Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 155 Melawan Varak


__ADS_3

Setelah mengikuti lorong jalur magma yang panas dan berliku-liku, akhirnya Batari Mahadewi dan Nala berhasil keluar melalui mulut gunung api di sebelah timur pusat kota pulau Api. Keempat gunung itu baru saja meletus bersamaan dan membuat keadaan pusat Kota itu semakin terlihat buruk.


“Kenapa kota itu terlihat berasap dan banyak api di mana-mana? Apakah letusan gunung ini berakibat separah itu?” kata Nala.


“Nala, coba rasakan pancaran energi yang besar ini. Kota itu sedang di serang, Nala, bukan karena letusan gunung, ayo kita segera ke sana!” kata Batari Mahadewi. Keduanya langsung melesat cepat ke pusat kota dan melihat sosok menyeramkan sedang membantai ribuan prajurit kerajaan.


Zotha baru saja terkena pukulan yang mengerikan sehingga kakek tua itu jatuh dan muntah darah. Sementara, beberapa penjaga kuil Api Suci telah mati, dan sisanya masih bertarung bersama para prajurit yang tersisa.


Varak menangkap pancaran energi kedatangan Batari Mahadewi dan Nala. Wajah menyeramkan itu menyeringai, namun sesungguhnya ia bermaksud untuk tersenyum dan sampai kapanpun, tak ada makhluk di dunia tiga rembulan yang bisa menafsirkan bahwa seringai Varak adalah senyuman yang menandakan hatinya senang.


Kedatangan Batari Mahadewi berbarengan dengan datangnya Raja dan Panglima tertinggi pulau Api beserta beberapa prajurit khusus. Kekuatan keduanya berada sedikit di bawah kekuatan Zotha, manusia terkuat di pulau Api. Sang Raja tak bisa terus menerus bersembunyi meski ia tahu ia akan kalah jika berhadapan dengan Varak.


Batari Mahadewi dan Nala tak langsung menyerang Varak. Keduanya melesat menuju arah kakek tua yang sedang memulihkan diri itu. dengan tangkas, Batari Mahadewi dan Nala menyalurkan energinya untuk memulihkan kondisi Zotha. Melihat hal itu, Varak tak mau tinggal diam. Ia melesat juga kea rah Zotha, namun Raja pulau Api dan para bawahannya segera menghalanginya.


Hanya dengan sekali kibasan tangan, Raja Api dan pengikutnya itu terpental jauh, senasib dengan Zotha. Varak mendarat tepat di depan Batari Mahadewi dan Nala yang tampak tak peduli dengan makhluk itu dan keduanya lebih mementingkan untuk memulihkan Zotha secepatnya.


“Kembalikan pedang perak yang kau simpan dalam tubuhmu itu!” kata Varak.

__ADS_1


“Kau berbicara denganku?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, denganmu. Hmm…menarik sekali, kau tak tampak takut sedikitpun!” kata Varak.


“Tunggu sebentar, aku akan memberikan pertarungan yang tak akan kau lupakan.” Kata Batari Mahadewi. “Lagipula, aku tak pernah mengambil pedangmu. Aku juga tak bisa mengeluarkannya dari tubuhku. Jadi kau bisa mengambilnya jika kau membunuhku.” Lanjut Batari mahadewi tanpa rasa takut sedikitpun, meski ia tak benar-benar tahu seberapa besar kekuatan Varak.


Varakpun demikian, ia tak tahu perkembangan apa yang telah dialami oleh Batari Mahadewi dan Nala sebab kedua pendekar dunia satu rembulan itu belum menunjukkan kekuatan mereka.


“Kalian sungguh percaya diri.” Varak melontarkan sorot energi dari ujung jarinya. Pijaran energi seperti sinar laser berwarna perak itu meluncur cepat ke arah Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu hanya menangkis serangan itu dengan tepisan telapak tangannya dan membuat serangan Varak berbelok arah mengenai sebuah bangunan bertembok besi. Bangunan itu hancur berkeping-keping.


Akhirnya Varak tahu kenapa gadis di depannya itu begitu percaya diri. Oleh karena itu, ia mau menunggu. Sesaat kemudian, Batari Mahadewi dan Nala berdiri berhadapan dengan Varak. Zotha mengambil jarak di belakang kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu.


