
Di dalam ruang meditasi yang bernama ruang seribu cermin, Batari Mahadewi dan Nala melihat pantulan diri mereka di setiap cermin, dalam berbagai sudut. Keduanya duduk bersila dan berjauhan, mencari tempat sendiri-sendiri. Ketika melihat bayangan pada cermin, Batari Mahadewi mulai berfikir tentang dirinya:
‘Aku melihat cermin. Ada bayanganku di sana. Bayanganku bukan diriku yang sebenanya. Tapi melalui bayangan itu aku melihat diriku, mengenali diriku sebagaimana diriku tergambar di sana.
Aku mengenali diriku melalui bayangan di cermin. Aku mengenali diriku melalui aku yang bukan aku. Aku mengenali diriku melalui kepalsuan. Di dalam cermin ada diriku, namun aku tak ada di dalam cemin. Aku duduk di sini, memandang cermin.
Ya, benar. Setiap orang hanya bisa mengenal dirinya melalui hal yang lain; suatu hal yang bisa memantulkan tentang dirinya, melalui bayang-bayang, melalui kata-kata, melalui ucapan.
Lalu bagaimana aku mengenali diriku yang sesungguhnya? Apa yang ada dalam diriku? Apa yang tak bisa dipantulkan oleh cermin? Apakah organ dalamku? Apakah pikiranku? Jika aku adalah yang tak dipantulkan oleh cermin, apakah itu aku?
Jika aku adalah yang tak terkatakan oleh orang lain, apakah itu aku? Aku ada dalam diriku. Aku ada dalam cermin. Aku ada dalam orang lain. Aku adalah diriku yang mengada dalam pikiranku. Aku adalah diriku yang mengada dalam pikiran orang lain.
Apakah aku akan selalu sama? Jika aku berganti pakaian, atau tanpa pakaian, apakah aku masih sama dengan aku yang saat ini? Aku tidaklah tunggal. Aku ada dalam ribuan cermin yang memantulkan bayanganku.
Aku satu yang berbeda-beda. Yang berbeda-beda itu aku. Apa yang tak benar-benar bisa dipantulkan oleh cermin? Apa yang tak benar-benar bisa dilihat orang lain? Apa yang tak bisa digambarkan pada diriku? Apakah itu perasaan?
Apa yang kurasakan saat aku menatap cermin? Apa yang kurasakan saat aku melihat diriku dalam cermin? Apa yang kurasakan saat orang lain mengatakan sesuatu tentang diriku? Apakah aku benar-benar memahami perasaanku? Apakah perasaanku ini adalah buah dari fikiranku. Apakah perasaan sama dengan yang kurasakan?
__ADS_1
Aku tak benar-benar memahami perasaanku. Aku tak benar-benar bisa mengatakan apa yang aku rasakan, tapi tubuhku bisa merasakan apa yang di rasakan.
Tubuhku merasakan dingin di ruangan dingin, lidahku merasakan rasa manis ketika aku mencecap rasa buah yang manis. Dari mana aku tahu bahwa dingin adalah dingin, dan manis adalah manis? Apakah dari tubuhku? Atau pikiranku?
Bagaimana tubuhku merasakan perasaan yang lain? Perasaan senang, takut, sedih, cemas? Bagaimana tubuhku merasakan cinta? Apakah tubuhku bisa merasakan cinta? Apa rasa cinta? Apa itu cinta? Ah, sial. Kenapa ini lagi yang muncul di kepalaku?
Tunggu…ini muncul di kepalaku? Apakah cinta hanya persoalan pikiran? Atau benar-benar perasaan? Apa yang aku rasakan jika aku jatuh cinta? Apakah aku pernah jatuh cinta? Apakah tubuhku ingin merasakan cinta? Apakah cinta sama dengan ingin?
Jika aku ingin merasakan rasa buah apel, apakah aku mencintai apel? Cinta tidak sama dengan ingin. Apa yang membuatku menginginkan sesuatu? Apa yang membuatku menginginkan kekuatan? Apa yang membuatku ingin kembali ke duniaku? Aku rindu kepada hal yang kutinggalkan. Aku rindu kepada hal yang tak ada padaku saat ini. Apakah dengan rindu aku cinta?
