Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 67 Perjalanan Menuju Danau Rembulan Merah


__ADS_3

Kolam besar dengan sebuah menara di tengah-tengahnya yang terletak di tengah kota Dhyana itu menjadi rumah bagi ikan-ikan besar dan kura-kura yang telah berusia ratusan tahun. Ada beberapa jenis ikan dan kura-kura yang menjadi salah satu daya tarik dari kolam itu. sesekali mereka menampakkan diri di permukaan kolam, dan berenang dengan perlahan.


Batari Mahadewi sedikit terhibur dengan melihat pemandangan di kolam itu. Setidaknya, para penghuni kolam itu mampu meredakan kesedihannya. Ketika Batari Mahadewi terlihat membaik, Jalu memberanikan diri untuk membuka percakapan.


“Adik, menurutmu setelah ini apa yang akan kita lakukan?” tanya Jalu.


“Seperti rencana awal kita kak, kita akan lanjutkan perjalanan dan semoga kita juga bisa menemukan kak Niken.” Kata Batari Mahadewi.


“Apakah kau sudah siap melanjutkan perjalanan?” tanya Jalu.


“Tentu, kak. Oh iya, kakek Agrapana menitipkan ini padaku. Ini untuk kakak, dan harus segera kakak gunakan saat ini.” Kata Batari Mahadewi sambil menyodorkan batu mustika alam pemberian Agrapana.


“Astaga! Sebesar ini! Butuh waktu 2 hari atau lebih untuk bisa menyerap semua energi di dalamnya.” Kata Jalu.


“Tidak apa-apa. Aku akan menjaga kakak selama kakak menyerap energi dari batu mustika ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Dimana kita bisa melakukannya?” Kata Jalu.


“Tempat ini bagus. Tak akan ada orang yang peduli. Tak akan ada juga pendekar yang mengganggu kakak.” Kata Batari Mahadewi.


“Tapi…” belum selesai Jalu bicara, Batari Mahadewi sudah memotongnya, “Kata kakek Agrapana, kak Jalu harus menyerap energi dari batu ini secepatnya dan di kota ini. Aku tak tahu kenapa, tapi sebaiknya kita turuti saja semua saran kakek itu.”


“Baiklah, aku akan melakukannya sekarang.” Kata Jalu. Ia kemudian mengatur posisi duduknya, bersila menghadap menara di tengah kolam kota itu sambil meletakkan mustika itu di telapak tangan kanannya, sementara telapak tangan kirinya berada di atasnya. Jalu mulai menyerap energi dari mustika alam istimewa pemberian Agrapana itu. Tubuhnya mulai memancarkan cahaya merah yang perlahan berganti menjadi cahaya putih.


####


Sementara itu, Niken dan Pradipa telah sampai di sebuah desa yang jauh, yang terletak di sebelah barat kota Dhyana. Keduanya tak mengambil jalan yang melewati kota tua itu karena ingin segera sampai di danau Rembulan Merah sebelum malam bulan purnama sekian hari mendatang.


Kedua pendekar itu juga telah mendapatkan undangan yang sama dengan yang didapatkan oleh Jalu. Satu-satunya hal yang membuat Niken sangat ingin menghadiri undangan itu adalah karena ia berharap akan bertemu dengan adik dan kakak seperguruannya, Batari Mahadewi dan Jalu.


Niken dan Pradipa akhirnya sampai di sebuah desa yang cukup ramai setelah beberapa hari melakukan perjalanan menembus hutan. Dalam perjalanan itu, keduanya telaj beberapa kali bertempur dengan siluman penjaga mustika alam ketika Pradipa ingin mengambilnya. Niken belajar satu hal, bahwa penting bagi seorang pendekar membawa bekal mustika-mustika semacam itu untuk memulihkan energi dengan cepat setelah pertarungan.

__ADS_1


Sebelumnya, Niken tak pernah kepikiran untuk membawa bekal semacam itu karena Batari Mahadewi selalu bisa menyelesaikan persoalan sulit. Apa kabar adikku sayang, aku merindukanmu... batin Niken.


“Niken, bagaimana jika kita menginap di desa ini. Cukup ramai di sini, jadi kukira kita bisa dengan mudah menemukan penginapan.” Kata Pradipa.


“Iya, aku juga berfikir demikian kak.” Kata Niken.


“Kalau begitu ada baiknya kita cari makanan dulu. Lihat di sana! Sepertinya kedai itu menyediakan makanan enak.” Kata Pradipa sambil menunjuk kedai makan yang cukup ramai di depan mereka.


“Ya, kita cari makan di sana saja.” Kata Niken. Keduanya berjalan santai menuju kedai makan itu. Di kanan dan kiri jalan banyak sekali para pedagang yang menjajakan berbagai jenis barang meski jalan itu bukanlah pasar. Saat keduanya berjalan, semua orang selalu melihat ke arah mereka. Bagi kaum perempuan, mereka tak akan menyianyiakan pemandangan indah yang terpancar dari wajah Pradipa. Sebaliknya, kaum lelaki akan terpesona dengan paras cantik Niken.


