
Satu bulan berlalu, Batari Mahadewi masih berada dalam kristal emas di altar Samudra. Entah berapa lama ia akan berada di sana, sebab di dunia tiga rembulan, ia butuh waktu satu tahun atau lebih untuk bisa selesai dan membuka segel energi dalam tubuhnya. Sementara ia ada di sana, para dewa masih sibuk berjaga.
Di khayangan, raja dewa menepati janjinya. Beberapa hari setelah sang raja dewa mampir di altar Samudra, akhirnya ia keluar juga dari ruangannya, dan memberikan bola kristal dewa kepada Kalapati.
Maharaja raksasa itu sangat senang dengan mainan barunya. Sayangnya ia tidak tahu bahwa bola kristal yang diciptakan sang raja dewa itu tak bisa melihat segala hal yang terjadi di dunia. Hanya sebagian saja, khususnya untuk memantau dunia tengah, tempat bangsa raksasa mulai berkembang.
“Maaf Kalapati, tenagaku sudah tak cukup lagi untuk membuat bola kristal dewa yang lebih baik dari ini. Tetapi, ini sudah bisa kau gunakan layaknya kolam suci itu. Cara menggunakannya mudah saja, cukup pusatkan pikiranmu pada tempat yang ingin kau lihat, maka bola ini akan menunjukkan tempat itu dan apa yang terjadi di sana,” ucap raja dewa. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa kekuatannya sudah pulih sepenuhnya, namun tetap saja ia bukan tandingan Kalapati.
“Ini sudah cukup bagus. Terimakasih banyak, raja dewa!” kata Kalapati.
“Baru kali ini kudengar kau berterimakasih padaku, hahaha!” kata raja dewa.
“Karena kau mau bekerja sama denganku. Entahlah, kau ini musuh tapi sekaligus teman!” kata Kalapati.
“Aku tak pernah menyimpan dendam pada siapapun. Aku juga tak selamanya menginginkan posisi ini. Jika ada yang mau menjaga keseimbangan dunia, dan mampu, tentu dengan senang hati akan aku berikan posisi ini. Aku juga ingin bersantai, jalan-jalan ke dunia lain. Sang Maha Tunggal telah menciptakan dunia tanpa batas di luar sana,” kata raja dewa.
__ADS_1
“Aku baru tahu soal itu!” kata Kalapati. Ia mulai penasaran. “Apakah aku juga bisa berada di sana?”
“Kau ingat apa yang kau minta ketika bertapa kepada sang maha tunggal?” tanya raja dewa.
“Aku minta untuk menjadi yang terkuat di dunia ini, tak bisa dibunuh oleh iblis, manusia, dewa, siluman, dan raksasa lainnya,” kata Kalapati.
“Dan kau mendapatkannya. Di sinilah kau menjadi rajanya raja. Tetapi di dunia lain itu belum tentu demikian. Dunia kita ini termasuk dunia yang kecil. Hanya sebutir debu di semesta raya. Apa lagi kita berdua. Satu titik kecil tanpa arti yang tinggal pada sebutir debu. Banyak hal yang harus kau ketahui di sini, banyak hal yang harus kau nikmati selagi kau menjadi maha kuasa di sini,” kata raja dewa.
“Ya, tapi, suatu hari jika aku ingin jalan-jalan ke dunia lain, apakah aku bisa?” tanya Kalapati.
“Dan aku tak bisa mati! Hahaha, sial sekali!” kata Kalapati getir. Sejak ia berada di istana, ia tak bahagia sama sekali.
