Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 352 Bangsa Iblis Di Mahabhumi


__ADS_3

Mahatmabhumi dipenuhi oleh pasukan iblis dari golongan raksasa dan manusia yang selamat dari amukan Kalapati waktu itu. Kini mereka bergerak menularkan jiwa iblis kepada para raksasa mantan rakyatnya Kalamerah.


Bersamaan dengan hal itu, beberapa pendekar yang sempat menjelajahi wilayah timur Mahabhumi untuk memetakan keadaan terbaru di wilayah itu langsung kembali ke wilayah barat ketika mereka mengetahui betapa mengerikan sosok manusia dan raksasa yang terjangkit jiwa iblis. Tubuh mereka benar-benar mirip mayat hidup yang dengan buasnya mengejar siapapun yang belum menjadi bagian dari mereka.


Ratusan pendekar dalam tugas pemetaan itu, yang rata-rata merupakan pendekar muda, langsung mengabarkan kedatangan bangsa iblis itu. Maka dalam waktu singkat, benteng pemisah wilayah timur dan barat itu sudah dijaga oleh ribuan pendekar dari berbagai perguruan di Mahabhumi.


Tinggal sedikit saja tetua yang masih hidup. Diantaranya adalah Ki Rangga Suluk, Ki Elang Langit, Nyi Lohita, empat pendekar Raja Naga, Ki Suro dan tetua-tetua lainnya yang berasal dari Swargabhumi hingga Catrawana.


Berita itu juga sampai di telinga Buyung dan saudara-saudaranya setelah guru Lokatara menghubungi Agrapana, lalu si kakek penjaga kuil suci kota Dhyana itu mengabarkan berita itu kepada para pendekar lainnya melalui mimpi.


“Akhirnya mereka datang juga kemari, sudah lama aku ingin membuat perhitungan dengan mereka!” kata Nala.


“Bangsa manusia benar-benar sedang mengalami ujian berat. Masalah ini serasa tak ada habisnya,” kata Buyung.


“Kali ini, kita yang akan membalik keadaan,” kata Nala dengan penuh keyakinan. Yang membuatnya yakin bahwa ia bisa bertarung lebih baik dari sebelumnya ketika ia melawan bangsa iblis bersama Batari Mahadewi di Tirayamani adalah kini di lengan kanannya telah tersematkan sebuah pusaka sakti, bagian tubuh dari Batari Mahadewi.


“Masih ada tak kurang dari seratus pendekar yang membawa pusaka buatanmu yang akan menjadi pagar utama. Lalu juga ada seruling pusaka yang dibawa oleh Ki Rangga Suluk. Aku ingin tahu, apakah seruling itu bisa menghabisi para iblis itu dengan mudah?!” kata Buyung.


“Maka, kalian para pendekar dengan kekuatan putih akan lebih mudah bertarung bersama dengan Ki Rangga Suluk. Aku tak bisa mendekati suara seruling itu. Jadi mungkin aku dan kakakku akan menyerang dari sisi yang lain,” kata Nala.

__ADS_1


“Baiklah, kita harus segera datang ke benteng. Kurasa Ki Rangga Suluk sudah tahu apa yang harus ia lakukan dan mungkin juga sudah mengatur strategi.” Kata Buyung.


“Kalau begitu, kalian berangkat lebih dahulu, aku dan kakakku akan menyerang dari arah lain,” kata Nala.


Keluarga besar padepokan Cemara Seribu itu bergerak cepat menuju ke wilayah benteng. Di sana, pertempuran telah meletus. Jalu dan Niken yang sebelumnya tak ada di padepokan Cemara Seribu ternyata telah sampai di sana terlebih dahulu, bergabung dengan para pendekar yang dipimpin oleh Ki Rangga Suluk.


Lelaki tua itu melayang di angkasa dan memainkan seruling pusaka buatan Batari Mahadewi. Dalam radius seribu langkah kaki, para iblis sudah pasti kehilangan daya tempurnya. Sementara itu, para pendekar lainnya bergerak cepat membantai iblis-iblis itu tanpa kecuali. Sejauh mereka tetap berada dalam jangkauan seruling pusaka, maka mereka tetap aman.


Namun bagaimanapun juga, para pendekar yang mendapatkan pusaka dari Nala dan Batari Mahadewi tak boleh berkumpul di satu titik. Mereka juga harus menyebar di sepanjang garis utara hingga selatan, menghalangi para iblis itu melewati benteng dan masuk ke wilayah barat.


