Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 353 Hanya Tersisa Satu; Utari


__ADS_3

Hari itu juga, bangsa Iblis berdarah murni bergerak menuju ke wilayah barat. Medan perang telah sepi, para pendekar Mahabhumi sedang memulihkan diri di sepanjang benteng besar itu.


Nala hanya duduk bersila di tepi benteng menghadap ke arah timur. Ia tetap waspada sekalipun para iblis itu telah mundur. Ia khawatir, para iblis terkuat akan datang dan jika itu terjadi, maka para pendekar yang berjaga di sepanjang benteng itu akan benar-benar repot. Tak hanya repot sebenarnya, namun keselamatan mereka juga terancam.


Nala masih ingat betul, melawan iblis-iblis kuat itu bukanlah hal yang mudah, terlebih jika mereka berjumlah banyak dan menyerang dengan cara mengeroyok. Sewaktu tubuhnya dikuasai Andhakara, ia tahu apa saja yang dilakukan sang pangeran kegelapan. Dengan kata lain, Nala tahu ia akan berhadapan dengan Rodya, Yuri, Samara, Atau bahkan sepuluh anak Andhakara.


Sembari duduk bersila di sana, otaknya berfikir keras. Andaikan ia tak mampu melawan mereka, apa yang akan ia lakukan? Nala hanya punya satu rencana saja untuk hal itu. Dan jika rencananya gagal, maka ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Para dewa tak mungkin menolong, Batari Mahadewi juga tak mungkin diharapkan akan tiba-tiba datang memberikan keajaiban.


Entah hanya perasaannya saja atau memang demikian, namun sejak perisai Batari Mahadewi melekat di tangannya, ia merasa tak lagi memiliki kekuatan hitam. Jika benar demikian, seharusnya ia tak akan bisa terpengaruh oleh seruling Ki Rangga Suluk.


Nala segera bergegas untuk menemui pendekar seruling itu yang sedang berjaga di wilayah utara. Lelaki itu masih mengenali sosok Nala.


“Paman, bolehkah paman memainkan seruling pusaka itu sebentar saja,” pinta Nala.


“Bukankah ini akan menyakitimu?” Ki Rangga Suluk keheranan.


“Aku tidak tahu, tetapi lihat ini,” Nala memperlihatkan lengan kanannya. “Ini adalah perisai milik Tari. Sejak perisai ini ada di tanganku, rasa-rasanya aku tak lagi memiliki kekuatan hitam.”


“Baiklah kalau begitu, kita coba dulu,” Ki Rangga Suluk mulai memainkan satu lagu pendek. Nala masih baik-baik saja. Ia tak terpengaruh dengan efek yang ditimbulkan oleh suara seruling pusaka dewa itu.


“Baguslah kalau begitu. Jadi begini, paman, apabila bangsa iblis yang lebih kuat lagi datang menyerang, sebaiknya aku bertarung di dekat paman. Selagi paman memainkan seruling itu, mungkin aku bisa dengan cepat melenyapkan iblis-iblis itu. Tetapi, barangkali melumpuhkan iblis yang berkekuatan besar tak akan semudah tadi ketika paman menggunaknnya untuk melemahkan kekuatan para manusia dan raksasa berjiwa iblis itu,” kata Nala.


“Tidakkah kau ingin mempelajari cara memainkan seruling ini? Hanya buat jaga-jaga saja. Kekuatanmu jauh lebih besar dariku. Sehingga, jika kau yang memainkannya, hasilnya akan lebih kuat lagi,” kata Ki Rangga Suluk.


Ide bagus, hal itu belum sempat terpikirkan oleh Nala.


Pendekar tua itu mengajarkan jurus-jurus memainkan seruling kepada Nala. Nada atau lagu yang dimainkan bukanlah hal penting, sebab yang utama adalah suara yang dihasilkan seruling itu bisa menjadi malapetaka bagi sasarannya.


Nala mencoba memainkan seruling itu. Entah lagu apa, yang pasti nadanya berantakan sekali. Namun demikian, bunyi yang dihasilkan sudah benar dalam artian sudah bisa menjadi senjata mematikan bagi siapapun yang memiliki kekuatan hitam dan kekuatan iblis.


Nala mengembalikan seruling itu kepada Ki Rangga Suluk. Rencana pertamanya adalah, Ki Rangga Suluk yang bermain seruling, Nala yang akan membantai para iblis bersama dengan para pendekar yang membawa senjata pusaka.

__ADS_1


Yang ditunggu akhirnya datang juga. Nala merasakan energi iblis dalam jumlah besar yang datang mendekat. Bail mengerahkan semua pasukan iblis dalam tubuhnya yang tersisa. Tak banyak, namun dalam keadaan normal, jumlah itu seharusnya lebih dari cukup untuk membantai semua manusia di Mahabhumi.


