
Subuh merekah di kota Dhyana. Jalu, Niken, Nala dan Vidyana telah bersiap untuk berangkat. Setelah berpamitan kepada sang kakek Agrapana, mereka berempat melesat terbang ke arah utara.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka beristirahat di sebuah hutan. Perjalanan masih jauh. Nala gelisah, jika perjalanan selambat itu, maka akan butuh waktu lama untuk sampai di pelabuhan utara Swargadwipa. Tapi ia juga tak tega melihat saudara-saudarinya kelelahan.
“Apa yang kau pikirkan, Nala?” tanya Jalu.
“Hmm…apakah kita harus cepat sampai di pelabuhan utara?” tanya Nala.
“Ya, tentu saja. Kita tak bisa menunda urusan ini,” kata Niken.
“Aku ada cara agar kita bisa sampai dengan cepat,” kata Nala.
Jalu dan Niken berfikir bahwa Nala juga memiliki kemampuan berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Jika itu adalah idenya, maka ide itu tak terlalu buruk.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Vidyana.
“Nanti aku beri tahu setelah kalian selesai beristirahat,” jawab Nala.
Selang beberapa saat, Jalu, Niken dan Vidyana telah selesai memulihkan kekuatan mereka. Nala berfikir untuk mengangkut ketiga saudaranya itu sekaligus dan membawa mereka melesat dengan kecepatan penuh.
“Baiklah Nala, kami siap. Apakah kamu akan menggunakan kemampuan berpindah dalam satu kedipan mata seperti yang dilakukan Tari?” tanya Jalu sangat berharap. Ia kapok ketika adiknya menggendong ia dan Niken lalu terbang dengan kecepatan tinggi.
“Bukan itu cara yang akan aku lakukan. Tunggu sebentar, bersiaplah,” kata Nala. Sejenak kemudian, pemuda gagah itu merubah wujudnya menjadi pasir. Ia membungkus masing-masing tubuh ketiga kakaknya hingga menyerupai kempompong pasir.
Dengan tubuh pasir itu, ia melesat dengan kecepatan cahaya. Sebongkah pasir yang membungkus tiga orang pendekar. Pemandangan itu mirip seperti sebongkah batu yang terbang di angkasa dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
Tak sampai setengah hari, mereka semua sampai di sebuah bukit karang yang tak jauh dari pelabuhan. Dari atas sana, orang-orang Tirayamani bisa terlihat.
Jalu, Niken dan Vidyana muntah-muntah bergitu mereka sampai di sana. Vidyana mengumpat tak henti-henti kepada adiknya itu. Berbagai kata kasar khas pulau neraka meluncur bergitu saja tanpa rem. Jalu dan Niken tak percaya perempuan cantik itu ternyata memiliki banyak koleksi kata-kata umpatan.
Nala hanya cekikikan. Tapi ia tak punya pilihan lain untuk cepat sampai di sana. Sebagai gantinya, lelaki gagah itu memulihkan kekuatan ketiga kakaknya itu dengan cepat.
__ADS_1
“Sungguh! Aku tak mau lagi pergi dengan cara seperti ini! Kenapa kau tak mendengarkanku berteriak-teriak sepanjang perjalanan tadi?” Vidyana masih mengomeli adiknya itu.
“Baiklah kakakku yang cantik. Hanya sekali ini saja. Tapi jika kalian sudah terbiasa, sebenarnya tak akan seperti ini!” kata Nala.
“Tidak sudi! Cukup sekali ini!” kata Vidyana sambil memijit kepalanya yang masih terasa berputar-putar. Jalu dan Nikenpun demikian. Mereka terdiam karena masih puyeng. Ini untuk kedua kalinya setelah dengan Batari Mahadewi melakukan perjalanan yang seperti itu.
“Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?” tanya Niken.
“Kalian tahu kan, mereka semua itu berbahaya. Jadi, biar aku saja yang membereskan mereka semua, kalian bertiga tunggulah di sini,” kata Nala.
Vidyana tak sepenuhnya tahu kekuatan apa yang dimiliki oleh adiknya itu. Ia sangat cemas. Berbeda dengan Jalu dan Niken yang tahu bahwa kekuatan Nala tak jauh dari Tari. Maka mereka berdua tahu bahwa Nala akan cepat menyelesaikan sekumpulan pasukan itu layaknya menyapu semut di dapur.
Tidak semua pasukan Tirayamani ada di pelabuhan. Sebagian telah menyebar untuk mencari sesuatu yang bisa dijarah, lalu kembali lagi. Setidaknya, di pelabuhan itu ada sekitar delapan ratus pendekar sakti dari Tirayamani.
Hal pertama yang dilakukan Nala adalah melesat cepat ke arah kapal-kapal Tirayamani yang sedang bersandar di pelabuhan. Lelaki gagah itu dengan cepat mengerahkan kekuatan apinya untuk membakar semua kapal kayu yang ada di sana.
Kobaran api dari kapal-kapal kayu raksasa itu mengundang perhatian pendekar Tirayamani yang tak semua berada di sekitar kapal. Dalam waktu singkat, delapan ratus pendekar hitam itu telah berkumpul dan memandangi kapal mereka yang terbakar.
“Anak muda, kau tak tahu apa yang kau lakukan!” kata salah seorang dari mereka.
