
Sebelum matahari terbit, sekitar lima ribu pasukan raksasa itu bergerak ke wilayah barat. Mereka terbagi menjadi lima kelompok kecil yang masing-masing berkekuatan seribu raksasa. Mereka menyebar dengan formasi pukat menjaring ikan untuk menghadapi manusia berjiwa iblis yang tersebar di sana.
Begitu para raksasa itu menemukan manusia berjiwa iblis, seketika mereka langsung membantainya, entah hanya satu atau sekumpulan makhluk jadi-jadian itu.
Manusia berjiwa iblis itu sungguh tak berdaya menghadapi serangan bangsa raksasa. Betapa tidak, satu prajurit raksasa idealnya melawan lima belas hingga dua puluh manusia kegelapan. Sementara, dalam serangan itu, para raksasa berjumlah banyak dan menemukan kelompok-kelompok kecil manusia berjiwa iblis yang jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang.
Jelas saja, manusia-manusia iblis itu seperti semut yang diinjak-injak. Tanah bergetar setiap kali bala tentara raksasa itu melangkah. Seharusnya, hal itu bisa menjadi pertanda atas kedatangan mereka. Hanya saja, manusia berjiwa iblis itu sudah tak mengenal lagi rasa takut. Mereka justru mendatangi bahaya, melesat maju seperti orang kesurupan. Ya memang kesurupan sih! Mereka kesurupan jiwa iblis.
Tak sampai sehari, pasukan raksasa itu berhasil membersihkan puluhan ribu pasukan kegelapan yang tersebar di segala penjuru wilayah barat. Menjelang petang, pasukan raksasa itu kembali lagi ke istana, berjaga-jaga jikalau istana mereka akan diserang bangsa iblis di malam hari.
Andhakara tak menyangka bahwa bangsa raksasa akan menyerang duluan. Ia sedikit kesal, sebab seharusnya serangan mereka itu menjadi kesempatan yang bagus untuk menyusup ke wilayah tengah, dan menyebarkan benih jiwa iblis kepada rakyat raksasa yang tinggal di sana.
“Esok hari, pasti mereka akan bergerak lagi. Jika begini terus, lama-kelamaan pasukan kita akan habis sebelum kita menggunakan mereka untuk menyerang wilayah tengah,” kata Andhakara.
“Kenapa kau tak memanggil dan mengumpulkan mereka semua di satu wilayah tertentu? Setidaknya, dari pengamatanku, jumlah manusia yang berhasil kita sisipi jiwa iblis saat ini lebih dari dua juta orang. Jika mereka bersama-sama menyerang raksasa, tentu akan ada hasilnya,” kata Rodya.
__ADS_1
“Siapa hari ini yang sempat melihat pasukan raksasa membantai pasukan kita?” tanya Andhakara. Ia tak bisa berfikir jernih, sebab seharian ini ia lelah terus menerus diganggu Nala.
“Bukankah kita semua hanya ada di istana saja seharian ini, dan tak tahu apa yang sedang terjadi sebelum ada pasukan kita yang melaporkan hal itu?” sahut ratu Ogha.
“Ah, kau benar. Hari ini aku benar-benar kacau. Jiwa Nala sungguh mengganggu sekali. Aku tak bisa membungkamnya, apalagi menyingkirkannya!” ucap Andhakara, “Jika saja waktu itu gadis sialan itu tak menghisap jiwa kegelapanku, maka jiwa Nala dalam tubuh ini sudah kumusnahkan!”
“Bersabarlah, pangeran. Jika kita berhasil, maka kita memiliki cukup kekuatan untuk membuka kembali pintu menuju dunia bawah,” sahut Samara. Ia perempuan iblis yang paling lembut yang ada di sana. Tetapi saat dia marah, barulah ia menjadi sosok iblis yang mengerikan.
“Jika pangeran berkenan, biarkanlah hamba besok memimpin pasukan kegelapan untuk melawan pasukan raksasa itu. Hamba hanya ingin tahu seberapa hebat mereka. Hamba tak akan turun langsung, hanya menyaksikan saja pasukan hitam kita bertempur melawan pasukan raksasa,” kata Bail.
“Baik, tapi kau tak boleh ikut bertempur dan jangan gunakan iblis-iblis lain di dalam tubuhmu. Aku tak ingin kehilangan iblis berdarah murni yang saat ini hanya tersisa sedikit saja. Selagi kau ada di medan perang, aku,Ogha dan Rodya akan menyusup ke wilayah tengah. Aku ingin tahu, apakah kita bisa menyisipkan jiwa kegelapan pada raksasa jelata itu. Sedangkan Yuri, Samara dan kalian anak-anakku semua, kalian kutugaskan untuk pergi ke wilayah lain, mencari tahu di mana saja bangsa raksasa itu mendirikan daerah kekuasaannya,” kata Andhakara.
