Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 182 Pengorbanan


__ADS_3

Mahapatih Hamapadayana mendekati tubuh Pradipa yang telah roboh. “Priksa dia, apakah dia masih bernyawa? Jika iya, cepat panggil tabib. Aku mau ia hidup dan menjadi tawanan kita.” Perintahnya kepada salah satu pendekar yang ada di dekatnya.


“Orang ini masih hidup, gusti patih. Nadinya masih berdenyut.”


“Panggil tabib. Jika ia bisa diselamatkan, aku ingin mengorek keterangan darinya. Aku yakin dia adalah pendekar suruhan Swargadwipa.” Kata Mahapatih Hamapadayana.


Beberapa tabib segera datang dan mengobati luka-luka yang terhampar di sekujur tubuh Pradipa. Subuh itu menjadi subuh paling sibuk ke dua yang dialami oleh pasukan Swargadwipa setelah sebelumnya pernah mendapatkan serangan kejutan dari Jalu dan Niken.


Jika dulu sewaktu serangan Jalu dan Niken di kota Mutiara Biru hanya membuat Mahapatih Hamapadayana kehilangan banyak prajurit dan pendekar sakti, maka serangan Pradipa dan para pendekar yang ia pimpin membuat Mahapatih Swargabhumi itu kehilangan banyak amunisi; jutaan anak panah, ribuan busur, ratusan kereta pelontar batu, bahan makanan, minyak, gajah dan kuda, serta ribuan tenda yang ikut terbakar.


Dari peristiwa itu, sudah bisa dipastikan perjalanan rombongan Swargabhumi akan tertunda cukup lama. Rombongan itu harus mendapatkan kembali perbekalan entah bagaimana caranya, dan harus segera memperbaiki kereta lontar yang akan menjadi senjata penting untuk menghancurkan benteng Swargadwipa yang terkenal sebagai benteng yang tinggi, kokoh, dan berlapis-lapis. Semua kerajaan di Mahabhumi tahu bahwa tata kota kerajaan Swargadwipa merupakan yang terbaik karena kota itu tak hanya dirancang untuk wilayah pusat perekonomian, namun juga pertahanan utama yang dimiliki Swargadwipa. Setidaknya, butuh waktu setengah hari dari gerbang terluar menuju gerbang istana.


Peristiwa dini hari itu membuat sang Mahapatih Swargabhumi sangat geram dan malu. Ia telah dua kali kebobolan selama ekspedisi menuju Swargadwipa. Maka ia sangat ingin mengorek semua keterangan dari Pradipa terkait dengan segala rencana yang akan dijalankan oleh Swargadwipa. Sang patih itu yakin bahwa Pradipa adalah salah satu orang penting yang dimiliki Swargadwipa. Jika nanti Pradipa telah pulih, ia akan melakukan segala macam cara untuk membuat Pradipa bercerita.


Pradipa ditempatkan dalam sebuah tenda yang dijaga oleh beberapa prajurit yang berada di luar. Ia sudah siuman sebenarnya. Tak seorangpun tahu kecuali ia dan gurunya, bahwa di dalam tubuhnya telah ditanam sarung dari pedang Bintang Timur. Ia bisa menyimpan pedang pusakanya di dalam tubuhnya ketika ia tak menggunakannya. Dan, ketika pedang itu bersemayam dalam tubuh Pradipa, maka senjata sakti itu juga akan menyumbangkan kekuatan kepada Pradipa.


Pradipa teringat pesan gurunya yang mengatakan bahwa ia tak akan mati meski mendapatkan seribu goresan pedang di tubuhnya selama pedang Bintang Timur masih tersimpan dalam tubuhnya. Awalnya ia tak percaya, namun kali ini, setelah ia hampir mati, ia merasa bisa pulih dengan cepat setelah para tabib Swargabhumi mengobati lukanya.

__ADS_1


Pradipa juga masih menyimpan beberapa mustika alam di lipatan bajunya. Dalam kondisi berbaring dan berpura-pura pingsan, Pradipa menyerap enegi mustika alam yang ia bawa untuk memulihkan dirinya sepenuhnya. Pada sore hari, ketika Mahapatih Hamapadayana ingin memeriksa keadaan Pradipa, sang patih Swargabhumi itu hanya menemukan tenda yang kosong. Ia sangat murka dan menghukum mati para penjaga tenda Pradipa detik itu juga.


Pradipa kembali ke sebuah hutan yang menjadi markas sementara untuk ia dan timnya. Beberapa pendekar yang berhasil selamat telah berada di sana menyusun rencana selanjutnya karena mereka mengira Pradipa telah gugur dalam serangan dini hari itu. Mereka begitu kaget sekaligus senang melihat Pradipa telah datang. Tenaga pendekar berparas tampan itu telah pulih, namun beberapa luka tebasan yang cukup dalam masih belum kering.


“Bagaimana kau bisa selamat, saudaraku?” tanya salah satu dari rekan Pradipa yang hanya tinggal lima belas orang saja.


