
Nala tertegun melihat Batari Mahadewi yang makan dengan lahap. Sang pusaka dewa itu hanya menyisakan sepotong paha untuk Nala.
“Ayo makanlah, aku sudah habis banyak. Yang ini bagianmu!” kata Batari Mahadewi semena-mena.
“Hahaha, tidak usah, kau saja yang menghabiskan itu. Ngomong-ngomong, setelah bertambah kuat, porsi makanmu bertambah ya?” ujar Nala sembari tersenyum. Memaksakan diri untuk tersenyum, lebih tepatnya.
“Kenapa? Kau takut aku jadi gendut? Siap-siap saja, mungkin tubuhku akan jadi sebesar gajah setelah melahirkan anak-anakmu!” kata Batari Mahadewi. Ia tahu, dirinya tak akan menjadi gendut meski menelan seekor gajah setiap minggunya. Tapi ia memang senang menggoda Nala, serta sedikit menakut-nakutinya.
“Tidak…tidak masalah kau mau jadi gendut atau tidak, hahaha!” ucap Nala. Tulus kok!
Makan memang membuat semangat Batari Mahadewi kembali meluap-luap. Dengan cepat ia menyerap seluruh nutrisi dari apa yang ia makan, dan mengubahnya menjadi kekuatan sehingga perutnya tak pernah menggelembung sebanyak apapun makanan yang ia makan.
Sang pusaka dewa itu meluncur ke arah pulau setelah memberikan kecupan mesra kepada sang kekasih. Itu harus, siapa tahu ia tak akan bisa mencium lelaki itu lagi untuk selamanya. Itu sebabnya ia tak bisa menunda untuk bercinta, sebab jika ia berakhir menjadi debu, maka ia telah memberikan kenangan terbaik untuk Nala. Jika ia masih hidup, itu bonus dari sang penentu takdirnya.
Kalapati masih duduk bersila. Itu sudah lebih dari setengah hari. Rupa-rupanya raksasa itu tertidur. Itulah bedanya dengan Batari Mahadewi, setiap Kalapati menyerap kekuatan bumi, maka ia akan tidur.
Batari Mahadewi mengambil sebongkah karang dan melemparkannya ke kepala sang raksasa itu untuk membangunkannya.
Karang itu pecah berhamburan ketika menghantam kepala itu, lalu Kalapati perlahan membuka matanya dan menguap lebar, memperlihatkan taring dan gigi-giginya yang besar.
“Apakah sudah waktunya?” tanya Kalapati dengan nada malas.
“Ini sudah lewat setengah hari!” jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Huahmmm…menyebalkan sekali. Ayolah kalau begitu, kita lanjutkan berkelahi!” Kalapati bangkit berdiri, lalu ia menghirup nafas dalam-dalam, kemudian meledakkan pancaran energinya dengan tiba-tiba.
Sang pusaka dewa yang tak terlalu siap itu terpental jauh. Kalapati mengejarnya dan mendaratkan sebuah pukulan penuh tenaga ke tubuh lawan cantiknya itu. Tubuh berselubung perisai emas itu meluncur keras ke permukaan laut.
Singkat cerita, pertarungan itu berlangsung kembali hingga dua hari dua malam lamanya. Pada hari ketiga, mereka berdua mulai tampak lelah. Pertarungan yang kedua itu lebih banyak menguras tenaga dan menimbulkan banyak kerusakan. Tak akan ada lagi waktu istirahat seperti pertarungan babak pertama. Artinya, mereka akan bertarung hingga salah satu dari mereka akan tumbang.
Batari Mahadewi telah memikirkan bagaimana caranya menumbangkan raksasa itu. Ia hanya perlu mencobanya, jika gagal, maka ia tak tahu lagi bagaimana cara lain untuk melawan raksasa itu. Dalam hati ia membenarkan perkataan raja dewa, bahwa kekuatannya belum cukup untuk bisa membunuh raja raksasa itu.
Demikian pula Kalapati, selama bertarung ia juga berfikir keras untuk menemukan kelemahan sang pusaka dewa itu. Tubuh perempuan yang terlindungi dengan perisai emas itu sama sekali tak bisa tegores oleh serangannya.
Batari Mahadewi melesat cepat ke arah Kalapati. Ia berniat mencengkeram leher raksasa itu, lalu melakukan rencananya. Kalapati tak terlihat ingin menghindar. Itulah yang ia tunggu-tunggu untuk menjalankan rencananya. Jika gadis itu tak bisa dilukai, mungkin tubuhnya bisa terputus jika ia menarik dengan sekuat tenaganya.
Saat Batari Mahadewi hendak meraih Kalapati, dengan cepat raksasa itu mencekal kedua lengannya, kemudian raksasa itu memperbesar tubuhnya tiga kali lipat dari sebelumnya sehingga ia memiliki kekuatan lebih untuk menarik lengan Batari Mahaadewi hingga putus.
