
Nala pergi ke suatu tempat yang jauh dan sepi. Merasa dirinya adalah bagian dari tanah, maka ia tahu kemana harus pergi jika ia menginginkan emas, perak, atau logam-logam lainnya yang berguna untuk membuat senjata pusaka.
Tak butuh banyak emas ataupun perak untuk menciptakan sebuah seruling pusaka. Namun ia juga tak mau mencari remah-remah emas yang melelahkan itu. Ia ingin mencari gumpalan emas berukuran lumayan besar. Jika saja emas yang ia ciptakan bisa digunakan sebagai bahan, tentu ia tak harus repot-repot. Emas ciptaannya sendiri justru akan menjadi seruling berkekuatan hitam, sebagaimana yang dimiliki oleh para pendekar hitam untuk menyerang pendekar putih. Seperti misalnya, seruling iblis.
Nala sampai di sebuah sungai. Ia tahu, di bawah sungai itu banyak terdapat emas dan logam-logam berharga lainnya. Maka ia menciptakan lubang besar di tepi sungai itu dengan cara membuat tanah, pasir, dan bebatuan di sekitarnya terangkat ke atas, lalu ia menjatuhkannya ke satu tempat menjadi sebuah gundukan material bumi yang membumbung tinggi.
Sementara, lubang yang ia ciptakan teramat dalam. Air sungai segera merembes di dinding sumur yang Nala buat. Dalam sekejap, sumur dalam itu telah terisi air. Sumur itu tidak terlalu penting. Yang Nala cari telah tersedia dalam gundukan material bumi yang ia angkat tadi. Bongkahan emas, berlian, bebatuan alam, dan ia sangat beruntung menemukan logam-logam yang jatuh dari langit dan terkubur di sana selama entah berapa juta tahun yang lalu.
Begitu Nala sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia mengembalikan semua material yang ia angkat ke dalam sumur seperti sedia kala. Setelah itu, ia melesat kembali ke sanggar Ki Rangga Suluk.
Batari Mahadewi sedang menunggu kedatangan kekasihnya di wisma tamu. Gadis cantik itu telah menghabiskan semua makanan dan menyisakan sedikit untuk Nala. Itupun jika lelakinya mau makan. Nala sudah seperti dedemit. ia jarang makan makanan manusia. Ia lebih menikmati menyerap bebatuan alam yang menyimpan energi bumi.
Lelaki itu tersenyum melihat kekasihnya sedang menunggu kedatangannya.
“Nah, kau akhirnya datang juga. Kenapa lama sekali? Apakah kau menemui masalah tadi?” sambut Batari Mahadewi.
“Tidak ada masalah sama sekali. Hanya saja aku memilih tempat yang tak berpenghuni sekaligus yang terdapat bahan-bahan yang kita butuhkan.” Nala mengeluarkan semua bahan hasil buruannya dan meletakkannya di atas meja.
“Wah! Ini lebih dari cukup, Nala! Banyak sekali yang kau ambil!" Batari Mahadewi memilah-milah material yang tersebar di meja itu.
“Sisanya bisa untuk membeli makanan kesukaanmu,” Nala menyahut.
“Berlian-berlian ini…orang lain akan setengah mati mencarinya,” ujar Batari Mahadewi.
“Kita syukuri saja keanehan kita ini. Orang yang sangat mendambakan kekayaan seperti ini akan sulit mendapatkannya. Sementara kita yang tidak membutuhkan ini malah bisa mendapatkannya dengan mudah,” kata Nala.
“Baiklah, aku hanya butuh beberapa saja. sisanya kau simpan saja di dalam kotakmu itu,” kata Batari Mahadewi.
“Kau tak ingin memeriksa beberapa mustika pemberian siluman naga laut?” tanya Nala.
“Nanti aku pasti membutuhkannya. Tadi aku belajar bermain seruling, lalu paman Rangga meminjamkan seruling emasnya padaku. Jadi, aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan untuk membuat seruling yang lebih tangguh dari seruling emas paman Rangga,” kata Batari Mahadewi.
"Memangnya kau bisa main seruling?" ejek Nala.
"Kau akan terkejut ketika mendengarkan permainanku. Nah, sekarang ayo kita buat seruling pusaka!" ujar Batari Mahadewi.
“Di mana kau akan membuatnya?” tanya Nala.
__ADS_1
“Di pekarangan paling belakang sana. Tak ada siapapun di sana, jadi aku bisa dengan leluasa mengerahkan kekuatanku,” kata Batari Mahadewi.
