
Di kota Dhyana yang terasa sepi meski tiga puluh ribu prajurit telah berjaga di sana, Jalu dan Niken sedang berbincang dengan kakek Agrapana.
“Maafkan aku karena beberapa hari ini belum bisa berbicara panjang lebar dengan kalian. Bahkan denganmu, nona Niken, aku tak sempat menemuimu dalam meditasi sebelum nona masuk ke altar ini. Hahaha, biasanya aku memberikan sambutan dalam meditasi siapapun yang datang ke altar suci ini. Ya, dalam kondisi genting ini, aku yang tua ini harus bergerak ke sana ke mari.” Kata Agrapana.
“Tidak apa-apa kakek, kak Jalu sudah bercerita banyak tentang kakek Agrapana.” Kata Niken.
“Lho, mana si gadis kecil itu? Ia tak bersama kalian?” tanya Agrapana. Jalu dan Niken saling berpandangan, keduanya kemudian menceritakan kejadian di malam itu ketika Batari Mahadewi telah menghilang selama tiga bulan ini dan belum juga kembali.
“Berarti, mungkin saat ini gadis kecil itu ada di dunia lain melalui pintu langit yang telah terbuka ketika ia bertarung dengan lelaki kecil yang menjadi lawannya itu.” Mata kakek Agrapana tiba-tiba malah berbinar, berbeda dengan Jalu dan Niken yang selalu mencemaskan adik kesayangan mereka itu.
“Kami berdua selalu gelisah menantikan adik kami itu kembali, kakek, namun sepertinya kakek Agrapana tidak sedikitpun khawatir akan hal itu.” kata Jalu.
“Apa yang harus dikhawatirkan. Gadis kecil itu akan bertambah kekuatannya di dunia lain itu, sebuah dunia yang hanya para dewa atau siapapun dengan kekuatan dewa saja yang bisa melintasinya. Tapi kalian jangan kaget dengan perubahannya kelak ketika ia kembali. Mungkin ia akan menjadi sosok yang tak kalian kenali lagi.” Kata Agrapana.
“Maksud kakek?” tanya Niken.
“Tunggu saja. Tak akan lebih dari dua atu tiga tahun lagi pasti ia kembali. Aku tak yakin, tapi takdirnya ada di dunia ini. Dalam situasi seperti ini, kalian tak semestinya memikirkan yang tak ada di sini. Pikirkanlah diri kalian sendiri. Sejauh mana kemampuan kalian saat ini?” tanya Agrapana. Pertanyaan itu sedikit mengena di hati Jalu dan Niken, sebab keduanya tak banyak memperkuat diri selama beberapa waktu belakangan ini.
“Sejujurnya kami tak sempat berlatih…” jawab Jalu.
__ADS_1
“Masih ada waktu. Kalian harus jauh lebih kuat dari sekarang. Jika gadis kecil itu tak di sini sekarang, maka kalian berdua yang harus bisa menggantikannya. Ayo ikuti aku.” Kata Agrapana sembari berdiri dan berjalan menuju ke salah satu ruang di altar suci.
Jalu dan Niken mengikuti kakek tua itu. Jalu yakin kakek tua itu akan mengajarkan sesuatu yang berharga untuk dirinya dan Niken.
“Nah, kalian berdua sekarang harus mengheningkan diri di sini. Kalian akan masuk ke dalam ruang di mana waktu akan berhenti berputar. Kita akan bertemu di sana jika kalian berhasil masuk ke dalamnya.” Kata Agrapana.
Jalu dan Niken duduk dalam posisi semedi, lalu mengheningkan diri. Bagi yang telah terbiasa, tak sulit untuk memasuki dunia sepi dalam meditasi, di mana mula-mula pikiran yang riuh akan terus melintas, kenangan-kenangan akan berhamburan seperti mimpi, lalu semua akan sirna dan tampaklah suatu dunia yang tenang.
Jalu dan Niken masih berdua ketika mereka telah berhasil masuk ke dalam dunia tanpa waktu. Jalu mengira, ia dan Niken akan terpisah, seperti waktu dulu ia dan Batari Mahadewi melakukan meditasi untuk pertama kalinya sebelum diizinkan memasuki altar suci.
Sepasang pendekar api dan es itu masih menerka-nerka, apa yang akan mereka alami selanjutnya. Mereka berdua berada dalam ruang yang serba putih dan luas tanpa batas. Kakek Agrapana menampakkan dirinya.
Jalu dan Niken saling berpandangan. Keduanya sudah sangat lama sekali tak berlatih tanding. Dan latihan kali ini akan terasa aneh, sebab mereka telah menjadi sepasang kekasih, bukan kedua remaja yang sedang menyembunyikan perasaannya.
