
Terlambat. Batari Mahadewi telah terlambat menyelamatkan Nala. Kini tubuh kekasihnya itu telah diselimuti aura hitam yang sangat pekat. Kedua bola matanya seluruhnya berwarna hitam. Pancaran kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.
Seluruh iblis yang ada di sana bersujud kepadanya. Sementara Batari Mahadewi hanya bisa berdiri membeku. Hatinya patah. Air matanya meleleh. Ia tahu, Nala sudah tak lagi mengenalinya. Sekalipun kenal, ia bukanlah Nala. Jiwa Nala telah terkurung di tubuhnya sendiri. Jiwa Nala itu hanya bisa meronta, mencoba merebut kembali tubuhnya sendiri dari kekuatan dan kesadaran sang pangeran iblis Andhakara.
Dalam suasana hati yang bercampur aduk itu, kemarahan Batari Mahadewi meledak dan ia sendiri tak bisa mengendalikannya. Pancaran energinya meluap hingga batas maksimal yang ia miliki. Sapuan dari pancaran energinya itu tak hanya membuat pasukan iblis terpental jauh, namun juga menghancurkan semua kerajaan Tirayamani dan membuat pulau itu terbelah dua.
Hanya pangeran kegelapan yang tetap berdiri tegap menghadapi tepaan kekuatan dahsyat itu. Sementara Bail sempoyongan karena harus melidungi sang ratu.
“Bail, bawa ratuku pergi dari sini. Biar aku sendiri yang menghadapi gadis itu!” kata pangeran kegelapan. Suaranya serak dan mengerikan. Bukan lagi suara Nala yang dikenal oleh Batari Mahadewi.
Selanjutnya, pangeran iblis itu melesat menyerang Batari Mahadewi. Gadis itu hanya bisa bertahan. Tak kuasa rasanya membalas serangan pada tubuh kekasihnya itu. Beberapa kali ia terpental jauh dan menghujam tanah dengan keras.
Selama beberapa waktu ia terus-terusan di hajar oleh sang pangeran kegelapan. Pukulan demi pukulan dan bahkan serangan energi berkekuatan tinggi silih berganti menerpa dirinya. Pulau Tirayamani benar-benar hancur. Para makhluk iblis tak berani mendekat. Mereka pergi menjauh, mengikuti Bail yang mengamankan sang ratu.
Kekuatan Batari Mahadewi tidak melemah. Sebaliknya, luapan emosi yang menguasainya semakin membuatnya bertambah kuat. Sejenak ia mencoba untuk mengendalikan emosinya serta akal sehatnya. Ia harus bisa menerima bahwa ia telah kehilangan. Jika ia membiarkan dirinya terus-terusan dihajar, maka tak ada lagi harapan bagi orang-orang yang ia cintai yang sedang menunggu di Mahabhumi.
“Ayo Andhakara, kita bertarung sekali lagi!” Batari Mahadewi mulai bangkit berdiri setelah pangeran itu melemparkan tubuhnya dengan keras menghujam bumi.
__ADS_1
Pangeran kegelapan menyeringai penuh semangat melihat lawannya tak seperti sebelumnya. Maka ia memancarkan kekuatannya lebih besar dari sebelumnya. Tubuhnya benar-benar diselimuti oleh asap hitam.
Keduanya melesat dan saling bertukar serangan. Belum ada tanda-tanda siapa yang sedang terdesak. Keduanya masih terus bertukar pukulan, ledakan demi ledakan. Sesekali gadis jelmaan pusaka dewa itu terlempar ke angkasa, namun pada kesempatan berikutnya, sang pangeran kegelapan harus menerima beberapa tusukan kuku di tubuhnya.
Satu hari telah berlalu. Dua sosok itu masih bertarung dengan sengit. Pulau Tirayamani tenggelam. Kedua makhluk itu bertarung di angkasa, di permukaan laut, tenggelam dan masih berlanjut di dalam laut. Pertarungan itu yang pasti menyebabkan cuaca berubah drastis. Gelombang laut raksasa menyapu berbagai pulau terdekat berkali-kali sehingga secara tak langsung, pertarungan itu memakan banyak korban hingga ke tempat-tempat yang jauh.
Sepuluh siluman putih yang telah menangkap pancaran kekuatan dari awal pertarungan itu dimulai akhirnya datang juga. Tak hanya itu, semua makhluk iblis yang tersebar di berbagai penjuru dunia juga mulai berdatangan ketika mereka merasakan kehadiran sang pangeran kegelapan.
Batari Mahadewi tak mengenal para siluman putih itu. Hanya satu saja yang pernah ia lihat, yakni siluman gajah putih, sosok paling besar di antara yang lain.
“Kami ada di pihakmu, nona. Siapapun kamu, tetapi kami tahu ada kekuatan dewa dalam tubuhmu. Kita akan bersama-sama melawan para iblis itu, seperti yang kami lakukan di masa lalu,” kata siluman yang bentuknya seperti kera raksasa. Dialah yang terkuat di antara sepuluh siluman itu.
