Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 106 Mereka Menyerang! #3


__ADS_3

Di sisi timur, Jalu dan Niken berduel dengan pendekar Harimau Merah dan Raja Sihir. Pendekar harimau merah itu secara pribadi menyimpan dendam kepada Jalu yang telah membunuh adiknya, sang Harimau Hitam di perguruan Pedang Suci.


“Kini kita bertemu, anak muda. Sayang sekali aku tak sempat membunuhmu di danau Rembulan Merah. Kau yang telah membunuh adikku, Harimau Hitam, bukan?!” kata Harimau Merah.


“Kau beruntung adikku membiarkanmu lolos saat itu. Saat ini aku yakin, gadis kecil yang mengampunimu itu sudah membantai puluhan pendekar di sisi selatan. Kau tak mengira kami ada di sini, bukan!” kata Jalu.


“Bedebah, kau! Baiklah, mari kita bertarung.” Pendekar harimau merah memancarkan energinya. Tubuhnya bergetar ketika wajahnya berubah menjadi wajah seekor harimau dengan taring panjang dan mata menyala merah. Air liurnya menetes-netes seolah monster itu melihat mangsa yang enak. Bentuk tangan dan kakinya mengalami perubahan, perlahan membesar dan ditumbuhi bulu berwarna merah, kuku-kukunya berubah menjadi runcing dan sekikit panjang.


Jalu tak tinggal diam, ia mengubah seluruh tubuhnya menjadi bara api yang panas, sebuah cambuk api dari pancaran tenaga dalamnya memancar dari tangan kanannya. “Aku akan membunuhmu seperti aku telah membunuh adikmu.” Kata Jalu.


Keduanya bertarung, bertukar puluhan atau bahkan ratusan jurus dengan kecepatan tinggi, di tanah, di udara, di atap rumah, dan seseali benturan jurus kedua pendekar itu menghasilkan bunyi yang menggelegar.


Sementara itu, pada waktu yang sama, tak jauh dari tempat Jalu dan Harimau Merah bertarung, Niken telah bertukar sekian puluh jurus dengan pendekar Raja Sihir. Beberapa monster ilusi yng diciptakan pendekar aliran hitam itu terus menyerang Niken dengan kecepatan tinggi, seolah monster-monster itu nyata, dan bahkan mengerang keras ketika Niken berhasil menghujamkan serangan-serangan es ke tubuh mereka.

__ADS_1


Raja Sihir masih terdiam berdiri, mengalirkan tenaganya untuk menggerakkan monster-monster ciptaannya itu. Niken cukup kesulitan ketika serangan yang ia lakukan tak bisa membunuh monster-monster yang menyerangnya itu. Setiap kali tubuh monster-monster itu terpotong, mereka akan hidup kembali.


‘Aku harus bisa melumpuhkan pendekar itu secepatnya, jika tidak, boneka-boneka mengerikan ini akan terus menyerangku.’ Batin Niken. Kekasih pendekar Tubuh Api itu mengerahkan energinya lebih banyak lagi untuk menciptakan serangan hujan es dalam jumlah besar. Ketika monster-monster itu sibuk menerima hadiah dari Niken, perempuan cantik nan dingin itu melesat cepat ke arah Raja Sihir sembari menghujamkan pukulan Tapak Es.


Raja Sihir menahan serangn itu dengan pukulan Tapak Kematian melalui tangan kanannya. Kedua tangan yang telah dialiri tenaga dalam tinggi itu bertemu. Keduanya terpental setelah dentuman besar tercipta dari benturan energi itu. Niken terguling-guling di tanah beberapa kali, namun dengan tangkas ia segera bangkit dan memulihkan tenaganya secepat yang ia bisa, berjaga-jaga apabila pendekar Raja Sihir itu tiba-tiba menyerangnya.