“Ayo, apa lagi yang kalian tunggu!” bentak Agrapana. Kadang ia lembut, namun kadang ia bisa menjadi seorang kakek yang sangat kasar dan kejam, sebagaimana kakek itu pernah menghajar Batari Mahadewi untuk meningkatkan kemampuannya.
Jalu dan Niken bersiap. Keduanya memancarkan energi. Hawa panas dan hawa dingin bertemu dan saling beradu.
“Lebih kuat lagi! Kalian pikir yang kalian lakukan sekarang ini sedang bermesraan!” teriak Agrapana.
__ADS_1
“Keluarkan semua energimu, Niken.” Kata Jalu bersemangat.
“Kakak juga!” kata Niken.
Jalu berubah wujud menjadi manusia api dan Niken membuat udara di sekelilingnya menjadi beku. Keduanya melesat cepat dan saling menyerang dengan kekuatan penuh. Namun belum sampai keduanya bertukar seratus jurus, Agrapana kembali menghardik mereka berdua.
“Berhenti! Kalian sungguh menggemaskan! Sekarang kalian berdua melawan aku!” bentak Agrapana. Kakek tua itu tiba-tiba memancarkan energinya sehingga membuat Jalu dan Niken terpental jauh. Keduanya bangkit dengan perasaan ngeri. ‘Kakek itu hanya memancarkan energi, tapi hentakannya sangat kuat.’ Batin Niken.
Agrapana memberikan kejutan yang lain. Separuh tubuhnya menjadi manusia api, dan separuhnya lagi menjadi manusia es. Lalu kakek tua itu menyerang Niken dan Jalu secara bersamaan. Jika Niken mendapatkan serangan api yang membuat tubuhnya serasa terbakar dan pertahanan esnya serasa tak berguna, maka Jalu dibuat membeku seketika dalam sekali serang.
Kedua pendekar itu ambruk dan merintih kesakitan, namun tak lama kemudian, tenaga keduanya kembali seperti semula. Kakek tua itu terus menerus menghajar pasangan pendekar itu tanpa ampun yang memaksa keduanya mencari cara untuk bertahan, lalu selebihnya mencoba untuk melakukan perlawanan dengan serangan balasan. Berkali-kali Jalu dan Niken pingsan, lalu pulih lagi seperti sedia kala.
“Jika kemampuan kalian hanya seperti ini, maka apa yang bisa kuharapkan dari kalian dalam peperangan yang akan segera terjadi ini! Ayo, berusaha lebih keras lagi dasar bodoh! Apa guru kalian tak pernah mengajarkan hal berguna kepada kalian!” kata-kata Agrapana terdengar begitu menyakitkan, namun dengan begitu, hasrat bertarung pada diri Niken dan Jalu seolah dibangkitkan kembali.
Niken mencoba untuk melantunkan Nyanyian Pengantar Mimpi dan bermaksud untuk melumpuhkan pikiran kakek tua itu. gelombang energi tak kasat mata dengan halus menyergap kakek tua itu dan perlahan mencoba masuk ke dalam alam pikirannya. Sayang sekali, kakek tua itu dengan mudah menggulung gelombang energi yang menyerang kesadaran itu, lalu mengembalikannya ke arah Niken. Jalu yang melihat celah itu dengan cepat menghujamkan pukulan matahari ke tubuh kakek Agrapana. Kakek itu dengan cepat pula menciptakan perisai es yang tak bisa dihancurkan dengan kekuatan Jalu.
“Sampai di sini, apakah kalian tahu apa kelemahan kalian?” tanya kakek Agrapana. Jalu dan Niken masih belum bisa menemukan jawabannya. “Kalian belum pernah merasakan kematian!” kata kakek tua sambil melepaskan dua buah bola energi api dan es untuk Niken dan Jalu. Niken terkurung dalam bola api sementara Jalu terkurung dalam bola es. Kedua bola energi itu kemudian menyiksa tubuh Jalu dan Niken tanpa ampun.
Keduanya tak berdaya, namun tak juga mati. Agrapana sengaja mengeluarkan energi yang belum muncul dari tubuh Jalu dan Niken dengan cara paksa seperti itu. Hasilnya, di ambang kesadaran sepasang pendekar itu, tubuh keduanya melakukan pelawanan. Tubuh Jalu memancarkan energi api yang lebih besar untuk menekan hawa dingin yang menyerangnya, dan sebaliknya, tubuh Niken memancarkan energi es untuk menekan hawa panas yang menyelubunginya.
__ADS_1