Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 191 Segel ke Sembilan


__ADS_3

Setelah kurang lebih satu tahun Batari Mahadewi dan Nala terkurung di dalam kristal Halilintar, akhirnya kedua pendekar dunia satu rembulan itu berhasil memiliki energi dari sumber utama pulau Halilintar. Keduanya terlempar dari dalam kristal halilintar dan tergeletak di altar kuil suci selama beberapa saat. Keduanya masih beradaptasi dengan perubahan tubuh dan kemampuan yang mereka alami.


Segel ke sembilan yang mengunci energi Batari Mahadewi telah terbuka. Dengan begitu, tubuh Batari Mahadewi bisa menampung energi yang lebih besar dan lebih luas lagi dari sebelumnya.


Masuknya elemen-elemen dan energi dari kristal halilintar membuat tubuh Batari Mahadewi memiliki indera ke dua puluh. Ia menjadi jauh lebih peka dari sebelumnya, dan bisa menangkap pancaran energi dari jarak yang sangat jauh. Dengan demikian, ia bisa mempergunakan jurus berpindah dalam satu kedipan mata jauh lebih baik dari sebelumnya, ke jarak-jarak yang belum pernah ia jangkau.


Hanya saja, tampilan tubuh Batari Mahadewi menjadi berbeda dari sebelumnya. Seluruh otot tubuhnya menjadi lebih kekar. Andaikan ia tak memiliki dada, leher, bahu dan pinggul perempuan, maka ia akan terlihat seperti laki-laki. Seluruh lengannya telah menjadi logam berwarna emas, demikian juga dengan seluruh tubuh bagian bawahnya mulai dari ujung kuku hingga pusar; tubuhnya mengeras sekaligus lentur. Sisik-sisik halus menghiasi permukaan kulitnya yang berwarna emas. Beberapa keping kristal halilintar juga menyatu dengan tubuhnya, menyembul di antara ruas tulang belakangnya mulai dari pangkal leher hingga tulang ekor.


Sementara pada bagian wajah, bola mata Batari Mahadewi yang semula hitam menjadi biru. Mata itu bisa melihat benda di balik benda dengan sangat jelas. Batari Mahadewi perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan indera-indera baru yang muncul di tubuhnya. Dunia menjadi terasa riuh sebab pendengarannya menjadi jauh lebih tajam.


Karena kedua bola mata Batari Mahadewi bisa melihat apapun yang tak bisa terlihat sebelumnya, ia begitu kaget ketika melihat seluruh organ dalam di tubuh Nala; paru-paru, jantung, usus, otak, dan bahkan benda lain di balik tubuh Nala. Kepalanya mendadak terasa pusing.


Pada diri Nala, tak ada yang berubah selain bertambahnya kekuatan serta elemen pada tubuhnya yang membuat ia bisa berubah menjadi partikel listrik sebaik ia berubah menjadi partikel tanah, api, dan es.


Ukuran tubuh Batari Mahadewi dan Nala telah setara dengan manusia yang berumur dua puluh lima tahun meski mereka baru lima belas tahun menjalani kehidupan. Soal pengetahuan dan kemampuan, keduanya jauh melampaui pendekar legendaris terhebat yang ada di dunia satu rembulan.


“Kau baik-baik saja Tari?” tanya Nala kebingungan sewaktu ia melihat Batari Mahadewi berbaring meringkuk sambil memegangi kepalanya. Batari Mahadewi tak menjawab. Nala tak berani mengambil tindakan apapun selain menunggu.


Selang beberapa saat kemudian, Batari Mahadewi bisa duduk bersila. Ia mengatur pernafasannya agar lebih tenang. Lambat laun, ia bisa mengendalikan diri dan mengendalikan kemampuan inderanya, mengaturnya sedemikian rupa agar indera-indera di tubuhnya tak terus menerus bekerja secara maksimal. Setelah itu, ia merasa jauh lebih baik.


“Sekarang aku sudah merasa baikan.” Kata Batari Mahadewi.


“Tubuh kita banyak berubah, Tari. Kau seperti perempuan dewasa.” Kata Nala yang tak henti-henti memandangi kecantikan perempuan yang ada di hadapannya itu.


“Jangan memandangiku seperti itu!” kata Batari Mahadewi galak. Nala hanya tertawa. Senyuman, tatapan mata, dan raut wajah Nala terlihat sangat tampan di mata Batari Mahadewi. Tubuh lelaki itu juga menjadi lebih berotot dari sebelumnya. Di dunia satu rembulan, pastinya Nala adalah lelaki terkuat.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tari?” tanya Nala.


“Ayo kita berpamitan dengan tetua Samman dan tetua Hannam.” Ajak Batari Mahadewi.

__ADS_1


Batari mahadewi ingin menguji kemampuannya berpindah dalam satu kedipan mata. Ia memegang pundak Nala, lalu ia memusatkan konstentrasinya untuk menangkap pancaran energi dari orang-orang penghuni pulau Halilintar yang tinggal di dunia atas. Begitu Batari Mahadewi berhasil menangkap pancaran energi yang ia cari, ia dan pemuda gagah yang ada di sebelahnya itu menghilang dan dalam sekejab keduanya telah ada di permukaan salju di dunia atas, tepat di samping pilar penyangga kuil suci pulau Halilintar.


Tetua Samman yang tinggal di dekat pilar penyangga kuil suci itu keluar dari tempat tinggalnya ketika ia menangkap pancaran energi Batari Mahadewi dan Nala.


“Kalian telah berhasil?” tanya tetua Samman.