“Panjang ceritanya. Kita akan terus bergerak. Semakin cepat semakin baik. Anggota kita di kelompok pertama masih akan bertahan dengan tugas mereka membersihkan mata-mata Swargabhumi yang mencarikan jalur perjalanan rombongan. Sementara kita semua yang tersisa tak akan pergi ke Kota Mutiara Biru. Kita akan bersihkan mata-mata musuh dari belakang. Dengan begitu, rombongan pasukan itu tak akan bisa berkomunikasi dengan kerajaan Swargabhumi.” Kata Pradipa.


“Mungkin ada baiknya kita palsukan juga pesan sang patih Swargabhumi yang dikirim ke kerajaan. Kita akan menyamar sebagai utusan patih Swargabhumi setelah kita bunuh mata-matanya yang dikirim ke kerajaannya.” Kata salah satu rekan Pradipa.


“Ide yang bagus. Kita semua akan menyamar. Sebagian akan menyamar sebagai mata-mata utusan patih Swargabhumi, dan sebagian lainnya akan menyamar sebagai pengembara yang datang ke Mutiara Biru. Kita perlu tahu keadaan di sana. Apabila memungkinkan, kita akan habisi beberapa orang penting dari Swargabhumi yang ditugaskan di kota itu.” Kata Pradipa.


“Tapi aku juga minta tolong kepada salah satu dari kalian untuk mengabarkan keberhasilan misi kita kepada patih Siung Macan Kumbang. Beliau harus tahu agar bisa menyusun rencana yang baru.” Kata Pradipa.


Setelah beristirahat sejenak, berbincang, bercerita, dan makan rusa bakar dari hutan, Pada malam hari Pradipa dan rekan-rekannya kembali bergerak menuju kota Mutiara Biru. Pradipa tak peduli jika beberapa lukanya yang belum kering itu sesekali masih terasa nyeri. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi dengan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki.


Sementara itu, di kota Dhyana, Jalu dan Niken masih menunggu kabar dari Mahapatih Siung Macan Kumbang. Tiga puluh ribu pasukan di kota tua itu tak akan bergerak sebelum sang patih mengirimkan utusannya.

__ADS_1


Para prajurit yang berada di kota itu bisa dibilang sebagai prajurit yang paling beruntung di antara prajurit Swargadwipa lainnya. Betapa tidak, mereka semua banyak mendapatkan pelajaran berharga dari para pertapa yang ada di sana, baik dalam pengalaman mengolah batin maupun mengolah tenaga dalam. Sehingga, para prajurit yang dipimpin oleh Jalu itu memiliki kemampuan lebih jika dibandingkan dengan pajurit biasa lainnya.


Pada suatu senja, seorang utusan yang mengaku sebagai orang kiriman Mahapatih Siung Macan Kumbang telah tiba dan ia minta bertemu dengan Jalu.


“Gusti patih mengirimkan pesan untuk Raden.” Kata mata-mata itu.


“Apakah paman patih mengatakan sandi yang harus kau katakan padaku?” tanya Jalu sambil tersenyum ramah.


“Sandi?” tanya mata-mata itu kebingungan. Raut wajahnya sedikit berubah.


“Mungkin paman patih lupa. Tak apa. Baiklah, apa pesan paman patih padaku? Sudah lama aku menanti pesannya.” Kata Jalu.


“Gusti patih berpesan agar raden segera memberangkatkan pasukan untuk merebut kembali kota Mutiara Biru.” Kata mata-mata itu.


“Baiklah, kuterima pesanmu. Kau boleh kembali melanjutkan tugasmu.” Kata Jalu. Mata-mata itu lalu pergi ke arah barat.


Jalu tahu, mata-mata itu adalah kiriman musuh. Justru dengan kedatangan mata-mata itu, Jalu sedikit memiliki bayangan tentang siasat yang sedang dijalankan oleh musuh. Tentu saja, keberadaan prajurit-prajurit di kota-kota lain di sekitar kota kerajaan Swargadwipa akan tetap menjadi ancaman bagi rombongan Swargabhumi. Oleh karenanya, salah satu siasat Mahapatih Hamapadayana adalah mengurangi jumlah kekuatan pasukan yang terletak di kota-kota seperti kota Dhyana dan yang lainnya.

__ADS_1


Untungnya, Mahapatih Siung Macan Kumbang selalu mengirimkan utusannya dengan sandi tertentu untuk mengkonfirmasi tentang kebenaran berita yang disampaikan. Sehingga, mata-mata lain yang dikirim ke kota lainnya juga akan langsung segera diketahui identitas aslinya.


Pada malam hari itu juga, Jalu dan Niken berangkat ke kota Mutiara Biru berdua saja. Seluruh pasukan di kota Dhyana ia titipkan kepada sang Adipati dan kakek Agrapana. Jalu dan Niken ingin tahu semua perkembangan yang terjadi di kota penub kenangan itu.


__ADS_2