
Balatentara raksasa itu bergerak cepat ke wilayah barat untuk mencari markas besar bangsa iblis yang ada di sana. Tidak semua dari mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang bagus, namun dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka bisa melompat dengan jangkauan yang cukup jauh.
Kalahitam dan beberapa pengawal terbaiknya melayang pada barisan terdepan, diikuti para prajurit yang berlompatan di belakangnya. Bumi bergetar setiap kali mereka menjejakkan kaki ke tanah dan melenting kembali ke arah depan. Tak ada satu makhlukpun yang mau mendekat ketika mereka terus melaju.
Tetapi tak ada satupun manusia iblis yang mereka temui disepanjang perjalanan. Sebagian besar dari mereka telah berkumpul di sekitar kerajaan hitam. Pangeran Andhakara sengaja tak menggerakkan mereka. Tujuannya adalah untuk menguras tenaga para raksasa menempuh perjalanan yang jauh.
Dengan kecepatan gerak yang dimiliki bangsa raksasa, mereka membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai di kerajaan bangsa iblis. Namun mereka tak akan langsung menyerang, melainkan akan beristirahat semalam di suatu tempat yang tak jauh dari istana itu.
Bangsa raksasa itu tak menyadari resiko yang akan mereka hadapi. Jika mereka terus melaju dan langsung menyerang, maka mereka akan kelelahan karena perjalanan. Namun jika mereka beristirahat dulu di suatu tempat, Andhakara telah bersiap untuk meluncurkan para manusia iblis menyerbu tempat para raksasa itu berada, yang tentunya sudah berada dalam jangkauan wilayah kerajaan iblis.
Apa yang direncanakan oleh Andhakara jika misalnya lebih dari satu juta manusia iblis itu pada akhirnya tumbang dalam peperangan?
Andhakara jarang meleset dalam melakukan perhitungan. Ia yakin, pasukan manusia iblis itu lebih dari cukup untuk menumbangkan pasukan bangsa raksasa. Namun ia juga ingin memastikan kekalahan bangsa raksasa itu dengan cara ikut ke medan perang.
“Rodya, kau yang akan mendampingiku ke medan perang. Yang akan kita lakukan hanyalah mengincar sang raja raksasa itu beserta para ksatria raksasa terkuat lainnya. Dan kau Bail, kau jaga ratu Ogha di sini. Jika aku dan Rodya mengirimkan tanda bahaya, maka kau harus melarikan Ogha sejauh mungkin dari wilayah ini. Aku tak tahu seberapa kuat raja raksasa itu. Tapi aku yakin, aku dan Rodya bisa menanganinya dengan mudah,” kata Andhakara.
“Pangeran harus berhati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri jika situasinya tidak memungkinkan,” Ogha mengkhawatirkan pujaan hatinya itu.
“Ya, tapi aku yakin kita bisa menang, tetapi begini, jika para raksasa itu langsung menyerang kemari tanpa bermalam di suatu tempat, kau harus membawa Ogha pergi, Bail! Sebaliknya, jika mereka berada di suatu tempat untuk beristirahat, maka aku akan membawa seluruh pasukan manusia iblis itu menuju ke sana dan menyerang mereka langsung. Pertempuran di malam hari akan sangat menguntungkan kita, sebab manusia iblis itu memiliki kekuatan penuh pada malam hari!” kata Andhakara.
“Baik, paduka,” kata Bail.
__ADS_1
Menjelang sore, rombongan raksasa itu belum juga tiba. Andhakara berfikir, mereka pasti beristirahat di suatu tempat. Tentu mereka ingin memulihkan kekuatan terlebih dahulu, dan akan mulai menyerang besok pagi.
Maka Andhakara mulai memerintahkan pasukan manusia iblis itu untuk mulai bergerak ke timur, menyongsong kehadiran bangsa raksasa itu di sana. Sementara mereka semua bergerak, Andhakara dan Rodya terbang dari jarak yang lumayan jauh di belakang mereka.
Andhakara tak ingin langsung terlibat, namun ia ingin menyaksikan dahulu peperangan itu, mengendalikan arah pergerakan semua manusia iblis dari jarak yang jauh. Keuntungan dari pasukan yang ia miliki itu, ia benar-benar bisa dengan mudah menciptakan formasi serangan. Manusia iblis itu tak butuh instruksi dari mulut untuk melakukan pergerakan, cukup perintah melalui jiwa kegelapan yang menyelimuti mereka semua.
Setelah beberapa saat melaju dengan kecepatan tinggi, akhirnya mereka bisa melihat rombongan bangsa raksasa yang tengah beristirahat di dalam hutan lebat.
