
Vukku yang tengah mengamuk itu melontarkan pijaran energi berupa cahaya putih dari kedua tanduknya. Cahaya itu mengarah ke pusat kota dan membuat gunung besar yang menjadi pemukiman manusia pulau es itu rusak parah. Beberapa bagian dari gunung itu hancur dan longsor lalu menimbun sebagian warga pulau Es yang masih ada di dalamnya. Sementara, beberapa warga lainnya berbondong-bondong keluar dari masing-masing rumah.
Pada dasarnya, setiap manusia pulau Es memiliki kekuatan dan kesaktian sejak mereka lahir. Di usia kanak-kanak, mereka sudah mahir mengendalikan salju, menggerakkannya atau membentuknya menjadi bentuk-bentuk tertentu. Di usia remaja, para manusia pulau Es sudah harus bisa menciptakan salju dengan energi yang mereka miliki. Mereka akan bertambah kuat hanya jika rajin berlatih dan untuk menjadi petarung, mereka harus belajar secara khusus.
Dalam situasi darurat yang terjadi saat itu, ketika Vukku menghancurkan gunung, para manusia pulau es harus bisa menyelamatkan diri tanpa harus merepotkan orang lain yang bertugas sebagai para petarung.
“Tetua Ebe, kami berdua butuh waktu sejenak untuk memulihkan energi kami. Sebaiknya tetua langsung bergerak ke arah monster besar itu, lalu kami akan segera menyusul.” Kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, aku akan menunggu kalian di sana.” Kata Ebe. Tetua utama pulau Es itu kemudian melesat cepat ke arah Vukku lalu memberikan serangan-serangan beruntun. Vukku yang besar dan lambat itu tak pernah menghindari serangan yang datang ke arahnya. Ia lebih memilih untuk berlindung dengan perisai es, lalu membalas serangan lawannya setiap kali ia memiliki kesempatan. Energinya yang kuat memungkinkan dirinya untuk menciptakan perisai energi yang tahan dengan serangan-serangan berkekuatan besar.
Puluhan petarung pulau Es dan para penjaga kuil suci bahu membahu untuk melawan makhluk besar itu. Mereka menyerang dengan formasi-formasi tertentu, seolah mereka semua telah terlatih dengan jurus-jurus gabungan itu dalam waktu lama sehingga serangan serangan itu tampak rapi dan efisien.
Ketika semua penduduk Pulau Es bahu-membahu memberikan serangan berupa pukulan-pukulan energi, atau menghujani Vukku dengan berbagai jenis senjata yang terbuat dari es, monster besar itu kehilangan ruang untuk bergerak. Ia hanya bertahan karena serangan beretubi-tubi menerpa tubuhnya yang datang dari segala penjuru.
Akan tetapi, para manusia pulau Es juga tak mungkin menyerang makhluk itu secara terus menerus karena setiap serangan membutuhkan energi, dan untuk memulihkan energi membutuhkan waktu. Pertarungan semacam itu hanya soal waktu; siapa yang bisa bertahan maka ia yang menang.
Batari Mahadewi dan Nala yang telah pulih memberikan serangan api dari atas. Hujan bola api menerjang pertahanan Vukku dan menciptakan ledakan yang besar hingga membuat salju di sekitar Vukku meleleh. Bagi Vukku, bertahan dari serangan es lebih mudah dari pada menahan serangan api, sebab energi yang ia keluarkan untuk menahan hawa panas api itu jauh lebih banyak.
Vukku yang sangat terdesak itu tak punya pilihan lain selain harus menyerang membabi buta dengan membiarkan pertahanannya terbuka dan membiarkan serangan-serangan lainnya mendarat di tubuhnya. Namun harga yang harus di bayar juga setara, meski tubuhnya mendapatkan banyak serangan dari para petarung pulau es, namun dalam sekali serang, sinar energi yang keluar dari ujung tanduk Vukku banyak memakan korban dan menimbulkan kerusakan pada apapun yang di kenainya.
Dengan serangan seperti itu, para petarung pulau Es lebih memilih untuk menghindar atau berlindung karena selanjutnya, Vukku menyerang dengan cara yang sama, mengerahkan seluruh energinya dari kedua tanduknya. Konsekuensinya, Vukku juga kehilangan banyak energi.
“Nala, kita hanya punya satu kesempatan saja dan kuharap kau bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku akan mencoba menyerang makhluk itu dengan jurus pamungkasku, setelah itu mungkin aku kehabisan energi.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Baiklah, ayo kita lakukan. Semoga serangan kita berhasil.” Kata Nala.
“Kau siap, Nala?” tanya Batari ahadewi.
“Ya, aku siap.” Jawab Nala.
Batari mahadewi melesat dalam satu kedipan mata dan tiba-tiba ia sudah ada di depan perut monster besar itu. Dengan tenaga penuh, Batari Mahadewi menghujamkan jurus raga membelah bumi dengan energi api tepat di perut monster itu. Pukulan gadis ajaib itu menimbulkan ledakan besar dan membuat Vukku terpotong menjadi dua.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu langsung ambruk setelah ia mengeluarkan jurus pamungkasnya, dengan cepat Nala menyelesaikan pertarungan. Ia berubah menjadi lumpur api dan membungkus dua bagian tubuh Vukku dengan sangat rapat, lalu membakar makhluk buas itu hingga menjadi abu. Nala kehilangan banyak energi, namun ia masih menyempatkan untuk segera menuju ke tempat Batari Mahadewi yang sedang terbaring di salju. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Nala memulihkan kesadaran gadis sakti itu.
