Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 268 Sosok Pendekar Seribu Pedang


__ADS_3

Jain dan Silu melesat ke udara bersamaan dengan ledakan besar yang membuat tanah di sekitar itu berlubang menjadi sebuah kolam besar yang sangat dalam. Kedua makhluk iblis itu langsung menggabungkan kedua tubuh mereka selagi Nala masih belum menampakkan diri.


Tubuh Jain dan Silu menyatu. Jadilah sesosok makhluk berkekuatan besar. Sebut saja namanya Jasil. Sungguh nama yang buruk, seburuk nama mereka sebelumnya. Tapi apalah arti sebuah nama, mau Jasil, atau Insil atau apalah itu, yang pasti makhluk itu telah berhasil membuat awan berhamburan dan pohon-pohon di bawah tumbang karena tekanan energi yang terpancar dari tubuh gabungan dua iblis kuno itu.


Jain-Silu masih beradaptasi dengan tubuh baru itu. Belum sempat ia beraksi, Nala yang dalam wujud milyaran butir pasir melesat ke angkasa, menghantam makhluk iblis itu hingga membuatnya terpental jauh.


Nala mengejar tubuh iblis itu selagi melayang di udara dan sekali lagi memberikan hantaman keras dengan cara mengubah bentuknya menjadi sebuah tinju pasir berukuran raksasa.


Makhluk itu jatuh menghujam bumi dengan sangat keras. Nala tak mau memberikan kesempatan bagi makhluk alot itu untuk bangkit dan bersiap. Dengan cepat, Nala membungkus makhluk itu dengan balutan pasir, kerikil, dan bebatuan, lalu menekan makhluk itu kuat-kuat seperti tangan yang meremas seekor belalang.


Hanya saja, kali ini usaha Nala gagal. Makhluk itu masih terlihat sehat walafiat. Jasil berhasil menghancurkan cengkeraman tanah yang menyelubungi tubuhnya. Setelahnya, ia melesat ke angkasa dan menuju ke arah Nala yang berwujud gumpalan tanah abstrak yang melayang di angkasa layaknya sepetak awan mendung.


“Tidakkah pangeran ingin bertarung dalam wujud yang lebih santai. Rasa-rasanya sangat aneh bagi hamba untuk memukuli gumpalan tanah,” sindir Jasil. Oh, Jasil…kenapa namamu berubah menjadi Jasil!


Mengingat dalam wujud tanah juga bukan ide bagus untuk melawan Jasil, Nala kembali ke wujud aslinya.


“Kau lebih tangguh dari yang kukira,” kata Nala.


“Pangeranpun demikian. Maafkan, saya akan memaksa pangeran untuk ikut dengan cara ini,” Jasil melesat cepat ke arah Nala dan bertukar ratusan jurus dalam waktu singkat. Dalam wujud normal, Nala memiliki kecepatan yang jauh lebih baik dari Jasil. Hanya saja, pukulan-pukulannya yang mengenai Jasil tak menimbulkan luka yang berarti. Hanya rasa sakit. Mungkin. Jika iblis itu memiliki rasa sakit.


Keduanya masih bertarung dengan sengit, pukulan berbalas pukulan, saling menahan, saling menyerang. Kadang Nala menghujamkan pukulan kilat dan pukulan api secara bergantian. Makhluk itupun demikian, bertahan lalu membalas secara brutal.

__ADS_1


Kerusakan akibat pertarungan itu semakin meluas. Jalu, Niken, dan Vidyana terus beringsut mundur untuk mencari tempat aman. Sesekali mereka menghindari percikan energi yang menyasar ke segala penjuru dan meledakkan apapun yang dilewatinya.


Nala tak habis pikir, kenapa makhluk itu begitu kuat. Namun ia yakin, makhluk itu memiliki batas kekuatan dan apabila sudah saatnya, maka ia bisa menghancurkan makhluk itu tanpa ampas sedikitpun.


“Pangeran tidak mau menyerah? Sang ratu yang cantik itu sedang menunggumu. Pangeran tak perlu bersusah payah seperti ini, ikutlah dengan kami dan nikmati waktumu bersama sang ratu. Bukankah pangeran sudah lama sekali tak bertemu dengannya? Tidakkan pangeran merindukannya?!” kata Makhluk itu.


“Jangan harap! Aku tak kenal siapa ratumu itu!” Nala berfikir keras. Betapa bodoh dirinya dan baru ingat kalau ia memiliki kekuatan sihir yang sebenarnya akan sangat membantu untuk melumpuhkan makhluk sial itu.


Nala tahu, ia tak bisa langsung menggunakan sihirnya untuk mengubah makhluk itu menjadi sepotong kentang atau seekor ayam. Yang ia bisa lakukan adalah mengubah bebatuan, dedaunan, ranting-ranting pohon yang berserakan untuk menjadi pasukannya.


Itulah yang ia lakukan. Mendadak ratusan monster dengan wujud beraneka rupa tercipta dan dengan tangkas menyerang Jasil. Oh, Jasil…mengapa namamu menjadi Jasil.