Nala melesat dan menyambar iblis-iblis itu dengan sangat cepat. Mula-mula ia ingin menghabisi tiap-tiap iblis yang ia temui. Namun ia tak menyangka, bahwa perisai emas yang menempel di lengan kanannya itu bisa menyembuhkan manusia dan raksasa yang telah terjangkit jiwa iblis.


Nala memiliki ide bagus untuk mengenyahkan jiwa-jiwa iblis yang merasuki para manusia dan raksasa itu. Ia menjelma menjadi partikel energi yang sifatnya jauh berbeda dari sebelumnya dengan keberadaan perisai emas yang menyatu dengan tubuhnya itu. Dengan begitu, ia bisa lebih cepat melenyapkan jiwa-jiwa iblis itu secara masif.


Jiwa-jiwa iblis yang menyabotase kesadaran para manusia dan raksasa itu bisa dibilang lemah. Hanya perlu sentuhan kecil dari kekuatan yang berasal dari potongan tubuh Batari Mahadewi untuk melenyapkannya.


Jika di sisi utara Ki Rangga Suluk dan para pendekar aliran putih itu membantai para iblis hingga tak bernyawa, sebaliknya, Nala yang notabene adalah pendekar hitam, ia seorang diri membebaskan lawan-lawannya dari kukungan jiwa iblis tanpa harus membunuh mereka semua. Nala bergerak jauh lebih cepat dari semua pendekar yang ada di sisi selatan, sehingga bisa di bilang, para pendekar itu, termasuk kakaknya, hanya bisa menjadi penonton saja.


Bail, satu-satunya iblis murni yang sedari tadi menyimak perkembangan di medan perang itu, merasa bahwa yang sedang terjadi sangat tidak menguntungkan. Ia tak menyangka, menyerang Mahabhumi tak semudah membalik telapak tangan. Yang lebih membuatnya terkejut, ia melihat sosok Nala di sana. Artinya, pangeran kegelapan sudah tak ada lagi.

__ADS_1


Buru-buru ia menarik sebagian besar pasukannya, menyisakan beberapa untuk memancing perhatian para pendekar Mahabhumi, dan ia memutuskan untuk menunda penyerangan itu. Bail segera beranjak untuk mengabarkan kejadian itu kepada sang ratu di markas besar bangsa iblis yang terletak pada wilayah paling ujung timur Mahatmabhumi.


“Apa?!” teriak ratu Ogha tak percaya dengan kabar yang disampaikan oleh Bail. Bukan hanya ia saja yang tak percaya, namun juga semua wanita Andhakara, serta anak-anaknya.


“Jika begitu, maka sia-sia saja kita mengerahkan pasukan kita. Jika kita mau menang, maka kita harus mengerahkan pasukan iblis berdarah murni, termasuk kita sendiri yang akan menyerang mereka,” kata Rodya.


“Tetapi bagaimana dengan suara seruling itu? lalu juga keberadaan Nala di sana?” Bail berusaha membuat atasannya itu untuk mempertimbangkan baik-baik serangan itu.


“Seruling itu bisa dengan mudah menyerang manusia dan raksasa iblis. Namun belum tentu akan berdampak kuat bagi kita yang memiliki darah iblis murni,” kata Rodya. Ia sudah kenyang makan asam garam dalam dunia pertempuran dan sering juga melihat senjata semacam itu di masa lalu. Di antara para iblis yang ada di sana, memang Rodyalah yang paling banyak melakukan pertarungan, baik melawan dewa ataupun manusia berkekuatan dewa.


“Kurasa Rodya benar, meski jumlah kita hanya sedikit, namun kita semua adalah bangsa iblis golongan atas. Kita tak mungkin kalah melawan manusia-manusia itu! Soal Nala, bukankah ia pernah kesulitan untuk melawan kalian semua saat pertempuran di Tirayamani?” Yuri menyahut. “Jangan lupa, keponakanku ini adalah anak-anak sang pangeran yang kekuatannya jauh melampaui kita semua saat ini!”


Ucapan Yuri membangkitkan kepercayaan diri para iblis murni yang ada di sana.


“Jadi, kapan kita akan bergerak?” tanya Andhinaga, salah satu dari anak Andhakara.


“Saat ini juga! Mereka pasti mengira pasukan iblis telah mundur. Jadi mungkin kedatangan kita akan menjadi kejutan tak menyenangkan untuk mereka semua!” kata Syra, salah satu dari keempat anak perempuan sang pangeran kegelapan.


“Kalian bersepuluh akan melawan Nala, sementara kami yang tua-tua ini akan menyerang lainnya,” kata Ogha.

__ADS_1


“Ayo kita berangkat!” kata Rodya, sang perempuan naga iblis dari masa lalu.


__ADS_2