
Seluruh penghuni pulau Tirayamani langsung bersiaga ketika Boko mengirimkan kabar. Sementara itu, di atas laut di luar pulau yang berwarna hitam itu, Batari Mahadewi dan Nala sedang bertarung melawan Sora dan Luma.
Tak butuh waktu lama untuk menghancurkan dua makhluk iblis itu jika Batari Mahadewi dan Nala benar-benar serius bertarung. Sabetan pedang Nala menyambut begitu Sora melaju kencang ke arahnya. Seketika makhluk itu terbelah, mustikanya hancur, lalu tubuhnya yang sudah tak berdaya itu meluncur tajam ke permukaan laut.
Sementara itu, Luma juga mengalami nasib yang kurang lebih mirip. Tiba-tiba Batari Mahadewi telah berdiri persis di depannya dan langsung mencengkeramkan kuku kanannya di kepala, dan tangan kirinya dalam waktu yang sama menghujam menembus jantung Luma.
Dalam waktu singkat, Batari Mahadewi menyerap energi kegelapan makhluk itu, dan mengembalikannya dalam bentuk pukulan api yang langsung menghabisi Luma hingga menjadi debu.
“Di depan kita ada dinding perisai tak kasat mata yang melindungi pulau itu,” kata Batari Mahadewi.
“Biar pedang ini yang menghancukannya!” Nala mengayunkan pedang pusakanya yang telah terisi penuh kekuatan. Pedang itu membentur dinding tak kasat mata dan seketika juga terjadi ledakan hebat. Dinding itu hancur. Pulau Tirayamani mulai terlihat.
Di sekitar istana, puluhan ribu pendekar hitam telah menanti. Di barisan paling belakang, para pasukan iblis telah berdiri dengan gagah. Sang ratu dan beberapa makhluk iblis terkuat sedang memantau di istana, mengamati pergerakan Nala dan Batari Mahadewi, mencari celah untuk memisahkan mereka berdua.
Nala dan Batari Mahadewi melesat dan menerjang barisan puluhan ribu pasukan Tirayamani. Dalam sekali ayunan, pedang Nala telah memotong ribuan tubuh musuhnya. Darah berwarna merah dan hitam itu membanjiri tanah.
Batari Mahadewi bergerak dengan kecepatan sangat tinggi menyelinap di barisan pasukan musuh itu. Tiap-tiap sentuhan jari tangannya membuat kepala pasukan kerajaan hitam itu hancur.
Puluhan ribu pasukan tirayamani itu tampak kebingungan. Musuh mereka tak terlihat mata, namun mereka bisa dengan jelas melihat teman-teman mereka tiba-tiba kepalanya meledak, atau tubuh-tubuhnya terpotong-potong entah bagaimana caranya.
Ratusan pasukan iblis pulau pasir segera maju. Mereka sedikit lebih susah di lawan dan berhasil membuat gerakan Nala dan Batari Mahadewi menjadi lambat. Untuk melawan para iblis itu, butuh kekuatan yang lebih besar lagi, sehingga pertarungan itu menciptakan banyak sekali ledakan energi yang menghancurkan semua bangunan di sekitar kerajaan.
Setidaknya, barisan pasukan iblis itu membuat Batari dan Nala tanpa sadar telah terpisah jarak yang cukup jauh. Saat itulah, Mambacha dan Ila serta beberapa iblis yang baru saja bergabung langsung melesat ke arah Batari Mahadewi.
__ADS_1
Sementara, Bail dan makhluk iblis lainnya menyerang Nala. Sang ratu menyembunyikan diri di antara pasukannya. Ia berada di dekat pertarungan Bail dan rekan-rekannya yang sedang membuat Nala terdesak. Ruang gerak kekasih gadis jelmaan pusaka dewa itu menjadi sangat terbatas karena makhluk-makhluk iblis itu mengepungnya.
Mambacha sengaja mengulur waktu sebanyak mungkin bagi sang ratu untuk membangkitkan kekuatan iblis di dalam tubuh Nala.
Mambacha menciptakan sebuah ruang ilusi yang menyeret Batari Mahadewi ke dalamnya. Di dalam ruang ilusi itu, hanya ada dirinya dan beberapa makhluk iblis yang mengepungnya.
Batari Mahadewi menyadari, musuhnya membuat ia dan Nala sengaja terpisah. Ia mencari celah untuk keluar dari ruang ilusi itu, namun tak kunjung menemukannya.
“Kita berjumpa lagi, nona dewa. Sejak kapan kalian menyadari bahwa pulau Saramantha itu tidak ada?” tanya Mambacha.
“Tidak usah banyak bicara, ayo kita bertarung. Aku akan mengirim kalian kembali ke neraka!” bentak Batari Mahadewi penuh dengan ancaman. Satu-satunya cara untuk keluar dari dalam ruang ilusi itu adalah dengan melenyapkan Mambacha.
Tubuh Batari Mahadewi memancarkan kekuatan penuh. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya dan kuku jemari tangannya tumbuh semakin panjang, siap memotong tubuh lawan-lawannya.
