Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 285 Rencana Membantu Buyung


__ADS_3

Acara ngobrol di altar suci selesai dengan keberhasilan Jalu dan Niken membuat malu Batari Mahadewi dan Nala. Pasangan itu belum mau mengaku, tetapi Jalu dan Niken hampir saja berhasil membuat mereka menyerah. Sang kakek tua itu hanya terkekeh geli melihat urusan anak muda. Ya, setidaknya hanya kakek tua itu yang dengan mudahnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara Nala dan Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa dan lelaki jelmaan pangeran kegelapan itu melanjutkan perjalanan. Sebelum mereka sampai di Swargabhumi, mereka mampir terlebih dahulu ke Mutiara Biru, menyerahkan pasangan senjata dan baju pusaka kepada Cendana, Anjani, dan Pradipa.


Pradipa menolak senjata pusaka itu dan hanya mengambil baju pusaka. Ia sangat menyayangi pusaka bintang timur pemberian gurunya. Pusaka itu memang terbuat dari salah satu jenis logam terbaik yang jatuh dari langit. Hanya saja, kekuatannya belum maksimal untuk dipergunakan oleh Pradipa.


“Aku sudah memiliki pusaka ini. Jika aku punya dua pusaka, pasti terlalu berlebihan. Aku juga tak bisa menggunakannya dengan baik,” jawab Pradipa.


“Pusaka milik kakak berbahan bagus, sayangnya kekuatannya tidak cukup untuk kakak gunakan menghadapi para pendekar Tirayamani atau pasukan iblis berkekuatan kecil,” kata Batari Mahadewi.


“Dengan baju pusaka ini, bukankah aku bisa meningkatkan kekuatan hinga beberapa kali lipat?” tanya Pradipa.


“Benar, tetapi kakak hanya bisa melawan para pasukan kerajaan hitam itu. Kakak masih akan kesulitan jika bertemu dengan pasukan iblis. Bagaimana jika kami menambahkan kekuatan untuk pedang bintang timur ini?” tanya Nala meminta izin untuk memodifikasi senjata pusaka itu. Pradipa mengizinkannya.


Nala melepas berbagai mustika dan kristal api dalam salah satu senjata buatannya, lalu menyatukannya dalam pusaka bintang timur. Nala hanya butuh sedikit waktu untuk membuat pusaka bintang timur memancarkan energi yang kuat dengan cahaya biru menyala terang meski tanpa di sentuh. Kini pusaka itu jauh lebih sakti dari sebelumnya, tanpa berubah bentuknya.


“Ah, tak kusangka kalian bisa melakukan hal seperti ini dengan mudah,” puji Pradipa. Ia mencoba mengenakan baju pusaka dan memegang senjata pusakanya, menyelaraskan kekuatan dan jiwanya dengan kesaktian dua pusaka miliknya itu.


Cendana dan Anjani melakukan hal serupa. Mereka bertiga benar-benar puas dengan hadiah itu. Batari Mahadewi menyampaikan berbagai rencana dan informasi penting kepada Pradipa dan dua kakak seperguruannya itu. Setelahnya, Nala dan Batari Mahadewi pamit melanjutkan perjalanan.


Sepasang pendekar mahasakti itu mengunjungi satu demi satu perguruan beladiri seperti yang telah dituliskan oleh Ki Gading Putih dan menemui beberapa tetua pendekar calon penerima pusaka sakti yang mereka bawa itu.


Seperti yang telah diduga sebelumnya, kehadiran Nala memang sulit diterima. Namun keberadaan Batari Mahadewi di sebelahnya, membuat kedua sosok itu akhirnya mendapatkan perlakuan terhormat. Betapa tidak, Batari Mahadewi telah menjadi legenda se-Mahabhumi dan namanya dikenal dengan baik di wilayah barat.


Setelah sampai di perguruan beladiri di wilayah paling barat dari Mahabhumi, akhirnya Nala dan Batari mahadewi berhasil menyerahkan semua senjata dan baju pusaka itu ke tangan yang tepat.

__ADS_1


“Sudah habis, Tari. Ternyata masih banyak pendekar muda yang belum kebagian. Tapi tak apa-apa, terlalu banyak pusaka juga tak baik untuk keseimbangan,” kata Nala.


“Ya, kau benar. Meski kita bisa, kita tak boleh menciptakan senjata sakti dalam jumlah yang terlalu banyak. Lagipula, jika senjata ini jatuh ke tangan musuh, para pendekar putih juga akan mendapatkan masalah,” kata Batari Mahadewi.


“Setelah ini kita akan kembali ke padepokan dan membagikan senjata ke wilayah timur, bukan?” tanya Nala.


“Ya, seperti yang direncanakan. Setelah selesai, kita akan jalan-jalan ke pulau lain tanpa perlu terlalu khawatir meninggalkan orang-orang yang kita sayangi di sini,” kata Batari Mahadewi.


“Selain membagikan senjata, apakah kita perlu memburu makhluk iblis yang sudah bebas itu?” tanya Nala.


“Ya, sudah pasti begitu, Nala. Jika kita beruntung, kita bisa bertemu dengan ratu kegelapan itu. Kurasa kita berdua bisa mengalahkannya dengan mudah, kecuali jika saat ini ia sudah dikawal oleh puluhan makhluk iblis sakti,” kata Batari Mahadewi.


