahadewi memurnikan kekuatan mustika yang telah ada dalam genggaman tangannya itu hingga ukurannya memadat hingga sebesar telur puyuh.
“Aku akan membawa serta beberapa bagian tubuh dari naga ini, Nala. Kita bisa menggunakannya sebagai bahan untuk berbagai jenis pusaka yang berbeda.” Kata Batari Mahadewi.
“Kau butuh bantuan?” tanya Nala.
“Tentu tidak,” jawab Batari Mahadewi. Dengan lincah gadis itu memisahkan kulit sang naga dari dagingnya. Lalu ia juga mengambil kuku, taring, dan tanduk siluman naga itu.
“Bawaan kita menjadi banyak,” kata Nala.
“Tak apa-apa. Sayang jika kita tak memanfaatkan bagian-bagian dari siluman ini. Nah, Nala, bisakah kau menguburkan sisanya ini?” tany Batari Mahadewi.
“Baiklah,” kata Nala. Ia membuat lubang yang sangat dalam dan besar, lalu memasukkan sisa-sisa tubuh siluman naga itu ke dalam lubang yang ia buat, kemudian ia menutup lagi lubang itu.
“Terimakasih banyak, kakek naga. Kematianmu kelak akan menyelamatkan banyak manusia,” ujar Batari Mahadewi.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu mengemasi dan menggulung kulit naga itu, mengikatnya menjadi satu untuk memudahkan dirinya membawa di punggungnya.
“Biar aku saja yang membawanya,” kata Nala. Dengan sigap ia meletakkan gulungan kulit naga dan beberapa bagian tubuhnya itu di punggunya.
“Terimakasih, Nala. Kau memang selalu bisa diandalkan. Kita pulang saja dulu, besok kita lanjutkan pencarian.” Kata Batari Mahadewi.
“Dengan senang hati. Apakah kau mau kugendong hingga sampai ke rumah?” goda Nala.
“Percayalah, tubuh rampingku ini sangat berat,” kata Batari Mahadewi.
“Benarkah? Seumur-umur, aku belum pernah menggendongmu atau mengangkat tubuhmu. Memangnya kau seberat apa?” tanya Nala.
“Mungkin seberat seekor gajah,” jawab Batari Mahadewi. Tentu jawaban itu tidak serius. Namun tubuh langsing gadis cantik itu memang berat. Setara dengan orang dewasa yang bertubuh sangat gemuk.
__ADS_1
Nala terbatuk-batuk mendengar jawaban kekasihnya itu. “Andaikan berat badanmu setara dengan empat ekor gajah, aku tetap bisa menggondongmu,” kata Nala. Ia mendekat dan membopong tubuh Batari Mahadewi dengan paksa dan menaruh ke pundaknya layaknya sekarung beras, kemudian ia melesat dengan kecepatan tinggi menuju padepokan Cemara Seribu. Oh, Nala! Tentu bukan gendongan semacam itu yang diharapkan Batari Mahadewi. Itu lebih mirip penculikan.