Semua orang mengira keduanya adalah pasangan pendekar kelana dan diam-diam mereka cemburu. Betapa bahagianya mereka…sepasang pendekar rupawan…


Niken dan Pradipa memasuki kedai yang cukup ramai itu, memilih bangku kosong dan memesan makanan. Beberapa orang di sana masih curi-curi pandang kepada Niken dan Pradipa. Keduanya pura-pura tak tahu kalau mereka selalu menjadi pusat perhatian, baik di desa ini atau di desa lainnya selama melakukan perjalanan.


“Mereka pasti mengira kita sepasang kekasih.” Kata Pradipa kepada Niken.


Niken tak menjawab. Wajahnya sedikit memerah mendengar ucapan Pradipa. Namun dalam hati, ia sangat rindu dengan Jalu. Jika saja Jalu tak lebih dahulu singgah di hatinya, mungkin ia akan menanggapi maksud Pradipa yang selama beberapa hari itu berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Niken. Ia tahu bahwa pendekar tampan itu jatuh hati padanya.


“Makanan sudah datang, mari makan kak Pradipa.” Kata Niken.


“Niken, apakah kau punya kekasih?” tanya Pradipa.


“Kenapa kakak bertanya demikian?” Niken balas bertanya.


“Hanya ingin tahu. Jika sudah, maka lelaki itu sungguh beruntung.” Kata Pradipa. Niken tak menanggapi hal itu. Namun, Pradipa masih mendesak jawaban Niken.


“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kata Pradipa.


“Oh, hmm, yang tadi? Aku belum punya kekasih. Kakak sendiri bagaimana?” tanya Niken.


“Aku juga.” Jawab Pradipa

__ADS_1


“Tidak pernah punya kekasih?” Niken mulai penasaran.


“Tidak juga. Beberapa kali. Mudah mendapatkannya, tapi sulit mendapatkan yang tepat.” Jawab Pradipa.


“Oh begitu... semoga kakak lekas mendapatkan yang tepat.” Kata Niken berusaha meloloskan diri dari percakapan itu, sekaligus godaan yang setiap saat bisa menjebak dirinya.


Pradipa diam. Ia sangat heran karena baru kali itu ia sulit untuk mendapatkan hati perempuan. Entah berapa puluh perempuan yang telah ia taklukkan sebelum ia bertemu Niken. Masing-masing dari perempuan-perempuan itu ditinggalkan Pradipa dalam hitungan hari.


Niken satu-satunya perempuan yang membuatnya berusaha keras. Ia tak punya sesuatu yang bisa diandalkan kecuali wajahnya yang tampan dan tutur katanya yang menyenangkan. Dalam hal kesaktian, bisa jadi Niken memiliki kesaktian setara dengannya, dan Niken juga memiliki jurus yang belum pernah ia ketahui, Nyanyian Pengantar Mimpi. Jurus itu sedikit banyak membuat Pradipa tak bisa memperlakukan Niken sebagaimana ia memperlakukan wanita lain.


Selama perjalanan, Niken cenderung pendiam. Ia hanya akan berbicara jika Pradipa yang bertanya duluan. Kebanyakan, mereka hanya bercerita tentang dunia persilatan. Sesekali, Pradipa tetap menyinggung persoalan cinta, hanya saja Niken tak pernah memberikan jawaban yang ia harapkan. Semakin sulit didapatkan, semakin penasaran Pradipa untuk menggapainya.


“Niken, apakah kau pernah jatuh cinta?” tanya Pradipa.


“Ya, pernah.” Kata Niken.


“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Pradipa.


“Tak terjadi apapun.” Jawab Niken.


“Apakah lelaki itu tak mencintaimu?” tanya Pradipa.


“Entahlah, mungkin iya, mungkin tidak.” Jawab Niken.


“Jika ternyata tidak, apa yang akan kau lakukan?” tanya Pradipa.


“Menunggu. Hanya itu yang bisa kulakukan.” Jawab Niken.


“Kau tak ingin mengungkapkan perasaanmu padanya?” tanya Pradipa.


“Aku tidak bisa begitu, kakak.” Jawab Niken.

__ADS_1


“Berarti, saat ini kau sedang jatuh cinta dengan seseorang?” tanya Pradipa.


“Ya.” Jawab Niken. Jawaban itu membuat Pradipa berhenti bertanya lagi. Tapi ia yakin jika ia bisa merebut hati perempuan cantik yang kini bersamanya itu. Hanya soal waktu, betapapun kerasnya batu karang, deburan ombak akan mengikisnya perlahan. Pradipa sibuk dengan lamunannya sendiri. Ia merasa benar-benar jatuh cinta. Ia merasa bahwa Niken adalah perempuan yang istimewa, sekali hatinya berlabuh, tak mudah baginya untuk mengangkat sauh.


__ADS_2