Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 215 Para Pasukan Hitam Yang Congkak


__ADS_3

Niken berdiri mematung, memusatkan energinya untuk jurus maut yang akan ia nyanyikan. Namun pendekar hitam berkepala seperti kulit durian itu ternyata sudah cukup berpengalaman atas apa yang akan dilakukan oleh Niken, meski ia tak benar-benar tahu. Bagaimanapun juga, jurus-jurus pengambil alih kesadaran bukanlah hal asing di kalangan pulau Tirayamani.


Maka sebelum hal buruk terjadi, ia segera melesat ke arah Niken dan melepaskan jurus-jurus yang cukup menjijikkan. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan memuntahkan lendir beracun yang berwarna hitam.


Mau tak mau, Niken harus menunda mengeluarkan jurus mautnya itu. Ia melesat menghindari muntahan menjijikkan sekaligus mematikan itu. Cairan hitam yang keluar dari mulut pendekar berkepala durian itu langsung mengeluarkan asap ketika menyentuh permukaan tanah.


Niken melesat sekaligus melontarkan kristal-kristal es tajam dari kedua telapak tangannya. Hasilnya sama saja, kristal es yang jauh lebih kuat setelah ia dan Jalu menyerap mustika dari kakek Agrapana itu ternyata belum mampu menembus kulit pendekar berkepala durian.


“Sampai kapan kau melemparkan kerikil padaku, hah?! Berikan aku serangan yang lebih berarti!” kata pendekar itu dengan sombongnya. Pendekar itu kembali melesat ke arah Niken dan mencoba untuk selalu melakukan serangan-serangan jarak dekat. Meski ukurannya telah membengkak dua kali lipat, namun pendekar kerajaan hitam itu tak kehilangan kecepatannya.


Sejauh ini, pendekar berkepala durian belum menunjukkan jurus-jurus yang unik sebagaimana pendekar kerajaan hitam lainnya. Namun pertahanan tubuhnya serta kekuatan pukulan dan tendangannya sangat luar biasa dan membuat ia sulit dilumpuhkan sebagaimana beberapa pendekar aliran hitam lainnya yang terbunuh oleh Niken sewaktu bertarung di Swargawana. Lagi pula, kali ini Niken dan Jalu benar-benar bertarung satu lawan satu, sementara di Swargawana, satu pendekar aliran hitam dikeroyok banyak orang.


Jika jurus kristal atau pedang es tak mempan bagi pendekar itu, barangkali membekukan tubuhnya adalah ide baik, pikir Niken, dan kekasih Jalu itu mencoba peruntungannya untuk membekukan pendekar berambut duri ketika keduanya bertarung pada jarak yang dekat.


Pendekar yang sebelumnya berkepala botak itu melayangkan tinju-tinjunya serta tendangannya yang keras ke arah Niken.  Setiap kali Niken menangkis dengan tenaga dalam, tubuhnya pasti terdorong sekian langkah kebelakang.


Niken mulai terdesak karena kecepatan pukulan yang dilayangkan oleh pendekar hitam itu. Pada jarak yang cukup dekat, pendekar beracun itu berhasil mencengkram pundak Niken dan berusaha meremukkan tubuh mungil itu. Sekuat tenaga Niken bertahan agar tulang-tulangnya tak patah dan sekuat tenaga ia menahan nafas agar tak menghirup hawa racun yang terus menyeruak dari tubuh lawannya itu.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Niken mengerahkannya untuk menciptakan hawa dingin yang pekat. Tubuhnya dipenuhi dengan butiran salju tipis. Hawa dingin itu membuat lawannya mengendorkan cengkeramannya. Pada kesempatan itulah, Niken memegang kedua lengan musuhnya, lalu membekukan lengan itu.

__ADS_1


Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh pendekar berkepala durian dan lama kelamaan tubuhnya membeku. Ia bahkan tak bisa berteriak lagi sebab hawa dingin telah membekukan paru-parunya. Pendekar itu ternyata kebal serangan dari luar, namun ketika tubuhnya membeku, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Niken masih mengerahkan energinya. Ia tak cukup puas membekukan pendekar itu. Maka, pendekar cantik berkekuatan es itu menciptakan balok es yang mengurung tubuh pendekar berkepala durian yang sebenarnya sudah mati sebelum Niken membungkusnya dengan kristal es bening yang tak akan mencair dalam waktu singkat.