“Aku akan menemanimu.” Nala mengikuti Batari Mahadewi pergi menuju ke pekarangan belakang. Di sana merupakan lahan yang luas milik Ki Rangga Suluk. Belum ada bangunan apapun dan hanya ditumbuhi pepohonan besar dan semak-semak.
Batari Mahadewi duduk bersila, mengheningkan dirinya, menyatu dengan suasana alam. Ia letakkan semua kegaduhan hati dan pikiran, lalu energi yang menyejukkan terpancar dari tubuhnya yang dikelilingi oleh cahaya keemasan.
Bola mata gadis itu berubah warna menjadi emas. Lalu kedua tangannya berubah menjadi tangan api yang panas dan siap melunakkan semua bahan logam yang ada di hadapannya itu. Gadis jelmaan pusaka dewa itu memijit, memadukan, dan membentuk semua bahan logam di hadapannya itu seolah-olah bahan-bahan itu selunak tanah liat.
Perlahan, gadis itu membentuk sebuah seruling dengan ukuran sedikit lebih besar dari milik Ki Rangga Suluk. Jemarinya dengan lincah memijit campuran logam itu menjadi sebuah seruling sederhana yang didominasi dengan bahan emas. Selebihnya adalah perak dan logam langit.
Dua hari dua malam Batari Mahadewi melakukan pekerjaan itu, membentuk sebuah seruling dan mengisinya dengan berbagai kekuatan dari bebatuan, kristal, dan mustika alam yang berusia puluhan ribu tahun pemberian dari siluman naga laut. Sesekali Ki Rangga Suluk datang untuk melihat gadis itu menciptakan pusaka. Ia tak henti-hentinya mengagumi cara gadis itu menciptakan sebuah seruling pusaka untuknya.
“Akhirnya selesai juga. Bentuknya lumayan bagus, Tari. Sepertinya kau banyak kemajuan untuk membuat bentuk-bentuk logam menjadi lebih cantik,” Nala memuji. Hanya pujian biasa saja tetapi bisa membuat Batari Mahadewi merasa sangat senang. Orang jatuh cinta memang begitu. Kadang-kadang berlebihan.
“Ya, tetapi ini belum bisa dikatakan berhasil jika belum di coba,” kata Batari Mahadewi.
“Kenapa kamu tak mencoba memainkan sebuah lagu dari seruling itu? Aku ingin tahu, apakah kau benar-benar bisa memainkan lagu indah atau hanyaembual!” ledek Nala.
“Dengar baik-baik, sayangku. Semoga saja tidak sumbang bunyinya.” Batari Mahadewi bersiap untuk memainkan lagu dari seruling itu. Ia mengerahkan kekuatan seperti yang ia pelajari dari aksara rahasia di seruling pusaka Ki Rangga Suluk.
“Nala! kau tak apa-apa?” Batari Mahadewi menghentikan permainan serulingnya. Ia begitu kaget dan tak mengira jika perpaduan kekuatannya dan seruling pusaka ciptaanya itu bisa berdampak besar pada Nala.
“Tidak apa-apa, Tari. Aku hanya sedang tidak siap saja tadi. Dan aku tak mengira, suara serulingmu itu terdengar begitu menyakitkan di telingaku,” kata Nala. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Maafkan aku…” Batari Mahadewi menyesali kecerobohannya.
“Apa yang kau katakan! Aku tidak apa-apa, hahaha, sebegitunya kau sangat mengkhawatirkan aku!” Nala malah terkekeh-kekeh melihat kekasihnya merasa bersalah.
“Sialan! Aku tak mau mencelakai orang yang aku cintai!” Tari beranjak dan memeluk Nala.
“Sudahlah, tidakkah kamu berfikir, dengan seruling semacam ini kamu bisa mengalahkan makhluk iblis dengan lebih mudah?” kata Nala.
“Tidak. Hanya satu ini saja untuk paman. Aku tak mau menggunakan seruling pusaka dan membuatmu celaka,” kata Batari Mahadewi. Nala menyayangkan hal itu meskipun ia tak menyangkal bahwa ia sendiri memang tak akan bisa berbuat apa-apa jika mendengar suara seruling yang dimainkan oleh kekasihnya itu.
“Ayo kita serahkan pusaka ini.” Batari Mahadewi mengajak Nala mencari Ki Rangga Suluk. Lelaki itu ada di sanggar depan, melatih beberapa muridnya untuk menari. Sepasang pendekar itu cukup salut melihat pendekar besar seperti Ki Rangga Suluk masih mau melatih, bahkan harus memperagakan beberapa gerakan yang akan di tiru oleh murid-muridnya.
