
Jauh di belahan bumi yang lain, di negri Pasir, ratu Ogha akhirnya berhasil membangkitkan ratusan pasukan iblis berkekuatan rendah dan sedang.
Pasukan iblis itu hanya mau patuh kepada Bail. Dengan demikian, secara otomatis, Bail menjadi komandan bagi semua pasukan iblis yang baru saja dibangkitkan itu.
Beberapa setan kecil utusan Mambacha yang dikirim ke Siwarkatantra telah kembali dan melaporkan pengamatan mereka. Sementara, para setan kecil yang dikirim ke Swargadwipa masih entah di mana keberadaannya.
“Jadi, apa yang kalian ketahui?” tanya Mambacha.
“Bara dan Canu telah binasa oleh orang yang sama, tuan. Ia adalah seorang gadis dengan kekuatan dewa,” jawab salah satu dari setan kecil itu.
“Lalu dimana gadis itu berada saat ini?” Mambacha kembali bertanya.
“Yang kami ketahui, dia pergi ke arah timur, meninggalkan pulau Siwarkatantra,” jawab setan kecil itu.
“Baiklah, sekarang beristirahatlah,” Mambacha menciptakan lubang di antara kedua telapak tangannya. Setan-setan kecil itu melompat masuk dan kemudian lenyap.
Ratu Ogha semakin geram mendapatkan kabar itu. Ia tahu, lawannya bukanlah manusia biasa yang bisa dengan mudah menumpas dua makhluk iblis kelas atas yang ia tugaskan untuk mencarinya.
“Lagi-lagi gadis itu! Aku yakin ia kembali ke Mahabhumi. Menurutmu apa yang selanjutnya kita lakukan, Mambacha?” tanya Ratu Ogha.
“Kita tunggu dulu kedatangan para setan kecil yang hamba kirim ke Swargadwipa, ratuku. Siapa tahu kita mendapatkan berita yang berharga. Jika ratuku tak nyaman berada di negri pasir ini, ada baiknya kita kembali ke Tirayamani, membawa serta semua pasukan iblis ini dan memikirkan rencana selanjutnya. Tak ada salahnya ratuku memanggil semua pasukan Tirayamani di berbagai wilayah taklukkan itu. Kita harus benar-benar tahu, berapa besar kekuatan kita,” balas Mambacha. Setelah ia bebas, ia memang cenderung menjadi penasehat sang ratu.
__ADS_1
“Jika Jain dan Silu ikut musnah, maka kita benar-benar membutuhkan iblis kuat. Ratusan pasukan iblis negri Pasir ini mungkin tak akan berarti apa-apa untuk melawan gadis itu,” kata sang ratu.
“Setelah kita sampai di Tirayamani, nantinya hamba dan Bail akan pergi mengumpulkan para iblis yang telah ratu bebaskan. Mereka harus mau tunduk dan mengikuti kita. Ratuku jangan khawatir, Bail bisa diandalkan untuk hal ini,” kata Mambacha.
“Kalian juga akan membawa serta ratusan pasukan iblis ini?” tanya sang ratu, “Mereka tak mau tunduk kepadaku! Jika kalian berdua meninggalkan aku, pasti mereka akan memberontak.”
“Ratuku jangan khawatir. Bail akan menyimpan mereka semua ke dalam tubuhnya. Jadi nanti ratuku hanya akan bersama dengan pasukan Tirayamani saja,” kata Mambacha.
“Ya, semoga aku tidak bertemu dengan gadis itu selama kalian menghimpun kekuatan,” kata sang ratu.
“Oleh karena itulah, ratuku jangan banyak bertindak selagi kami pergi. Bagaimanapun juga, hamba yakin kebangkitan iblis ini juga telah diketahui banyak pihak, terutama sepuluh siluman putih penjaga dunia. Mereka sangat berbahaya,” ujar Mambacha.
“Baiklah, kalau begitu sekarang kita kembali ke Tirayamani!” Ratu Ogha berubah menjadi burung gagak hitam, lalu ia melesat secepat kilat ke angkasa diikuti oleh para iblis yang mengabdi kepadanya.
Mereka begitu senang melihat kedatangan sang ratu setelah sekian lama ratu itu meninggalkan kerajaan.
