Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 56 Dialah Pendekar Sungai Darah


__ADS_3

Niken tak ingin menggunakan jurus barunya untuk mengawali pertarungan itu. Ia ingin menguji kemampuan lamanya untuk menghadapi pendekar perempuan yang belum ia kenal itu. Kristal es mulai terbentuk dan berputar mengelilingi tubuh Niken.


“Oh, rupanya kamu pendekar es. Baiklah, coba tangkis serangan ini.” Pendekar perempuan itu merentangkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu, air sungai di belakangnya terangkat naik, membentuk lima pilar air yang menari-nari.


“Sebelum aku membunuhmu, siapa namamu?” Tanya Niken.


“Aku pendekar Sungai Darah. Hari ini aku akan mewarnai sungai ini dengan darahmu.” Pendekar Sungai Darah itu mengerahkan pilar-pilar air itu ke arah Niken. Pilar-pilar air yang bergerak layaknya naga menari itu dengan ganas menyerang Niken.


Niken dengan cepat menghindari serangan-serangan itu, lalu ia menyalurkan hawa beku yang kuat dan mengubah naga-naga air itu menjadi patung es. Tapi dalam sekejab, puluhan naga air lainnya memburu Niken yang dengan lincah menghindari serangan itu seperti kupu-kupu yang menari di atas bebatuan.


‘Tempat ini sangat tidak menguntungkan bagiku. Aku harus memancingnya menjauh dari sungai.’ Batin Niken. Ia lalu mundur beberapa lompatan untuk menjauh dari sungai. Naga-naga air itu terus mengejarnya. ‘Seharusnya, jika pendekar Sungai Darah terus melakukan serangan itu, tenaganya akan cepat terkuras habis.’ Batin Niken.


“Jangan lari kau pembual, mana jurus Syair Kematian yang kau katakan itu.” Tanya pendekar Sungai Darah. Ia tahu bahwa tak ada seorangpun yang diangkat murid oleh pendekar Syair Kematian, sehingga ia yakin Niken hanya membual. Namun ia tak bisa meremehkan Niken karena ia adalah seorang pendekar es.


“Kemarilah. Aku ingin tahu apakah kau bisa bertarung di dalam hutan.” Pancing Niken. Pendekar Sungai Darah memenuhi tantangan itu. Ia melesat cepat ke arah Niken sambil beberapa kali mengerahkan pukulan beracun. Energinya yang hitam pekat dan mengandung racun itu mengepung Niken yang mencoba terus melenting dari satu pohon ke pohon lain untuk membuat pendekar Sungai Darah itu menjauh dari sungai.

__ADS_1


Jurus racun itu sangat kuat. Dedaunan dan rerumputan yang terkena jurus itu langsung berubah warna menjadi coklat dan kering. ‘Pendekar ini tak hanya mahir mengendalikan air sungai, tapi juga merupakan pendekar racun yang berbahaya.’ Batin Niken.


Niken tak mau terus terdesak, ia melompat tinggi lalu membuat hujan kristal es yang menghujam ke arah pendekar Sungai Darah. Serangan balik itu sedikit mengejutkan bagi pendekar Sungai Darah. Ia menciptakan perisai energi untuk menangkis butiran es tajam yang menghunus ke arahnya itu.


Niken tak mau berhenti di sana, ia menggerakkan butiran es yang berjatuhan di sekitar pendekar Sungai Darah, lalu mengurung pendekar itu dengan gundukan es. Ia menambahkan energinya untuk memadatkan butiran es itu. Pendekar Sungai Darah terlihat seperti sedang terkurung dalam bola es raksasa. Ia tak bisa bergerak, dan hanya bertahan dengan perisai energinya.


Bola es itu berubah warna menjadi hitam. Pendekar Sungai Darah mengerahkan energinya untuk menghancurkan bola es yang mengurungnya itu. “Hahaha…hebat juga kau pendekar muda. Baiklah, kita sudahi pemanasan ini. Sekarang bersiaplah menerima seranganku, jurus Sungai Darah.