Jasil tak menduga akan mendapat kejutan seperti itu. Ia harus repot menghadapi pasukan ciptaan Nala yang bukanlah ilusi, namun senyatanya berbahaya. Jasil memang bisa menghancurkan makhluk itu dalam sekali pukulan. Namun jumlahnya yang ratusan itu sangat membuatnya sibuk dan memberikan kesempatan bagi Nala untuk melepaskan rangkaian pukulan telak yang bisa menghabisinya tanpa sisa.


Selanjutnya, Nala menggunakan pukulan petir dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan tubuh makhluk itu. Sisanya, Nala kembali menggunakan kekuatan apinya untuk menghanguskan serpihan tubuh Jasil hingga hangus menjadi abu yang berhamburan diterpa angin.


Habis sudah. Maksudnya, habis sudah tenaga Nala. Ia jatuh dan terbaring di tanah tanpa daya, bahkan untuk menggerakkan tangannya saja ia tak sanggup. Yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menyerap energi bumi secepat mungkin untuk memulihkan energinya. Setelah ada sedikit tenaga, barulah ia merogoh beberapa mustika alam untuk ia serap energinya.


Jalu, Niken, dan Vidyana segera bergegas ketika mengetahui bahwa Nala telah memenangkan pertarungan itu.


“Kau baik-baik saja?” tanya Vidyana cemas.

__ADS_1


“Ya, seperti yang kakak lihat saat ini,” jawab Nala sambil tersenyum kecut. Energinya belum sepenuhnya pulih dan baru kali ini setelah sekian lama ia tak merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Di tempat lain yang jauh dari Mahabhumi, Batari Mahadewi akhirnya sampai juga di gunung Hantu negri Damatantra. Gunung itu dikepung oleh hutan lebat yang gelap. Maka wajar sekali jika tempat itu tak membuat siapapun minat mendatanginya. Di sana tersedia berbagai binatang buas dan siluman ganas.


Baru saja Batari Mahadewi menjejakkan kaki di lereng gunung, puluhan siluman telah mendatanginya. Hanya puluhan siluman kecil yang mencari mati. Mungkin mereka sudah bosan menjadi siluman dan memang ingin mati dan berharap bisa dilahirkan kembali menjadi makhluk lain.


Tak butuh waktu lama bagi Batari Mahadewi untuk membereskan siluman-siluman itu. Ia juga tak berminat mengambil mustikanya. Terlalu lemah untuk dijadikan senjata. Gadis jelmaan pusaka dewa itu menghancurkan mereka hingga tanpa sisa.


Berikutnya, puluhan siluman lainnya berdatangan layaknya serigala lapar yang mencium aroma mangsa. Nasib mereka sama dengan siluman yang sebelumnya telah datang dan musnah itu. Setelah itu, tak ada lagi gangguan yang datang. Mungkin siluman lainnya berfikir ulang setelah mengetahui teman-teman mereka raib di tangan gadis cantik itu.


Pertarungan singkat itu bagaimanapun juga telah memancing perhatian siluman-siluman besar penunggu gunung Hantu dan diam-diam juga membuat pendekar Seribu Pedang akhirnya menampakkan diri tanpa harus repot-repot mencarinya.


Penampilan pendekar itu benar-benar lebih menyedihkan dari siluman. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal dan panjang hingga menyentuh tanah, wajahnya, kulitnya, dan apapun itu yang tampak dari dirinya seolah mengisyaratkan bahwa sosok itu sudah tak berminat lagi dengan kehidupan yang lucu dan menyenangkan.


Batari Mahadewi segera tahu bahwa sosok itu adalah pendekar Seribu Pedang sebagaimana ciri-cirinya adalah ia berpenampilan layaknya pendekar hitam, namun energi yang ia miliki adalah energi pendekar aliran putih.


“Apa yang kau cari di sini nona? Kau telah membangunkan siluman-siluman besar penunggu gunung ini! Kau tahu apa artinya itu?” kata lelaki tua mengerikan itu dengan nada sedikit kesal.


“Maaf kakek, saya tidak tahu,” jawab Batari Mahadewi.


“Jika mereka bangun, mereka akan menyerangmu, lalu aku akan menyeretmu pergi dari sini dan aku tak bisa lagi pulang ke sini!” kata kakek tua itu. Ia tahu bahwa gadis itu sangat luar biasa, namun ia tak yakin jika gadis itu juga sanggup mengatasi para penguasa gunung yang marah jika ada yang mengusik tidur mereka.

__ADS_1


Belum sempat mereka berbincang lama, empat siluman telah lebih dahulu datang mengepung mereka berdua. Kakek tua yang wujudnya tak kalah menyeramkan dengan siluman itu langsung memasang sikap waspada, bukan untuk bertarung, tapi untuk menyeret nona cantik itu melarikan diri. Namun betapa kesal dirinya ketika melihat gadis jelmaan pusaka dewa itu masih tenang dan malah terlihat senang dengan kedatangan siluman-siluman berbahaya itu.


__ADS_2