
Langit di Pulau Luma tampak gelap. Mendung tebal menutup cahaya matahari. Batari Mahadewi dan Nala telah beberapa hari tinggal di pulau itu untuk mengenali hal-hal baru dan di hari yang mendung itu seharusnya mereka berdua akan berangkat menuju pulau Es. Uang yang mereka miliki telah habis mereka sumbangkan kepada manusia-manusia Luma yang terlihat membutuhkan.
“Apakah kita jadi berangkat hari ini?” tanya Nala.
“Ya, meski kita tak menyangka langit akan berubah menjadi gelap dan mungkin sebentar lagi badai akan turun. Tapi hal itu bukan masalah, kan?” jawab Batari mahadewi.
“Tak apa, toh jika kita terbang dengan kecepatan penuh, kita bisa menghindari awan itu.” kata Nala.
“Mungkin kita akan terbang selama beberapa hari untuk bisa mencapai pulau itu. Letaknya berada di ujung dunia tiga rembulan.” Kata Batari Mahadewi.
“Ayo kita berangkat, sebeum hujan turun, dan bekal makananmu akan basah karenanya.” Kata Nala.
Kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu melesat cepat ke angkasa, lalu terbang kea rah selatan dengan kecepatan penuh yang mereka miliki. Tubuh keduanya memancarkan selubung cahaya energi dan jika dilihat dari pulau Luma, keduanya terlihat seperti bintang jatuh yang melintasi dunia, yang menyisakan ekor cahaya berwarna terang.
Kedua pendekar muda itu tak berniat untuk mampir lagi di pulau-pulau lain yang mereka lintasi. Setelah lima hari perjalanan, keduanya merasakan perbedaan suhu yang cukup drastis. Semakin mereka mendekati pulau Es, suhu udara menjadi semakin dingin. Dan cahaya matahari hanya terasa seperti cahaya obor yang remang-remang.
Pulau Es sudah terlihat. Langit yang menaungi pulau itu terlihat berwarna-warni dengan hiasan bintang yang terlihat jelas berserakan di seluruh angkasa. Batari Mahadewi dan Nala mendarat di daratan yang serba putih dan dingin. Keduanya harus terus menerus memancarkan hawa hangat agar tubuh mereka tak membeku. Sejauh mereka memandang, yang terlihat hanyalah hamparan salju dan pegunungan es.
“Apakah menurutmu ada kehidupan di pulau yang dingin seperti ini?” tanya Nala.
__ADS_1
“Ya, aku bisa merasakan pancaran energi yang tipis. Kurasa pemukiman manusia masih jauh dari sini. Sebelum melanjutkan perjalanan, ada baiknya kita memulihkan energi dulu. Kita tak tahu apa yang akan kita alami di pulau ini.” Jawab Batari Mahdewi.
“Inderamu jauh lebih bagus dari yang kumiliki. Aku bahkan belum bisa merasakan pancaran energi dari penghuni pulau ini.” Kata Nala.
“Yang akan menjadi hal sulit adalah menemukan letak sumber energi utama di pulau ini. Jika sumber itu terdapat di dalam goa seperti yang kita temui di pulau Api, maka yang akan kita lakukan mungkin jauh lebih sulit. Aku tahu kenapa kita harus menyerap energi api terlebih dahulu sebelum menyerap energi di pulau Es.” kata Batari Mahadewi.
“Kalau tidak salah, ketika kita masih menyerap energi di dalam goa itu, kakek Zotha sempat meminta bantuan di pulau ini. Namun bantuan tak datang, dan menurutnya pasti ada sesuatu yang terjadi di pulau ini.” Kata Nala.
“Beliau juga mengatakan kalau jumlah penduduk di pulau ini tidaklah banyak serta menemukan keberadaan mereka bukanlah hal yang mudah. Katanya, tubuh mereka menyerupai salju yang putih ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Yang pasti, aku yakin penghuni pulau ini adalah manusia-manusia yang tangguh.” Kata Nala.
Setelah keduanya selesai memulihkan energi, keduanya melanjutkan perjalanan dengan cara terbang. Hanya dengan cara itu saja keduanya bisa dengan mudah menemukan pemukiman manusia pulau Es. Hampir seperempat hari waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai sebuah gunung es yang berbentuk seperti kristal bening. Pada dinding-dinding gunung itu terdapat anak tangga yang bercabang-cabang dari bawah menuju ke atas dan setiap cabang akan terhubung ke lubang-lubang besar yang dibentuk sedemikian rupa.