“Malam ini aku akan mengumpulkan semua manusia kegelapan. Besok, Bail akan membawa mereka ke perbatasan wilayah tengah. Seharusnya mereka akan menyambut kalian,” kata Andhakara.
“Baik, pangeran,” kata Bail memberi hormat.
__ADS_1
Beberapa hari setelah para manusia terjangkit jiwa iblis, keadaan di seluruh wilayah barat memang sangat kacau balau. Setiap orang yang sudah terjangkit tak akan bisa hidup normal layaknya sebelumnya. Mereka lebih parah dari pasukan Tirayamani yang bagaimanapun juga masih memiliki sifat manusia.
Kali ini, manusia terjangkit itu hidup tanpa kesadaran. Beberapa hari sejak pertama mereka kehilangan kesadaran, tubuh mereka perlahan berubah bentuk. Lambat laun, mereka akan sepenuhnya kehilangan tubuh manusia dan beralih ke tubuh iblis. Kelak, mereka akan tumbuh layaknya iblis. Semakin lama, mereka semakin kuat.
Tetapi untuk bisa sekuat Bail, misalnya, mereka butuh waktu ribuan tahun. Sebelum manusia terjangkit jiwa kegelapan itu berusia lebih dari sepuluh tahun, mereka masih akan tampak seperti mayat hidup yang buas, tanpa akal. Setelahnya, kesadaran iblis mereka akan berkembang dan bisa berubah menjadi iblis sempurna, namun tak berdarah murni.
Usai percakapan Andhakara dengan seluruh anggota keluarganya, sang pangeran itu melesat ke langit, ia memancarkan kekuatannya untuk mengundang semua manusia terjangkit dan menyuruh mereka berkumpul menjadi satu di salah satu wilayah barat yang berdekatan dengan perbatasan tengah Siwarkatantra.
Kemudian, sang pangeran menyuruh mereka untuk patuh pada perintah Bail yang telah ada di sana ketika barisan manusia kegelapan itu terus menerus berdatangan dari seluruh penjuru wilayah barat. Jika dihitung, jumlah mereka tak kurang dari dua juta lima ratus orang. Sebuah kekuatan yang luar biasa besar dan berbahaya.
Sementara itu, di kerajaan raksasa, para prajurit raksasa sedang berpesta merayakan keberhasilan mereka dalam perburuan di hari itu. Mereka merasa jumawa, sebab manusia iblis yang mereka taklukkan tak lebih dari remah-remah. Tak satupun dari manusia iblis itu yang berhasil melukai pasukan bangsa raksasa. Mereka mabuk, menari, dan bernyanyi dengan suara yang tak lebih merdu dari jeritan beruk hutan. Sebab, mereka tak tahu, esok hari lawan yang akan mereka hadapi jauh lebih siap dari hari itu.
Keesokan harinya, mereka terbangun dengan malas. Sisa mabuk semalaman masih bergelanyut di kepala mereka. Dengan setengah hati, mereka mulai bersiap lagi untuk berburu manusia iblis. Mereka mulai bergerak lambat keluar dari perbatasan wilayah tengan menuju ke wilayah barat Siwarkatantra. Sangat jauh berbeda dari hari sebelumnya, ketika merika sangat buas dan penuh semangat mencabik-cabik manusia iblis dengan gagahnya.
Di hari itu, hanya setengah pasukan raksasa saja yang dikerahkan. Rasa kantuk dan malas mereka mendadak hilang ketika di depan mereka telah berbaris lautan manusia iblis yang sejak semalam tetap berada di sana untuk menanti datangnya pasukan raksasa. Sudah terlambat jika mau berbalik dan pulang ke istana raksasa.
__ADS_1
Dengan cepat, barisan iblis itu langsung menyerbu, mengeroyok dua ribu lima ratus pasukan raksasa yang sama sekali tak siap dengan sambutan sangat meriah itu. Pertarungan meletus. Dari jauh, Bail hanya menyeringai penuh kemenangan menyaksikan manusia iblis itu membantai pasukan raksasa satu per satu.
Sementara itu, pangeran Andhakara, ratu Ogha, dan Rodya telah masuk di wilayah tengah yang merupakan kekuasaan bangsa raksasa. Selagi mereka masih jauh dari istana kerajaan bangsa raksasa, mereka akan aman-aman saja bereksperimen menyisipkan jiwa iblis ke tubuh raksasa rendahan yang mereka temui.