“Oh, benarkah? Kalau begitu kalian harus memberitahukannya kepadaku? Seharusnya kalian melihatku telah membakar kapal-kapal itu kan?” tanya Nala dengan lagak bodoh.
“Cecunguk kurang ajar!” orang itu melesat ke arah Nala dan mengayunkan serangan dahsyat. Sayang sekali, sebelum orang itu bisa mendekati Nala, tubuhnya telah terbelah dua. Tak ada yang bisa melihat bagaimana pemuda itu bisa merobohkan salah satu pendekar kuat Tirayamani semudah membelah pepaya.
Selanjutnya, beberapa orang secara bersamaan menyerang Nala. Hasilnya sama saja, mereka mati begitu saja seolah tanpa sebab. Hal itu membuat para pendekar Tirayamani lainnya waspada. Mereka tak ingin mengalami nasib serupa.
Tanpa aba-aba, mereka semua berubah wujud menjadi manusia setengah siluman dengan berbagai bentuk yang aneh-aneh dan kesaktian yang beraneka ragam. Dengan kekuatan penuh, mereka beramai-ramai menyerang Nala. Oh, mereka sudah tak punya harga diri sebagai pendekar. Mereka juga tak tahu, bahwa seorang lelaki yang mereka hadapi itu adalah orang yang paling di cari oleh sang ratu.
Nala lenyap menjelma cahaya petir yang dengan cepat menyambar para pendekar Tirayamani itu. Tiap-tiap tubuh yang ia lewati tak hanya hangus, namun juga meledak menjadi beberapa bagian. Dalam waktu singkat, para pendekar Tirayamani itu telah kehilangan nyawa. Hanya tersisa beberapa yang sengaja dibiarkan hidup oleh Nala sebab ia ingin tahu rencana kedatangan mereka di sana.
“Kalian kubiarkan hidup hanya jika mau menjawab pertanyaanku!” kata Nala.
__ADS_1
Lima orang pendekar hitam yang tersisa itu menggigil.
“Apa tujuan kalian datang kemari?” tanya Nala.
Lima pendekar itu saling berpandangan. Bukan karena tak mau menjawab, tetapi mereka bingung harus mengatakan bagaimana. Karena terlalu lama berfikir, Nala membuat mereka berbicara lebih cepat dengan cara sederhana, yakni melenyapkan satu dari mereka dengan cara yang tak mereka sadari.
“Jangan membuatku menunggu!” kata Nala dengan nada dingin.
“Kami hanya menjalankan perintah, tuan. Pemimpin kami sedang tidak di sini. Yang pasti kami sedang mengejar seseorang yang telah menghabisi rekan-rekan kami sebelumnya. Mungkin tuanlah orang itu. Kami kurang tahu, tuan, maaf…” kata salah satu dari empat pendekar yang tersisa itu.
“Di mana pemimpin kalian?” tanya Nala.
“Sedang mencari tuan, mungkin, atau seseorang yang kami maksud tadi. Kami tidak tahu dimana keberadaan pemimpin kami,” kata orang itu.
“Jadi kamu tidak tahu?” tanya Nala.
“Tidak tahu tuan,” jawab orang itu.
“Maka percuma saja jika aku melepaskan kalian. Maaf, aku berubah pikiran. Kalian akan sangat berbahaya jika dilepaskan begitu saja,” Nala mengakhiri nasib keempat orang itu dengan cepat tanpa suara, tanpa jerit sakit ketika nyawa empat orang itu berpisah dengan raga mereka.
Sebagai penutup tindak kekerasan yang dilakukan Nala pada hari itu, ia mencoba kekuatan sihirnya untuk pertama kali kepada manusia. Lebih tepatnya kepada mayat manusia yang bentuknya sudah tidak beraturaan itu. Nala merubah mayat-mayat itu menjadi lebah. Setidaknya, jutaan lebah yang berterbangan itu akan lebih bermanfaat.
Jalu, Niken dan Vidyana hanya bisa melongo menyaksikan pertarungan singkat itu. Ketiganya kemudia melesat turun menemui Nala.
“Benarkah ini kamu, Nala? Adikku?” kata Vidyana. Kepalanya yang masih terasa pusing itu kini menjadi semakin pusing.
“Nanti kakak akan tahu semua hal yang ada pada diriku. Tapi saat ini, aku masih belum merasa tenang. Ini belum berakhir. Ayo kita cari sisa-sisa dari mereka. Mungkin mereka semua berada tak jauh dari wilayah ini,” kata Nala.
Jalu, Niken dan Vidyana mengangguk. Ketiganya juga sepakat untuk tak mau pergi dengan cara yang membuat kepala mereka berputar-putar lalu kemudian muntah.
Sementara itu di tempat lain, dua makluk iblis utusan sang ratu kegelapan telah menghabisi beberapa pendekar sakti dari berbagai perguruan yang mereka singgahi.
__ADS_1
Kabar tentang kedua makhluk itu telah tersebar sebagai berita buruk yang membuat perguruan lain yang belum diserang merasa panik. "Lebih baik tak usah berkumpul di perguruan." Begitulah pesan berantai yang disiarkan. "Tetap jaga jarak untuk mengurangi jatuhnya korban yang lebih banyak lagi."