
Raja dewa telah menghilang ke khayangan saat ledakan maha besar itu terjadi. Nala tahu, akan sangat berbahaya jika ia ada di sana. Namun itu adalah belahan jiwanya. Ia tak akan pernah meninggalkannya. Ledakan besar itu tak hanya menimbulkan dorongan yang kuat, namun juga hawa panas yang menyakitkan.
Ledakan pada satu titik di dunia manusia itu telah memusnahkan seluruh peradaban. Semua hancur dan terbakar. Hanya yang kuat saja yang masih bisa bertahan. Kelak, mereka itulah yang akan menjadi penerus kehidupan manusia pada era setelah kehancuran. Masa-masa yang dikatakan Agrapana sebagai masa sulit. Bahkan untuk bertahan hidup.
Tubuh Batari Mahadewi dan Kalapati telah musnah. Nala sudah menduganya. Hatinya benar-benar hancur. Lebih sakit dari semua luka di tubuhnya akibat ledakan besar itu.
Yang tersisa hanyalah sebutir mustika berwarna keemasan yang mengambang di angkasa. Mustika kecil seukuran telur ayam. Nala tahu, itu adalah mustika Batari Mahadewi. Ada sedikit harapan, setidaknya jiwa sang kekasih itu masih utuh meski tanpa tubuh.
Nala segera melesat dan mengambil mustika itu.
“Bertahanlah, Tari. Pasti ada jalan menyelamatkanmu…”
Tetapi Nala teringat bahwa raja dewa sudah tak ada di sana. Para dewa telah tiada. Mereka mengorbankan diri untuk menahan sebanyak mungkin kerusakan yang terjadi. Tetapi hasilnya tetap saja rusak parah. Peradaban musnah.
Nala sendiri tak tahu bagaimana caranya menolong kekasihnya. Nala hanya bisa menggenggam erat mustika emas di tangan kanannya. Tubuhnya menggigil, menahan kesedihan yang teramat sangat. Ia melayang di udara dalam waktu yang sangat lama.
Dunia masih tertutup debu. Hanya ada kegelapan. Hawa panas telah mereda dan perlahan berganti menjadi hawa dingin. Terus menerus semakin dingin.
Nala merasakan adanya getaran energi dari mustika Batari Mahadewi. Perisai di lengannya, yang merupakan satu-satunya bagian tubuh sang kekasih yang tersisa, perlahan bergerak sendiri, melepaskan diri dari tangan Nala, kemudian membungkus mustika berwarna emas itu.
Jantung Nala kembali berdegup kencang melihat hal itu. Ia berharap keajaiban datang padanya. Perlahan gumpalan berwarna emas itu semakin membesar. Nala segera mengerahkan sisa kekuatannya untuk diserap benda itu.
Perlahan, gumpalan itu berubah wujud menjadi sosok yang tak asing baginya. Gumapalan itu menjelma menjadi tubuh Batari Mahadewi.
Dua hari lamanya, Nala tetap menunggui sang kekasih hati itu membuka mata dan dalam dua hari itu ia terus menerus membagikan kekuatannya kepada sang kekasih hati.
Yang ditunggu datang juga. Batari Mahadewi telah membuka mata.
“Tari, kekasihku…” Nala mendekat dan memeluk tubuh perempuan tercantik itu.
“Hei…tunggu…siapa kau?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau…kau tak ingat padaku?”
__ADS_1
“Tentu saja ingat, hahaha, aku hanya becanda, sayangku. Tapi, tidakkah ada sesuatu yang bisa kupakai untuk menutupi tubuhku ini?” pinta sang pusaka dewa.
“Ada…mungkin…”
“Kau akan membiarkanku tanpa pakaian? Dasar cabul!”
“Hahaha, pakai saja dulu perisaimu,” Nala memeluk sang kekasih hati. Rindu dan penderitaan terbayar sudah.
Epilog
Keduanya sudah tujuh tahun berada di dunia tujuh rembulan. Kini mereka sedang duduk di atas bukit dan melihat anak lelaki mereka sedang bermain tanah.
“Kapan kita akan kembali ke dunia satu rembulan? Seharusnya keadaan di sana mulai pulih.”
“Entahlah. Sang penulis tak lagi melanjutkan kisah kita.”
“Iya, mengesalkan sekali lelaki kurus itu. Ia sibuk dengan karya satunya.”
“Ya, aku sudah membacanya juga. Semalam aku melompat dari halaman kisah kita menuju ke halaman kisah sebelah.”