Batari Mahadewi dengan mudah terpancing emosi. Ia tak bisa berfikir jernih, sebab ia terlalu mencemaskan Nala. Ia tahu, Nala sedang menghadapi makhluk iblis yang jauh lebih banyak dari yang ia hadapi. Namun untuk menyingkirkan Mambacha dan Ila serta beberapa pasukan iblis yang mengepungnya bukanlah perkara mudah jika ia hanya seorang diri.
“Kenapa, nona? Kau salah perhitungan? Kau mungkin saja bisa mengalahkan kami. Tetapi butuh waktu lama, bukan?! Sementara itu, mungkin kekasihmu itu benar-benar sudah menjadi pangeran kegelapan. Ia akan melupakanmu dan akan membunuhmu dengan tangannya sendiri!” Sekali lagi Mambacha mencoba memprovokasi Batari Mahadewi. Gadis itu menjadi semakin kalut. Ia sedikit panik memikirkan nasib Nala.
Tanpa banyak kata, ia melesat dan menyerang seluruh makhluk iblis dalam ruangan serba gelap itu membabi buta. Hanya cahaya dari tubuhnya saja yang menjadi satu-satunya penerang dalam ruang ilusi itu. Ia tak menyangka, Mambacha memiliki kemampuan itu.
Para pasukan iblis yang berada dalam jangkauan gadis jelmaan pusaka dewa itu tumbang satu per satu. Dalam keadaan marah, energinya meluap lebih deras dan membuat para iblis itu sedikit kebingungan. Formasi serangan yang mereka ciptakan hancur berantakan.
Ila tak mau bergerak pasif. Sebagai iblis terkuat, hanya ia harapan satu-satunya untuk menahan gadis itu lebih lama, sebab kekuatan Mambacha telah terbagi untuk mempertakankan ruang ilusi itu. Bagaimanapun juga, pancaran kekuatan Batari Mahadewi terus-menerus mendesak ilusi yang diciptakan oleh Mambacha sehingga makhluk iblis itu juga harus mengerahkan banyak kekuatan.
__ADS_1
Ila membelah diri menjadi tiga bagian yang saling terhubung dengan sesuatu yang menyerupai cacing panjang dan besar. Tiga sosok Ila itu menyerang Batari Mahadewi dengan pukulan berkekuatan besar yang sangat cepat dan tak memberikan Batari Mahadewi kesempatan untuk membalas serangan.
Gadis itu sementara waktu hanya bisa bertahan dari hujan pukulan yang menghajar seluruh tubuhnya. Sembari bertahan, ia menghimpun kekuatannya, lalu dengan tiba-tiba berubah menjadi manusia api berbalut pijaran listrik.
Tubuhnya menghempaskan badai api dan listrik yang tak hanya menyerang Ila, namun juga Mambacha dan beberapa pasukan iblis yang masih tersisa.
Seluruh pasukan iblis itu hangus tak tersisa. Ila melindungi Mambacha dengan perisai energinya. Dengan demikian, Mambacha yang minim pertahanan itu masih bisa selamat dari gempuran api gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Sementara itu, Nala menghadapi tekanan yang sangat pelik. Mula-mula, ia mulai bisa mengatasi gempuran serangan Bail dan beberapa makhluk iblis lainnya yang sebagian besar memang dikerahkan untuk mengepungnya.
Namun setelah sang ratu tiba-tiba muncul dalam wujud Batari Mahadewi, ia sangat terkejut. Selanjutnnya, Bail bisa dengan mudah memberikan pukulan sangat dahsyat yang membuat Nala sejenak kehilangan daya.
Pada waktu itulah, sang ratu mencoba menebarkan mantra darah iblis yang menyerang kesadaran Nala. Sesuatu dari dalam dirinya, makhluk gelap yang selalu menghantui selama ini, perlahan-lahan mulai merenggut kesadarannya.
Nala meronta, namun ia sungguh tak berdaya. Tubuhnya serasa sulit dikendalikan. Ia terlihat seperti orang kesurupan. Kesadarannya perlahan terkikis oleh kekuatan hitam yang semakin menguasai tubuhnya.
Semua makhluk iblis yang mengepung Nala ikut tegang melihat peristiwa itu. Tiba-tiba, dari arah lain, terdengar suara ledakan keras yang mengguncang pulau Tirayamani. Batari Mahadewi berhasil memusnahkan semua lawannya dan terbebas dari jebakan ilusi yang mengurungnya.
Melihat semua pasukan sang ratu itu berkumpul di satu tempat dan Nala yang sedang terbaring kesakitan di antara mereka, ia sangat panik.
“Nalaaaaaa!” gadis jelmaan pusaka dewa itu langsung melesat ke arah kerumunan itu.
*****
__ADS_1
Bersambung lagi gaes. Jangan marah ya, wkwkwk. Lanjut besok lagi. Nah, jika kawan-kawanku tercinta sedang kehabisan bahan bacaan, sembari menunggu besok, yuk kunjungi karya temanku Bang Den, judulnya Poison King Of Sword.