“Mereka datang!” Nala setengah berteriak. Semua pendekar langsung bersiap-siap.


Nala dan Ki Rangga Suluk menjadi dua sosok yang memimpin seluruh pendekar Mahabhumi. Dari jauh, di luar jangkauan seruling pusaka dewa itu, para iblis melepaskan serangan jarak jauh dengan melontarkan cahaya energi yang berbeda-beda dari masing-masing iblis.


Nala tak menyangka para iblis itu tahu harus berbuat apa dalam menghadapi suara seruling pusaka dewa. Tak mungkin Nala menangkis semua serangan itu dan melindungi semua pendekar yang ada di sana. Hanya yang kuat saja yang bisa bertahan, selebihnya para pendekar Mahabhumi dibuat kocar-kacir. Formasi yang mereka ciptakan langsung bubar berantakan.


Serangan para iblis itu juga mengenai benteng pemisah Mahabhumi bagian timur dan barat. Beberapa bagian dari benteng itu runtuh tak kuat menahan serangan jarak jauh yang dilontarkan para iblis.


Sepuluh anak Andhakara memang berniat mengincar Nala saja. Namun saat itu, Nala sedang bersama seseorang yang dikenali Bail sebagai pendekar yang di waktu sebelumnya memainkan seruling pusaka dewa. Bagaimanapun juga, keberadaan Nala bersama sosok itu akan menjadi hal yang cukup menyulitkan.


“Bagaimana ini? Sepertinya sulit untuk memisahkan lelaki itu dengan para pendekar yang lain. Kita tak boleh gegabah menyerang mereka bersama-sama!”


“Kalian tetap bertahan untuk terus menyerang mereka dari jarak jauh. Aku akan menguji kekuatan seruling itu, apakah aku sendiri bisa bertahan!” kata Rodya.


Sang naga iblis yang lahir sebagai petarung itu langsung melesat dengan wujud naga api raksasa untuk menyerang bangsa manusia. Sembari bergerak maju, ia mengerahkan semburan-semburan api yang berbahaya. Hanya pendekar tingkat tinggi saja yang mampu bertahan dengan menggunkan perisai energi, meskipun hal itu tak akan bisa bertahan lama apabila serangan itu tidak segera dihentikan.


Rodya sedikit terganggu dengan suara seruling itu. Awalnya, ia mengira seruling itu hanyalah seruling pusaka yang pernah ia lihat di masa lalu yang ia sendiri bisa tahan mendengarkannya. Ia tak tahu, seruling itu adalah buatan Batari Mahadewi yang diciptakan khusus untuk membuat iblis lemah tak berdaya.


Rodya masih menyerang namun tak seganas sebelumnya. Kecepatan dan kekuatannya menurun. Melihat hal itu, para iblis yang lain berfikir ulang untuk mendekat dan mencobai dampak buruk dari suara seruling itu bagi mereka.


Nala tahu, iblis berbentuk naga api raksasa itu semakin terpengaruh dengan lantunan lagu yang dimainkan oleh Ki Rangga Suluk. Nala segera lenyap menjadi partikel energi dan diam-diam tanpa terlihat mata, ia menyerang Rodya.


Tubuh naga api raksasa itu perlahan mengecil dan wujudnya berubah menjadi perempuan iblis yang sedang terlihat merasakan siksaan hebat yang melanda seluruh tubuhnya. Nala menampakkan wujudnya ketika tangan kanannya telah menembus jantung iblis perempuan itu, dan mengambil mustika yang bersarang di sana.


Begitu mustia berbentuk bola api itu ada di tangan Nala, seketika tubuh Rodya menguap menjadi abu yang berterbangan terbawa angin. Para iblis tak mengira Rodya menjadi yang pertama yang bernasib buruk.


Perisai emas yang menyatu di lengan Nala itu bisa dengan cepat menetralkan kekuatan iblis dari mustika api itu. Kemudian, seluruh kekuatan yang tersimpan dalam mustika itu dengan cepat mengalir masuk ke dalam tubuh Nala. Lelaki itu menjadi jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya dengan masuknya energi mustika itu ke dalam tubuhnya.


Namun sayangnya saat itu Nala sedang jauh dari Ki Rangga Suluk. Lelaki yang bermain seruling itu menjadi incaran serangan jarak jauh yang dikerahkan oleh bangsa iblis. Seberkas sinar berwarna merah menghantam tubuh lelaki itu dan mengehmpaskannya hingga menabrak dinding benteng sampai dinding itu hancur.

__ADS_1


Nala menghempaskan kobaran api berkekuatan tinggi ke arah para iblis itu, lalu dengan segera ia meluncur ke arah Ki Rangga Suluk untuk memastikan keadaan lelaki tua itu.