Batari Mahadewi dan Nala memancarkan energinya. Tubuh kedua pendekar itu berubah menjadi tubuh api berwarna hitam kebiru-biruan, menandakan keduanya telah berhasil mencapai puncak kekuatan dari tubuh api. Zotha begitu terpukau menyaksikan perubahan yang luar biasa itu. sebab, sebagai manusia terkuat di pulau api, kakek tua itu hanya bisa memancarkan warna api biru ketika ia berubah menjadi manusia api.


“Kau yakin mau menantang kami berdua?” tanya Batari Mahadewi.


“Dari mana kalian mendapatkan kekuatan itu? Baiklah, ini akan menjadi pertarungan yang menarik.” Kata Varak sembari memancarkan seluruh kekuatannya. Tubuh Varak memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata. Sepasang sayap peraknya mengepak satu kali dan membuat tubuh berwarna perak itu melesat ke angkasa. Dari atas sana, Varak menghujani Batari Mahadewi dan Nala dengan bola-bola energi.

__ADS_1


Hujan serangan itu hanya meledak di sekitar perisai energi yang diciptakan Batari Mahadewi dan Nala. Ledakan itu menciptakan ceruk yang dalam.


“Kau mau mencoba terlebih dahulu kemampuanmu, Tari?” tanya Nala.


“Baiklah, aku akan ke atas. Jika aku kalah, jangan sungkan-sungkan untuk menyerang makhluk itu.” kata Batari Mahadewi. Gadis itu melesat cepat ke langit, menyerang Varak dengan kecepatan tinggi. Keduanya bertukar ratusan jurus dalam waktu yang singkat.


Meski tubuh Varak jauh lebih besar, namun ia masih bisa bergerak dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali pukulan gadis jelmaan pusaka dewa itu mengenai tubuh Varak. Tapi tubuh Varak yang sangat keras itu tak mengalami cidera sedikitpun. Bahkan ketika kuku-kuku Batari Mahadewi yang tajam itu menyayatnya.


“Kau tak mau mencoba menggunakan kekuatanmu untuk melukai tubuhku?” tantang Varak.


“Kalau begitu, cobalah yang ini!” Batari Mahadewi melontarkan pukulan Matahari dengan kecepatan cahaya. Varak sengaja menerima begitu saja pukulan itu. ledakan besar terjadi di langit ketika telapak tangan Batari mahadewi berhasil memukul dada Varak. Setelah kepulan asap hitam hilang tersapu angin, lubang di dada Varak akibat jurus pukulan Matahari bisa terlihat jelas. Namun lubang itu perlahan menutup kembali.


Batari Mahadewi tidak kaget dengan hal itu. Hanya saja, ia bingung mencari cara untuk memusnahkan lawannya itu.


“Hahaha, pukulanmu sangat menggelikan, nona api. Sekarang giliranku.” Varak mengayunkan tangan kanannya ke arah Batari Mahadewi. Gadis itu menangkis serangan Varak dengan menyilangkan kedua lengannya. Pukulan varak menimbulkan ledakan besar yang membuat Batari Mahadewi terpental jauh ke belakang.


Nala yang melihat Batari Mahadewi terpental jauh tak bisa lagi menahan diri untuk hanya menonton. Nala berubah wujud menjadi lahar berwarna hitam kebiruan yang melesat cepat ke angkasa. Lahar itu terpecah menjadi empat bagian, dan tiap-tiap bagian bergerak cepat menyerang Varak.

__ADS_1


Monster bertubuh dan bersayap perak itu bergerak cepat menghindari serangan-serangan Nala. Sesekali Varak melontarkan pukulan energi yang meluncur jauh ke arah Nala. Pukulan-pukulan itu hanya sejenak membuat tubuh Nala yang berwujud lahar gunung api itu tercerai berai, dan dalam waktu singkat pula, serpihan tubuh Nala menyatu kembali menjadi bentuk yang lain.


Ketika Nala berhasil mengalihkan perhatian Varak untuk menyerangnya, Batari Mahadewi tiba-tiba telah berada di belakang Varak dengan menggunakan jurus perpindahan tubuh, lalu gadis itu menghujamkan pukulan tapak petir dengan menggunakan kekuatan apinya. Jurus tapak petir itu menjadi puluhan kali lebih berbahaya dari sebelumnya.


__ADS_2