“Hormat kepada sang ratu!!!” para prajurit itu berkumpul di aula kerajaan, berbaris rapi dan menghantarkan sembah. Tanpa di suruh, begitu mereka tahu sang ratu datang, maka mereka langsung melesat ke istana. Siapa tahu mereka akan ditugaskan untuk menjelajah ke negri lain. Tentu saja mereka akan senang dengan hal itu daripada harus menunggu istana dan pulau yang sunyi itu.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi?” tanya sang ratu.
“Tidak ada, paduka ratu. Semua berjalan aman,” sahut Calada, sang penasehat sekaligus penyihir tertinggi istana Tirayamani.
__ADS_1
“Calada, hari ini aku ingin kau mengirim pesan ke semua pemimpin pasukan untuk membawa seluruh pasukan ke istana,” perintah sang ratu. Perempuan nomor satu se-Tirayamani itu kemudian masuk ke dalam ruangannya, diikuti oleh Bail dan Mambacha.
Calada menciptakan ratusan merpati sihir berwarna hitam yang akan melesat mengirimkan pesan kepada para pemimpin pasukan Tirayamani yang tersebar di berbagai penjuru negri jajahan.
Diam-diam, sang ratu khawatir jika semua pasukannya habis oleh gadis berkekuatan dewa itu. Ia takut jika gadis itu memburu pasukannya dan menghabisi mereka semua tanpa sisa. Bagaimanapun juga, para pasukan itu merupakan budak-budak yang patuh.
“Ratuku sudah memberikan perintah yang tepat. Memang sebaiknya ratuku memanggil semua pasukan ke sini sebelum gadis itu menghabisi mereka semua,” kata Mambacha.
“Memang itulah yang aku pikirkan. Setidaknya, jika gadis itu ke sini, aku dan pasukanku bisa melawannya sementara kalian tidak ada di sini,” kata ratu Ogha. “Setan kecil yang kau kirim ke Swargadwipa, kenapa mereka tak juga menemuimu?”
“Entahlah, ratuku. Semoga saja mereka masih hidup. Tetapi seharusnya mereka aman. Wujud mereka tak akan menarik perhatian siapapun dan mereka tak akan berani membuat masalah di sana sebab mereka lemah,” kata Mambacha.
“Jika kau pergi, apakah mereka bisa mengetahui dimana kau berada?” tanya sang ratu.
“Tentu saja, ratuku. Mereka adalah ciptaanku. Bagian dari diriku. Sudah pasti mereka bisa mencariku,” kata Mambacha.
“Begini saja, anggap saja Jain dan Silu telah binasa. Mereka sudah terlalu lama tak kembali. Jadi, nantinya ku harap kau bisa membawa puluhan makhluk iblis yang telah kubebaskan itu,” kata sang ratu.
“Tentu saja, ratuku. Jika begitu, kami akan segera pergi mengumpulkan mereka dan membawa mereka ke sini,” kata Mambacha.
“Andaikan kita bisa menemukan jiwa pangeran kegelapan dan membangkitkannya, pasti upaya kita untuk menguasai dunia ini bisa semudah membalik telapak tangan. Bagaimanapun juga, kita diburu waktu. Jangan sampai bangsa raksasa itu turun sebelum kita memiliki kekuatan yang cukup. Menurutmu, bagaimana caranya menemukan jiwa sang pangeran?” tanya sang ratu. Ia merindukan suaminya itu, meski dulu sang pangeran kegelapan memiliki banyak selir dan sering sekali membuatnya kesal.
__ADS_1
“Ratuku tenang saja. Jika bangsa iblis sepenuhnya telah bangkit, maka menemukan jiwa sang pangeran adalah hal yang mudah. Tanpa keberadaan sang pangeran, tentu akan sulit menghadapi bangsa raksasa. Sebenarnya saat ini adalah waktu yang benar-benar tepat untuk kembali mengibarkan bendera kekuasaan kita, selagi bangsa dewa entah sedang ada di mana,” ujar Mambacha.
“Pergilah, Mambacha. Kita tak punya banyak waktu. Aku serahkan sepenuhnya tugas ini kepada kalian berdua,” perintah sang ratu. Mambacha dan Bail segera melesat terbang meninggalkan Tirayamani. Keduanya harus memeriksa satu persatu tempat-tempat yang menjadi keberadaan para makhluk iblis itu. Mereka hanya patuh kepada sang pangeran kegelapan. Namun jika ada Bail, tentu saja mereka akan tunduk.