
Kalahijau melesat dan mencoba untuk menyerang Andhakara. Kecepatan terbaik yang selama ini ia andalkan ternyata hanya terasa sebagai lelucon bagi sang pangeran kegelapan itu. Tak satupun pukulan yang ia kerahkan bisa mengenai tubuh lawannya itu.
Andhakara hanya sesekali membalas Kalahijau dengan pukulan ringan yang membuat sang raja raksasa itu menyeringai kesakitan.
“Sepertinya tubuhmu tak sebesar raksasa lain. Sudah pasti kau tak akan berniat untuk menelanku seperti dua raja raksasa bodoh yang sudah kubunuh itu! Jika kau ingin tahu, mereka mati dengan cara yang sama, yakni kuledakkan tubuhnya setelah mereka menelanku dengan tipuan yang sama. Kalau kau punya jurus andalah, segeralah gunakan. Sebab mungkin setelah ini kau tak akan pernah bisa menggunakannya lagi!” kata Andhakara.
Kalahijau memusatkan kekuatannya pada kedua tinjunya. Dua lengannya itu dikelilingi oleh pijaran listrik. Sang raja raksasa itu berniat untuk menghancurkan Andhakara dengan tinju petir pamungkasnya. Ia butuh mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggunakan jurus tersebut. Sehingga, jika jurus itu gagal, sudah pasti ia akan kehilangan banyak tenaga, lalu kalah begitu saja.
Ketika Kalahijau sedang bersiap dengan jurusnya itu, perhatian Andhakara terpecah oleh kehadiran pancaran kekuatan Bail yang tengah melesat dengan kecepatan tinggi. Namun yang lebih mengejutkan lagi, ada sosok lain yang pancaran tenaganya jauh lebih besar sedang mengejar Bail.
Kedatangan Bail dan sosok yang belum kelihatan wujudnya itu membuat Andhakara lengah. Ia tak sempat menghindar ketika Kalahijau menghujamkan tinju petir dengan kedua tangannya yang dengan telak mengenai kepala dan dada Andhakara. Pukulan itu menghasilkan ledakan hebar yang membuat dada Andhakara berlubang, dan kepalanya hilang setengah.
Andhakara mengeram kesakitan. Dengan segera luka di dadanya itu menutup, dan kepalanya secara perlahan utuh kembali. “Dasar keparat! Raksasa rendahan! Kau pikir kau bisa membunuhku dengan cara murahan seperti itu!”
Andhakara mengarahkan telapak tangannya ke arah Kalahijau. Dalam sekelebat mata, seberkas cahaya merah melesat dan menghantam tubuh raksasa itu hingga membuatnya terpental jauh dan menghujam bumi dengan keras. Andhakara tak tertarik menyelesaikan pertarungan itu. Perhatiannya benar-benar tersita oleh kedatangan sosok berkekuatan besar yang sebentar lagi mungkin akan terlihat.
Andhakara segera melesat ke arah pelabuhan, dan melihat Bail telah sampai di sana, dengan tubuh penuh luka.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Andhakara.
__ADS_1
“Gawat pangeran. Kami di serang raksasa yang sangat kuat. Kurasa dialah Kalapati. Dia terlihat marah dan menenggelamkan semua kapal pasukan kita hanya dengan sekali serangan,” jawab Bail. “Maafkan, hamba berfikir bahwa hamba harus lari dan memberitahukan hal ini secepatnya kepada pangeran,” kata Bail.
“Hmm…sejujurnya aku penasaran dengan raksasa itu. Apakah benar ia telah mangalahkan para dewa! Apakah kalian semua siap bertarung? Jika kita bisa menumbangkan raksasa itu, sudah pasti bangsa raksasa akan tunduk dengan kita sepenuhnya!” kata Andhakara.
“Tapi…” Bail belum menyelesaikan ucapannya, andhakara sudah memotongnya.
“Keluarkan semua pasukan iblis dari tubuhmu, Bail!” perintah sang pangeran.
Mau tak mau Bail menuruti perintah itu. Ia membuka lubang di perutnya, dan dari sanalah sekitar seratusan iblis dengan berbagai tingkatan keluar satu persatu.
“Hari ini kita akan mempertaruhkan segalanya untuk memenangkan pertarungan! Apakah kalian bersedia?” tanya Andhakara.