“Aku tak tahu, dan aku tak merasakan pancaran energi di tempat ini. Ada baiknya kita periksa dengan memasuki salah satu dari lubang itu.” kata Batari Mahadewi.
Keduanya mendekat ke arah gunung, mendarat di anak tangga yang ternyata berukuran lebar. Keduanya berjalan mendekati ke sebuah lubang yang bentuknya seperti pintu rumah dan di dinding-dindingnya terdapat pahatan yang membentuk ukiran indah dan beberapa diantaranya adalah patung-patung es yang tak akan pernah mencair.
“Permisi.” Kata Batari Mahadewi mengucap salam sebelum ia dan Nala mencoba masuk ke dalam.
__ADS_1
“Sepertinya tempat ini memang sudah ditinggalkan penghuninya.” Kata Nala, “tak ada salahnya kita mencoba masuk ke dalam.”
Batari Mahadewi dan Nala masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu ternyata di desain sedemikian rupa menjadi tempat tinggal yang nyaman. Terdapat berbagai perabotan seperti meja, kursi, dan lainnya yang bentuknya sama dengan pulau-pulau lain, hanya saja semua perabotan itu berbahan es bening yang sangat keras dan tak akan pernah mencair, kecuali jika dialirkan dengan hawa panas.
“Aku tak menyangka ada tempat seperti ini. Bagaimana mereka bisa hidup dengan cara seperti ini?!” ujar Batari Mahadewi.
“Yang membuat aku penasaran, kenapa mereka tinggal di tempat seperti ini. Seharusnya ada alasannya, dan salah satu alasan yang paling masuk akal adalah, mereka hanya bisa tinggal di tempat dingin seperti ini, entah bagaimana caranya.” Kata Nala.
“Ayo kita pergi saja dari sini. Kurasa kita tak akan menemukan apapun di sini.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya melangkah keluar. Namun ketika mereka hendak beranjak dan meluncur ke angkasa, sosok nenek tua dengan tubuh serba putih keluar dari salah satu rumah di gunung itu. Nenek itu memandang keduanya dengan tatapan heran, lalu melambaikan tangannya ke arah Nala dan Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi dan Nala mendatangi nenek itu. Wujudnya sama dengan manusia di dunia satu rembulan, namun seluruh tubuhnya hingga rambutnya berwarna putih menyerupai salju. Bahkan pakaiannya terbuat dari salju yang seolah menempel begitu saja di tubuhnya dan tak mau lepas. Nenek itu tak bisa memyembunyikan kharisma kekuatannya meski ia sama sekali tak memancarkan energi, sehingga Batari Mahadewi pun tak menduga bahwa nenek itu ada di sana.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya nenek itu ketika Batari Mahadewi dan Nala sudah cukup dekat dengannya.
“Kami baru saja tiba di pulau ini, nenek, sebelumnya kami dari pulau Api dan singgah sebentar di pulau Luma lalu akhirnya kami ke sini.” Jawab Batari Mahadewi.
“Tapi sepertinya kalian bukan manusia pulau Api meski bentuk telinga dan pacaran energi api kalian sama dengan orang-orang sana.” Kata Nenek itu sembari mencoba membaca kedua anak muda yang ada di hadapannya itu. “Mari masuk ke dalam, tak aman jika kalian ada di luar.”
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah sang nenek. Sang nenek yang berjalan membungkuk karena usianya telah terlalu tua itu mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi es yang dingin. Tak ada hidangan apapun yang tersedia.
__ADS_1
“Nenek bilang kalau di sini tak aman, apa yang sedang terjadi nek?” tanya Batari Mahadewi.
“Sudah setahun ini, semua orang mengungsi ke pusat kota. Satu makhluk bernama Vauran telah bangkit dari kematian. Dia adalah monster yang paling ditakuti di pulau ini sejak ribuan tahun yang lalu. Bentuknya sebenarnya tidak menakutkan, ia adalah seorang putri cantik dengan tubuh yang dipenuhi bulu-bulu putih dan ia memiliki sepasang sayap di punggungnya. Hanya saja, dibalik kecantikannya, ia adalah monster yang berbahaya, setidaknya bagi kaum lelaki. Vauran hanya memakan manusia laki-laki di pulau Es. Jadi berhati-hatilah.” Kata nenek itu sembari memandang ke arah Nala.