“Menurutku, sudah pasti ia telah dikawal oleh para iblis sakti. Kekuatan kita bisa jadi tak cukup, Tari. Oleh karena itu kita tak bisa gegabah. Aku belum menceritakan satu hal kepadamu,” kata Nala.


“Cerita apa?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, aku juga melihat tanda yang sama pada para makhluk iblis yang sudah kumusnahkan,” kata Batari Mahadewi.


“Nah, banyak siluman besar yang juga memiliki tanda ini. Mereka masih patuh kepadaku. Yang tidak aku ketahui, apakah semua makhluk iblis itu akan patuh padaku atau tidak. Jika masih patuh, pastinya mengalahkan ratu itu hanyalah soal kecil, tetapi ada masalah lain tentu saja. Jika aku mengakui diriku sebagai pangeran kegelapan, pasti mereka memiliki harapan dan tuntuntan, yakni mengembalikan kejayaan kekuasaan kegelapan,” kata Nala.


“Itu pasti, Nala. Meski mereka mungkin akan tunduk padamu, tetapi jika kau melarang mereka untuk berbuat sesuatu yang berbeda dari adat mereka, sudah pasti kau dianggap mengkhianati mereka,” kata Batari Mahadewi.


“Itu yang membuatku ragu-ragu. Tetapi aku yakin, para siluman masih ada di bawah kendali kita. Meski mereka lemah, tetapi kita bisa memanfaakan kekuatan mereka untuk entahlah. Setidaknya, mereka lebih jinak daripada makhluk iblis. Keberadaan siluman tak terlalu mengganggu peradaban manusia, kecuali jika mereka diusik,” kata Nala.


“Benar sekali. Kau bisa memanfaatkan mereka juga untuk mencari logam langit. Pasti mereka tahu dimana benda-benda seperti itu berada,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ya, mereka memiliki banyak bahan bagus untuk pusaka. Banyak jenis bahan yang sulit kita temukan di dalam perut bumi, tetapi mereka memilikinya,” kata Nala.


“Baguslah, sekarang mari kita pulang. Kita sudah beberapa hari meninggalkan Cemara Seribu. Aku juga ingin tahu, apakah guru mengalami kesulitan untuk membagikan senjata pusaka itu,” kata Batari Mahadewi.


“Ayo kita pulang,” kata Nala.


“Dengan satu kedipan mata?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak, terlalu cepat. Aku akan menggendongmu saja,” kata Nala. Lelaki itu melesat ke udara, menggendong Batari Mahadewi dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya, lalu beranjak menuju Cemara Seribu.


Sehari semalam, akhirnya Batari Mahadewi dan Nala sampai juga di padepokan Cemara Seribu. Di sana, tepatnya di area latihan, sedang agak ramai. Ki Gading Putih, pendekar Naga Selatan, Ki Elang Langit, Ki Suro, Ki Cakra Jagad dan pendeta Liong sedang asik latihan tanding dengan mengenakan baju pusaka buatan Batari Mahadewi. Para pendekar tua itu terlihat seperti anak-anak yang baru saja mendapatkan mainan baru. Ya, setidaknya dengan mainan itu, gairah dan jiwa muda mereka kembali bangkit.


Buyung dan Vidyana menjadi penonton latihan yang menegangkan itu. Mereka duduk bersebelahan meski tak terlalu dekat. Batari Mahadewi dan Nala datang tanpa disadari oleh siapapun, namun keduanya sengaja berada di jarak yang jauh untuk melihat latihan itu. Mereka berdua tak ingin latihan terhenti jika mereka menampakkan diri. Yang terpenting adalah, Nala ingin melihat seberapa jauh kakaknya mulai belajar terbuka dengan orang lain.


“Lucu sekali rasanya melihat kakakku bersama orang lain,” kata Nala.


“Kak Buyung itu juga kaku jika berhadapan dengan lawan jenis. Ia tak pandai merayu, tidak pandai bercanda, dan jika ia bicara, selalu saja hal serius yang diomongkan. Kapan hari itu, kakek guru mengatakan padaku agar aku membantu kak Buyung untuk meningkatkan kekuatannya,” Kata Batari Mahadewi.


“Kau menyanggupinya?” tanya Nala.


“Tentu, dan sebaiknya kau juga membantuku. Aku belum memeriksa keadaan tubuh kak Buyung. Pasti ada sesuatu yang menghambat perkembangan kekuatan tubuhnya. Guru pernah bilang, jika kekuatan kak Buyung bisa meningkat dan berkembang, maka ia bisa menggunakan kemampuannya dengan lebih baik lagi,” kata Batari Mahadewi.


“Apa kemampuan kakakmu itu? kakek Gading tak pernah mengangkat murid yang tak memiliki keunikan, setahuku,” kata Nala.


“Dia adalah pendekar pengendali pikiran. Andaikan ia kuat, kau tahu, betapa berbahayanya kemampuan kak Buyung. Kata Guru, pendekar semacam itu sangat langka sekali. Dulu ada seorang pendekar legendaris yang memiliki kemampuan mengendalikan pikiran. Pada puncak pencapaiaannya, ia bahkan bisa membuat lima ribu prajurit bunuh diri bersama-sama,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Sungguh menarik. Kita harus membantunya, Tari. Jika kita berhasil, Kak Buyung akan jadi salah satu peluang untuk menekan kekuatan Tirayamani,” Kata Nala.


Batari Mahadewi mengangguk-angguk membenarkan kata-kata Nala. Tak ada salahnya menunda bepergian dalam rangka menolong sang kakak sulung itu.


__ADS_2