“Ya, tetua. Dengan capaian ini, kami akan segera meninggalkan pulau ini dan pergi menuju ke pulau Emas.” Jawab Nala.


“Tapi apakah kalian sudah tahu banyak hal tentang pulau Emas?” Tanya tetua Samman.


“Tak banyak. Yang kami tahu, pulau itu tak bisa dilihat dengan cara biasa.” Jawab Batari Mahadewi.


“Kau benar, pulau itu hanya menampakkan diri pada waktu-waktu tertentu. Jika kalian berhasil menemukannya, mungkin kalian akan sedikit kaget dengan apa yang ada di sana. Banyak hal yang jauh berbeda dengan pulau-pulau lainnya. Setiap orang asing yang datang ke sana akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda, sehingga sampai sekarangpun, kami semua menganggap pulau itu sebagai misteri yang tak pernah kami pahami seutuhnya.” Kata tetua Samman.


“Semoga saja perjalanan kami di sana tak ada kendala.” Ujar Nala.


“Baiklah, tetua. Kami sangat berterimakasih dengan apa yang telah kami capai di pulau ini. Setelah ini kami akan menemui tetua Hannam, lalu kami akan melanjutkan perjalanan menuju pulau Emas.” Kata Batari Mahadewi.


“Kami yang berterimakasih. Baiklah, selamat jalan.” Kata tetua Samman.


Batari Mahadewi dan Nala pergi menuju kediaman tetua Hannam menggunakan cara yang sama dengan sebelumnya. Tetua Samman sedikit heran. Ia tahu bahwa kemampuan semacam itu saat ini hanya dimiliki oleh Rapapu. Bahkan sampai sekarangpun, tetua Samman belum bisa menguasai kemampuan itu.


Dalam sekejab, Batari Mahadewi dan Nala telah sampai di halaman rumah tetua Hannam yang riuh dengan orang-orang yang sedang bekerja. Kehadiran keduanya yang begitu tiba-tiba membuat beberapa orang yang ada di sana sangat terkejut.


“Hah, sejak kapan kalian datang?” tanya salah satu pekerja tetua Hannam.


“Baru saja.” jawab Nala sambil tersenyum.


“Bisakah kami bertemu dengan tetua?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ya, tetua ada di dalam.” Jawab pekerja itu sambil melanjutkan pekerjaannya. Begitulah, penduduk dunia bawah lebih suka berbicara sambil bekerja, kecuali jika yang dibicarakan adalah hal yang sangat penting. Batari Mahadewi dan Nala kemudian masuk ke dalam dan langsung menemui sosok tua yang menjadi pemimpin di dunia bawah itu. tetua Hannam langsung menyambut begitu keduanya menampakkan diri di dalam ruangan.


“Kalian terlihat luar biasa.” Kata tetua Hannam.


“Terimakasih, tetua. Selama kami di atas, apakah di bawah baik-baik saja?” tanya Batari Mahadewi berbasa basi.


“Ya, semua berjalan sangat baik seperti biasanya. Dan setelah ini, semua akan lebih baik lagi. Aku dan tetua Samman telah membicarakan masa depan dari semua penduduk pulau ini. Jika kami semua telah berhasil memurnikan kembali energi kami, maka tak akan ada lagi yang tinggal di dunia atas kecuali tetua Samman dan beberapa orang lainnya yang akan menjaga kuil suci.” Kata tetua Hannam.


“Semoga semua berjalan lancar, tetua.” Kata Nala.


“Ya, kuharap demikian. Selanjutnya, apa yang akan kalian lakukan?” tanya tetua Hannam.


“Kami akan melanjutkan perjalanan ke pulau Emas, tetua. Kami sangat berterimakasih banyak atas kebaikan tetua dan semua warga pulau Halilintar yang telah mengizinkan kami untuk memperkuat diri di kuil suci.” Kata Batari Mahadewi.


“Kami juga sangat berterimakasih atas bantuan kalian berdua. Semoga perjalanan kalian lancar.” Kata tetua Hannam.


Batari Mahadewi dan Nala terbang melesat meninggalkan pulau Halilintar. Batari Mahadewi tak bisa menggunakan kemampuannya berpindah tempat dalam satu kedipan mata apabila ia tak benar-benar tahu tempat yang akan ia tuju. Maka satu-satunya cara untuk sampai ke pulau Emas adalah dengan terbang.


Setelah dua hari terbang menembus awan, melintasi samudera, dan melewati beberapa pulau di dunia tiga rembulan, akhirnya Batari Mahadewi dan Nala sampai di sebuah pulau kecil untuk mempelajari kembali peta yang mereka bawa.


“Jika benar pulau ini adalah satu-satunya pulau kecil di dekat pulau Emas, artinya kita hampir sampai.” Kata Batari Mahadewi.


“Tak bisakah kau merasakan pancaran energi dari pulau Emas? Jika kau berhasil mungkin kita bisa menemukan pulau itu lebih mudah.” Kata Nala.


“Akan aku coba.” Kata Batari Mahadewi. Perempuan cantik itu kemudian membuka kembali dua puluh indera dalam tubuhnya untuk bisa menangkap segala hal dengan lebih jelas lagi. Ia melesat ke atas dan memandang ke sekeliling dari langit. Namun ia segera turun dengan raut wajah penuh kewaspadaan.


“Ada apa, Tari?” tanya Nala.


“Ada sesuatu dari dalam laut yang mendekat ke arah kita. Jumlahnya sangat banyak.” Jawab Batari Mahadewi.

__ADS_1


__ADS_2