“Aku dan kamu tak bisa mati di dunia ini. Memang sebuah kesialan. Dewa-dewa lain bisa mati. Mereka bisa dilahirkan kembali menjadi makhluk lain. Sesungguhnya itulah kebahagiaan. Menjadi abadi sama halnya menjadi saksi atas kehidupan dan kematian, melihat hal sama yang terulang terus menerus. Sebagai raja dewa, inilah derita yang aku tanggung. Ketahuilah, Kalapati, ketika bangsamu mati, bukan berarti mereka mati. Mereka akan dilahirkan kembali. Mungkin akan memiliki kesempatan hidup yang jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya, jadi kenapa kau harus dendam dengan kematian bangsamu? Aku sungguh menyayangkan hal itu. Tetapi tak apa-apa, kau memang harus mengalaminya agar tahu. Aku tak menyalahkanmu, Kalapati!” kata raja dewa.
“Hahaha, ya aku akui, aku memang lahir sebagai bangsa yang bodoh. Semua sudah terlanjur, raja dewa. Kau beruntung lahir menjadi dewa!” kata Kalapati.
__ADS_1
“Tak ada yang paling beruntung atau yang paling sial. Kita merasa demikian hanya kita tak mengetahui kenyataannya saja. Pernahkah kau merasa bahwa semua makhluk di semesta raya ini hanyalah mainan sang maha tunggal? Kalau berbicara tentang sial atau beruntung, maka dialah yang paling sial dan kesepian. Maka dia menciptakan kita semua agar kita tahu atau setidaknya menafsirkan derita yang ia alami ketika menjadi yang paling berkuasa di alam raya.
Sekarang kau adalah yang paling berkuasa di dunia ini. Apakah enak? Tidak bukan! Sebelum hari ini, dulu ketika kau masih lemah, kau adalah yang paling berkuasa atas dirimu sendiri dan kau juga tak puas dengan hal itu. Ketika kita sudah terbebas dari keinginan, maka kita akan terbebas dari derita. Tetapi itu seolah tidak mungkin, kita dilahirkan atas keinginan hal-hal lain di luar diri kita. Jauh dari itu, kita ada atas kehendak sang maha tunggal. Lalu dengan kehidupan yang kita miliki, kita hanya bisa bertahan hidup jika kita punya keinginan.
Maka, Kalapati, kita tak akan pernah lepas dari derita. Bukan berarti kita harus pasrah dengan itu. Terimalah. Hanya itu saja. Terimalah segala pemberian ini. Menerima tidak sama dengan pasrah. Kelak kita akan musnah dan menjadi sesuatu yang tak bisa kita bayangkan. Pada akhirnya, yang menentukan bahwa kamu bahagia atau tidak hanya dirimu sendiri. Hanya dengan meyakini satu kata saja, bahagia, maka itulah yang akan kau rasakan.” Raja dewa kumat pidato. Itu salah satu cara bagi dirinya untuk lepas dari rasa bosan atau seolah-olah menjadi sosok yang paling menderita.
“Kenapa kau selalu benar. Bahkan aku yang bodoh ini bisa memahami ucapanmu yang tak masuk akal itu!” kata Kalapati.
“Hahaha, sudahlah, nikmati saja bola kristal itu. Saat ini bangsa manusia sedang bersusah payah melawan bangsamu. Hal yang sudah wajar terjadi. Mereka saling membunuh demi bertahan hidup. Nanti aku akan memberitahumu kapan waktu yang tepat untuk turun tangan ketika keseimbangan mulai rusak. Jangan lupa, bangsa iblis masih membayang-bayangi bangsa kalian,” kata raja dewa.
“Ya, aku mengerti. Raja dewa, jika kau mau bepergian di dunia ini, aku tak melarangmu. Tetapi kembalilah ke sini lagi jika aku membutuhkanmu!” kata Kalapati.
“Ya, aku akan pergi jika ingin pergi. Nanti aku akan menciptakan cincin yang bisa membuatmu berbicara padaku saat kita tidak sedang bersama,” kata raja dewa.
Begitulah, tak selamanya Kalapati yang keras itu akan tetap keras kepala. Kadang kekerasan bisa dilunakkan dengan kesabaran. Dengan kelembutan. Dengan dialog. Dengan saling mencoba memahami. Namun jika sudah berteman, akankah mereka akan tega saling membunuh seperti yang terjadi di masa lalu?
__ADS_1