Sang pusaka dewa itu tak menyangka Kalapati cukup cerdik melakukan strategi serangan itu. Kini sang pusaka dewa itu benar-benar dalam situasi yang berbahaya. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain berusaha menahan kekuatannya agar lengannya tak terputus dari tubuhnya.
Raksasa itu bersikeras mencengkeramkan tangannya di kedua lengan Batari Mahadewi, dan menambahkan kekuatannya untuk menarik lengan itu hingga putus. Ketika tubuh raksasa itu menjadi lebih besar, dan lengannya menjadi lebih panjang, sang pusaka dewa itu benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekalipun ia gerakkan kakinya untuk menendang, kaki itu bahkan tak bisa menjangkau tubuh Kalapati. Ia semakin merasa kesakitan.
Nala tak bisa tinggal diam menyaksikan hal itu, meski kekuatannya tak seberapa jika dibandingkan dengan raksasa itu, namun ia tak peduli, ia melesat menjadi tombak api dan menabrak mata sang raksasa yang sedang tak mempedulikan keberadaan Nala.
Kalapati serasa kelilipan. Nala tak berhenti di sana, ia menjelma menjadi lahar berbentuk abstrak, lalu mengelilingi leher Kalapati, melilit serta membakarnya sekuat tenaga. Raja raksasa itu tak bisa tahan, ia lepaskan salah satu cengkeramannya di lengan Batari Mahadewi, lalu melempar sang pusaka dewa itu jauh-jauh.
Selanjutnya, Kalapati menarik lahar panas yang melilit lehernya, lalu mengayunkannya dengan keras sehingga Nala terlempar sangat jauh, dan terakhir Kalapati mengerahkan seberkas sinar energi dari telapak tangannya yang meluncur kencang menghantam tubuh Nala yang berbentuk pijaran api aneh itu. Benturan itu menjadi ledakan keras di angkasa.
__ADS_1
“Dasar sampah! Berani-beraninya ikut campur!” Kalapati berang sekali.
Batari mahadewi benar-benar mencemaskan Nala. Ia segera melesat ke arah ledakan itu, dan mencari keberadaan sosok Nala yang tak terlihat itu.
“Nalaaa…jangan mati! Jangan mati!” Batari Mahadewi masih sibuk mencari sosok sang kekasih di balik asap hitam yang mengepul di angkasa itu.
“Aku masih hidup, Tari. Lanjutkanlah, aku sedang tak terlihat saat ini!” bisik Nala yang sedang menjelma menjadi partikel-partikel energi tak kasat mata. Sayang sekali, ia sudah kehilangan kemampuan sihir yang ia miliki sejak Andhakara tak lagi menjadi gangguan dalam hidupnya.
Batari Mahadewi lega. Ia kembali tenang. Nona cantik itu melesat ke arah Kalapati yang juga sedang melesat ke arah dirinya. Keduanya beradu hantaman keras dan sama-sama terpental jauh.
Tubuh sang pusaka dewa itu benar-benar kesakitan. Nala yang tak terlihat itu menahan tubuh Batari Mahadewi agar tak terhempas lebih jauh lagi dan entah akan menabrak apa.
Sang pusaka dewa itu merasakan lelakinya sedang bersusah payah membantunya semampu yang ia bisa.
“Tari, aku bisa merubah wujudku menjadi pedang api dan kau bisa menggunakannya untuk menyerang Kalapati. Setidaknya dengan cara itu aku bisa menggabungkan kekuatanku dan kekuatanmu!” bisik Nala.
“Tidak, Nala. Kau tak boleh mati. Aku masih punya cara untuk mengalahkan raksasa itu. Percayalah padaku!”
Batari Mahadewi menghilang, dalam satu kedipan mata ia telah ada di belakang Kalapati. Ia membuka perisai yang melindungi wajahnya. Dengan cepat ia hujamkan kedua lengannya di pundak raksasa itu, lalu ia menggigit leher belakang sang raksasa itu dengan kedua taringnya.
Kedua taring itu mampu menembus kulit leher belakang Kalapati. Sang raksasa itu menjerit kesakitan, memutar-mutar tubuhnya dan berharap sang pusaka dewa itu akan terlempar. Sayangnya tidak. Taring itu menghujam semakin dalam, dan menyerap kekuatan Kalapati.
“Monyet! Lepaskan gigitanmu!” Kalapati terus menerus mengumpat. Nama-nama hewan dan kotoran terus menerus menyembur dari mulutnya.
__ADS_1
Raksasa itu terus menerus meronta dan berusaha melepaskan diri dari gigitan sang pusaka dewa! Ia meraih-raih apapun yang bisa ia pegang dari Batari Mahadewi dengan kedua tangannya itu, namun tetap saja, meski ia bisa memegang kepala sang pusaka dewa, ia tetap kesulitan untuk lepas dari gigitan itu. Akhirnya ia melesat ke angkasa setinggi-tingginya, lalu terjun ke laut dengan kecepatan kilat.
Tubuh raksasa itu membelah lautan dan terus meluncur hingga ke dasar laut dan tercipta ledakan paling besar dari yang pernah terjadi selama mereka bertarung.