Raja Kalahitam baru memikirkan kemungkinan serangan dari bangsa iblis sejak ia dan pasukannya sudah dekat dan memutuskan untuk beristirahat. Dugaannya benar. Ia hanya bisa mengumpat kesal ketika merasakan pergerakan kekuatan iblis yang melaju ke arah mereka itu.
Bangsa raksasa masih bisa bertempur, namun tentu saja, kondisinya tak lagi dalam kekuatan penuh.
“Hari ini, kita atau mereka yang akan musnah di sini! Jangan beri ampun! Hancurkan mereka tanpa sisa!” Kalahitam berada di barisan paling depan, berdiri dengan gagah sembari menenteng gada raksasanya. Sikapnya itu membangkitkan semangat seluruh pasukannya yang sudah lama sekali tidak berperang. Ya, mereka sangat merindukan pertumpahan darah.
Bau amis manusia iblis itu segera tercium ketika mereka sudah berada dalam jarak beberapa langkah saja. Dalam sekali ayunan, gada sang raja Kalahitam mampu menghancurkan puluhan manusia iblis yang bergerak seperti air bah itu.
Gemuruh perang terdengar mengerikan. Darah tumpah dan membuat arena pertarungan itu basah dan lengket, seolah mereka bertarung di atas genangan lumpur darah; tanah yang telah tercampur oleh darah.
Andhakara dari jauh sengaja menghindarkan pasukannya dengan Kalahitam setelah ia melihat kekuatan serangan senjata raja raksasa itu. Ketika para pasukan iblis itu membaur dengan pasukan raksasa, maka sang raja akan kesulitan untuk membantai mereka, sebab ayunan gadanya justru bisa mengenai pasukannya sendiri.
Demikianlah, setidaknya tiap raksasa itu dikeroyok oleh puluhan manusia iblis. Betapa murka sang raja raksasa ketika ia menyaksikan pasukannya tumbang satu-persatu. Maka, sang raja raksasa itu memukulkan gadanya sekuat tenaga di tanah berkali-kali.
__ADS_1
Jurus itu membuat tanah tak hanya berguncang hebat, namun juga terbelah. Tubuh para raksasa yang besar itu bisa bertahan dari goncangan, atau tak terperosok ke dalam lubang tanah yang terbelah-belah itu. Namun para manusia iblis itu tampak seperti beras yang sedang ditampi.
Mereka terpental-pental di atas tanah dan beberapa terperosok ke dalam tanah yang terbelah. Andhakara tak menyangka raja raksasa Kalahitam memiliki tenaga sedahsyat itu.
“Rodya, saatnya kau menyerang para ksatria raksasa. Aku sendiri yang akan menangani raja raksasa itu,” perintah Andhakara.
Rodya melesat dengan tubuh diselimuti api. Dengan cepat ia menyambar dan membakar lawan-lawannya itu. Rodya tak peduli sekalipun serangannya itu juga akan membakar pasukannya sendiri. Yang ada dalam pikiran naga iblis itu adalah membantai pasukan raksasa sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, Andhakara melesat menantang sang raja raksasa sebelum Kalahitam yang perkasa itu menyerang Rodya, sosok yang cukup menarik perhatiannya.
“Akhirnya kita bertemu, raja raksasa. Siapa namamu? Aku adalah Andhakara, penguasa para iblis. Tentu sebuah kehormatan bagimu bisa bertemu langsung denganku, bukan?!” ucap Andhakara dengan nada menghina.
“Aku Kalahitam. Jadi kau rupanya biang kerok di balik semua ini! Cih! Hari ini juga, aku akan mengembalikanmu ke neraka!!!” raung Kalahitam. Suaranya terdengar sangat mengerikan.
“Yang benar saja, tidakkah kau berkaca pada kemampuanmu? Tapi tak masalah, sebelum kau mati, setidaknya kau pernah melawan penguasa iblis! Ayo kita mulai, tunjukkan semua kemampuanmu itu!” tantang Andhakara. Suaranyapun juga terdengar parau, namun suara raksasa itu lebih keras bunyinya.
“Mati kau!!!” Kalahitam mengayunkan senjatanya yang sebesar pohon kelapa itu. Tubuh Andhakara terlihat sangat kecil jika dibandingkan raja Kalahitam yang besarnya tiga kali lipat dari tubuh raksasa itu.
Tapi tentunya, kecepatan Andhakara adalah masalah besar yang tak pernah bisa ditaklukkan oleh Kalahitam.
Berkali-kali raja raksasa itu meraung setiap mendapatkan pukulan besar dari Andhakara. Pangeran kegelapan itu seperti memukuli sebuah bangunan bertingkat. Tubuh raksasa itu sangat keras sekalipun makhluk buas itu selalu menjerit setiap mendapatkan pukulan dari sang pangeran kegelapan.
__ADS_1