“Kalian berdua sudah selesai membuat pusaka itu?” Ki Rangga Suluk menghentikan latihannya ketika ia melihat Batari Mahadewi dan Nala sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
“Ya, hanya perlu paman coba saja hasilnya,” kata Batari Mahadewi. Ia kemudian menoleh ke arah Nala. “Sebaiknya kau pergi jika paman itu nanti mau mencobanya.”
“Tidak Tari, kita lihat seberapa kuat seruling itu jika paman Rangga yang menggunakannya. Jika aku tak disini, maka kita tak akan tahu hasilnya,” kata Nala.
“Kau yakin ingin menjadi bahan percobaan? Ki Rangga Suluk bertanya kepada Nala.
“Yakin, paman. Jangan ragu, lakukan saja,” kata Nala sambil mempersiapkan diri untuk membentengi tubuhnya dari kekuatan seruling itu.
Ki Rangga Suluk mulai memainkan sebuah lagu yang enak di dengar. Seruling itu selain sakti, juga bisa menghasilkan suara yang jernih dan tajam. Suara seruling itu cukup menyakitkan, tetapi tak semengerikan yang di rasakan Nala ketika ia mendengarnya dari permainan Batari Mahadewi. Perbedaan kekuatan menghasilkan dampak yang berbeda.
“Sebuah pusaka yang menakjubkan. Apa nama yang tepat untuk pusaka ini, nona Tari?” tanya Ki Rangga Suluk.
“Seruling Pusaka Dewa. Itulah namanya, paman,” jawab Batari Mahadewi.
“Nama yang sesuai dengan kesaktian pusaka ini!” ujar Ki Rangga Suluk
“Permainan seruling paman bisa menaklukkan pasukan iblis berkekuatan sedang. Menurutku, paman bisa berpasangan dengan pendekar lain. Selagi paman bermain seruling, rekan paman bisa menghabisi pasukan iblis yang sedang bertahan dalam kesakitan,” kata Nala.
“Mungkin bersama-sama dengan Nyi Lohita dan paman Raga Bumi, maka paman Rangga bisa mempertahankan wilayah Mahatmabhumi dari serangan kerajaan Tirayamani,” sambung Batari Mahadewi.
“Ya, aku mengerti. Aku rasa memang sebaiknya begitu. Setelah ini, apakah kalian akan melanjutkan perjalanan?” tanya Ki Rangga Suluk.
“Ya, paman. Kami tak punya banyak waktu. Tetapi sebenarnya kami ingin berkunjung ke altar Gerbang Langit barang sejenak. Apakah paman tahu di mana tempatnya?” tanya Batari Mahadewi.
“Oh, altar suci itu berada di wilayah selatan. Di sana ada sebuah kota kuno di atas pegunungan, yaitu gunung dan kota Gerbang Langit. Sesuai dengan nama altar suci yang ada di sana,” jawab Ki Rangga Suluk.
“Apakah kota itu juga berisi para pertapa?” tanya Batari Mahadewi mencoba membandingkan kota itu dengan kota Dhyana.
“Benar sekali. Itu adalah kota suci yang sepi. Guru Lokatara pasti senang menyambut kedatangan kalian.”
“Baiklah, paman. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan,” kata Batari Mahadewi. Ia begitu bersemangat. Ia punya firasat bahwa di sana ia akan mendapatkan sesuatu yang berharga.
“Makanlah dulu sebelum berangkat. Ayo, aku akan menemani kalian. Sejak tadi murid-muridku telah membuat masakan enak untuk kalian berdua,” kata Ki Rangga Suluk. Ia berjalan ke wisma kediamannya diikuti oleh Nala dan Batari Mahadewi. Gadis itu begitu bersemangat. Perutnya meronta setelah dua hari dua malam tak beranjak untuk menciptakan seruling pusaka dewa.
Seusai makan dan mengemasi semua barang, sepasang pendekar super itu berpamitan. Kedatangan mereka berdua di sanggar Ki Rangga Suluk dianggap sebagai berkah; sepasang pendekar hitam dan putih, harapan untuk keseimbangan dunia.
Batari Mahadewi dan Nala melesat menuju ke selatan, mencari kota Gerbang Langit. Kota itu berada di dataran paling tinggi di wilayah Mahatmabhumi. Wajar saja jika namanya adalah Gerbang Langit. Puncak pegunungan besar dan luas itu hampir tertutup awan dan sepertinya, kota yang ada di sana memang benar-benar sepi, hanya dihuni oleh para pertapa saja.
__ADS_1