Sementara itu, Jalu telah berhasil melilit tubuh pendekar Harimau Merah dengan cambuk apinya. Awalnya pimpinan komplotan hitam itu kebingungan untuk melepaskan diri, namun ia memancarkan energinya lebih besar lagi dan berhasil membuyarkan cambuk energi dalam wujud api dari tangan Jalu.


“Jangan banyak omong!!! Rasakan ini!!!” pendekar Harimau Merah mengeluarkan jurus cakar Harimau Pencabut Nyawa. Ia mengayunkan kedua tanggannya seperti sedang mencakar udara, namun gerakannya itu menimbulkan gelombang energi tinggi yang akan mencabik apapun yang ada di depannya. Jalu yang awas dengan serangan itu segera melompat setinggi mungkin ke udara, dan seketika ia membalas serangan itu dengan hujan api dari kedua telapak tangannya.


Belum sempat Jalu menuntaskan serangannya dan mengakhiri pertarungan itu dengan Pukulan Matahari, tiba-tiba dua pendekar aliran hitam lainnya menyerangnya untuk melindungi Harimau Merah dari serangan Jalu.


“Tak kusangka kalian benar-benar pengecut. Baiklah, silahkan maju bersama-sama.” Kata Jalu.

__ADS_1


“Beginilah cara kami bertarung, anak muda.” Dua pendekar aliran hitam itu melontarkan tenaga dalamnya ke arah Jalu. Pukulan yang tak seberapa kuat itu dikembalikan oleh Jalu dengan mudah. Dua pendekar yang menyerang tiba-tiba itu terpental jauh dan muntah darah.


Ketika Jalu menoleh kembali ke tempat Harimau Merah, sosok pemimpin komplotan aliran hitam itu telah lenyap. Dengan menepiskan rasa malu dan rasa bersalah, Harimau Merah telah melarikan diri tanpa diketahui oleh rekan-rekannya.


“Bedebah licik itu!” Jalu bergumam. Ia memandang ke sisi kanannya dan melihat Niken sedang kesulitan menghadapi Raja Sihir yang kemampuannya jauh lebih tinggi dari Harimau Merah. Setidaknya pendekar aliran hitam yang menguasai jurus-jurus ilusi itu telah bertekad akan bertarung sampai mati dalam peperangan malam hari itu. Pukulan Tapak Es Niken sama sekali tak mengenai pendekar Raja Sihir sebab yang Niken lihat hanyalah ilusi belaka.


Begitu Niken dalam kondisi yang kurang baik, pendekar itu menampakkan dirinya dan menghujani Niken dengan serangan-serangan racun yang ia miliki. Niken berlindung di balik perisai es dan belum bisa melakukan serangan balasan. Di saat yang tak diduga, Jalu menghujamkan bola api dari kejauhan. Bola api itu membakar sebagian rambut pendekar Raja Sihir yang terurai panjang yang sering ia gunakan juga sebagai senjata.


“Carilah lawan yang setara denganmu!” kata Jalu. Begitu melihat sosok pemuda itu, Raja Sihir menduga bahwa rekannya, pendekar Harimau Merah, telah tewas. Semangat pendekar aliran hitam itu sedikit mengendur, keyakinannya goyah.


Di saat itulah, Jalu meluncur sambil menghadiahkan pukulan Matahari kea rah Raja sihir. Pendekar ilusi itu menahan pukulan Jalu dengan kedua tangnnya yang ia aliri dengan tenaga dalam. Hasilnya, kedua lengan pendekar ilusi itu hangus terpanggang dan matang hingga ke tulang-tulangnya. Jurus-jurus ilmu Matahari akan jauh lebih dahsyat dampaknya jika yang menggunakannya memiliki karakter tubuh api.


Pendekar ilusi itu menjerit histeris karena rasa sakit yang luar biasa, dan rasa sakit yang lain di dalam hatinya karena telah kehilangan kedua tangannya. Meski ia hidup, ia tak akan lagi menjadi orang yang sama.

__ADS_1


__ADS_2