“Sialnya iya. Dia sudah belajar banyak dari kisah kita. Habis manis sepah dibuang.”
“Memang begitu tabiat si penulis kita. Tetapi kasihan juga lelaki kurus itu. Dia jarang tidur gara-gara menuliskan kisah kita berdua.”
“Biar saja. Resikonya. Lagian dia juga dapat kopi dari nulis kisah kita.”
“Hahaha, kau kejam sekali, Nala.”
“Biar saja. Aku agak kesal dengannya. Nasibku dibuat semena-mena. Kau ingat kan, kita bertemu saat di bagian tengah. Seharusnya ia juga menceritakan kisahku di awal.”
“Enak saja, judulnya kan pakai namaku, jadi kau hanya boleh mucul di tengah, lalu menemaniku sampai akhir.”
“Kau tak penasaran dengan cerita baru si penulis kita?
__ADS_1
“Tentang apa? Ceritakan sedikit padaku.”
“Tentang kisah seorang pendekar racun. Judulnya sih Pendekar Naga Iblis. Jadi, itu merupakan kisah dari Saka Wasundara, seorang mantan prajurit Jenggala yang hampir mati setelah kalah dalam peperangan. Beruntunglah, ia berhasil diselamatkan oleh seorang kakek tua. Salah satu tokoh pendekar racun yang cukup menggemparkan dunia persilatan. Nah, dari kakek itu, Saka banyak belajar tentang dunia pendekar, serta jurus-jurus racun.
Saka pada akhirnya akan menempuh jalannya sendiri. Ia menjadi semakin hebat setelah menguasai kitab Iblis Pembunuh Naga. Jurus-jurus dari kitab itu akan mengantarkannya perlahan menuju puncak pendekar, yakni pendekar naga aliran hitam. Hmm, tetapi kisah itu bukan untuk anak-anak dibawah umur. Banyak adegan dewasa yang bikin panas dingin.”
“Ha? Benarkah? Kenapa kita tak dibuat seperti itu! Mengesalkan juga! Masak kita kena sensor terus!”
“Hahaha, kita ciuman saja pembaca heboh. Makanya, si Saka Wasundara di taruh ditempat lain.”
“Di mana?”
“Di aplikasi yang berwarna warna kuning dengan symbol N. Sebut saja nama samarannya n0v3lm3.”
“Ya, aku tahu itu. Lalu bagaimana dengan kita?”
“Ya, mau tak mau selesai sampai di sini.”
“Aku tak rela. Sungguh! Mengesalkan sekali penulis kita!”
“Tenang…kelak dia akan menuliskan kisah anak kita yang kembali ke dunia satu rembulan. Jika kak Jalu dan kak Niken selamat, mungkin anak kita akan berkenalan dengan anak mereka. Semoga saja anak mereka perempuan. Kita akan jodohkan mereka agar kelak menikah, hahaha. Lucu sekali sepertinya.”
“Hahaha, kau benar. Ah, jadi tidak sabar aku. Lelaki kurus itu harus menuliskannya. Bahkan kalau perlu sampai kisah cucu-cucu kita. Awas saja kalau tidak!”
“Tunggu saja. Penulis kita masih tidak bisa diganggu gugat dengan kisah si Saka. Dia ngebut lho, sehari bisa lima ribu atau enam ribu kata yang dibagi dalam beberapa chapter. Mungkin biar cepat tamat. Tapi, kita juga tak tahu, karya tentang anak kita akan ditaruh di mana. Mungkin ke tempat yang paling bisa menafkahinya. Kasihan dia, korban keadaan. Udah ga ada kerjaan lain selain menulis.”
“Tetapi dunia tulis menulis itu sesungguhnya lebih keras dari dunia pendekar yang kita jalani.”
“Semua jalan itu keras, sayangku. Justru karena itulah kita akan terus bergerak. Ingatlah, hanya penderitaan yang bisa melahirkan sosok yang tangguh. Jika jalan kita empuk seperti lumpur, maka kita akan tenggelam. Lihatlah, seperti dirimu; kau berasal dari kehidupan yang sulit dan kini kau menjadi sosok yang tangguh! Ah…tiba-tiba ingin bercinta lagi denganmu!”
“Jangan sekarang. Malu dibaca orang. Baiklah! Kita relakan saja kisah kita selesai sampai di sini. Kita mesti bersyukur, kita berdua masih dipersatukan.”
“Jadi kisah kita selesai di sini?”
__ADS_1
“Selesai sampai di sini.”