Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 327 Sepasang Pendekar Api dan Es Berburu Raksasa


__ADS_3

Para raksasa itu meraung keras ketika pukulan-pukulan berkekuatan besar menerjang tubuh mereka. Semakin cepat raksasa itu mati, maka semakin bagus. Yang dikhawatirkan adalah, teriakan mereka akan mengundang kedatangan jumlah raksasa yang lebih banyak lagi.


Jalu segera meluncur turun setelah yang dinantikan telah datang. Ia segera melesat ke arah salah satu raksasa yang baru saja terpental akibat pukulan dari Cendana.


“Makan ini!” kata Jalu menjejalkan pukulan bola api ketika raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar hendak meraung keras. Seketika mulut itu terbakar. Andaikan ia selamat, ia tak akan pernah lagi bisa meraung. Sayangnya, ia harus mati setelah Jalu dengan cepat mendaratkan pukulan matahari tepat di dadanya.


Raksasa itu terpental dan mati dengan satu titik di bagian dadanya yang telah hangus, dan organ dalam yang mungkin telah matang.


Pertarungan Niken tak kelah seru dan cepat. Nyanyian pengantar mimpinya telah menumbangkan tiga raksasa bersamaan. Sudah lama sekali gadis tapak es itu tak menggunakan jurus maut yang ia pelajari dari pendekar Sajak Kematian yang kini keberadaan pendekar itu entah di mana. Begitu tiga raksasa itu menari-nari tanpa kesadaran, Niken mengakhiri mereka dengan pukulan es yang membuat seluruh tubuh mereka membeku sempurna.


Buyung, sang kakak yang telah menjadi lelaki terkuat dalam tim itu sejak Batari Mahadewi dan Nala menanamkan banyak sekali mustika, berhasil membuat sepuluh raksasa itu bunuh diri setelah kesadaran dan pikiran mereka telah dikuasai oleh murid pertama Ki Gading Putih itu. Sungguh jurus yang tak kalah mengerikan dari nyanyian pengantar mimpi milik Niken.


Sementara itu, Vidyana membunuh dua raksasa dengan raksasa batu ciptaannya, lalu raksasa yang tersisa telah dibereskan oleh Anjani, Pradipa, dan Cendana.


Setelah itu, mayat dua puluh raksasa itu di tumpuk menjadi satu, kemudian dibakar oleh Jalu hingga tulang-tulang merekapun menjadi abu. Pembunuhan itu tak meninggalkan jejak yang dapat dikenali oleh para raksasa bodoh lainnya atau para ksatria raksasa yang sedang berpatroli.


“Ternyata tak sulit melawan mereka,” ujar Pradipa kepada yang lain saat mereka sedang berkumpul di depan api unggun kecil yang mereka buat.


“Jangan salah, yang kita hadapi adalah raksasa biasa, bukan raksasa yang memiliki ilmu bertarung. Akan jadi lain jika kita melawan raksasa yang memiliki kesaktian seperti yang kita miliki. Jadi, jangan sampai kita lengah. Kita masih akan berjaga di pos ini entah sampai kapan. Semakin hari, jumlah raksasa yang bergerak ke arah barat semakin banyak.” Buyung memperingatkan.


“Aku tak mengira, rencana kak Buyung memancing raksasa itu dengan api cukup berhasil,” kata Jalu.


“Kau cukup menarik perhatian di atas sana,” ujar Buyung.


“Aku bisa melakukannya setiap malam. Jika begini terus, lama-lama bangsa raksasa pasti habis.”


“Tidak, kita tak boleh melakukannya setiap hari. Sebodoh-bodohnya raksasa itu, mereka masih ada kemampuan untuk berfikir. Jangan sampai cara memancing seperti yang baru saja kita lakukan justru menjadi senjata makan tuan,” kata Buyung.

__ADS_1


“Kurasa kak Buyung benar. Jika ingin memancing dengan cara yang sama, ada baiknya kita lakukan itu di tempat lain. Tak masalah bagi kita sebenarnya, tapi bisa jadi masalah untuk kelompok lain. Kak Buyung, apakah memungkinkan jika sesekali kita mendekat ke wilayah mereka?” tanya Pradipa. Selain Buyung, Pradipa juga suka bermain strategi perang.


“Masih mungkin, asalkan kita pantau dahulu medan yang akan kita gunakan. Dengan kemampuan mereka yang seperti itu, kita masih bisa melawan tiga puluh sampai empat puluh raksasa dalam satu pertempuran. Dengan catatan, tak ada ksatria raksasa di antara mereka. Pradipa telah beberapa kali melakukan pengintaian, apakah yang lain juga ingin mendapatkan tugas itu?” tanya Buyung.


“Ya, aku dan Niken juga ingin jalan-jalan.” Jalu tampak bersemangat.


“Kalau begitu, kau lakukan besok pagi. Malam ini kita beristirahat saja di sini.”


“Baik, kak. Besok pagi-pagi benar aku dan Niken akan memantau mereka,” kata Jalu.


“Jangan lupa satu hal, Jalu! Jangan pernah mendekati area kota atau desa. Bangsa raksasa itu menempati wilayah itu. Jumlah mereka terlalu banyak. Ingat, tugas kita hanyalah membantai raksasa yang merambah ke wilayah barat. Jika kita mengusik kenyamanan mereka, maka kita akan menyulut perang. Saat ini kita tak siap menghadapi mereka jika mereka marah dan mulai menyerang manusia,” kata Pradipa.


“Baik, kakak. Kami akan tidak akan mendekat ke sana,” kata Jalu.