Batari Mahadewi cukup lega melihat kakaknya itu lolos dari bahaya. Sebelumnya, ia sedikit khawatir ketika kakaknya itu terdesak oleh pendekar berkepala durian. Selanjutnya, ia dan Niken menyaksikan Jalu yang sedang berusaha mati-matian untuk mengalahkan pendekar berambut panjang yang ternyata jauh lebih kuat dari temannya yang telah membeku itu.


Pendekar berambut panjang itu cukup tangguh untuk menahan serangan-serangan api dari Jalu. Pukulan-pukulan tenaga dalam jarak jauh yang ia lontarkan juga cukup berbahaya. Namun ia kehilangan sedikit konsentrasinya ketika menyadari bahwa rekannya itu telah mati.


“Bedebah sialan, kalian. Akan ku kirim kalian ke neraka!” teriak pendekar berambut panjang itu. Ia mengeluarkan dua buah cakram energi dari kedua tangannya, lalu menghempaskan kedua cakram itu ke arah Jalu. Pendekar api kekasih Niken itu berhasil menghindar, namun kedua cakram energi itu terus-menerus mengejarnya.


Jalu mencoba menghalau cakram energi itu dengan kekuatan api miliknya. Namun cakram itu tak bisa dihentikan. Sebagian besar energi dari pendekar berambut panjang itu tercurahkan untuk mempertahankan cakram itu, serta mengendalikannya untuk terus mendesak Jalu.


Sembari terbang menghindari kedua cakram yang terus mengejarnya, Jalu melesat ke arah pendekar berambut panjang yang berdiri tegak mengendalikan senjata energi ciptaanya itu. Jalu menghujamkan pukulan matahari dengan keras. Pendekar hitam itu menahannya dengan kedua tangannya yang terlindungi dengan tenaga dalam. Benturan energi itu menciptakan ledakan besar yang membuat pendekar berambut panjang itu terpental jauh meski ia tak terluka akibat pukulan Jalu.


Setidaknya, pukulan yang dikerahkan oleh Jalu membuat energi lawannya banyak terkuras. Namun belum sempat Jalu mengeluarkan jurus api lainnya untuk mengakhiri nasib lawannya, dari jauh telah datang tiga pendekar kerajaan Tirayamani yang sebelumnya menangkap pancaran energi pertarungan di tempat itu.


Batari Mahadewi pada akhirnya tak bisa membiarkan kedua kakaknya saja yang melawan para pendekar hitam itu. Sudah pasti Jalu dan Niken tak bisa menghadapi lebih dari satu pendekar kerajaan Tirayamani.


“Kalian mau mencari perkara, huh? Tidak tahukan kalian bahwa di sini telah menjadi wilayah kekuasaan kami?” kata salah satu dari ketiga pendekar hitam yang baru saja datang itu. Pendekar berambut panjang terlihat lega dengan kedatangan tiga temannya itu, sebab setidaknya Jalu menunda untuk menghujamkan serangan penghabisan untuk mengakhiri nyawanya.

__ADS_1


“Tidakkah kalian sudah mendengar berita kekalahan teman-teman kalian di Swargawana? Tapi mungkin belum. Mungkin rekan kalian yang selamat dan melarikan diri itu belum sampai di istana Catrawana dan mengabarkan kabar buruk itu.” kata Batari Mahadewi dengan santainya.


“Cih, jangan membual! Tak ada yang bisa menghadapi kekuatan kami di sini!” kata pendekar hitam itu.


“Oh, benarkah. Kalau begitu kalian bisa menjadi lawan yang menarik bagiku.” Kata Batari Mahadewi.


“Majulah kalian bersama-sama. Cukup aku saja yang melawan kalian bertiga.” Kata pendekar itu dengan congkaknya. Tampaknya, ialah yang terkuat diantara pendekar hitam yang ada di sana.


“Dengan senang hati. Tapi jika boleh, aku ingin melawan kalian berempat sekaligus,” Kata Batari Mahadewi.


Empat pendekar hitam itu tampak tersinggung. Betapa tidak, mereka menganggap gadis jelmaan pusaka dewa itu bukan apa-apa sebab Batari Mahadewi memang menyembunyikan kekuatannya.


“Sudahlah, jangan main-main. Jika kalian bertiga bisa bertahan sepuluh jurus melawanku, maka aku akan membiarkan kalian pergi hidup-hidup dari sini,” kata pendekar itu.


“Aku tidak main-main,” kata Batari Mahadewi melangkah maju dengan santai. Ia menendang sebuah batu kecil dan membuat batu itu melesat cepat dan menembus paha pendekar berambut panjang yang belum sempat dibunuh oleh Jalu. Pendekar itu meraung kesakitan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2