Tak satupun yang bisa menolak permintaan itu. Hanya Ogha dan Bail saja yang terlihat paling cemas, sebab mereka berdua tahu banyak hal tentang Kalapati dari Mambacha.
Raksasa itu terbang rendah dengan kecepatan tinggi. Lautan seperti terbelah ketika tubuh besar itu melesat di atas permukaannya. Berbeda dengan raksasa lainnya, Kalapati memang bisa mengubah ukuran tubuhnya hingga sebesar atau sekecil apapun yang ia mau.
Kalapati mendarat dengan menghentakkan kedua kakinya dengan keras. Getaran dan gelombang energi yang menyeruak dari tubuhnya membuat para iblis itu melompat dan menjaga jarak aman dari jangkauan raksasa menyeramkan itu.
Kalapati bisa dengan mudah mengenali sosok sang pangeran kegelapan yang memiliki aura paling kuat di antara para iblis itu.
__ADS_1
“Jadi kaukah itu sang penguasa kegelapan?” kata kalapati dengan suara menggelegar. Andhakara terlihat kecil, dan semua makhluk yang ada di sana tampak kecil di hadapan Kalapati. Maka ia mengecilkan ukuran tubuhnya, setara dengan ukuran rata-rata para iblis yang mengitarinya.
“Jadi kau raja dari segala raja raksasa itu?” balas Andhakara.
“Berani sekali nyalimu! Aku kalapati, yang membantai para dewa dan menguasai khayangan! Dengan cara apa kau ingin mati hari ini?!” Kalapati masih berbicara dengan nada mengerikan dan penuh ancaman.
“Kami bangsa iblis, tak akan pernah takut dengan bangsa rendah sepertimu!” ejek Andhakara.
Kalapati bertambah murka. Ia memancarkan kekuatan besarnya yang membuat bumi bergoncang, angin bertiup kencang, dan laut bergelombang. Ia tiba-tiba melesat secepat kilat dan menghantam Andhakara hingga tubuh sang pangeran kegelapan itu terpental sangat jauh.
Para iblis lainnya tanpa harus diperintah, langsung menyerang raksasa itu secara bersama-sama. Pukulan-pukulan makhluk iblis itu tak berarti apa-apa baginya. Ia bahkan tak perlu melindungi tubuhnya dengan perisai energi. Sebagai balasannya, ia bergerak cepat untuk menghadiahkan pukulan satu persatu pada tubuh lawan-lawannya. Satu pukulan itu membuat iblis berkemampuan rendah langsung mati seketika, dan iblis yang berkekuatan tinggi terkulai tak berdaya.
Anak-anak pangeran Adhakara segera turun tangan. Mereka membentuk formasi serangan untuk mengeroyok makhluk mengerikaan itu. Sayangnya, sebelum formasi terbentuk sempurna, Kalapati telah jauh lebih cepat menghajar mereka semua. Beberapa dilempar hingga terlontar sangat jauh, beberapa lainnya di banting hingga melesak cukup dalam di dalam tanah.
Andhakara melesat dengan menghunuskan pedang pusakanya saat Kalapati sibuk dengan anak-anak Andhakara. Pedang itu membentur punggung Kalapati dan menghasilkan dentuman dahsyat yang melemparkan semua makhluk kecuali dirinya dan Kalapati.
Tubuh raja raksasa tu sama sekali tak terluka. Sebaliknya, pedang buatan Nala yang dipergunakan oleh Andhakara itu hancur berkeping-keping. Kalapati dengan cepat mencengkeramkan tangannya ke leher Andhakara lalu mengangkat tubuh pangeran kegelapan itu seperti orang yang mengangkat Bebek dengan memegangi lehernya.
Andhakara tampak tersiksa. Ia punya firasat buruk bahwa Kalapati akan menghantam kepalanya hingga hancur.
__ADS_1
“Inilah akhir dari kehidupanmu, wahai penguasa iblis!” ucap Kalapati. Tepat setelah ia selesai mengucapkan itu, Batari Mahadewi tiba-tiba muncul di hadapan wajahnya, lalu meninju wajah itu dengan keras.
“Kalapati sangat kaget sekaligus kesakitan sembari mengusap-usap wajahnya. Namun begitu ia mengangkat kepalanya untuk melihat dengan jelas siapa sosok misterius yang tiba-tiba muncul itu, sosok itu sudah tak ada. Begitu pula dengan Andhakara. Di sana hanya tinggal ia dan para iblis yang tampak panik dan takut.