Keesokan paginya, Jalu dan Niken meluncur ke arah timur menembus hutan yang lebat hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah bukit berbatu yang jarang di tumbuhi oleh pepohonan. Mereka berdua menjumpai beberapa mayat manusia yang hanya tinggal kepala dan tulang belulangnya, menumpuk di satu tempat. Belum ada bau busuk. Artinya mayat itu masih segar.


“Ini sepertinya perbuatan raksasa. Jika tidak, maka tak mungkin tulang-tulangnya menumpuk rapi di situ,” ujar Niken.


“Sepertinya mereka makan apapun kecuali teman mereka sendiri. Jika dilihat dari jumlah kepala manusia di sini, mereka pasti berkelompok dengan jumlah lebih dari lima,” kata Niken.


“Atau lebih. Ini ada tiga kepala. Satu raksasa mungkin butuh separuh daging manusia untuk mengisi perut mereka. Tetapi pertanyaannya adalah, dimana mereka saat ini?” ujar Jalu.


“Entahlah, bisa jadi mereka adalah raksasa yang semalam terpancing datang ke tempat kita. Jika mereka sedang ada di bukit ini semalam, sudah pasti mereka bisa melihat tubuhmu dengan jelas, lalu datang mencarimu. Makanya mayat-mayat ini masih terlihat baru.” Kata Niken.


“Benar juga. Bagaimana jika kita naik ke bukit ini dan melihat ada apa di baliknya?” tanya Jalu.


“Aku juga berfikir begitu. Ayo!” mereka berdua melesat menuju ke puncak bukit. Mereka tak berani terang-terangan terbang di siang hari, khawatir jika ada kelompok raksasa dalam jumlah banyak yang melihat mereka.

__ADS_1


Di puncak bukit itu, Jalu dan Niken melihat sebuah desa kecil yang berderet memanjang di sekitar sungai. Di seberang sungai juga ada desa lainnya. Setelah itu hutan yang tak terlalu lebat, lalu sebuah kota yang cukup besar setelahnya.


Belum terlihat tanda-tanda adanya raksasa di sekitar bukit berbatu itu.


“Mungkinkah mereka tinggal di rumah-rumah desa itu? sepertinya tidak! Tubuh mereka besar dan rumah semacam itu terlalu kecil dan pendek untuk mereka. Mungkin Pradipa salah lihat atau hanya kebetulan saja melihat raksasa itu ada di desa untuk memburu manusia yang mungkin masih ada beberapa yang tinggal di sana,” kata Jalu.


“Masuk akal. Apakah kita akan mencoba menelusuri desa itu dan mencari tahu kebenarannya?” tanya Niken.


“Sebaiknya begitu, kita hanya perlu berhati-hati melewati hutan itu sebelum sampai di desa. Firasatku mengatakan bahwa banyak raksasa yang tinggal di sana untuk memangsa binatang,” kata Jalu.


“Sepertinya mereka lebih senang tinggal di hutan daripada membangun rumah mereka sendiri ya?!” ujar Niken.


“Tampaknya begitu, hahaha. Ayo kita berangkat!” Jalu dan Niken kembali melesat menuruni bukit berbatu itu dan kembali menelusuri hutan dengan lebih hati-hati.


Keduanya mendengar suara riuh yang ada di tengah hutan. Seperti suara sekelompok raksasa yang sedang bercakap-cakap.


Jalu dan Niken menuruti insting mereka, bergerak mendekat ke arah sumber suara itu. Semakin dekat semakin jelas suara yang mereka dengar. Jalu memberi isyarat kepada Niken untuk naik ke atas pohon besar yang rimbun. Dari pohon itulah, mereka bisa melihat delapan raksasa yang sedang berkumpul sembari menyantap seekor gajah serta berbagai jenis buah yang mungkin diperoleh dari hutan.


Di atas pohon itu, Jalu dan Niken berbincang lirih. “Apakah kita akan menyerang mereka?”


“Di sekitar sini hanya ada mereka saja. Aku tak melihat tanda-tanda adanya kelompok yang lain. Jika kita menyerang, sepertinya mereka tak sulit dihadapi. Hanya para raksasa jelata. Mungkin yang berbadan paling besar itulah yang berbahaya. Kita mendekat saja, lalu kau serang mereka dengan hujan es, setelah itu aku akan membakar mereka semua!” kata Jalu.


“Baik, kakak.”


Mereka melesat dari satu pohon ke pohon lainnya untuk semakin mendekati gerombolan raksasa itu. Para raksasa itu tak menyadari kehadiran Jalu dan Niken di salah satu pohon rimbun di atas mereka berkumpul.


Niken mengerahkan hawa dingin yang pekat dan terciptalah serpihan es tajam berbentuk seperti pisau-pisau kecil. Lalu ia menghentakkan serpihan es tajam itu untuk menghujani para raksasa yang ada di bawahnya itu.

__ADS_1


Serpihan es itu meluncur dengan cepat dan menancap di tubuh para raksasa itu. Seketika mereka kaget dan meraung keras karena kesakitan. Hanya satu raksasa yang berbadan paling besar itu saja yang kulitnya tak bisa ditembus. Raksasa paling besar itu tak memiliki tenaga dalam, tak menciptakan perisai energi dan bahkan tak menyadari kehadiran Niken dan Jalu. Hanya saja, kulit hitamnya itu terlihat tebal dan keras.


Berikutnya, Jalu langsung menguhujani mereka dengan bola-bola api dan tak membiarkan para raksasa itu lari. Jalu dan Niken langsung melesat ke bawah, menyerang para raksasa yang kocar-kacir dan kebingungan itu dengan ayunan senjata pusaka pemberian Batari Mahadewi dan Nala. Pedang mereka bisa dengan mudah menebas putus tubuh para raksasa itu, tak terkecuali si raksasa hitam dan besar, pemimpin dari gerombolan itu.


__ADS_2