Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 107 Mereka Menyerang! #4


__ADS_3

Jauh dari tempat Jalu dan Niken, Pradipa tengah menghadapi pendekar Mawar Hitam, seorang pendekar yang dikenal sebagai ratu racun Swargadwipa. Ia terlihat masih muda meski usianya lebih dari 50 tahun. Ia ingin berlama-lama untuk bertarung dengan pendekar tampan yang ada dihadapannya itu.


“Wahai pendekar tampan, tidakkah sebaiknya kita pergi saja dari ertempuran ini? Aku akan memberikan kenikmatan padamu yang tak pernah kamu alami sebelumnya.” Mawar Hitam merayu Pradipa yang sedang memegang pusaka Bintang Timur yang telah bersimbah darah dari ratusan pasukan Harimau Merah yang ia tebas tubuhnya.


“Cih, aku tahu kau sudah nenek-nenek. Ayo kerahkan semua kemampuanmu. Jangan bertarung seperti itu!” kata Pradipa geram sebab sedari tadi pendekar Mawar Hitam hanya terus menerus menghindar sambil sesekali menebarkan aroma wangi yang beracun.


“Hahaha, kau sungguh bergairah bukan?! Aku suka melihat kemarahanmu, kau tampak sangat jantan. Ayolah, jangan ragu, dekap tubuhku yang telah rindu dengan sosok pendekar sepertimu.” Kata Mawar Hitam.


“Menjijikkan!” Pradipa melesat dan mengayunkan senjatanya ke arah Mawar Hitam. Ayunan senjata itu selalu menghasilkan dentuman menggelegar dan cukup menciutkan nyali Mawar Hitam. “Terima ini, Seribu Tebasan Pusaka Bintang Timur.” Kata Pradipa menyerang Mawar Hitam dengan kecepatan tinggi dari berbagai sudut.


Ratu racun itu terus menghindar dan akhirnya terpojok juga. Jubah yang ia kenakan telah compang-camping. Sengaja merobeknya sebagian agar bentuk tubuhnya lebih terlihat di mata Pradipa.

__ADS_1


“Perempuan sinting!” Teriak Pradipa , darahnya mendidih karena marah dengan cara Mawar Hitam yang licik itu. Terlebih lagi, Mawar Hitam menggunakan cara-cara yang cabul dan menebarkan aroma wewangian yang sengaja ia ciptakan untuk membangkitkan birahi. Bahkan seekor binatang akan mengalami reaksi yang sama dengan manusia jika mencium aroma itu.


Namun sesungguhnya, wewangian itu mengandung racun jika terlalu banyak terhirup oleh lawannya. Banyak korban Mawar Hitam yang tak menyadari bahwa aroma menyenangkan itu adalah racun yang berbahaya, yang dengan halus dan lembut akan mencabut nyawa mereka.


“Ayolah, pangeranku. Benamkan wajahmu di dadaku.” Kata Mawar Hitam sambil mengeliat gemulai dan mengganggu konsentrasi Pradipa. Namun sesaat kemudian pendekar racun itu melesat cepat sambil melemparkan ribuan jarum beracun ke arah Pradipa.


Pradipa melompat menjauh. Hampir saja ia terbunuh oleh rayuan nenek sihir yang menjadi lawannya itu. Pradipa merobek sebagian bajunya dan menggunakan untuk menutup sebagian wajahnya menghalau berbagai aroma wewangian yang ditebarkan oleh lawannya itu.


Satu persatu para pendekar aliran hitam di sisi timur berguguran, Jalu, Niken, Pradipa, dan beberapa pendekar muda aliran putih yang bertugas di sana, dibantu dengan puluhan ribu prajurit Swargadwipa, berhasil meredakan serangan. Beberapa pendekar sakti aliran putih yang ada di sana menyerahkan sisa ertarungan kepada para senopati dan prajurit Swargadwipa.


Para pendekar aliran putih yan telah diundang oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang itu bergerak ke arah tenggara untuk membantu meredakan serangan di sisi selatan yang jauh lebih sulit diatasi.

__ADS_1


Jauh di sisi tenggara, sebelum bantuan dari sisi timur datang, Anjani sedang kesulitan berhadapan dengan pendekar setengah siluman yang memiliki tubuh setengah ular. Bentuk manusia dari pendekar itu hanya pada bagian dada ke atas, sisanya adalah tubuh ular raksasa bersisik logam. Tubuh ular yang sebesar pohon kelapa itu bisa membunuh puluhan prajurit dalam sekali kibas.  Meski tubuhnya besar dan panjang, namun pendekar setengah siluman itu bisa bergerak dengan sangat cepat, menghujamkan pukulan-pukulan beracun yang ia miliki.


Beberapa kali Anjani harus jatuh terguling-guling di tanah karena sabetan dari tubuh pendekar setengah ular itu. Jurus-jurus Anjani sama sekali tak mempan menghadapi pendekar setengah siluman itu.


“Bagaimana, nona cantik, masih ingin melanjutkan pertarungan? Jika tidak, biarkan aku lewat. Aku hanya ingin cepat sampai di balik tembok istana itu, jadi tak perlu kau menghalangiku sampai seperti ini.” Kata pendekar setengah siluman itu.


“Aku belum menggunakan jurusku yang lain, apakah kau tak tertarik? Kurasa pendekar sepertimu selalu berminat menghadapi jurus-jurus yang belum pernah kau temui sebelumnya.” Kata Anjani mengulur waktu, berharap ada pendekar lain yang bisa membantu. Sayangnya, Tiap-tiap pendekar aliran putih di sisi selatan sungguh kerepotan menghadapi para pendekar pulau Neraka yang rata-rata memiliki kekuatan siluman.


“Oh, jurus apa lagi itu? air pancuran seperti tadi?” kata pendekar setengah siluman itu menghina Anjani. Sayang sekali tak banyak sumber air yang bisa digunakan Anjani sebagai senjata, sehingga kesaktiannya seolah tak berguna jika ia bertarung di sana dan menghadapi monster mengerikan di hadapannya itu.


“Sedikit mirip, tapi lihatlah dulu.” Anjani menciptakan sebuah naga air dengan energinya. Setidaknya, naga air ciptaannya itu menghabiskan persediaan air di dua buah sumur di dekat tempatnya bertarung. Anjani menggerakkan naga air itu seolah tampak seperti ular naga yang hidup dan menyerang pendekar setengah siluman itu. Naga air itu terus menyerang dengan menempel di tubuh pendekar setengah ular yang mulai merasakan bahwa air itu tak hanya bergerak dan menggempur tubuhnya, namun juga melilitnya, bergerak naik hingga ke lehernya.

__ADS_1


__ADS_2