Aku pernah mengatakan kepada Nala bahwa cinta ada karena ketiadaan pada diri dan membuat diri bergerak untuk mengisi ketiadaan itu dengan sesuatu yang menjadikannya ada. Jika demikian, aku akan memulainya dengan cinta untuk membuat ketiadaan dalam tubuhku menjadi ada, untuk memiliki kekuatan es yang belum ku miliki. Namun cinta yang seperti apa? Cinta kepada siapa?
Batari Mahadewi masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Begitu juga dengan Nala. Keduanya memikirkan hal yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki satu tujuan; menemukan pemahaman yang bisa membuka pintu energi dingin dalam tubuh mereka, yang telah tertutup oleh energi panas.
####
Sementara itu, di dunia satu rembulan, Jalu dan Niken bersiap untuk memberikan kejutan kepada para prajurit Swargabhumi yang telah menguasai kota Mutiara Biru. Sudah hampir satu bulan lamanya para prajurit Swargabhumi tinggal di sana dan menunggu tambahan kekuatan untuk bergerak mendekati Swargadwipa.
__ADS_1
Kekuatan baru Jalu dan Niken telah bertambah pesat dan membuat keduanya bisa melakukan perjalanan jauh lebih cepat dari sebelumnya. Dalam waktu tiga hari, kedua pasangan pendekar Api dan Es itu akhirnya tiba juga di kota Mutiara Biru.
Kota itu tampak murung dan kumuh, sangat jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, ketika Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi sampai di sana. Di kota itulah, Jalu menyatakan cinta. Bagaimanapun juga, kota itu adalah kenangan manis dalam kisah Jalu dan Niken.
“Kak Jalu yakin dengan rencana kita?” tanya Niken.
“Ya, tentu saja. kita sudah mengenal kota ini. Tak sulit menemukan keberadaan patih Hamapadayana. Kita beri serangan kejutan, lalu kita pergi dari sana.” Kata Jalu.
Kedua pasang pendekar itu menunggu malam hari untuk memulai rencananya. Ketika malam telah tiba, keduanya lebih leluasa bergerak. Pasukan Swargabhumi jauh berbeda dengan Swargadwipa. Barangkali karena merasa bahwa jumlah mereka banyak, maka mereka bisa santai dan tidak waspada. Bahkan pergerakan Jalu dan Niken tak terbaca oleh para pendekar sakti yang mendukung Swargabhumi, entah apa yang mereka lakukan di sana.
Jalu dan Niken sampai juga di balai kota Mutiara Biru. Tempat itu dijaga ketat oleh banyak prajurit yang semakin menandakan bahwa sang patih Swargabhumi ada di tempat itu. Jalu dan Niken mendengar suara yang riuh di dalam balai kota, suara para lelaki yang tertawa terbahak-bahak, dan sesekali terdengar suara perempuan yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak dikehendaki.
Jalu dan Niken geram. Setidaknya, hal itu tak pernah diajarkan dalam disiplin keprajuritan Swargadwipa. Bahkan sang patih Siung Macan Kumbang tak akan pernah membiarkan hal-hal tidak senonoh terjadi dalam barisan tentaranya.
Jalu terbang dan melayang di atas balai kota. Sementara Niken masih bersembunyi di ranting pucuk pohon yang lebat daunnya. Jalu memancarkan seluruh tenaganya dan pancaran itu seketika membuat suasana menjadi sunyi. Para prajurit yang berjaga mendongak ke atas dan heran melihat nyala api yang melayang di angkasa. Namun keheranan mereka justru membuat mereka tidak siaga; hanya diam melihat apa yang ada di angkasa.
Jalu menghujankan serangan api dari angkasa. Api yang ia kerahkan begitu besar dan dengan cepat membakar beberapa bangunan di balai kota. Orang-orang yang semula berada di dalam langsung melompat keluar. Sebagian bingung dan panik atas apa yang sedang terjadi, namun sebagian lainnya telah menangkap kehadiran Jalu di angkasa dalam wujud manusia api.
__ADS_1
Sekali lagi Jalu melontarkan serangan api dari angkasa. Para prajurit dan orang-orang yang sedang berkumpul di bawah berhamburan. Sebagian terbakar dan sebagian lainnya terpental. Sementara, beberapa pendekar sakti yang baru saja menyadari situasi yang mereka hadapi pada akhirnya melompat ke atas dan berusaha menghentikan apa yang dilakukan oleh Jalu.