Tubuh pendekar Sungai Darah perlahan berubah. Mula-mula ia kulitnya berubah warna menjadi semerah darah, lalu kemudian tubuhnya membesar dan berubah bentuk menjadi seekor naga darah yang mengerikan sekaligus menjijikkan.


Tanpa banyak membuang waktu, Niken menghembuskan hawa dingin yang sangat kuat ke arah naga darah itu. Apapun yang berada dalam jangkauannya berubah menjadi es. Niken bermaksud membekukan naga darah itu. Namun ia keliru, naga darah itu menciptakan perisai yang mampu menghalau serangan Niken.


Kini situasinya terbalik. Pendekar sungai darah yang telah berubah wujud menjadi naga darah itu mengejar Niken melontarkan beberapa serangan racun dan menggiring Niken untuk terus menghindar ke.arah sungai.


Niken sadar ia telah di giring ke arah sungai. Namun ia tak punya pilihan lain untuk menghindari serangan racun itu dengan kecepatan tinggi. Di tepi sungai, pendekar Sungai darah itu kembali mendapatkan keuntungan. Ia menceburkan tubuhnya ke dalam sungai dan seketika sungai itu berubah warna menjadi merah darah.

__ADS_1


Seperti yang telah Niken bayangkan, setelah sungai itu berubah warna menjadi merah, pendekar Sungai Darah itu menampakkan diri dengan bentuk yang lebih besar lagi. Separuh tubuhnya Nampak dari permukaan air dan separuh lainnya bagaikan sungai itu sendiri.


Niken ingin mencoba peruntungan terakkhirnya untuk menggunakan jurus es miliknya. “Semoga kau bisa bertahan dengan serangan ini, pendekar Sungai Darah.” Niken menghujamkan energi dinginnya ke arah sungai dan membekukannya.


Pendekar Sungai Darah melupakan satu hal, bahwa ia tak bisa menggunakan seluruh energinya untuk menahan serangan itu dan membuat sungai tidak membeku. Kini separuh tubuh pendekar Sungai Darah telah membeku, namun ia tak mau diam saja, ia gunakan sisa-sia usahanya untuk menyerang Niken.


Ia menyemburkan cairan beracun ke arah niken sebanyak yang ia bisa. Niken menghalau serangan itu dengan menciptakan tembok es sebelum akhirnya ia mendur beberapa lompatan ke belakang. Niken tak punya pilihan selain harus menggunakan jurus Nyanyian Pengantar Mimpi, salah satu bentuk baru yang ia ciptakan dari jurus Syair Kematian.


Ketika pendekar Sungai Darah kesulitan bergerak karena sebagin tubuhnya ikut membeku, Niken mulai menyenandungkan suara merdunya dengan energi tinggi. Suara itu menembus ruang ketaksadaran pendekar Sungai Darah, lalu menidurkannya. Tubuhnya berubah bentuk ke wujud semula dan ia tertidur untuk selamanya. Sungai itu tak lagi membeku. Tubuh pendekar Sungai Darah tenggelam dan hanyut bersama aliran sungai itu.


Pertarungan selesai. Niken mampu mengalahkan salah satu pendekar aliran hitam yang memiliki ilmu mengerikan itu. Sepanjang waktu itu, Niken tak menyadari bahwa sepasang mata telah mengawasi pertarungannya sejak awal hingga akhir.


Sedikit banyak, Niken selalu menyesali pertarungan yang telah ia selesaikan. Namun demikianlah jalan pendekar, mereka dilahirkan untuk mencetak sejarah dengan jalan yang pasti menuntut kematian.


‘Maafkan aku, pendekar Sungai Darah. Tapi memang inilah yang kita kehendaki, mencari kematian dalam pertarungan. Memang inilah tujuan kita mengasah diri, menyongsong kematian atau menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kau pendekar aliran hitam pertama yang aku kalahkan dan kuhormati sebagai kstaria.’ Batin Niken. Ia meneruskan perjalanannya ke arah barat, melesat dari satu ranting pohon ke ranting lainnya, menembus hutan sunyi seperti ia menelusuri hatinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2