“Paman, bagaimana keadaanmu?” ujar Nala setengah panik.


“Nala mungkin memang takdirmu yang harus menggunakan kekuatan seruling ini. Mainkanlah, dan biarkan saudara-saudaramu yang membantai para iblis itu,” kata Ki Rangga Suluk sembari menyerahkan seruling itu. Lalu lelaki tua itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Nala menggenggam seruling pusaka dewa itu. Ia sangat geram. Bangsa iblis itu langsung menyerbu ketika mendapatkan kesempatan baik itu. Dalam waktu singkat, pasukan iblis berdarah murni itu telah menghajar para pendekar yang ada di sana.


Nala segera mengerahkan kekuatannya untuk meniup seruling itu. Bukan lagu indah yang keluar, namun denging melengking nyaring yang sangat mengganggu konsentrasi bangsa iblis. Perlahan-lahan, bukan hanya konsentrasi mereka saja yang terganggu, namun juga jiwa hingga kesadaran mereka.


Tiupan seruling dari Nala berdampak lebih buruk bagi bangsa iblis jika dibandingkan dengan permainan Ki Rangga Suluk. Semua iblis terkena dampaknya, tak terkecuali anak-anak Andhakara. Selebihnya, para pendekar Mahabhumi yang membawa senjata pusaka buatan Nala dan Batari Mahadewi segera memberikan serangan balasan. Mereka menebas tubuh pasukan iblis itu hingga menjadi beberapa bagian.


Nala membelah dirinya menjadi dua bagian. Yang satu masih tetap bermain seruling, dan satu lagi melesat ke segala penjuru arah dalam wujud gumpalan lahar yang berwarna hitam kemerahan, menelusup masuk ke dalam tubuh-tubuh iblis dan mengambil seluruh mustika mereka semua, tak terkecuali. Nala tak bisa membiarkan mustika iblis itu jatuh di tangan yang salah sebelum kekuatan iblis yang tersimpan di dalamnya telah dinetralkan.


Ogha, Samara, Yuri, Bail, dan anak-anak Andhakara, semua gugur pada hari itu juga. Nala panen mustika iblis. Ia tak bermaksud serakah dengan menyerap semua kekuatan mustika yang ia dapatkan itu. Namun dengan melakukan hal itu, setidaknya ia bisa memberikan bantuan yang lebih baik kepada Batari Mahadewi kelak jika sang kekasih hati itu kembali bertarung melawan Kalapati.


Dari jauh, ternyata masih tersisa satu iblis perempuan yang memiliki sayap kelelawar berwarna putih. Ketika semua iblis menyerang, ia hanya diam membeku di tempatnya. Ia juga tak pernah benar-benar terlibat dalam serangan yang dilakukan oleh bangsa iblis. Utari namanya. Ia yang terakhir menetas dari kesepuluh telur Samara. Selisih satu tahun dari para saudara dan saudarinya.


Air mata Utari menetes ketika seluruh keluarganya habis. Dengan berakhirnya Ogha, maka semua manusia dan raksasa iblis di berbagai belahan dunia telah terbebas dari jeratan jiwa iblis.


Nala melesat untuk menghabisi sekalian iblis perempuan yang masih melayang di angkasa itu. Namun begitu ia telah berada di hadapan sosok itu, niatnya berubah. Bukan karena sosok iblis itu memiliki kecantikan yang setara dengan Batari Mahadewi, namun Nala tahu ketika ia tertahan di dalam tubuhnya sendiri ketika Andhakara bangkit, Nala memang melihat sosok iblis itu terlihat berbeda perangainya dengan iblis yang lain.


“Kau juga akan menghabisiku? Lakukanlah, aku tak akan pernah memberikan perlawanan sekalipun aku adalah yang terkuat diantara saudara-saudaraku,” kata Utari. Namanya pun mirip Tari.


Nala masih menimbang keputusannya. Namun pada akhirnya, ia memilih untuk melepaskan iblis itu.


“Pergilah dan jangan pernah mengganggu manusia lagi. Maaf atas kematian seluruh keluargamu. Aku terpaksa melakukannya,” kata Nala.


“Aku tak menaruh dendam atas semua kehilangan ini. Aku sudah meramalkanya jauh-jauh hari dan aku juga tahu apa yang akan terjadi di dunia ini kelak. Selamat tinggal!” Utari melesat ke arah utara, mengasingkan dirinya di rumahnya yang lama, di dalam gunung es pulau Utara.


Nala tertegun dengan ucapan yang barusan ia dengar itu. “Mengetahui masa depan?” Ia hanya bisa menatap sosok iblis yang dalam sejenak sempat membuatnya terpukau itu perlahan mengecil dan hilang ditelan cakrawala.

__ADS_1


__ADS_2