
Batari Mahadewi tak menduga manusia api itu tak bisa menahan kekuatan dari sepasang pedang perak yang diayunkan oleh manusia setengah elang. Ia menduga, manusia api itu telah banyak kehabisan tenaga sehingga tak mampu lagi menahan serangan dari manusia setengah elang yang juga telah kehilangan banyak tenaga setelah sepasang sayapnya tak ada lagi di punggungnya.
Nala tak mau tinggal diam ketika mengetahui manusia setengah elang itu masih menikmati keberhasilannya mengalahkan manusia api. Maka dengan cepat pula, Nala melesat cepat dalam wujudnya yang berubah menjadi naga pasir dan menghantam punggung manusia setengah elang itu.
Kekuatan penuh yang digunakan oleh Nala membuat manusia setengah elang itu terpental di udara, lalu dengan tangkas Batari Mahadewi segera merespon usaha Nala, ia menghujamkan jurus Raga Membelah Bumi melalui telapak tangan kanannya, tepat mengenai dada manusia setengah elang itu dan meninggalkan lubang yang menganga di tubuh yang berwarna perak itu.
Setelah mengeluarkan jurusnya itu, Batari Mahadewi terjun bebas dari udara karena kehilangan kesadarannya. Nala dengan cepat menangkap tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu tepat sebelum tubuh itu menghantam tanah.
Sementara, manusia setengah elang itu masih belum mati. Ia terdiam dan masih melayang di udara dengan lubang di dadanya. Perlahan ia turun ke tanah, berdiri dengan tatapan mata yang angkuh, namun sejenak kemudian ia batuk darah. Setelah itu, pancaran tenaganya perlahan menipis, matanya menutup perlahan, lalu ia ambruk di tanah.
Nala dengan sigap segera menyalurkan sisa energinya kepada Batari Mahadewi. Perlahan mata gadis itu mulai terbuka dan kesadarannya telah kembali.
“Cepat kita tolong manusia api itu, Nala, sebelum terlambat.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya segera menuju ke tubuh manusia api yang sudah tak lagi berwujud api, namun sesosok manusia yang sama dengan manusia dunia satu rembulan. Ia memiliki rambut berwarna merah dan telinga yang runcing seperti telinga kelelawar. Manusia api itu sudah tampak lemah dan tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.
“Kami akan menolong anda, tuan.” Kata Nala yang datang terlebih dahulu.
“Aku tak akan selamat. Tapi aku minta satu hal kepada kalian. Temukan sebuah kitab pusaka dalam tubuh manusia perak itu, lalu tolong kembalikanlah ke kuil Api Suci di pulau Api. Bawalah ini sebagai tanda kalian bertemu denganku.” Manusia api itu menyerahkan sebuah lencana kecil kepada Nala sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Batari Mahadewi dan Nala hanya bisa terdiam. Keduanya tak menyangka akan terlibat dalam masalah itu.
“Mari kita coba mencari kitab pusaka di dalam tubuh manusia setengah elang itu, Tari.” Kata Nala. Keduanya lalu berjalan pelan menuju tubuh manusia setengah elang yang tak jauh dari tubuh manusia api.
“Tubuh pendekar ini benar-benar terbuat dari logam perak. Bahkan darahnya pun bewarna merah keperakan.” Kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana caranya menemukan kitab pusaka di dalam tubuhnya?” tanya Nala.
“Seperti ini!” Kata Batari Mahadewi sambil meletakkan tangan kanannya di atas pusar manusia setengah elang. Tak lama kemudian, sebuah gulungan kitab dari kulit yang berwarna emas telah berada di tangannya. “Semudah mengambil mustika alam atau kristal-kristal energi yang kau kumpulkan tadi.” Lanjut Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Kitab yang mengesankan. Kira-kira apa isinya?” tanya Nala.
“Aku juga tak tahu. Menurutmu, apakah kita boleh membukanya?” tanya batari Mahadewi.
“Kenapa tidak! Jika bukan karena kita, kitab ini telah dibawa pergi manusia perak ini.” Kata Nala.
“Benar juga, mari kita lihat isinya.” Kata Batari Mahadewi sangat penasaran. Ia membuka gulungan kitab itu.
“Tak ada tulisan apapun!” kata Nala.
“Ada, Nala, banyak sekali.” Kata Batari Mahadewi sambil menyaksikan aksara rahasia bermunculan ketika gulungan kitab itu telah dibuka olehnya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu tak tahan untuk tidak mempelajarinya. Maka ia hanya diam memandang ke udara yang dipenuhi dengan aksara rahasia yang tak terlihat oleh mata Nala.