Musnahnya Vauran dan Vukku membuat penduduk pulau es kembali tenang. Setidaknya, mereka bisa kembali ke tempatnya masing-masing dan tak membuat pusat kota menjadi penuh orang.
Gunung besar yang menjadi pusat kota itu telah hancur sebagian. Bahkan pintu masuk kuil suci pulau Es juga telah tertimbun dengan reruntuhan es. Akan tetapi, yang menakjubkan, para penduduk pulau es bisa dengan cepat mengembalikan dan membangun kembali reruntuhan itu seperti sedia kala. Bongkahan es dan salju itu seperti tunduk dengan manusia pulau Es.
####
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Batari Mahadewi dan Nala masih sibuk mempelajari kitab pusaka dari kuil suci. Tetua Ebe selalu menemani latihan yang mereka lakukan secara tertutup di dalam aula kuil suci yang sangat luas, di dalam perut gunung es.
“Kalian belum berhasil sejauh ini. Apakah kalian tahu apa sebabnya?” tanya Ebe.
“Entahlah, kakek, mungkin karena energi panas yang kami miliki membuat kami kesulitan untuk mempelajari ilmu Es.” Jawab Batari Mahadewi.
“Setiap manusia, kecuali manusia pulau es, memiliki energi panas sebagai dasar energinya. Energi es adalah kebalikannya. Kamipun akan mengalami hal yang sama dengan yang kalian alami, atau bahkan, kami tak akan pernah bisa menguasai ilmu api sebagaimana kami tak bisa hidup jika tidak berada di pulau ini.” Kata Ebe.
__ADS_1
“Apakah kakek memiliki solusi untuk mengatasi kesulitan yang kami alami?” tanya Nala.
“Bacalah kembali kitab itu dari awal. Di sana dikatakan bahwa kehidupan mula-mula terbentuk dari hawa dingin. Dengan kata lain, energi yang paling awal justru adalah energi dingin. Maka kalian harus bisa kembali ke titik awal dan menemukan caranya kembali ke sana.” Kata Ebe.
“Jika kehidupan kami saat ini ditopang oleh energi panas, maka bisa dikatakan kalau panas adalah hidup. Jika kami kembali ke titik awal, apakah kami harus mendekati kematian?” tanya Batari Mahadewi.
Ebe berfikir dan mencoba untuk merangkai kembali ingatannya dan pengetahuannya, sebab ia sendiri belum pernah mengalami apa yang sedang dialami oleh Batari Mahadewi dan Nala. Namun ia tahu, bahwa ada manusia yang tak memiliki karakter tubuh es, namun setelahnya bisa memilikinya. Artinya, karakter tubuh bisa diciptakan dan dikembangkan.
“Tubuh manusia yang mati adalah tubuh yang telah kehilangan hawa panasnya. Sementara kami, agar bisa hidup justru tak boleh kehilangan hawa dingin. Kita berbeda. Tapi tubuh manusia seperti yang kalian miliki, justru merupakan tubuh yang istimewa. Tubuh kalian memiliki semua unsur energi. Setiap unsur itu tak akan saling meniadakan, namun saling menopang. Yang kalian butuhkan hanyalah jalan agar tubuh kalian bisa menyerap dan menghasilkan energi dingin.” Kata Ebe.
Batari Mahadewi teringat kepada Jalu dan Niken. Kedua kakaknya itu memiliki karakter tubuh yang berbeda dan karakter tubuh itu telah ada sejak mereka dilahirkan sehingga setelahnya, mereka hanya mengembangkannya saja. Sementara, ia dan Nala harus mencarinya terlebih dahulu, atau mungkin mengubah, atau menciptakan, atau… gadis jelmaan pusaka dewa itu masi belum mendapatkan jawaban.
“Bagaimana jika kalian mencoba latihan ini dengan cara lain?” Ebe mencoba memberikan pilihan lain.
“Cara yang bagaimanakah, kakek?” tanya Nala.
“Kalian bisa memulainya dengan melakukan meditasi di ruangan suci kami.” Kata Ebe.
“Kami mau mencobanya, kakek.” Kata Batari Mahadewi.
“Kalau begitu mari ikuti aku.” Kata Ebe. Ia melangkahkan kakinya dan berjalan menuju ke suatu tempat. Batari Mahadewi dan Nala mengikutinya. Tak lama kemudian, ketiganya sampai di sebuah ruangan yang sangat dingin dan luas. Di sana terdapat ribuan cermin es yang berjejer tak beraturan.
“Inilah ruang meditasi kami. Di sini, kalian akan mencoba untuk mengenali diri kalian kembali. Kenalilah tubuhmu, pikiranmu, dan perasaanmu. Lihat cermin-cermin itu. siapakah yang akan kalian temukan di dalam cermin itu. Mungkin di ruangan ini, kalian bisa kembali ke titik awal dan memulai sesuatu yang baru nantinya.” Kata Ebe. Kakek tua itu meninggalkan Batari Mahadewi dan Nala yang masih mengagumi seisi ruangan itu.
__ADS_1