Sang ratu adalah aset berharga. Jikalau bangsa iblis yang ada saat ini berkurang banyak, kelak sang ratu akan melahirkan iblis-iblis baru yang jauh lebih kuat.
Pertarungan kembali berlangsung. Sepuluh siluman putih melesat ke arah barisan iblis bersamaan dengan Batari Mahadewi yang lebih dahulu tiba-tiba berada di hadapan pangeran kegelapan dan menendang tubuh lelaki tercinta itu hingga terpental jauh di angkasa.
Tubuh sang pangeran kegelapan kembali lenyap. Batari Mahadewi sudah hafal dengan baik apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka dengan segera ia menciptakan perisai energi untuk melindungi tubuhnya.
__ADS_1
Yang berbeda dari sosok Nala yang telah menjadi sang pangeran kegelapan itu adalah bahwa pancaran kekuatan yang diperoleh dari pulau Emas di dunia tiga rembulan sudah tak terlihat lagi, sebagai gantinya, kekuatan iblis yang beberapa kali lipat lebih kuat itu terasa sangat mencekam. Asap hitam yang tak habis-habisnya menyelimuti tubuh sang pangeran.
Selama dalam pertarungan itu, Batari Mahadewi selalu berfikir, apakah jiwa kekasihnya itu bisa dibangkitkan kembali? Tetapi bagaimana caranya? Sesekali Batari Mahadewi menangkap aura dari jiwa Nala dan sepertinya jiwa itu juga sedang membantu Batari Mahadewi dari dalam tubuh pangeran kegelapan.
Hal itu bagaimanapun juga membuat Batari Mahadewi tak mampu bertarung dengan baik, meski dengan kekuatan puncak yang ia miliki saat itu ia masih bisa menandingi kekuatan sang pangeran kegelapan. Itulah kelemahan senjata pusaka dewa apabila diubah menjadi manusia, lengkap dengan segala perasaan dan pikirannya.
Seperti yang telah di duga, pangeran kegelapan menyerang Batari Mahadewi dengan energi yang tak terlihat. Energi itu datang dari berbagai arah dan terus menerus menghujani pertahanan gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Sementara itu, sepuluh siluman putih masih bertarung dengan gigih. Kemampuan mereka masing-masing sebenarnya setara dengan para iblis. Tetapi jika mereka bergabung, sepuluh siluman itu bahkan bisa melawan iblis dalam jumlah besar. Setidaknya mereka telah menghabisi hampir setengah dari para iblis yang datang di hari itu.
Sang pangeran kegelapan telah menampakkan diri lagi setelah usahanya gagal. Kali ini, entah bagaimana ia mendapatkannya, sang pangeran kegelapan telah membawa pedang besar buatan Nala. Pedang yang berisi mustika iblis itu menjadi jauh lebih hebat kekuatannya ketika digunakan dengan kekuatan iblis.
Kekuatan Batari Mahadewi telah banyak terkuras. Sementara, pangeran kegelapan selalu mendapatkan suplai kekuatan dari para pasukannya yang merelakan diri untuk diserap energinya oleh sang pangeran.
“Apakah kau masih bisa bertarung dengan baik, nona cantik? Lihatlah dirimu? Kenapa kau tak menyerah saja? Aku bisa menjadikanmu iblis. Bahkan kau bisa menjadi ratuku setelah darah iblis abadi kupindahkan ke tubuhmu? Bukankah lelaki pemilik tubuh ini adalah kekasihmu? Aku tahu apa saja yang kalian lakukan selama aku terkurung di dalam tubuh ini. Sekarang jiwa pemilik tubuh ini berada di tempat yang sama denganku dulu!” Pangeran kegelapan baru kali ini bertemu dengan lawan yang gigih.
Dulu, ia kalah hanya karena dikeroyok oleh para dewa yang banyak sekali jumlahnya. Namun gadis itu hanya seorang diri. Ia bisa mengubah gadis itu menjadi dewa yang jatuh, yakni dewa yang telah berpaling menjadi pemuja iblis seperti Kabas dan Wangka, dua makhluk iblis terkuat yang saat ini sedang bertarung melawan sepuluh siluman putih.
__ADS_1
Kabas dan Wangka dulunya adalah dewa kecil di khayangan. Namun karena tergiur oleh bujukan raja iblis, mereka berpaling dari khayangan. Mereka berdua menjadi lebih kuat, namun mereka tak lagi memiliki aura dewa, melainkan iblis.
Maka, dalam benak sang pangeran kegelapan, jika Batari Mahadewi mau berpaling ke jalan iblis, gadis itu akan menjadi iblis tak terkalahkan sekaligus sosok paling berharga bagi bangsa iblis.