Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 80 Kota Mutiara Biru


__ADS_3

Hampir sebulan lamanya, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken telah sampai di kota Mutiara Biru yang merupakan bagian barat wilayah Swargadwipa dan menjadi daerah perbatasan dengan wilayah paling timur dari kerajaan Swargabhumi.


Kota Mutiara Biru merupakan kota yang cukup besar dan maju. Berbeda dengan kota-kota di bagian tengah, kota-kota di wilayah perbatasan seperti kota Mutiara Biru sekaligus merupakan pangkalan prajurit penjaga perbatasan.


Kota itu dilengkapi dengan fasilitas militer yang memadai yang tak hanya memiliki persenjataan lengkap, namun juga memiliki prajurit mata-mata yang tersebar dan sebagian menyusup ke wilayah kerajaan Swargabhumi, juga beberapa ahli siasat perang yang ditugaskan untuk menata pertahanan di kota itu.


Dana dari pemerintahan pusat untuk daerah-daerah perbatasan cukup besar. Selain untuk membangun fasilitas militer, juga merupakan dukungan bagi pemerintah kota untuk melangsungkan pemerintahannya. Dengan demikian, tak ada alasan bagi kota-kota perbatasan untuk memberontak dan bergabung dengan kerajaan sebelah. Itulah sebabnya kerajaan Swargadwipa menjadi salah satu kerajaan yang kuat di pulau Mahabhumi.


Ketiga murid Ki Gading Putih sangat terkagum-kagum dengan keanggunan kota Mutiara Biru. Jalu tak pernah diajak ayahnya untuk berkunjung ke kota perbatasan itu dan oleh karenanya, pemandangan di kota Mutiara Biru merupakan hal baru baginya.


Di kota itulah, mereka akan mencari perguruan Lentera Langit dan menyelesaikan tugas mereka. Ada beberapa perguruan aliran putih di kota Mutiara Biru dan perguruan Lentera Langit merupakan perguruan yang terkuat sekaligus merupakan satu-satunya perguruan yang mendapatkan dukungan dana dari pemerintah pusat karena perguruan itu mendedikasikan keberadaannya sebagai penjaga pilar pertahanan bagian barat Swargadwipa.


“Megah sekali kota ini.” Kata Niken terkagum-kagum.

__ADS_1


“Tentu saja, adik. Kerajaan yang kuat harus membangun daerah-daerah pinggiran. Hal ini merupakan strategi untuk menghasilkan beberapa tujuan. Yang pertama, hal ini untuk mengikat kota pinggiran agar tak bergabung dengan kerajaan lain. Kedua, kota pinggiran merupakan wajah dari pemerintahan pusat. Orang wilayah luar Swargadwipa akan melihat kota-kota pinggiran terlebih dahulu sebelum masuk ke daerah tengah. Sehingga, orang akan mengirah bahwa kota di bagian tengah akan lebih megah lagi jika kota pinggiran yang mereka lihat tampak megah. Hal ini merupakan salah satu strategi pertahanan.” Kata Jalu.


“Kakak sepertinya memahami betul cara kerja sistem pemerintahan.” Kata Niken.


“Bagaimana tidak, dulu sebelum aku belajar di padepokan, setiap hari aku belajar seni strategi perang dan ketatanegaraan bersama pamanku.” Kata Jalu.


“Kakak benar-benar akan diharapkan untuk kembali ke kerajaan setelah guru memutuskan bahwa kakak telah cukup belajar di padepokan.” Kata Niken. Hatinya sedikit berdesir ketika mengatakan hal itu.


“Entahlah, tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Nanti saja tapi.” Kata Jalu. Niken sangat penasaran, namun ia tak mau mendesak kakaknya mengatakannya saat itu juga.


Padahal, Batari Mahadewi tak sedang ingin mempelajari atau mengetahui sesuatu. Ia hanya ingin kedua kakaknya menjadi lebih dekat. Itu saja. Ia bisa memahami perasaan cinta yang orang lain alami, namun ia tak merasa pernah mengalami perasaan semacam itu meski alam pikirannya bukanlah alam pikiran anak-anak. Pikirannya sudah lebih dari dewasa untuk sekedar memahami persoalan cinta.


Ketiganya sampai di sebuah taman kota. Hari masih belum terlalu siang dan perut mereka belum terlalu lapar.

__ADS_1


“Bagaimana jika kita beristirahat dahulu di sini?” usul Jalu.


“Aku setuju.” Kata Batari Mahadewi. Dalam benaknya, tempat itu merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Lebih tepatnya untuk sepasang manusia berduaan. Sehingga, ia berencana akan pergi sejenak membiarkan kedua kakaknya berduaan di sana.


“Tempat ini indah sekali. Ada kolam juga di sana, ada taman bunga, ada kebun buah. Kalau begini ceritanya, kita tidak akan istirahat, tapi malah jalan-jalan di sini.” Kata Niken sembari tertawa senang.


“Boleh lah, tapi kita cari dulu tempat yang teduh. Aku ingin berbaring sebentar di atas rumput.” Kata Jalu. Ketiganya mencari tempat bersih di bawah pohon besar dengan batang meliuk-liuk dan tak terlalu banyak daunnya, tapi memiliki bunga berwarna ungu yang melimpah.


“Kak Jalu dan kak Niken, kalian di sini dulu ya, aku mau pergi sebentar mencari makanan. Kupikir, makan siang di tempat ini jauh lebih menyenangkan daripada kita harus makan di kedai yang ramai.” Kata Batari Mahadewi. Tanpa menunggu jawaban dari Niken dan Jalu, ia telah beranjak meninggalkan keduanya.


“Apa yang kak Jalu mau katakana tadi ketika kita masih di jalan?” tanya Niken.


“Soal diriku.” Kata Jalu. Ia kemudian terdiam, menimbang sesuatu dan kalimat apa yang tepat untuk mengungkapkannya. Niken menunggu.

__ADS_1


“Kenapa dengan dirimu?” tanya Niken tak sabaran jika ia melihat raut muka Jalu berubah menjadi sedikit misterius. Jalu tak segera menjawab. Matanya memandang jauh ke cakrawala.


__ADS_2