Nala hanya bisa menunggu Batari Mahadewi menyelesaikan apa yang sedang di lakukannya itu. Selang beberapa waktu kemudian, mata Batari Mahadewi terpejam, tubuhnya melayang ke udara dan memancarkan energi panas. Batari Mahadewi membuka matanya, ia mengarahkan kedua tangannya ke langit, lalu dari kedua lengannya itu ia melontarkan lidah api memanjang ke atas. Ia berhasil mempelajari kitab dari kuil suci pulau Api.
Nala terkagum-kagum dengan kecepatan gadis itu dalam mempelajari hal baru. Batari Mahadewi turun perlahan, lalu berjalan ke arah Nala.
“Apakah kau juga bisa merubah tubuhmu menjadi api?” tanya Nala.
“Ya. Kekuatanmu dan kekuatanku sudah memungkinkan untuk bisa menguasai ilmu api ini. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki unsur api dalam tubuh. Sehingga kau pun juga bisa mempelajarinya. Jika kau tertarik, aku akan ajarkan padamu.” Kata Batari Mahadewi.
“Tentu saja aku mau.” Kata Nala yang juga sama hausnya dengan Batari Mahadewi untuk mempelajari hal baru.
Batari Mahadewi dan Nala memutuskan untuk tinggal beberapa waktu lagi di pulau kecil itu dan mempelajari isi kitab dari kuil suci pulau Api lebih jauh. Benar seperti yang dikatakan oleh Batari Mahadewi, Nala tak menemui kesulitan untuk bisa menguasai jurus itu. Hanya saja, penguasaan ilmu api yang dilakukan Nala lebih mengerikan karena ia memadukan dengan kemampuannya.
Nala tak hanya berubah menjadi manusia api, namun menjadi pasir api yang bergerak ke udara layaknya seekor naga api. Batari Mahadewi sangat takjub melihat pemandangan itu. Ia tak menyangka bahwa Nala tak hanya kuat, namun diam-diam ia memiliki kecerdasan yang tinggi.
“Bagus sekali Nala. Aku bahkan tak berfikir sepertimu.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Tentu saja tubuhku akan dengan sendirinya menjadi pasir api jika aku menggunakan kekuatan api ini.” Kata Nala yang telah merubah wujudnya menjadi seperti sedia kala. Namun, pakaiannya telah hangus, tinggal pakaian pemberian guru Rapapu yang masih melekat di tubuhnya. “Pantas saja kau tak mau merubah dirimu menjadi manusia api!” kata Nala.
“Maksudmu?” tanya Batari Mahadewi.
“Agar kau tetap aman dengan pakaian luarmu itu.” kata Nala sambil tersenyum usil. Batari Mahadewi mendengus kesal. Ia teringat kepada Jalu yang baru bisa menggunakan kekuatan penuhnya setelah mengenakan pakaian dari kulit siluman naga api. Pakaian itu tak akan terbakar meski Jalu berubah sepenuhnya menjadi manusia api.
“Aku tak mau berubah menjadi manusia api jika tak terpaksa. Kau saja yang menggunakannya. Makanya aku mengajarimu.” Kata Batari Mahadewi.
“Kau takut pakaianmu terbakar?” tanya Nala sambil terkekeh usil.
“Aku suka pakaian ini dan aku tak mau kehilangan ini.” Kata Batari Mahadewi mencoba mengalihkan arah pembicaraan Nala.
“Ya…ya… terserah saja. Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Nala.
“Kita kembalikan kitab ini ke tempat asalnya.” Kata Batari Mahadewi. Ia membuka kembali gulungan peta yang diberikan oleh guru Rapapu, lalu ia menakar seberapa jauh lagi ia bisa sampai ke pulau Api. Hanya butuh waktu sekitar setengah hari perjalanan dengan cara terbang agar sampai di pulau Api
“Kita kuburkan dahulu mayat kedua petarung itu sebelum kita berangkat.” Kata Nala.
“Ya, tentu saja.” kata Batari Mahadewi.
“Sebenarnya aku tertarik dengan sepasang pedang itu. Tapi aku tak mau jika benda itu akan membawa masalah di tempat baru. Jadi, aku akan menguburkannya di tanah ini. Jika kelak aku berjodoh, aku akan mengambilnya kembali.” Kata Nala.
“Kau bisa jurus-jurus pedang?” tanya Batari Mahadewi.
“Jelas tidak. Aku hanya suka benda itu.” kata Nala.
Setelah menguburkan tubuh manusia api dan manusia setengah elang serta kedua pedang perak secara terpisah, kedua pendekar muda dari dunia satu rembulan itu kemudian melesat ke udara dan terbang menuju pulau Api dengan kecepatan tinggi. Batari Mahadewi dan Nala tak menyadari, sepasang pedang perak itu langsung lenyap begitu Nala selesai menguburkannya. Sepasang pedang itu berubah menjadi roh yang diam-diam mengikuti kedua pendekar muda itu.
__ADS_1